
Mata Irene perlahan terbuka dia terbangun karena rasa laparnya, Yang pertama dia lihat adalah Ello yang menatapnya tanpa ekspresi
Irene berbalik membelakangi Ello sambil mengusap perutnya, Tidak ada inisiatif Ello untuk memeluknya atau pun sekedar bertanya
Sesekali Irene melirik ke belakang Ello masih memandangnya seperti tadi, canggung.. tentu saja, Irene tidak tahu apa yang harus dia lakukan
Irene akhirnya kembali berbalik menghadap Ello dan memeluknya, Lama dia memeluk Ello namun pria itu tidak membalas pelukannya
"Kamu marah? " Irene mulai bicara
"Menurut kamu? "
"Kamu marah gara gara Adrian ya? Aku gak... " belum selesai Irene bicara Ello sudah menyergah
"Jangan sebut sebut nama dia"
"Ngapain kamu mau maunya aja di peluk peluk sama dia? aku gak suka apalagi dia berani mau pegang pegang perut kamu" lanjut Ello
"Aku minta maaf.. aku gak diem aja, kejadian itu tiba tiba aku juga kaget ada motor tiba-tiba melaju kencang"
"Terus kamu diem aja waktu dia mau pegang perut kamu? " Irene dengan cepat menggeleng mendongak menatap Ello
"Kalo aku gak tepis mungkin dia udah pegang perut kamu" Irene tidak tahu bahwa Adrian berniat memegang perutnya
Raut wajah Irene menunjukkan ketakutan dia menarik tangannya dari tubuh Ello, dia hanya menunduk tidak berani menyentuh ataupun menatap Ello
"Aku gak tau kalo dia mau pegang perut aku, aku minta maaf" lirihnya
"Tau salah sekarang? "
"Itu kan bukan salah aku, aku juga gak minta di pegang" lirih Irene pelan
"Apa? bilang sekali lagi" Irene dengan cepat menggeleng
"Gak boleh ketemu cowok lain apa lagi sampe deket deket, aku gak mau anak aku mirip orang lain"
"Maksudnya apa? " gumam Irene
"Kamu cuma boleh liat aku, pegang aku, ngomong sama aku gak boleh sama cowok lain.. ngerti? " Irene hanya mengangguk, sejak menikah dengan Ello dia memang tidak pernah bertemu atau mengobrol dengan teman pria tanpa Ello
Ello selalu 24 jam berada di dekat Irene dan tidak pernah meninggalkannya sendiri, Irene sebenarnya sering kesal karena Ello posesif luar biasa namun dia tetap bersyukur karena itu artinya Ello mencintainya
"Sekarang cium" ucap Ello, Irene menurut saja dia beringsut lalu mencium bibir Ello sekilas
"Peluk lagi" Titah Ello
"Tapi aku lapar" ucap Irene
__ADS_1
"Ayo turun aku masakin nasi goreng aja ya" Irene hanya mengangguk
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku malu Oma, sekarang sudah begini kenapa oma gak bertanggung jawab? " Raisa membawa oma Rafael berkeliling menggunakan kursi roda di sekitar rumah sakit
"Oma bisa melakukan apa? mereka sudah resmi bertunangan, tapi kamu tenang aja.. Rafael akan menjadi milik kamu" ucap Oma
"Terus aku akan di permalukan lagi? aku akan di Cap perebut pacar orang lain"ucap Raisa
Oma hanya diam saja dia memang tidak bisa melakukan apapun, semua terjadi tidak seperti yang dia bayangkan
Raisa yang begitu kesal mendorong kursi roda yang di pegangnya dan membiarkan kursi roda oma menggelinding sendiri di jalan menurun, Oma Rafael terguling dan tak sadarkan diri setelah itu Raisa kembali membawanya ke kamarnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Halo mi.. kenapa? "
"Apa? iya aku ke sana sekarang"
"Siapa? " tanya Millie
"Mami.. katanya oma jatuh sekarang keadaannya makin parah" jawab Rafael sambil membereskan meja kerjanya
"Kamu mau ikut apa mau aku anterin pulang? " Tanya Rafael
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan oma Rafael, wanita tua itu kini hanya bisa berbaring tak berdaya di tempat tidur
"Oma kenapa? " tanya Millie
"Kata suster mungkin jatuh di tempat tidur, waktu di temukan suster ada di bawah"
"Kok bisa jatuh, kan Raisa katanya jagain disini? " tanya Rafael
"Raisa izin pulang mau gantian sama mami, taunya mami belum datang dia udah pergi jadi oma jatuh"
Mereka tidak tahu saja bahwa Oma Rafael sampai bisa separah ini karena ulah Raisa, kini oma Rafael tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya
"Mami titip oma dulu ya, mami mau ketemu dokter "
Millie duduk di kursi di samping tempat tidur Oma, Oma melihat tanda merah di leher Millie hingga membuatnya marah
Tubuhnya bergerak gerak dengan mata melotot mungkin dalam hatinya dia sedang marah marah pada Millie, Millie spontan berdiri dan mundur
"Oma kenapa? " Rafael menghampiri Oma nya
"Apa yang kalian lakukan? Sini kamu dasar cucu kurang ajar, minta di hajar anak ini" batin oma Rafael
__ADS_1
"Oma kenapa? oma tenang"
"Aku jadi takut deh oma kenapa napa, apa oma gak mau ada aku disini? " Millie bersembunyi di belakang tubuh Rafael
"Kita panggil mami aja, abis itu aku anterin kamu pulang" Rafael dan Millie meninggalkan oma Rafael sendiri
"Kesini anak kurang ajar... kalian dasar anak anak berandal" batin Oma berteriak namun suaranya tidak bisa keluar
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Millie baru pulang ke rumah saat hari sudah gelap masih dengan seragam sekolahnya, dia berjalan ke dapur dan mengambil air untuk minum
Ello berjalan menghampiri Millie untuk mengambil air minum juga, ketika berdiri di sebelah Millie yang sedang mengambil air minum tiba-tiba matanya menangkap tanda merah di leher Millie
Ello langsung menyingkap rambut Millie ke atas dengan wajah marahnya, Millie menurunkan tangan Ello lalu kembali menutupinya dengan rambut
"Apa yang lo lakuin sama Rafael sampe pulang malem? "
"Lo apaan sih? orang gak ngapa-ngapain" Millie tidak Terima di tuduh macam macam
"Itu tanda merah di leher lo.. kalian kemana tadi? "
"Gue gak ngelakuin apa apa, dia gigit gue bukan berarti kita abis melakukan itu" Millie hendak pergi namun Ello kembali menariknya
"Gue bilangin sama papa kalo lo gak jujur"
"Bodo amat.. paling di nikahin" Millie menarik tangannya kasar lalu pergi
Dia begitu kesal karena Ello menyangka yang tidak tidak padanya, Selama ini Ello adalah orang yang selalu percaya padanya hal itu membuat Millie marah saat Ello tidak mempercayainya
"Rafael sih jadi orang nyangka yang enggak enggak.. gue tutupin pake foundation aja kali ya" Millie menggunakan foundation untuk menutupinya
"Semoga aja kak Ello gak bilang sama papa" Ucap Millie
Millie masih berusaha menutupi tanda merah di lehernya, pintu di ketuk dari luar oleh sang ayah membuatnya panik hingga barang barang di atas meja berjatuhan
"Millie... "
"Astaga papa.. jangan jangan kak Ello udah bilang" gumam Millie sambil merapihkan penampilannya dengan panik hingga menyenggol sana sini
"Iya kenapa pa? " Millie terburu-buru membuka pintu kamarnya, Max menatap Millie tanpa mengatakan apapun membuat Millie semakin panik
"Pa.. aku.. aku.. "
"Kamu tumbuh semakin cantik, kalo Rafael berani nyakitin kamu bilang sama papa" ucap Max sambil merangkul bahu Millie
"Gue kira mau marahin gue" gumam Millie sambil bernapas dengan lega
__ADS_1