Youth Love

Youth Love
eps 183


__ADS_3

Millie hendak turun menyusul mamanya yang tampaknya sedang marah, namun sesampainya di bawah keadaan sudah kacau


Para tamu serta keluarganya menjadi tawanan sementara sang ayah tidak terlihat disana, penjagaan juga tidak ada sama sekali


"Ada apa ini?" tanya Millie


"Angkat tangan atau anak ini akan mati" ucap papa Raisa menodongkan pistol pada Daren yang sedang dia gendong


"Ternyata pak tua ini lagi" Millie memutar bola matanya jengah


"Berhenti atau orang orang disini akan mati" Anak buahnya menodongkan pistol pada semua orang


Millie berhenti di tempatnya berdiri sambil mengangkat tangannya, Rafael juga turun dan berdiri di samping Millie


"Lepasin dia, jangan menyandra bayi kecil yang gak berdosa" ucap Millie


"Semua anak keturunan Maxime bajingan itu akan mati" ucap papa Raisa


"Papa kemana sih?" batin Millie


Maxime mendapat telepon bahwa di perusahaan sedang di seorang sekelompok orang lalu dia pergi membawa anak buahnya kesana, padahal semua itu hanya jebakan saja dan ketika Max sampai disana orang orang tersebut sudah pergi meninggalkan tempat itu


" Sekarang apa mau kalian?" tanya Ello


"Kami mau Maxime menyerahkan diri sebagai gantinya " ucap papa Raisa


"Mau papa kok datangnya pas papa gak ada, gak berani ya?" ledek Millie


"Kurang ajar... siapa anak itu?" Seseorang keluar dari balik anak buahnya


"Orang itu?" Allea merasa kenal dengan sosok tersebut namun dia lupa


"Hai Allea... Ini anak Lo? mirip banget sama Lo" orang tersebut menunjuk Millie


"Siapa kamu?" tanya Allea


"Lupa? lupa sama mantan tunangan Bisma yang keluarganya abis di bantai sama suami Lo?" Allea berpikir keras mengingat siapa wanita ini


"Jangan asal ngomong, papa gak akan melakukan sesuatu kalo gak ada sebab dan akibatnya" ucap Millie


"Nona manis, cuma kamu dan pemuda itu yang berani melawan, kalian memang keturunan Maxime" wanita itu berjalan mendekati Millie


"Mitha... " wanita tersebut menoleh menatap Allea


Saat dia lengah Millie mengambil pisau kue yang tergeletak di meja lalu perlahan melingkarkan tangannya di leher Mitha


"Turunkan senjata kalian atau wanita ini mati" ucap Millie, pisau tersebut di todongkan di leher Mitha


"Tunggu apa lagi? kalian pikir gue cuma menggertak?" Millie menekan pisau tersebut hingga leher Mitha mengeluarkan darah


"Letakkan senjata kalian" teriak Mitha yang mulai merasa perih karena goresan pisaunya

__ADS_1


"Semuanya" ucap Millie yang curiga mereka masih menyimpan cadangan di balik baju mereka


"Gue bilang semua, dan kasih bayi itu" Millie semakin menekan pisaunya hingga cukup dalam


"Beresin" titah Millie pada Rafael di bantu tamu lain


Saat semua senjata sudah diambil Mitha tertawa, semua orang di buat bingung dengan suara tawa Mitha yang seperti orang kesurupan


"Kalian tau? tempat ini sudah di pasang bom" mendengar hal itu semua orang panik berlarian menuju pintu


"Justru kalau kalian buka semua pintu bom itu akan meledak" ucapnya sambil tertawa


"Kita masih di dalam, yang benar saja?" ucap papa Raisa


"Kalau si Maxime bajingan itu gak mati, setidaknya dia akan meratapi semua anggota keluarganya yang ada di sini, dia akan terpuruk selama sisa hidupnya"


"Jangan macem macem atau gue bunuh Lo" ucap Millie


"Silahkan... Bunuh sekarang karena 15 menit lagi bomnya meledak, pada akhirnya kita akan mati bersama"


"Dasar gila" ucap Millie


"Itu calon menantu kamu? Mama jadi gak berani macem macem" bisik Oma pada Mami Rafael


Suara langkah kaki bak prajurit terdengar dari lantai atas membuat semua orang menatap ke arah tangga, Max menggendong Karen di ikuti anak buahnya dari belakang


"Papa" ketika Millie sedang lengah Mitha memukulkan kepalanya ke hidung Millie lalu kabur mendekati anak buahnya


"Enggak pa"


Max berjalan ke arah Allea dan menyerahkan Karen, Max kembali menghampiri Mitha


"Ternyata Semakin tua kamu semakin gagah"


"Gak perlu basa basi, ternyata kamu yang bawa orang itu" Yang di maksud Max adalah papa Raisa


"Kali ini kamu dan keluargamu akan tamat" ucap papa Raisa


"Cih.. percaya diri sekali" Max tersenyum Smirk


"Tentu kami percaya diri karena, kalian kesini" Mitha menjentikkan jarinya dan separuh anak buah Max yang sedari tadi ikut bergabung dengannya


"Kaliam pikir aku bodoh? Aku masih punya para prajurit.. anak anak kemari" beberapa orang dari tamu, sisa anak buahnya juga dua anaknya yaitu Millie dan Ello


" Aku sudah tahu, kalian pikir aku tidak mengenali anak buahku satu persatu? senjata kalian di bawah meja" ucap Max


Max menghindari menggunakan senjata api agar tidak ada orang yang tidak bersalah ikut terluka, di bawah meja ternyata terdapat senjata tajam dari yang pendek sampai yang paling panjang


"Bawa semua orang masuk ke satu ruangan" titah Max ketika melihat anak buah Mitha masih memiliki senjata


"Gak adil bukan kalo kami pake senjata tajam kalian pake senjata api, kalian kayak bukan pria sejati" ledek Millie

__ADS_1


Millie terus mengejek dan memanas manasi mereka hingga akhirnya mereka membuang senjatanya dan menerima senjata dari Max


"Biar adil" ucap Max seraya melempar senjata untuk lawan


"Bentar ini ganggu" Millie merobek bawah gaunnya hingga menjadi pendek di atas lutut


"Ayo... maju" Millie memutar pedang di tangannya


Mereka benar benar beradu senjata tajam, meskipun tahu Millie mahir bela diri namun tetap saja Rafael melindunginya


"Kamu ngapain sih disini?" Millie merasa risih karena Rafael tidak mau jauh darinya


"Kenapa emang gak boleh?" jawab Rafael, kini mereka saling memunggungi


"Kamu bisa juga pake senjata tajam"


"Lumayan" Jawab Millie


Millie hanya menggunakan punggung dari pisau tersebut dia tidak berani jika harus benar benar membunuh orang, lawannya tumbang karena pukulannya yang tepat mengenai urat saraf


Berbeda dengan yang lain entah itu kena atau tidak , terluka atau tidak mereka tidak peduli


Banyak bercak darah dari anak buah Mitha yang kalah, karena tidak bisa bela diri Mitha hanya menonton di pojokan


Max terus menargetkan papa Raisa hingga dia tersudut dan tak berdaya lagi, Max berdiri tepat di hadapan papa Raisa yang duduk tak berdaya


"Makhluk seperti ini yang ingin bermain main? setidaknya kamu harus mampu melindungi diri kamu sendiri" ucap Max seraya mengangkat dagu papa Raisa dengan senjata


"Hai Tante... mau main?" Millie menyeringai ketika menghampiri Mitha


"Maju selangkah lagi aku akan membuka pintu ini dan gedung ini akan di ledakkan" Ancam Mitha


"Benarkah? buka saja" ucap Rafael


Millie menelan salivanya dengan susah payah dan mengumpulkan keberaniannya, Mitha menutup matanya ketika membuka pintu


Mitha harap harap cemas menunggu ledakan besar terjadi namun tidak setelah beberapa lama dia menutup mata


"Buang buang waktu saja, bawa mereka" ucap Max


Ketika Raisa membuka matanya ternyata anak buah Max sudah berbaris di hadapannya


"Loh... bom nya?" tanya Mitha dengan wajah bodoh


"Kamu benar-benar ingin bom itu? tenang saja aku memberikannya nanti, bawa semuanya dan masukkan ke dalam sel yang sama" ucap Max


Mereka di seret oleh anak buah Max tanpa perasaannya untuk di bawa ke markas Max


"Pa mereka mau di bawa ke kantor polisi?" tanya Millie


"Iya sayang.. mereka akan mendekam selamanya" ucap Max, Millie tidak tahu saja mereka tidak akan terlihat lagi setelah ini

__ADS_1


__ADS_2