
Sebulan sudah Rafael mengelola perusahaan dengan lancar, Sebulan itu juga Rebecca tidak pernah berhenti mengganggu Rafael meskipun sudah di caci maki
Millie pulang sekolah lebih awal dan pergi ke kantor Rafael tanpa memberitahu terlebih dahulu, Millie membawa cemilan juga minuman untuknya dan Rafael
"Selamat siang nona" Para staf mengenal siapa Millie
"Selamat siang.. kak Rafaelnya ada? " Tanya Millie pada sekretaris Rafael
"Ada di dalam" Millie membuka pintu namun tidak masuk dia hanya menyembulkan kepalanya
"Suit.. suit.. " Millie bersiul melihat Rafael sedang duduk memakai kacamata sambil membaca buku
"Sini ngapain disitu" Millie berlari kecil dan duduk di samping Rafael
"Hot banget sih.. Kayak sugar daddy" Rafael memeluk pinggang Millie
"Ada yang kurang deh" Millie membuka satu kancing kemeja Rafael hingga kini terbuka dia kancing
"Kamu gak gerah? biar aku bukain juga" Rafael menyentuh kancing seragam paling atas
"Nih... " Millie mengulurkan kepalan tangannya di hadapan Rafael membuat pemuda itu terkekeh
"Gemes banget sih" Rafael mengunyel-unyel pipi Millie dengan hidungnya
"Iihh.. nanti ada yang masuk" Millie mendorong kepala Rafael
"Kenapa jam segini udah keluar? kamu bolos? " Tanya Rafael
"Enggak.. Di suruh pulang sama gurunya, aku bawa cemilan " Millie mengeluarkannya dari plastik yang dia bawa
"Doyan banget jajan, pantesan pipinya tembem" Millie melirik dengan tatapan tajamnya
"Ohh... kamu gak boleh minta, maksud kamu aku gendut gitu kan? Biarin aku gendut sendiri" Millie mengambil semua makanannya dan memeluknya
"Aku cuma bilang tembem bukan gendut"
"Sama aja.. kalo mau beli sendiri " Millie kembali mengambil makanan dari tangan Rafael
"Ya udah aku gak minta cemilannya, aku mau pipi tembemnya aja" Rafael memeluk Millie dan kembali mengunyel pipi Millie dengan hidungnya hingga Millie terjengkang ke belakang
Mereka bercanda dan tertawa dengan Rafael memeluk Millie yang berbaring di sofa, tiba-tiba pintu terbuka membuat keduanya berhenti dan sama sama menoleh ke arah pintu
"Maaf tuan.. nona ini lagi lagi menyamar" Rebecca menyamar menjadi OB dan menerobos masuk ke ruangan Rafael
__ADS_1
"Untung bukan papa" Batin Millie
"Kamu keluar aja" ucap Rafael pada sekretarisnya
"Lo mau ngapain lagi sih? " Rafael duduk bersandar di sofa sambil memeluk Millie
"Aku udah peringatin kamu ya.. kalo kamu masih gak mau tanggung jawab aku sebar foto kita"
"Foto apa? " Tanya Millie
"Jadi adik kecil gak tau? lo harus tau gimana pacar lo ini dulu sama mantan pacarnya, Kalo lo liat entar otak lo terkontaminasi.. atau lo juga salah satu dari korban Rafael juga? " Millie Seolah tahu foto apa yang di bahas Rebecca
"Ohh.. gue udah tau kok, kalo lo sebar bukan cuma Rafael yang malu tapi lo juga.. lagian bukannya kalian juga seneng seneng aja, kenapa sekarang kalian baru meminta pertanggungjawaban? " Rebecca bungkam mendengar perkataan Millie
"Kalian sediakan kamar buat melakukan itu kan? gue tau Rafael yang dulu bukan orang yang baik karena berada di lingkungan gak baik, Rafael gak paksa kalian kan? tapi kalian yang suka rela, asal kalian tahu, Rafael gak pernah berbuat kurang ajar sama gue "
"Dia belum menunjukkan kebusukannya, gue yakin lambat laun lo akan tunduk dan jadi korban selanjutnya" ucap Rebecca
"Gue yakin Rafael orang yang baik dan akan memperlakukan gue dengan baik, sebaiknya lo hapus aja foto foto itu dari pada lo terus pandang dan lo ratapi pada akhirnya lo gak bisa moveon"
"Jangan menyesal kalo foto ini gue sebar" Rebecca menunjukkan foto Rafael dan dirinya lalu mengirimnya ke sosial media akun gosip dan menyebar begitu cepat
"Hadapi itu" Ucap Rebecca lalu pergi
Millie melihat foto foto tersebut dimana Rafael memeluk seorang wanita yang di blur wajahnya di kolam, bathtub, dan foto di ranjang yang tak pantas di lihat
"Aku minta maaf... Aku udah bilang sama kamu jauh jauh hari bukan? kamu gak berniat ninggalin aku kan? "
"Diem deh.. gimana kalo sampe papa tau" Millie menutup wajahnya dengan telapak tangan
"Aku jelasin semua sama papa kamu, gak apa apa kalo papa kamu ambil semuanya lagi asal jangan pisahin aku sama kamu" Rafael mengambil tangan Millie Dan menggenggamnya
"Serius ini kamu? Aku udah tau tapi kenapa aku tetap kesel liatnya, Aku mau pulang dulu" Millie mengabaikan cemilan yang dia bawa dan pergi begitu saja
"Millie.. tunggu.. Kamu gak akan ninggalin aku kan? " Rafael menarik tangan Millie
"Enggak... aku harus ketemu papa sebelum papa meledak" Millie menepis tangan Rafael
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Millie mencari papanya di kantor namun tidak ada dan para staf mengatakan Max sudah pulang setelah marah marah, Millie dengan cepat pulang ke rumahnya setelah mendapatkan telepon dari sang ibu
Baru saja Millie masuk tatapan Max seakan singa yang akan mencabik mangsanya, Millie menunduk menghampiri keduanya
"Kamu gak dengar omongan papa? papa udah bilang jangan mau di rendahkan laki-laki, kamu yang akan rugi kamu yang akan malu" Millie mengangkat kepalanya
__ADS_1
"Maksud papa apa? " Tanya Millie
"Masih nanya? gak mau ngaku kesalahan kamu? foto itu.. kamu udah bikin papa kecewa"
"Pa.. itu bukan aku" Max menyangka wanita yang bersama Rafael adalah Millie
"Jangan bohong kamu.. Kalo bukan kamu siapa lagi? Kamu memang harus di kasih pelajaran" Max hendak melayangkan tangannya namun Millie Menangkisnya
"Udah berani sekarang kamu ya.. Gak usah sekolah kamu, panggil Rafael sama orang tuanya papa nikahin kalian"
"Bukan gitu pa.. papa denger dulu, itu bukan aku" Millie berusaha menjelaskan yang sebenarnya
"Gak perlu dengar penjelasan kamu, udah panggil Rafael sama orang tuanya sekarang atau papa yang akan seret mereka kesini"
"Papa itu bukan aku.. masa papa gak bisa bedain badan anak sendiri? " Millie mulai kesal karena sangat ayah tidak juga mendengarkannya
"Itu mantan pacarnya kak Rafael pa" Millie setengah berteriak ketika Max menarik tangannya
"Apa? " Genggaman tangannya dari Millie langsung terlepas
"Itu foto udah lama pa.. mantan pacarnya masih ngejar ngejar Rafael buat minta tanggung jawab"
"Putusin dia... dia gak baik buat kamu, dia cuma pengaruh buruk buat kamu" Mata Millie sudah berkaca-kaca ini yang dia takutkan
"Dia udah berubah pa.. dia gak pernah macem macem sama aku" Lirih Millie
"Lalu gimana cewek yang udah dia rusak? papa punya anak cewek dan papa gak mau kalo anak anak cewek papa juga di tinggal gitu aja setelah laki-laki brengsek itu menikmati segalanya" Allea yang berada di samping Max hanya diam saja, dia juga memikirkan hal yang sama dengan sang suami
"Ma.... " Millie seolah memohon pada Allea
"Maaf sayang" Allea menggeleng
Rafael mengumpulkan nyali datang ke rumah Millie, tatapan marah Max pada Rafael terlihat nyata dan dengan langkah besarnya Max menarik Rafael dan mendaratkan bogem mentah di wajah Rafael
Pemuda itu tidak bisa melawan dia hanya diam saja apa lagi melihat Millie yang menangis
"Jauhi anak saya... Bertanggung jawab pada wanita itu kalo kamu memang laki-laki" ucap Max
"Enggak om.. om bisa mengambil semua yang sudah om kasih tapi jangan pisahin saya sama Millie" Max kembali memukul Rafael
Saat hendak kembali memukul tangan Max terhenti di udara saat Millie memeluk tubuh Rafael,
"Stop pa.. stop... aku udah tau ini dari awal, aku tutupin semuanya dari papa, please pa udah" Rafael menjatuhkan tubuhnya kasar di sofa sambil memijat keningnya
"Nama kamu baru aja naik sekarang kamu sudah membuat masalah" ucap Max
__ADS_1