
"Halo oma" Millie melambaikan tangannya
Tatapan oma masih menatap Millie dengan tatapan tidak suka, Millie menatap Rafael seolah mengadu kalau oma nya masih tidak menyukainya
"Oma.. hari ini Millie mau jenguk oma, jangan galak galak gitu dong Millie jadi takut" ucap Rafael seraya berlutut di hadapan oma yang duduk di kursi roda
"Mami hari ini pergi jadi aku sama Millie yang jagain oma, yang nurut ya" ucap Rafael bak membujuk seorang anak kecil
Rafael menyuapi omanya sementara Millie hanya duduk memperhatikan mereka, tiba tiba handphone Rafael berdering lalu dia menyerahkan piring yang di pegangbya pada Millie
"Sayang tolong dulu, aku ada pekerjaan penting" Rafael berbisik pada Millie menjauhkan handphonenya
"Ya pak.. saya cek dulu" Rafael kemudian pergi mungkin ke kamarnya
"Oma aku dulu yang suapin ya" tatapan oma Rafael membuat Millie tersenyum kikuk
"Keliatan banget kalo oma gak suka sama gue" batin Millie
"Oma makan ya" Millie menyuapi oma Rafael makan namun sepertinya oma menolak
"Ya udah gak usah.. nanti biar kak Rafael aja yang suapin" Millie kembali menaruh piring itu di meja
"Gimana sih ini anak, coba bujuk kek, aduuhh.... mana aku lapar lagi, Rafael kemana sih lama banget" batin oma
Millie hanya berdiam diri sesekali memainkan kukunya dia begitu bingung harus bersikap seperti apa pada nenek tua di hadapannya, perut oma Rafael keroncongan Millie pun mendengarnya
"Oma yakin gak mau makan? " Tanya Millie
Oma melotot dengan wajah marah membuat Millie kembali bungkam, dalam hati oma Rafael merutuki Millie yang tidak mencoba membujuknya padahal dia sangat kelaparan
Sudah setengah jam Millie berdiam diri bersama oma namun Rafael masih belum kembali, bibi pelayan di rumah itu masuk hendak menyimpan baju
"Bibi... oma gak mau makan sama aku, bibi bisa bantuin gak? " Millie berdiri menghampiri bibi pelayan itu
"Biar bibi aja Non" ucapnya
"Makasih ya bi, aku mau cari dulu kak Rafael"
"Den Rafael ada di kamarnya Non" Millie pun pergi keluar dari kamar tersebut
Oma kembali beraksi bergerak gerak tak menentu dengan mata melotot, bibi menenangkan oma meskipun tidak mengerti apa yang di inginkan nya
"Nyonya besar kenapa? mau apa? aduh.. gimana ini? " tanya bibi
"Dasar bodoh... jangan biarkan anak itu berduaan di kamar, cepat panggil mereka" ingin sekali rasanya oma berteriak
"Nyonya besar tenang.. aduuhh.. ini nyonya vivi kemana sih, saya panggil den Rafael dulu"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
__ADS_1
"Masuk" ucap Rafael ketika Millie mengetuk pintu kamarnya
"Kamu lagi ngapain? " tanya Millie
"Baru selesai kirim kerjaan, lama ya? " Rafael menutup laptopnya dan menghadap Millie yang duduk di sebelahnya
"Oma gak mau aku suapin jadi bibi aja yang suapin"
"Gak apa apa... oma emang gitu, kekanak-kanakan" jawab Rafael
"Anterin aku pulang udah sore"
"Nginep aja disini" Ucap Rafael sambil memeluk Millie
"Gak mau.. nanti papa marah"
"Kenapa kita gak nikah diem diem aja?" Rafael mendusel kepalanya di lengan Millie
"Gak mau.. aku masih kecil"
"Gemes banget aku sama kamu, jadi pengen khilaf" ucap Rafael sambil terkekeh
"Udah ah aku mau pulang"
"Bentar lagi, mami belum pulang" Rafael mendorong tubuh Millie perlahan hingga berbaring di ranjang
Rafael memandang Millie dari atas tubuhnya, tatapan mereka sangat dalam seolah sedang membaca hati mereka masing masing
Ketika mereka sedang terhanyut bertukar saliva tiba-tiba pintu kamar Rafael di ketuk, Rafael mengacak kasar rambutnya seraya berjalan ke arah pintu
"
Millie bangun dari tidurnya dan tanpa dia sadari kancing seragam bagian atasnya sudah terbuka, Millie buru buru memasang kembali kancing tersebut lalu merapihkan rambutnya
"Astaga... kurang ajar emang tuh cowok" gerutu Millie
Melihat Rafael kembali menghampirinya membuat Millie kesal, Millie berdiri saat Rafael mendekat dia hendak melayangkan tangannya untuk menampar Rafael
Namun sepertinya pemuda itu sudah membaca apa yang akan dilakukan kekasih kecilnya ini, Rafael menangkap tangan Millie dan kembali menggulingkan tubuhnya juga mengunci pergerakannya
"Kamu kurang ajar, lepasin gak" Millie berontak minta di lepaskan
"Maaf sayang aku khilaf, gak di apa-apain kok baru juga di buka" jawab Rafael dengan entengnya
"Berarti kamu udah ada niat mau ngapa-ngapain, dasar brengsek, buaya darat, aku bilangin papa nanti" Rafael malah tertawa ketika Millie hendak mengadukannya pada Max
"Nanti bilangnya kalo kita udah gituan biar langsung di nikahin" ucap Rafael
"Enggak mau... lepasin gak atau aku teriak? "
__ADS_1
"Teriak aja kamar ini kedap suara, kamu sendiri yang masuk ke sini" ucap Rafael
Millie berusaha berontak namun Rafael mengunci pergerakannya hingga tidak bisa melakukan apapun, Sepertinya Millie ketakutan dengan keadaan seperti ini karena dia tidak bisa melawan
"Aku cuma bercanda sayang.. maaf" Rafael memeluk Millie dan mencium bibirnya singkat lalu bangun dari atas tubuh Millie
"Gak lucu tau gak" Millie cemberut dia kesal di permainkan
"Jangan ngambek gitu dong, aku cuma bercanda doang.. mana mungkin aku berani macem macem sama kesayangan aku"
"Tau ah.. " Millie masih kesal dengan candaan Rafael
"Kamu punya ketakutan juga ternyata" Rafael mengacak rambut Millie
"Tau ah.. gak lucu"
"Ayo oma katanya lagi ngambek" Rafael mengulurkan tangannya pada Millie, namun Millie pergi begitu saja mengacuhkan Rafael
"Ck.. gemes banget sih, gue makan juga lo" gumam Rafael
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Nyonya kami di perintahkan tuan untuk menjemput anda"
"Kalian siapa? " Tanya Allea
"Tuan Maxime memerintahkan untuk menjemput anda"
"Loh.. mau kemana kok di jemput? " Saat Allea sedang berpikir sejenak tiba tiba orang-orang tersebut membekap mulutnya dan membawanya dengan paksa kedalam mobil
"Ma... mama... " Ellia berteriak saat melihat Sang ibu di bawa dengan mobil orang asing
Ditengah kepanikannya Ellia melihat plat nomor mobil tersebut beruntung dia adalah orang yang mudah mengingat, Dia segera menelpon Sang ayah juga saudara saudaranya
Mata Allea di tutup begitupun mulutnya entah kemana dia akan dibawa, Dalam hati Allea terus berdoa semoga suaminya mengetahui dimana keberadaannya dan bisa segera membebaskannya
"Tuan kami menangkap istrinya, anak anaknya terlalu waspada hanya ibunya yang dapat kita tangkap"
"Baik tuan" Allea berusaha mendengar suara si penelepon namun tidak dapat dia dengar
"Bawa dia ke tempat biasa" ucapnya pada seseorang yang sedang mengemudi
Allea berusaha memberontak hingga kakinya menendang salah satu kaki pria di sebelahnya, pria itu marah dan langsung menampar Allea hingga tak sadarkan diri
"Gawat... tuan bilang jangan sampai lecet" temannya menggerutu
"Dia yang bikin kesel duluan"
"Gila lo.. gimana nanti kita ngomongnya? "
__ADS_1
"Bilang aja dia ngelawan