
"Kakak kenapa sih? lagi ada masalah ya? " Tanya Millie melihat Irene banyak melamun
"Aku gak punya semangat hidup lagi" lirih Millie
"Kenapa? jangan gitu lah, sebesar apapun masalah yang kakak hadapi gak boleh putus asa" ucap Millie
"Apa kamu pernah merasa hidup kamu begitu menyedihkan? kamu merasa hancur, masalah besar terjadi dalam hidup kamu tapi tidak bisa menceritakannya pada siapa pun"
"Aku di fitnah bunuh orang, aku hampir mati 2x, sampe berantem sama kak Ellia gara-gara cowok, apa itu termasuk masalah besar? " Tanya Millie
"Ternyata masalah kamu lebih besar" lirih Irene
"Aku gak tau masalah apa yang kakak hadapi tapi saran aku jangan putus asa, mengeluh boleh asal jangan menyerah.. seperti apapun keadaan kita hidup terus berjalan, kata mama hidup gak berjalan seperti yang kita mau tapi kita harus punya kemauan untuk hidup, ngerti gak? kalo gak ngerti gak usah di pikirin" ucap Millie, Irene menarik sedikit sudut bibirnya, bersama Millie nampaknya dia bisa lebih ceria
"Kamu mau gak di ajak ketemu kalo kakak lagi butuh? "
"Boleh.. tapi kalo aku gak lagi ngedate " Jawab Millie sambil terkekeh
"Cih.. bocil pacaran"
"Gak apa apa.. pacar aku bukan bocil kok" Millie mengambil handphonenya dan memperlihatkan foto Rafael
"Ini... wah.. serius kamu jadian sama dia? " Tanya Irene
"Iya.. kenapa emangnya? "
"Dia satu angkatan dulu sama kakak, ganteng, pinter dia udah lulus s2 cuma dalam waktu 2 tahun.. tapi.. " Irene menggantung kata katanya
"Tapi kenapa? "
"Dia nakal, denger denger sih dia suka begituan sama mantan mantannya" Millie mengernyitkan dahinya
"Begituan? " tanya Millie
"M*k**g l**e" bisik Irene membuat Millie sampai tersedak makanan
"Kamu gak apa apa? sorry.. aku gak bermaksud jelekin dia " Irene memberi air minum pada Millie
"Itu serius? kakak gak bohong kan? " tanya Millie
"Enggak.. dulu dia populer banget di kampus, jadi mantannya ada yang suka banggain diri kalo dia udah begituan.. gila gak sih? gak tau malu banget kan ceweknya"
"Aku bukan mau jelekin dia ya, aku cuma sayang sama kamu jangan sampai mau di bujuk janji janji manis karena dia gak nikahin cewek yang udah begituan sama dia" lanjut Irene
"Kok jadi ilfeel ya? " gumam Millie
"Kalo dia udah berubah kayaknya gak masalah deh, setiap orang berhak punya kesempatan kedua iya kan? "
"Pantesan di nyosor mulu udah pro ternyata" Millie dengan tatapan kosongnya membayangkan Rafael yang melakukan itu dengan orang lain Millie bergidik tersadar dari lamunannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ya ampun.. berapa hari kamu gak pulang? kenapa jadi malika (kedelai hitam) begini? " Rafael baru pulang sore itu
Saat dia di rawat di rumah sakit Rafael memberitahukan maminya, dia mengatakan tidak pulang karena di Bengkelnya sangat sibuk
"Nemenin calon mertua mancing" Rafael menjatuhkan tubuhnya di sofa
"Ya ampun sampe gosong gitu" wajah Rafael dan tangannya menghitam karena di bawa memancing seharian di tengah laut oleh Max
"Perjuangan mi" ucapnya sambil memejamkan mata
__ADS_1
"Segitunya buat cari perhatian calon mertua"
"Papa ada telepon kamu gak? " tanya mami
"Gak ada emang kenapa? "
"Udah dua hari gak pulang, mama khawatir" ucap Mami Rafael
"Kok gitu? biasanya emang papa pergi kemana? " Tanya Rafael
"Itu dia mama gak tau, nanya Andin juga dia gak tau"
"Mami tenang aja aku cari nanti, sekarang aku mau tidur dulu capek" ucap Rafael
"Bener ya nanti di cariin"
"Iya"
"Kemana dia? apa bener papa korupsi dan berniat ninggalin mami setelah bangkrut? " batin Rafael
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Irene ingin bicara dengan Ello namun dia takut, Irene takut Ello akan kembali menuduhnya yang tidak tidak
Irene hanya melirik sekilas lalu menundukkan kepalanya, Irene mengumpulkan keberanian untuk bertanya karena jika dia tidak memperjelas ini dia tidak akan tenang
"Ello gue mau ngomong" ucap Irene
"ya udah ngomong aja"
"Gak disini, gue butuh waktu berdua" Ello menatap Arumi lalu beranjak dari kursi
"Jangan bertele-tele" Ello pergi lebih dulu
"Cepet, gue gak punya banyak waktu" ketus Ello
"Kamar 105 di bandung, malam itu lo? " tanya Irene
"Apa maksud lo? " tanya Ello
"Orang yang melakukan itu ke gue di kamar 105, apa itu lo? "
"Cih.. lo bersandiwara? lo denger kemaren kan makanya lo bikin skenario Seolah-olah lo yang ada di kamar malam itu? " Irene menggeleng kepalanya
"Bukan gitu... yang ada di kamar itu gue Ello bukan Arumi"
"Jangan mengada-ada deh, gue capek sama sandiwara lo selama ini.. kalo ini gue gak akan tertipu, udah jelas disana cuma ada Arumi kalo pun itu lo kenapa malem itu lo gak minta penjelasan? " tanya Ello
"Gue kayaknya di pengaruhi obat tidur malem itu, waktu gue sadar pagi pagi gue ketakutan dan pergi gitu aja.. gue gak nyangka itu lo"
"Cih... lo bagus kalo jadi produser cerita lo kayak nyata gitu, gue tambahin sedikit nanti akhirnya lo hamil dan minta tanggung jawab dan pengen gue nikahin, bener kan? udah lah capek dengerin lo" Ello pergi begitu saja meninggalkan Irene
Irene menangis duduk bersandar di dinding dia tak kuasa menahan sesak di dadanya, dia di tuduh berkali kali juga merasa di rendahkan
"Jadi itu bener lo? tapi kenapa lo sadar kalo itu gue? " Irene pergi meninggalkan kampus dia tidak ingin bertemu lagi dengan Ello, pria itu sudah membuatnya benar-benar terluka
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ketemu lagi mbak" Aldi duduk di samping Irene
"Ngapain sih lo? pergi sana bikin orang tambah bete aja"
__ADS_1
"Ngapain sih nangis mulu disini? kayaknya hidup mbak sedih banget" cicit Aldi
"Ehh.. ******, jangan panggil gue mbak gue gak kawin sama abang lo" ucap Irene sambil menangis
"Lah.. gue di panggil ******"
"Ngapain sih lo ganggu orang aja? pergi sana sekolah kek yang bener" ucap Irene
"Udah pulang mbak, ini udah sore " Aldi menunjukkan jam di tangannya
"Gue udah lama dong di sini, gue balik dulu deh" ucap Irene menghapus air matanya
"Mbak.. "
"Jangan panggil gue mbak" ketus Irene
"Kak Irene.. gue mau balikin ini waktu itu jatuh gue kesini tiap hari tapi gak pernah ketemu" ucap Aldi
"Oh.. thanks" Irene mengambil bukunya lalu pergi
"Galak banget sih" gumam Aldi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Non.. di depan ada den Rafael"
"Bilang aja aku gak ada atau tidur, aku males ketemu sama dia" ucap Millie tanpa berbalik
Millie berbaring di Sofa ruang tamu sambil bermain handphone, dia tidak menyadari bahwa Rafael sudah berada di belakangnya
"Kenapa gak mau ketemu? " Millie terkejut sampai menjatuhkan ponselnya
"Itu.. itu... "
"Ya udah kalo kamu gak mau ketemu aku pulang" Rafael pergi Millie juga tidak menahannya, perkataan Irene saat itu masih terngiang di telinganya
"Kenapa lagi berantem? " Tanya Ellia
"Gak tau.. gue lagi males aja" jawab Millie
"Gak boleh gitu dong kalo ada masalah bicarakan baik baik, dia jauh jauh datang kesini loh" ucap Ellia
"Lo pernah gak sih ilfeel sama masa lalu pacar lo? " tanya Millie
"Tentang apa dulu? "
"Misalnya lo denger dari orang kalo pacar lo suka tidur sama mantan mantannya gitu? " tanya Millie
"Masa lalu Sony yang paling buruk, aku pernah di DM seorang cewek katanya dia mantan Sony dan memperingatkan aku kalo Sony itu cowok gak bener"
"Terus menurut lo gimana? lo kok bisa pacaran lama sama dia? " tanya Millie
"Dia emang cowok kurang ajar sih tapi mungkin dulu karena cinta gue tahan aja, yang penting kitanya jangan terbawa kita yang harus kuat jangan sampe termakan omongan dia dan ngasih harga diri kita"
"Kali kamu masih suka sama dia jangan sampe mama dan papa tau atau dia akan habis" Ellia menggerakkan jempolnya di leher seperti menyembelih
"Jadi gue harus gimana? gue sayang cuma gue takut dia macem-macem"
"Jalani aja, kalo dia macem-macem bisa kamu hajar terus putusin, selagi dia masih menghormati kamu masa lalu dia anggap gak pernah terjadi.. setiap masa lalu berhak... "
"Mendapatkan masa depan" Millie melanjutkan kata kata Ellia
__ADS_1
"Betul"
"Gue pergi dulu ya.. gue harus minta maaf" Millie pergi mengambil tasnya dan memesan ojek online untuk menyusul Rafael ke bengkelnya