Youth Love

Youth Love
eps 109


__ADS_3

"Ini gaunnya.. selamat ya semoga pernikahan kalian langgeng"


"Aamiin.. Makasih tante" ucap Irene


"Kami permisi tan" ucap Ello


"Iya.. hati hati, calon pengantin jangan sering keluyuran katanya pamali" Ello dan Irene hanya menanggapi dengan senyum


"Lo udah coba gaunnya? boleh gue liat? " Tanya Arumi


"Udah... kemarin lusa itu di temenin sama tante Allea sama mama juga, boleh" Irene memberikan paperbag ke belakang


"Ada gue juga disana" Sergah Ello merasa dirinya tak di anggap


"Tapi lo pergi kan? gak bilang bilang lagi"


"Mungkin Ello pergi karena gue, sorry" lirih Arumi


Raut wajah Irene berubah seketika memandang wajah Ello, Ello bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun


"Gak apa apa, lagian gak penting juga cuma coba gaun apa pentingnya" ucap Irene namun terselip kata kata mendalam di balik perkataannya


Ello melirik Irene yang kini menatap ke luar jendela sambil mengusap perutnya, Tangan Ello terulur menyentuh perut Irene namun calon istrinya itu menepisnya


"Lo kalo ngomong jangan setengah setengah" ucap Ello


"Sebenarnya gue pergi karena pembantunya telepon dia bunuh diri, pembantunya bingung harus di apain jadi gue datang buat liat kondisinya dan pergi setelah pembantunya perban luka dia" Ello menjelaskan kepada Irene meskipun orangnya tak merespon sana sekali


"Irene lo marah? gue gak bermaksud mengacaukan acara kalian"


"Gak apa apa, udah lewat juga " ucap Irene


"Gue berhenti disini aja" lanjut Irene


"Kenapa? " Tanya Ello


"Rumah gue disini, gue mau pulang capek" Jawab Irene dingin


Perjalanan ke rumah Arumi memang melewati jalan menuju rumah besar Irene, Meskipun Rumah Irene sudah lewat namun Ello tidak menghentikan mobilnya


"Rumah gue udah lewat"


"Gue tau" jawab Ello, Setelah mengantarkan Arumi pulang kini Irene duduk di kursi belakang


"Kok di belakang? " Tanya Ello


"Pengen aja"


"Gue gak mau di anggap supir, pindah " Ello tidak menghidupkan mobilnya sama sekali sebelum Irene pindah


"Ya udah gue cari taksi aja" Irene turun dari mobil ello membuatnya juga ikut turun


"Masuk.. lo bilang capek? ayo pulang" Ello menahan tangan Irene


"Ya ini mau pulang lepasin dong" Irene menarik tangannya

__ADS_1


Ello memaksa Irene masuk ke dalam mobilnya lalu menguncinya, Irene sama sekali tidak menatapnya dia lebih memilih melihat keluar jendela


"Gue salah dan gue minta maaf.. pembantu Arumi bilang dia bunuh diri ternyata waktu gue datang kesana gak parah cuma goresan di kulitnya aja"


"Terserah.. kenapa juga lo jelasin sama gue? gue gak mau tau juga" ketus Irene


"Lo cemburu? "


"Enggak.. gue cuma kesel aja lo pergi gitu aja padahal disana ada nyokap kita, lo seakan-akan gak punya sopan santun gitu'' jawab Irene


" Kalo gue izin nyokap gue pasti larang, dia udah gak suka sama Arumi.. Kalo beneran dia kenapa napa gue akan di hantui rasa bersalah"


"Ya udah jalan.. berisik" Ello mencondongkan tubuhnya begitu dekat dengan Irene hingga Irene terpojok di jendela mobil


"Apaan sih" Irene menahan dada Ello


"Apa? gue cuma mau pakein sabuk pengaman" jawab Ello, wajah Irene memerah seketika dia mengira Ello akan berbuat macam macam


"Lo berharap gue ngapain? " tanya Ello ketika sudah kembali ke tempat duduknya


"Tau ah.. "


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Bokap gue punya panti asuhan, gue di suruh ajak anak anak main nanti abis ujian.. kalian mau bantuin gue kan? " tanya Millie pada ketiga Sahabatnya


"Hayuk.. hayuk aja"


"Cuma kita? "


"Ajak Dita lah gitu" ucap Jason


"Lo naksir sama Dita ya? " Goda Millie


"Iya.. tapi itu om lo yang culun itu ngapa sih ngintilin si Dita mulu" Mendengar omnya di ledek Millie menoyor kepala Jason


"Lo gak kira kira kalo ngeledek, gue keponakannya"


"Hehe... emang dia culun" Jason malah terkekeh


Mereka sedang makan di sebuah cafe dan di balik dinding tipis yang menjadi penghalang, di belakang Millie ada Rafael yang selalu mengikutinya kemana pun


Rafael diam diam selalu mengawasi Millie agar dia terhindar dari masalah, Rafael mendengar Millie menjawab telepon dari seseorang


"Halo kak.. oh flashdisknya belum aku kasih tau papa, aku masih sibuk ujian jadi gak mikirin itu dulu"


"Oh.. gue mau ajak anak anak panti main mungkin nanti lusa, Lo mau ikut gak? ohh.. ya udah ketemu disana ya"


"Siapa yang nelpon Millie? mereka mau ketemuan? kamu udah bener-bener buang aku dari hidup kamu Millie.. orang lain kamu kasih ajak sementara aku, kasih tau pun enggak" batin Rafael


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lo mau apain tuh bocah? " Tanya Max pada Danendra


"Gue udah ambil keputusan mau menikahkan mereka "

__ADS_1


"Lo serius? apa lo udah pikirin konsekuensinya? dia aja gak mau tanggung jawab, apa Anggia gak akan hidup menderita? " tanya Max


"Biar konsekuensinya dia yang tanggung, biar dia merasakan akibat dari ulahnya"


"Lo gak sayang sama anak lo? '' Max mengkhawatirkan nasib Anggia


" Justru karena gue sayang sama dia, dia baru jera setelah merasakan akibat dari perbuatannya sendiri, mungkin setelah ini dia akan lebih belajar dan lebih patuh sama orang tuanya"


"Apapun keputusan lo, kalo lo butuh bantuan kasih tau gue" ucap Max sambil menepuk bahu Danendra


"Dia masih hidup? " tanya Max pada anak buahnya


"Masih tuan.. kami memberinya makan dan minum sesuai yang anda perintahkan"


Max masuk bersama Danendra dan melihat Rendi yang mengkhawatirkan di dalam jeruji besi, Melihat kedatangan Max seketika Rendi langsung maju sambil berlutut


"Om lepasin saya om.. saya janji akan bertanggung jawab dan saya janji akan menjaga Anggia"


"Lo yakin? " Tanya Max


"Yakin om.. tolong lepasin saya"


"Oke.. mulai hari ini lo tinggal sama mertua lo, jangan bertingkah lagi atau gue gak segan pisahin kepala sama badan lo" ancam Max membuat Rendi kesusahan menelan salivanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Irene lo dimana? " Arumi menelpon Irene


"Di rumah.. kenapa? "


"Lo bisa ke rumah gue gak? gue lagi sedih banget.. orang tua gue udah gak peduli lagi sama gue" Arumi terisak


"Lo tenang ya.. gue kesana sekarang" ucap Irene


"Makasih ya.. " Irene menutup teleponnya


"Kalo dia udah keluar lo beraksi, hati hati jangan sampai ketahuan" ucap arumi ketika menelpon seseorang


Irene menenangkan Arumi sepulang dari rumah Arumi Irene di kejutkan dengan gaun pengantin yang tergantung di kamarnya, Irene menangis memungut gaun pengantinnya yang compang-camping


Irene segera menelpon Allea karena kedua orang tuanya belum pulang dari luar kota, Tidak lama setelah itu Allea dan Ello datang setelah menerima telepon dari Irene


"Sudah jangan nangis sayang.. ini bukan salah kamu" Allea menenangkan Irene


"Tapi gimana tan acaranya besok, kita gak akan sempet bikin baju lagi"


"Gak apa apa.. kita beli baju yang ada aja, gak usah sedih yang penting kan pernikahannya gak terganggu"


"Bibi liat ada yang masuk gak? " tanya Ello seolah mengintegrasi bibi di dapur


"Gak ada den, cuma pintu depan kebuka kirain bibi non Irene pergi gak tutup pintu.. security di depan juga gak liat"


"Gak ada CCTV? " tanya Ello


"Gak ada den.. CCTV cuma di depan aja"

__ADS_1


Ello segera memeriksa rekaman CCTV yang berada di luar gerbang, tidak ada yang mencurigakan disana sepertinya orang yang merusak gaun Irene masuk lewat jalan lain


__ADS_2