Youth Love

Youth Love
eps 112


__ADS_3

"Sony.. siapa sebenarnya Sony ini? gue sebaiknya tanya sama kak Arumi" Anna pergi dari sana menuju rumah Arumi


Sesampainya disana Anna di kejutkan dengan keadaan rumah Arumi yang berantakan seperti habis di jajah, Rumah itu tampak hening tidak ada siapapun di dalam rumah


"Kak.. kak Arumi" Anna memanggil Arumi


"Pergi... pergi... " teriak Arumi, saat Anna hendak mendekati arah suara Arumi tiba-tiba tubuhnya di tarik ke belakang dan di bawa masuk ke sebuah kamar


"Kamu siapa? " tanya Anna


"Saya yang kerja disini non, jangan samperin non Arumi dulu saya juga ngumpet, takut"


"Emang kak Arumi kenapa? " tanya Anna


"Non Arumi lagi sakit, dia suka ngamuk ngamuk, kalo gak gitu dia menyakiti dirinya sendiri"


"Kok gitu? " tanya Anna


"jangan bilang siapa siapa ya.. non Arumi kejiwaannya terganggu" bisik bibi


"Bi... bibi... " lirih Arumi dari luar


"Dengar.. dia sudah lemes itu tandanya emosinya udah reda, kita bisa keluar"


Benar saja Arumi begitu kacau rambutnya berantakan, tangan dan kakinya pun lebam, Anna melihat Arumi dengan tatapan iba


"Kenapa lo kesini? " Tanya Arumi dengan lemah


"Gue bantu lo istirahat ya.. nanti aja gue cerita" Arumi mengangguk lalu Anna mengantarkannya ke kamar


Setelah Arumi tidur Anna kembali turun dan melihat bibi yang sedang membereskan rumah, Anna membantu bibi membereskan barang barang yang berserakan


"Bi... sejak kapan kak Arumi kayak gini? " tanya Anna


"Sejak papa mamanya pisah non Arumi sudah mulai sering ngamuk ngamuk, penyakitnya semakin parah waktu kakaknya meninggal karena di bunuh orang, cuma kakaknya yang peduli sama dia"


"Kenapa kamu diem? " Tanya bibi saat melihat Anna melamun


"Gak apa apa.. ayo bi kita beresin lagi"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ma... minta uang dong" Millie merengek memeluk Allea yang sedang duduk menonton TV


"Uang buat apa? bukannya tadi udah di kasih kartu sama papa, gak puas? "


"Itu kan tadi ma.. sekarang mau ke minimarket, ayo dong ma lima puluh juga cukup atau dua puluh ribu deh" Millie mengusak kepalanya di ketiak Allea


"Kamu kalo ada maunya kayak papa kamu deh, nih udah pergi sana"


"Makasih mamaku yang cantik" Ucap Millie mencium pipi Allea lalu pergi


"Tuh kan.. persis bapaknya" Gumam Allea


Millie pergi menggunakan motornya namun di tengah jalan sebuah motornya mencegatnya, Millie tidak turun meskipun si pemilik motor itu menghampirinya


"Apa lagi? bukannya gak mau tau tentang aku lagi? atau belum puas nuduh aku yang enggak enggak? " Ucap Millie

__ADS_1


"Aku mau minta maaf sama kamu, aku salah, aku ke bawa emosi, aku gak bermaksud menyakiti kamu"


"Ohh.. ya udah minggir" Millie kembali menghidupkan motornya


"Millie tunggu.. aku benar-benar minta maaf, jangan pergi dulu" Rafael mengambil kunci motor milik Millie


"Sini gak? aku mau ke minimarket keburu tutup"


"Aku kasih kalo kamu mau maafin aku" Rafael memasukkan kunci motornya di saku celana depan


"Aku gak mau main main, cepet sini balikin"


"Ya udah ambil sendiri" ucap Rafael


"Kamu pikir aku gak berani? " Millie turun dari motornya menghampiri Rafael


"Ya udah ambil" Rafael merentangkan tangannya


Millie mengulurkan tangannya namun dia urungkan, Millie menghela nafas sambil mengusap wajahnya


"Aku udah maafin kamu, sekarang sini kuncinya please"


"Mukanya kayak gak ikhlas gitu" ucap Rafael


"Aku udah maafin kamu, sekarang aku harus pergi ke minimarket.. sini kuncinya" Millie bicara dengan nada yang manis sambil tersenyum


"Mau beli apa? "


"Kepo banget sih, sini kuncinya cepet" Rafael masih tidak memberikan kunci motornya


Millie menghampiri motor Rafael dan sangat kebetulan kuncinya masih menggantung, Millie naik ke motor Rafael dan pergi


Wajah Millie menjadi muram ketika dia kehabisan cemilan yang dia ingin karena Rafael mempermainkannya, tatapan Millie menajam melihat Rafael yang terkekeh seraya memandangnya


"Sayang kenapa? " tanya Rafael di sela Tawannya


"Lucu? iya lucu? gara-gara kamu aku jadi kehabisan cemilannya"


"Cemilan apa? besok aku beliin yang banyak"


"Tau ah" Millie merampas kasar kunci motornya dari tangan Rafael


Ketika Millie hendak pergi Rafael menarik tangannya dan memeluknya, sontak saja mereka menjadi pusat perhatian pengunjung minimarket lainnya


"Lepasin gak? aku malu" bisik Millie berusaha melepaskan tangan Rafael


"Aku tulus minta maaf sama kamu tapi kamu maafinnya gak tulus"


"Aku tulus, udah lepasin jangan gini" Rafael melepaskan pelukannya


"Aku kangen.. berapa hari kamu cuekin aku? Gimana aku gak marah waktu liat kamu sama cowok lain? "


"Kak William gak kasih tau kamu karena kasihan sama kamu, masalah kamu udah banyak jadi dia cuma kasih tau aku"


"Kalian sering ketemu? " tanya Rafael


"Lumayan.. cuma bahas masalah flashdisk" jawab Millie

__ADS_1


"Bohong"


"Ya udah kalo gak percaya" ketus Millie, Rafael mencubit hidung Millie lalu kembali memeluknya


"Aku kangen dengar kamu marah marah" ucap Rafael lalu mengecup pipi Millie


"Gak punya malu ihh.. di liatin orang juga"


"Gak apa apa, biar mereka iri"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Irene sedang tertawa sendirian melihat kartun di TV sementara Ello sedang belajar, Irene berjalan untuk mengambil baju ganti sambil memperhatikan tv


Langkah kakinya tidak dia perhatian hingga menginjak bekas telapak kaki Ello yang tadi sempat ke kamar mandi, Irene hampir jatuh beruntung dia berpegangan pada meja rias


Mendengar barang barang jatuh Ello segera berlari menghampiri Irene, Irene mengernyitkan dahinya berusaha berdiri dengan benar


"Lo gak apa apa, lo kok sembarangan banget udah tau lagi hamil"


"Lo kok marah? ini siapa jejak kaki siapa yang abis dari kamar mandi? aduuhh.. pinggang gue sakit banget lagi" Irene menarik tangannya yang di pegangin Ello


"Minggir" Irene berjalan memegangi pinggangnya menuju kasur


"Aahh.... pinggang gue" mendengar suara Irene merintih Ello mengambil laptopnya dan duduk di sebelah Irene


"Mau gue pijat gak? " tanya Ello


"Gak usah.. yang ada tambah sakit di pijat sama lo"


"Gue janji pelan pelan, dari pada nanti tambah sakit" ucap Ello


"Ya udah deh.. pelan pelan" Irene mengubah posisi tidurnya menjadi menelungkup


"Jangan gitu juga, kasian anak gue pengap" Ello menarik bahu Irene agar tidur menyamping


"Anak gue juga" ucap Irene


"Iya anak kita, ini sakit gak? kalo sakit ngomong aja"


"Enggak.. udah pas" jawab Irene


Ello memijat pinggang Irene dengan satu tangannya dan satu tangan lagi dia gunakan untuk mengetik tugasnya di laptop, Lama dia memijat Irene tanpa dia sadari Irene sudah tertidur


Ello menutup laptopnya dan baru menyadari Irene sudah tertidur, tangannya semakin menggeser ke depan dan perlahan mengelus Perut Irene


Semakin lama mengusap perut Irene kini Ello diam diam mendekatkan wajahnya pada punggung Irene, Ello menghirup aroma tubuh Irene sambil memeluknya


Irene tidak terganggu sama sekali ketika Ello mencium punggung sampai belakang kepalanya dengan hidung, Irene merubah posisi tidur nya menghadap Ello


Ello menatap wajah Irene yang ternyata cantik juga namun selama ini dia tidak menyadari itu karena terlalu kesal dengan sikap Irene yang pecicilan


Bibir Irene bergerak wajahnya mengernyit tampaknya dia sedang bermimpi, entah pikiran apa yang terlintas di benak Ello hingga dia begitu tergiur dengan bibir Irene


"Udah halal juga kan? " Gumam Ello


Ello mendekatkan bibirnya dan menempelkannya dengan bibir Irene, lama dia melakukan itu hingga dia memberanikan diri bergerak lebih jauh

__ADS_1


"Emmhh... " Irene melenguh membuat Ello tersadar dan menjauh


"Astaga.. apa yang gue lakuin? kalo dia tau gimana? " Ello segera mengusap bibir Irene, Ello mengambil bantal dan pindah tidur di atas Sofa


__ADS_2