Youth Love

Youth Love
eps 144


__ADS_3

"Kenapa kamu pagi pagi udah kesini? " Tanya Millie


"Supir baru udah datang.. Sarapan dulu ayo" Ucap Max 


"Kamu beneran jadi supir papa? "


"Kalah taruhan" Bisik Rafael lalu pergi mengikuti Max


" Papa pasti ngerjain Rafael abis abisan" Gumam Millie


Ketika mereka sedang makan mereka kembali di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah sang ayah, Max menyuruh bibi mengambilkan seragam untuk Rafael


"Pa.. Gak perlu pake seragam juga kali" 


"Kok jadi Millie yang protes? Kalo gak mau gak papa " Max kembali mengambil seragam supirnya


"Gak usah om.. Saya pake " Rafael mengambil seragam tersebut


"Bagus, saya pertimbangkan permintaan kamu jadi menantu saya" Ucap Max


"Aku punya firasat kalo kak Rafael pasti darah tinggi abis jadi supir papa" Michelle bisik bisik dengan Millie


"Kita tau gimana absurdnya papa" Ucap Millie


"Bukannya jadi calon menantu malah jadi calon penghuni rumah sakit" Bisik Michelle membuat Millie mencubit perutnya


"Aaaaaaaa" Michelle berteriak membuat semua orang menatapnya


"Kamu kenapa? " Tanya Ellia yang berada di hadapan Michelle


"Kak Millie cubit perut aku kak"


"Millie jangan gitu dong, kan adiknya lagi makan" Ucap Allea


"Maaf ya adik kecil" Ucap Millie dengan penekanan, Millie membelai kepala Michelle tapi ujung ujungnya dia dorong ke depan


"Maaf ya... Suasana makan disini gak pernah tenang" Ucap Allea


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Selamat pagi sayang" Irene baru saja membuka matanya, dia melihat Ello di Hadpaannn dengan rambut yang masih basah


"Udah mandi? Kok gak bangunin gue? Duuhh kesiangan nih" Irene bangun dari tidurnya dia menatap ke bawah lalu berteriak saat melupakan sesuatu


"Aaaaaaaaa.... " Irene berteriak menarik selimut dan menutup tubuhnya


"Kenapa kaget gitu? Gak usah pake ini gue udah liat semuanya" Ello membuang selimut itu dan mengangkat  tubuh Irene menuju kamar mandi

__ADS_1


"Santai aja.. Masih pagi kok" Ello bahkan sudah menyiapkan air hangat untuk Irene berendam, setelah membawa Irene ke kamar mandi Ello kembali pergi


Irene tersenyum senyum sendiri mengingat semalam bagaimana Ello memperlakukannya dengan manis, Irene mengepakkan tangannya di air dia jadi salah tingkah sendiri mengingatnya


"Jantung gue... Gue gak nyesel punya lo, sekarang gue bahagia makasih udah hadir di antara gue dan Ello" Irene mengelus perutnya seraya menyandarkan tubuhnya di bathtub 


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Irene berniat masuk ke toilet namun seseorang menyerobotnya lebih dulu, saat orang itu masuk tiba-tiba saja dia tergelincir dan jatuh


"Lo gak apa apa? " Irene membantunya berdiri


"Iihh... Kok ada minyak sih di toilet, untung bukan lo yang masuk" Ucap wanita tersebut yang tahu bahwa Irene sedang hamil


"Mau gue anter periksa? Kali aja ada yang ke bentur?" Irene melihat bagaimana wanita itu jatuh, dia terjatuh begitu keras sampai terlentang di lantai


"Gak apa apa... Gue kebelet, sorry ya" Wanita itu menutup pintunya


"Kok di toilet ada minyak? " Gumam Irene


Di toilet sebelah Arumi begitu kesal karena rencananya gagal, ya.. Arumi yang menumpahkan minyak di toilet sebelahnya


Karena tahu hanya toilet itu yang kosong Arumi menumpahkan minyak dari atas pembatas toilet yang tak di halangi tembok, Atap toilet itu terbuka hingga bisa tersambung dari toilet satu ke toilet lain


Keberuntungan berpihak pada Irene seorang mahasiswi lain masuk terburu-buru karena sudah tidak kuat menahan buang hajatnya, Irene mengurungkan niatnya dan kembali keluar


"Gak jadi... Tadi untung aja gue gak masuk di toiletnya ada minyak, orang lain yang masuk jatoh" 


"Kok bisa? Siapa yang bawa minyak ke toilet? " Tanya Ello


"Mana gue tau, pulang aja ayo.. ke toilet umum jadi takut deh" 


"Gue juga bilang juga apa, gue harus ikut masuk biar bisa jagain lo" Ucap Ello


"Itu sih maunya lo aja, Peres" Irene memukul lengan Ello lalu pergi


"Sama istri sendiri boleh dong, lagian gue udah tau semuanya" Ello mengejar Irene


"Diem gak?? Gue malu, kalo di dengar orang gimana? "  Ello hanya terkekeh merangkul bahu Irene seraya pergi


"Kenapa sekarang gak ada yang peduli sama gue? Kenapa orang lain menemukan kebahagiaannya? Kenapa gue enggak? Gue mau bahagia.. Gue mau bahagia..." Arumi berteriak menutup telinganya membuat dia menjadi perhatian


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa bi?" Mama Arumi baru saja pulang dan melihat rumahnya begitu berantakan


"Non Arumi.. Nyonya.. "

__ADS_1


"Kenapa? Arumi kenapa? " Tanyanya dengan cemas


"Non Arumi sudah lama depresi, sudah di obati tapi masih seperti ini.. Kalo dia merasa sesuatu gak sesuai keinginannya atau suasana hatinya lagi jelek begini" Terdengar suara teriakan  Arumi sampai terdengar ke lantai bawah


Mama Arumi segera berlari menuju kamar anaknya itu untuk melihat keadaannya, begitu pintu kamar terbuka mama Irene begitu terkejut melihat seisi kamar juga penampilan Arumi yang berantakan


"Arumi sadar nak... Ini mama sayang" Mama Arumi memeluknya sambil menangis


"Mama? Hahhaa gue gak punya mama, gue gak punya keluarga, gue hidup sebatang kara.. Lo semua ninggalin gue, hidup ini gak adil.. Hidup ini gak adil gue gak pernah di kasih kebahagiaan, kenapa semua orang bahagia kecuali gue, kenapaaaaaa? " Arumi melepaskan pelukan ibunya lalu menjauh dan semakin menggila


"Mama sayang sama kamu nak, mama datang kesini buat jemput kamu pulang.. Kita berkumpul sama sama lagi sayang" Mama Arumi menghapus air matanya


"Enggak... Gue gak akan pergi sebelum bawa cowok itu, dia suami gue.. Dia ayah dari anak anak gue... Hahahha.. Gue juga mau hamil anak dia.. Kenapa malem itu malah dia masuk ke kamar Irene? Kenapa gak kamar gue? Irene wanita licik dia pasti sengaja bawa dia masuk ke kamarnya" Arumi benar-benar sudah gila dia berteriak kadang menangis dan kadang tertawa


Ibunya tidak mengerti apa yang di katakan  anaknya itu, ketika berusaha mendekati Arumi sebuah pot bunga melayang dan mengenai kepala mama Arumi


"Nyonya... Ayo nyonya kita harus pergi" Bibi menyelamatkan mama Arumi dari amukan anaknya itu


Bibi menyeret mama Arumi yang setengah sadar dengan kepala berlumuran darah, tidak lupa bibi mengunci kamar Arumi agar dia tidak kabur keluar


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kita kemana dulu om? " Tanya Rafael


"Saya hari ini ada meeting sama orang kamu ikut masuk" 


"Baik om"


Hari sudah mau gelap namun Max masih mengadakan pertemuan untuk meeting, terpaksa Rafael mengikuti perkataan calon mertuanya tersebut karena takut tak dapat restu


Di sebuah ruangan VVIP seorang wanita mungkin seumuran mami Rafael sudah menunggu dengan baju kurang bahan, Rafael mengira Max bermain curang di belakang Allea namun ternyata dia salah


Max sengaja mengajaknya masuk untuk menjadikannya umpan, Max tidak mau berurusan dengan wanita genit tersebut


"Kontrak sudah selesai di tanda tangani bagaimana kalau anda menemani saya minum sebentar " Ucap wanita tersebut dengan sensual


"Maaf nyonya.. Saya sekarang tidak lagi minum karena istri saya melarang, tapi.. Saya bawa pemuda tampan untuk menemani anda"


"Om... Yang bener aja" Rafael memegangi tangan Max karena takut di tinggal


"Temenin minum aja, bantuin bentar ya" Bisik Max


"Gak mau om.. Jangan bercanda om" Pekik Rafael saat wanita itu duduk begitu rapat dengannya


"Selamat bersenang-senang" Max beranjak pergi dari sana


"Maaf tante saya gak suka perempuan, saya g*y" Rafael sedikit demi sedikit bergeser lalu kabur mengejar Max

__ADS_1


"Sialan, gue mau di jual calon mertua gue sendiri" Gerutu Rafael melihat Max tertawa sendiri sambil berjalan ke arah mobilnya


__ADS_2