
Millie dan Rafael masuk tiba tiba saja sebuah tongkat melayang dengan sigap Rafael menangkapnya, anggota geng werewolf berdatangan dari segala sisi mengepung mereka
Millie dan Rafael saling memunggungi mengambil ancang-ancang, dengan satu gerakan beberapa orang tumbang
Millie sempat saling pandang dengan Rafael lalu Millie mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum, Rafael terkekeh dan kembali menjatuhkan mantan teman temannya itu
"Lo udah berubah bang, lo lupain pertemanan kita yang udah berjalan bertahun-tahun cuma buat cewek yang lo kenal baru beberapa bulan" ucap Sony
"Gue gak pernah lupain kalian, gue cuma pengen cari kebenaran tentang apa yang terjadi selama ini.. lo nuduh Millie tanpa bukti bukannya dia juga bisa nuduh lo balik? "
"Dia bukan temen kita lagi, jangan segan" ucap Sony
Fokus Millie terpecah saat Sony membawa Anggia yang terikat dengan pisau di lehernya, Anggia menangis meminta pertolongan pada Millie
Mereka memanfaatkan kelemahan Millie dan memukul kepala Millie hingga dia terjatuh, melihat Millie terjatuh Rafael segera berlari menghampirinya
"Millie... kamu gak apa apa? "
"Awas" Millie masih bisa melihat seseorang di belakang Rafael meskipun matanya hampir tertutup
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sudah dapatkan lokasi mereka? pergi sekarang " Max dan anak buahnya pergi menyusul Millie setelah mendapatkan lokasi dimana Millie berada
Seperti layaknya pengawal presiden mobil mobil itu melesat mengikuti sebuah mobil mewah di depannya yang tidak lain adalah mobil Max, Max beberapa kali menghubungi Millie namun tidak mendapat jawaban
Allea juga terus menelponnya menanyakan tentang keberadaan Millie
"Millie mana? apa udah ketemu? "
"Sayang udah berapa kali kamu telepon? aku aja baru dijalan, kamu nelpon setiap lima menit sekali" ucap Max
"Cepet dong cari gimana sih? itu anaknya kalo kenapa-napa gimana? "
"Ya kamu tenang dulu.. kamu pikir aku gak nyari? "
"Kenapa dari tadi masih di jalan? "
"Mobil butuh jalan, kenapa kamu gak pelihara jin aja biar bisa langsung nyampe gitu ketempat yang di tuju? " ucap Max
"Kamu malah ngajak berantem, anaknya lagi dalam bahaya"
"Yang ada kamu yang ngajak berantem, aku lagi di jalan.. lokasinya jauh banget"
"Bawa mobilnya cepetan dong jangan nyantai" gerutu Allea
"Ini juga udah cepet.. udah diem aja di rumah jangan berisik" Max langsung mematikan teleponnya
Supir yang membawanya hanya menggaruk tengkuknya dia sudah biasa mendengar Max dan Allea, kecepatan mobil dia tambah tanpa bertanya pada Max
Wajah bosnya sudah seperti hendak menelan seseorang, dia tahu bosnya sedang khawatir dengan anak gadisnya yang satu ini
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu udah sadar? " tanya Rafael
__ADS_1
"Kepala aku sakit banget" Millie menyandarkan tubuhnya di punggung Rafael
"Kita dimana? " tanya Millie
"Di ujung kematian" ucap Rafael sambil terkekeh
Millie melihat ke bawah pantas saja dia merasa kedinginan karena air di kolam itu sudah menggenang sampai perutnya, Rafael dan Millie duduk di tengah kolam dengan tangan terikat dan di beri pemberat
"Kalo kita mati gimana? " tanya Millie
"Kalo ketemu ya di kubur kalo enggak paling ngambang" dengan entengnya Rafael menjawab pertanyaan Millie
"Aku belum mau mati, aku belum lulus sekolah, aku mau kuliah, aku belum nikah, aku pengen punya anak, punya cucu juga"
"Itu bukan wasiat terakhir kan? " ucap Rafael sambil terkekeh
"Jangan ketawa, ini airnya makin naik"
"Kita coba lepasin talinya" Ucap Rafael, mereka berusaha membuka tali yang mengikat tangan keduanya
"Aku mau minta maaf sama kamu, Aku udah salah nuduh kamu selama ini" ucap Rafael
"Aku juga mau minta maaf, perusahaan papa kamu.. itu ulah papa aku" lirih Millie
"Aku udah tau" jawab Rafael
"Tau dari mana? kamu juga susah nyari kerja gara-gara papa"
"Papa kamu pasti punya alasan kan? dia bilang perusahaan peninggalan papi bangkrut bukan sepenuhnya perbuatan papa kamu, papa kamu bilang hati hati sama orang terdekat aku" Millie baru ingat bahwa Max pernah membahas papa tiri Rafael
"Ohh.. iya papa pernah bilang kalo papa kamu korupsi"
"Kata papa dia sebenarnya kasihan sama mami, kalo papa kamu di biarin kerugian akan semakin besar dan hutang juga semakin membengkak" ucap Millie
"Papa seperti itu? tapi dia selalu menyuruh aku memimpin disana"
"Ya bisa aja kan papa kamu nanti mau jadiin kamu kambing hitam? kamu gantiin dia jadi kamu yang di salahin" Rafael menyandarkan kepalanya di bahu Millie lalu mencium kepala Millie
"Kok malah santai? ini cepet lepasin" Millie menggerakkan bahunya
"Percuma sayang... kalo mati pun gak apa apa asal sama kamu"
"Gak.. gak.. kalo mau mati sendiri aja aku gak mau" Millie terus menggerakkan tangannya untuk membuka ikatan
Millie sudah lelah tangannya lecet terkena tambang membuatnya terasa perih, akhirnya Millie juga menyandarkan kepalanya di bahu Rafael
"Papa pasti dateng aku yakin"
"Pegang tangan aku, semua akan baik baik aja" Rafael menggenggam jari Millie yang berada di belakang tubuhnya
Air semakin naik sampai leher Millie sementara Rafael yang lebih tinggi duduk tegap, Millie tidak bicara lagi dia baru mengalami rasa takut seakan kematian ada di depan matanya
"Kamu bisa naik ke punggung aku gak? " tanya Rafael
"Enggak.. aku gak akan lakuin itu" Jika Millie naik ke punggung Rafael otomatis dia akan membungkuk dan tenggelam
__ADS_1
"Ayo naik.. angkat batunya sekalian" Rafael sudah memegang ujung batu yang ikut terikat dengan mereka
"Gak... bukannya kita akan tenggelam juga? "
"Seenggaknya kamu bisa bertahan lebih lama sebelum papa kamu datang" ucap Rafael
"Enggak... aku gak mau, gak apa apa kita tenggelam sama sama"
"Aku gak suka kamu yang keras kepala" ucap Rafael
"Aku juga gak suka kamu yang suka tebar pesona sama cewek cewek"
"Cih... apa hubungannya itu sama keadaan sekarang? " Rafael terkekeh
"Ada hubungannya, mana cewek-cewek yang suka sama kamu gak ada yang nolongin kan? "
"Dasar keras kepala" Rafael menyenggol Millie dengan punggungnya
"Dasar tukang tebar pesona" Millie balas menyenggolnya
"Naik sekarang Millie" bibir Millie sudah terendam air
"Millie please naik sekarang" Millie hanya diam sampai air itu menenggelamkannya
Perlahan Rafael juga ikut tenggelam oleh air yang semakin keluar deras, keduanya sudah tenggelam namun masih bisa menahan nafas
Tangan Rafael dan Millie saling menggenggam di bawah air, nafas Millie sudah tidak dapat dia tahan lagi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Max sudah sampai di lokasi GPS dari motor Ello, Jauh di dalam sana ada dua motor tersembunyi di semak-semak
Rafael dan Millie sengaja menyembunyikan motornya agar tidak di hancurkan, Max mengambil pistol di dalam jasnya dan menembak gembok besar yang mengunci gerbang masuk
Mereka mendobrak pintu masuk dan mulai mencari keberadaan Millie dan Rafael, Max berdiri di ruangan tempat Millie berada namun ia tidak menyadari bahwa Millie ada di bawah kolam
Max hendak kembali pergi namun dia menghentikan langkahnya, naluri nya mengatakan agar dia terus melangkah
Didalam kolam ada buih didalam air membuat Max penasaran, Karena air yang di gunakan bukan air jernih Max sulit melihat mereka di dalam airnya
Max mengambil sebuah tongkat dan memukul air di tepi kolam, yang di khawatirkan buih itu adalah buaya yang berada di bawah air
"Hei kalian ikut turun" Dua orang yang bersamanya ikut turun setelah mengecek ternyata di dalamnya tidak ada buaya sama sekali
Max menemukan anak gadisnya di ikat bersama Rafael, Max segera mengangkatnya dan memberikan pertolongan pertama
Rafael di tolong anak buah Max namun Millie sudah beberapa kali di beri pertolongan masih tidak ada tanda tanda dia akan sadar
"Sayang.. ayo nak bangun, Millie"
"Uhuk.. uhuk.. " Rafael terbangun saat air keluar dari mulutnya
"Millie" Rafael hendak mendekati Millie namun Max mengangkat pistolnya ke arah Rafael
"Diam di tempatmu" ucap Max
__ADS_1
Max kembali fokus pada Millie yang masih tidak bergerak, setelah beberapa saat Millie akhirnya memuntahkan airnya namun tubuhnya masih lemah
Max segera memeluk serta menciumi kepala Millie dengan mata berkaca-kaca, anak buahnya serta Rafael sampai tercengang melihat seseorang yang begitu keras dan kejam meneteskan air matanya memeluk sangat putri