
Setelah mengurus segala sesuatu tentang Roy di kantor polisi, Millie dan Rudi bergegas ke rumah sakit yang di sebutkan sopir Millie
Di sana Astrid sudah di tangani oleh dokter dan sedang beristirahat, ibunya hanya bisa menangis di samping anaknya yang tidak berdaya
"Tante.. "
"Non.. terimakasih udah bawa Astrid ke rumah sakit" Ibu Astrid segera menghampiri Millie
"Bukan apa apa, gimana keadaan Astrid? " tanya Millie
"Tangan kirinya patah dan harus menjalani operasi, tapi.. bayinya.. bayinya.. sudah tidak ada" dengan berat hati ibu Astrid mengatakan itu
Meskipun awalnya mereka tidak menginginkan bayi itu namun setelah merelakan semuanya dan mulai menerimanya rasa sayang itu hadir di dalam hati mereka
"Maafkan saya.. saya tidak bisa mendidik anak saya hingga dia tega melakukan hal keji pada putri anda, saya gagal menjadi orang tua" Rudi tiba-tiba berlutut di hadapan ibu Astrid membuat Millie dan ibu Astrid terkejut
"Bukan salah bapak, bapak tidak perlu melakukan hal ini.. bapak sudah melakukan yang terbaik untuk putri saya selama ini"
"Bangun om.. Om udah berusaha sebaik mungkin mendidik anak om, tidak ada orang tua yang mengajarkan keburukan pada anaknya.. bukan om yang gagal menjadi orang tua tapi Roy yang gagal menuruni sifat mulia ayahnya" ucap Millie
Rudi memang berhati mulia dia begitu jujur dalam bertugas, dia tidak Membeda-bedakan hukum meskipun itu pada anaknya sendiri
"Aku berjanji setelah ini Astrid dapat kembali bersekolah dan akan aku biayai sampai lulus kuliah, semoga ini bisa menebus semuanya" ucap Rudi
"Terimakasih pak... semoga itu bisa kembali membangun hidup Astrid yang hancur" Ibu Astrid mengusap air matanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu apa apa gak bilang mama, kamu tau gak mama khawatir.. untung sopir kita kasih tau"
"Mama jangan marah marah.. aku kan udah pulang, gak apa apa juga" Jawab Millie sambil melepas sepatunya
"Jadi.. gimana kabar temen kamu? " tanya Allea
"Dia di rumah sakit tangannya patah dan bayinya juga gak selamat, untung om Rudi baik banget semua biaya rumah sakit dan kebutuhan hidupnya di tanggung om Rudi, dia juga di biayai sampai lulus kuliah" Millie berdiri menghadap Allea setelah melepas sepatunya yang kotor
"Mama nangis? kenapa ma? " Millie menyentuh lengan Allea
"Mama.. mama.. sedih aja" Millie membawa Allea yang menangis tersedu duduk
"Kok makin kenceng sih nangisnya? " gumam Millie
"Mama.. mama pernah ada di posisi itu, rasanya sakit banget" ucap Allea di sela isak tangisnya
"Mama pernah keguguran juga? " Allea mengangguk
"Gak apa apa, semuanya udah berlalu ma.. sekarang mama punya kita " Millie memeluk Allea
"Assalamu'alaikum... masak apa hari ini ma? " Max baru saja pulang untuk makan siang
"Dia.. dia penyebabnya, kalo aja dia gak tergoda sama mantannya dia gak mungkin meninggal" Allea menunjuk Max yang baru saja datang, Max mengerutkan dahinya tidak tahu apa pun tiba-tiba dia disalahkan
__ADS_1
"Ehh.. kenapa papa? " ucap Max
"Kesel... aku benci.. benci.. sama kamu" Allea memukuli Max sambil menangis lalu masuk ke kamarnya membanting pintu kamar
"Mama kamu kenapa sih? " tanya Max
"Itu gara gara dengar Astrid keguguran mama jadi nangis bombai" jawab Millie
"Ya ampun pantesan, papa harus bujuk mama dulu" Max mengikuti Allea ke kamar
"Sebenernya ada apa sih sama masa lalu mereka? " gumam Millie
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Millie udah lama ya gak kesini"
"Iya.. ada kali sebulan lebih"
"Dia udah punya pacar mana inget sama kita" Ucap Dirga
"Ohh.. udah ada yang punya, ya.. patah hati deh gue"
"Cowoknya ganteng gak? Millie gak pernah posting apapun tentang pacarnya"
"Nih gue pernah foto mereka berdua" Dirga memperlihatkan Rafael dan Millie
"Ngapain sih bahas Millie gak ada kerjaan apa? " wajah Dirga berubah kesal
"Ngapain cemburu sama orang kek dia" ketus Dirga
"Kayak cewek lo bang, kan udah pacarin kakaknya masa jelous adeknya punya pacar kan serakah banget" celetuk yang lain
"Bang.. gue kenal cowok ini" dia memperbesar foto wajah Rafael
"Kenal gimana maksudnya? temen lo? " Tanya Dirga
"Bukan.. ini salah satu geng werewolf, gue sering liat dia sama yang lainnya nongkrong di satu cafe"
"Ahh.. masa? dia guru di sekolahnya Millie, masa guru ikut geng motor? " Dirga merasa tidak percaya
"Ya gue gak yakin sih, bisa jadi dia gak termasuk geng dan mereka cuma temenan, bisa aja kan? " dia meralat kata katanya
"Gue harus pastiin, werewolf citranya jelek jangan sampe dia salah satu bagian dari mereka, gue takut Millie kenapa napa" batin Dirga
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Mami Rafael meminta anaknya agar membawa Millie ke rumah untuk menemaninya, Di ruang keluarga Mami Rafael dan Millie menonton sebuah film sampai keduanya tertidur tanpa mereka sadari
Rafael yang baru saja selesai mandi berniat bergabung bersama mereka namun saat sampai di sana keduanya tertidur dengan lelap, Rafael berbaring di sebelah Millie dan mulai mengganggunya
Rafael menggelitik telinga Millie dengan rambutnya membuat dia bergidik dan merubah posisinya menghadap dirinya, Rafael terkekeh memandangi wajah Millie yang tampak menggemaskan saat tidur
__ADS_1
"Siapa sangka cewek yang lucu menggemaskan gini ternyata mematikan" gumam Rafael
Bibir Millie mengerucut saat Rafael memainkan bibir Millie dengan jari telunjuk, Rafael terkekeh saat Millie bergumam dan terlentang
"Kak Ello diem.. mau " bibir Millie bergerak seolah sedang mengunyah sesuatu
Rafael mengecup bibir Millie berkali-kali namun Millie tidak terganggu sama sekali, bukannya Millie yang bangun namun malah maminya yang terusik
peletak
Kepala Rafael di pukul Maminya dengan remote membuatnya mengaduh, Rafael hanya nyengir kuda setelah ketahuan mencuri-curi mencium Millie oleh maminya
"Macem macem.. nakal kamu sama Millie, awas aja" ancaman Maminya
Mami Rafael menarik tubuh Millie agar menghadapnya lalu memeluknya dan kembali memejamkan mata, Rafael hanya mencebikkan bibirnya lalu tidur membelakangi Millie
Saat Millie terbangun dari tidurnya kedua orang ini memeluknya dari kiri dan kanan, Millie tersenyum memegangi lengan keduanya
"Ssttt jangan berisik" Rafael menutup mulut Millie ketika tiba tiba dia menarik Millie kedalam pelukannya
Perlahan Rafael menurunkan tangan maminya dari tubuh Millie dan memeluk tubuh Millie sepenuhnya, Millie tidak protes dia juga memeluk Rafael
"Sayang.. sayang.. " Millie yang semula menyembunyikan wajahnya di dada Rafael mendongak ketika Rafael berbisik manggilnya
"Kangen banget sama kamu" Rafael mengeratkan pelukannya
Wajahnya dia dekatkan dengan wajah Millie dan menempelkan bibirnya, Millie menarik sudut bibirnya membuat senyuman kala bibir Rafael menempel dengan bibirnya
Millie menggigit bibir bawah Rafael sambil terkekeh-kekeh, Rafael mengusap bibirnya ketika Millie melepaskan gigitannya
"Sakit... nih rasain" Rafael hendak membalas namun Millie berbalik memeluk mami Rafael, karena kesal Rafael menggigit bahu Millie
"Akkhh.. sakit"
"Kenapa sayang? apa yang sakit? " mami Rafael terbangun
"Ini mi.. tiba-tiba bahu aku sakit" rengek Millie
"Mana mami liat" Mami Rafael membuka sedikit bahu Millie yang terdapat bekas gigitan
"Ini pasti gara-gara anak ini, bangun kamu jangan pura-pura tidur" Mami Rafael memukul lengan Anaknya
"Ampun mi... dia yang duluan" Rafael langsung bergeser menjauh
"Duluan apanya? orang Millie tidur dari tadi"
"Dia gigit... " Rafael menggantung kata katanya, menatap Millie dengan tatapan menggoda seraya menggigit bibir bawahnya yang tadi di gigit Millie
"Mami kepo" ucap Rafael sambil berlari ke kamarnya
"Dasar bocah gendeng" mami Rafael mengangkat sebelah sudut hidungnya
__ADS_1