Youth Love

Youth Love
eps 107


__ADS_3

"Irene... " Ello berlari menghampiri Irene


Beruntung mobil tersebut berhenti tepat waktu jika tidak mungkin hari ini hari terakhir Irene berada di dunia


"Lo gak apa apa? " Seseorang keluar dari mobil dan membantu Irene berdiri


"Enggak.. sorry ini salah gue" ucap Irene


Ello yang baru saja sampai menarik tangan Irene yang masih di pegang pria itu, pria itu hanya tersenyum saat Ello mengambil tangan Irene darinya


"Lo yakin gak apa apa? apa perlu ke rumah sakit? "


"Enggak usah, sorry ya jadi menghambat perjalanannya" ucap Irene


"Gak apa apa, gue malah gak enak hampir nabrak lo.. kalo gitu gue duluan ya" pria itu tersenyum lalu pergi


"Senyum aja terus sampe gigi lo kering" ucap Ello menghempas tangan Irene yang dia pegang


"Sshh.. sakit banget" Irene berjalan terbaik menuju bangku yang ada di pinggir jalan


"Lo gak apa apa? " tanya Arumi


"Gak apa apa, tadi perasaan ada yang jegal kaki gue" ucap Irene


"Mungkin lo nendang batu kali" Benar saja di tempat Irene tadi ada batu


"Perasaan tadi gak ada" gumam Irene


"Mana yang sakit? masih bisa jalan? " tanya Ello dengan nada ketusnya


"Kalo gak ikhlas gak usah nanya" ucap Irene


"Gue mau pulang, lo mau ikut gue apa pulang sendiri? "


"Gak berprikemanusiaan banget sih" gumam Irene pelan


Tanpa banyak bicara Ello mengangkat tubuh Irene menuju mobilnya, Arumi mengepalkan tangannya melihat Ello yang semakin terang terangan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ma... pa.. kak.. Michelle.. Exel.. siapa itu? " Tanya Millie yang sedang berada di kamar mandi


Millie mendengar suara benda jatuh di dalam kamarnya sementara dia berada di kamar mandi menuntaskan hajatnya, Millie keluar dan melihat jendela di balkon nya terbuka


Saat Millie sedang menutup jendela tiba tiba sebuah tangan membekap mulutnya, jelas saja Millie berontak dan menyikut dengan keras perut orang tersebut


"Papa tol... " Bibir Millie kembali di bungkam dan orang tersebut menyudutkannya ke dinding


"Tenang.. ini aku" Millie pun mengangguk tanda setuju

__ADS_1


"Sayang.. kenapa kamu teriak teriak nak? " Max mengetuk pintu kamarnya


"Gak pa.. tadi ada tikus"


"Apa perlu papa buang tikusnya? " tanya Max


Melihat gagang pintu di putar dan hampir terbuka Millie segera memasukkan Rafael ke dalam lemari, Millie kembali membuka jendela balkon saat Max masuk


"Mana tikusnya? " tanya Max


"Udah keluar lewat sini pa" jawab Millie


"Kamu kok belum tidur? "


"Tadi aku sakit perut, ini baru mau tidur " jawab Millie


"Ya udah jangan begadang ya... besok berangkat sama kakak? "


"Aku bawa motor sendiri ya pa... please papa kan baik" ucap Millie manja seraya memeluk lengan ayahnya


"Terserah kamu aja yang penting hati-hati"


"Papa baik terbaik di Dunia" Millie mencium pipi Max kalau memeluk tubuhnya


"Udah sana tidur.. good night " Max mencium kening Millie lalu keluar dari kamar anak gadisnya


Millie mengunci pintunya lalu membuka lemari dimana Rafael bersembunyi, saat lemari terbuka Rafael sedang menggerutu karena Millie mencium ayahnya sendiri


"Cari kesempatan banget, anak udah gadis di cium cium gak malu apa"


"Ya wajar itu kan anaknya, kalo cium anak tetangga bisa repot urusannya" ucap Millie yang mendengar gerutuan Rafael


"Ehh.. sayang" Rafael tersenyum lebar seraya keluar dari lemari


"Ngapain kesini malem malem? mana kayak maling lagi"


"Aku kesini tadi liat orang mencurigakan di luar waktu aku mau ketemu kamu kata bibi kamu gak ada, aku gak percaya ya udah aku nekat aja masuk lewat jendela"


"Orang mencurigakan? itu pasti kak William" batin Millie


"Aku mau minta maaf atas apa yang di lakukan mami"


"Gak apa apa.. kamu pergi ya, aku takut nanti papa tau kamu disini" ucap Millie


"Papa kamu pasti marah ya? "


"Aku udah mengatasi papa, tenang aja gak akan terjadi sesuatu sama mami aku udah tanggung semuanya" jawab Millie


"Maksudnya? " Tanya Rafael

__ADS_1


"Papa anggap ini gak pernah terjadi dengan catatan.... aku gak boleh deket sama kamu lagi" Millie sempat menggantung kata katanya


"Kok gitu? kok kamu mau aja? "


"Aku melakukan ini demi kamu, demi mami.. sekarang lebih baik kamu pergi " lirih Millie


"Gak... aku gak mau, aku gak Terima "


"Ini demi kebaikan keluarga kamu, sayangi mami yang udah melahirkan kamu, membesarkan kamu dengan kasih sayang, kita hanya dua orang yang saling mengenal hanya itu.. jangan menyayangi aku lebih dari kamu menyayangi mami" ucap Millie


"Kita masih bisa ketemu kan? " tanya Rafael namun Millie menggeleng


"Jalani hidup kamu dengan sebaik-baiknya, jangan bertengkar sama mami gara gara aku, aku gak mau menjadi penyebab durhaka nya kamu sama mami"


"Apa kami yakin? apa kamu yakin kita berakhir seperti ini?" Tanya Rafael


"Apalagi yang harus kita pertahankan? sekarang kedua orang gua kita melarang kita untuk berhubungan, aku mohon jangan menyalahkan siapapun, sekarang kamu bisa pergi" Millie berdiri di jendela menuju balkon


"Aku sayang sama kamu.. aku harap keadaan ini ini cepat berlalu" Rafael memeluk Millie sebelum dia pergi


Setelah Rafael benar benar pergi dari lingkungan rumahnya Millie menutup jendela kamarnya dan bersandar di sana, Millie merasakan dadanya begitu sesak matanya terasa panas


"Ini yang terbaik buat kamu" gumam Millie


Dia tidak mau Rafael mendapatkan masalah lagi karena ayahnya, mengingat dulu saat Rafael memiliki dendam terhadapnya Max meluluhlantakkan hidupnya dalam sekejap mata


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa Rafael ada disana? apa yang mereka lakukan? " niat William ingin bertemu Millie namun dia melihat kedatangan Rafael lalu lari bersembunyi


"Kenapa gue jadi gak tenang? " gumam William saat melihat Rafael masuk ke kamar Millie lewat jendela


William mengambil handphone lalu menelpon Millie namun lama sekali Millie menjawab hingga harus memanggilnya beberapa kali, saat Millie menjawab teleponnya malah pikiran William yang travelling kemana mana


"Halo.. kenapa? " ucap Millie dengan suara parau


"Hhmm.. ini apasih ganggu banget, minggir gak? "


"Geli... aaaakkhh.. kenapa di gigit? nanti pasti berbekas"


"Jangan jilat jilat.. geli" William segera mematikan teleponnya


"Kok di matiin? " gumam Millie


"Dasar kucing sialan, kapan masuknya sih ni kucing " Millie membuang kucing Michelle dari kamarnya


Ketika dia mengambil minum Millie lupa menutup pintu kamarnya hingga diam diam kucing itu masuk dan bersembunyi, saat sedang tidur kucing itu ikut berbaring bahkan mengusak kepalanya di tubuh Millie


Mungkin William mengira yang sedang bersama Millie adalah Rafael, namun ternyata dia salah paham karena kenyataannya yang menggigit Millie adalah kucing bukan Rafael

__ADS_1


__ADS_2