
Alexa menghentikan langkahnya ketika tangan Pieter menahannya kuat membuat jantungnya bergemuruh namun ragu untuk menoleh ke arah lelaki yang juga menundukkan pandangan meski tangannya menggenggam pergelangan Alexa.
" Bisakah Kamu tinggal sebentar kalau Kamu belum mengantuk? " ucap Pieter ragu juga canggung namun ingin memastikan perasaannya pada Alexa.
" Iya " singkat gadis yang langsung duduk di samping Pieter tanpa melihat ke arah lelaki yang masih memegang pergelangan tangannya.
" Penerbangan jam berapa besok? " tanya Pieter membuka obrolan ringan agar tak lagi merasa canggung dengan Alexa.
" 10 pagi, tapi Aku berangkat dari sini pukul 6 " ucap gadis yang sudah duduk bersila dengan menyandarkan punggungnya.
" Kenapa secepat itu? apa ada yang menunggu Kamu di sana? " tanya Pieter namun merasa begitu bodoh dan mengumpat dalam hati akan pertanyaannya sendiri.
" Maksud Kak Pieter pacar? " tanya Alexa memperjelas maksud pertanyaan Pieter.
" Hm " singkat lelaki yang kini juga ikut menyandarkan diri sambil melipat kakinya.
" Aku belum punya, tapi Aku berencana untuk punya sekarang biar bisa melupakan Kamu dan membiarkan Kamu bahagia bersama pilihan Kakak " jawab Alexa panjang lebar membuat Pieter tak suka mendengarnya.
" Oh " singkat lelaki yang kini menyandarkan kepala menghadap ke langit langit ruangan sambil memejamkan matanya.
" Apa Kakak mengantuk? " tanya Alexa memiringkan tubuh menyandarkan sisi wajahnya di sandaran sofa sambil menatap wajah lelaki yang masih memejamkan matanya.
Pikiran yang masih tertuju pada perasaan bimbangnya, membuat lelaki yang kini menangkap bayangan Alexa dalam mata terpejam itu tak menjawab pertanyaan gadis yang masih lekat menatapnya. Ia tak ingin kehilangan Alexa dan membiarkannya pergi, namun juga tak memiliki alasan untuk memintanya tetap tinggal.
Bayangan Alexa yang Ia cium di balkon tadi begitu nyata hadir dalam mata yang masih terpejam beriringan debaran jantung tak menentu. Perasaan aneh yang bahkan lebih aneh ketika Ia melihat Viena, kini dirasakan oleh lelaki yang mencoba mencari jawaban atas rasa yang mendera dirinya sejak ciuman pertamanya bersama Alexa.
" Apa sudah tertidur? " gumam lirih Alexa karena Pieter sama sekali tak membuka matanya dan tetap tenang.
__ADS_1
Dengan mengumpulkan segala keberanian, tangan halusnya kini Ia arahkan kepada sisi kanan wajah tampan Pieter yang masih terpejam. Matanya terus mengagumi ketampanan lelaki yang selalu menolak dirinya selama ini. Sementara Pieter merasakan seperti ada sebuah aliran listrik yang menyengat tubuhnya ketika tangan halus Alexa membelai lembut wajahnya dengan napas yang bisa Ia rasakan di samping kiri wajahnya.
" Aku pasti bisa melupakan Kakak, Aku tidak akan pernah mengganggu hidup Kakak lagi setelah ini dan Aku harap Kakak akan bahagia bersama Viena " lirih Alexa dengan tangan masih membelai lembut sisi wajah Pieter yang Ia pikir telah tertidur.
" Aku harus pergi sekarang selagi Dia tidur, besok Aku akan menghubungi Kak Angel " gumam Alexa tak menyadari jika Pieter masih mendengarnya.
" Pergilah dan jangan pernah kembali lagi " seru Pieter memegang tangan Alexa yang masih ada di sisi wajahnya hingga membuat gadis itu terkejut saat wajah Pieter menoleh ke arahnya begitu dekat.
" Ka.. ka.. kamu belum tidur? " tanya Alexa terbata.
" Apa Kamu bisa melupakanku? " tanya Pieter lirih dengan mata menatap dalam ke arah mata Alexa yang masih sama sama menyandarkan sisi wajah di sandaran sofa dengan begitu dekat.
" Pasti " singkat Alexa penuh keyakinan.
" Oh ya? "tanya lelaki yang kini sudah memegang sisi wajah Alexa dan menikmati begitu lembut penuh perasaan bibir gadis yang memejamkan matanya itu.
Perasaan yang benar benar Ia yakini ketika gadis di sampingnya mengatakan akan pergi dan melupakannya, Ia luapkan melalui ciuman hangat penuh perasaan lebih dari sebelumnya hingga membuat tubuh Alexa terdorong kebelakang menyandarkan kepala pada sandaran sofa.
Tubuh kekar dan bidang yang kini sudah begitu menempel pada tubuh gadis yang ternyata juga Ia cintai itu memaksanya untuk menghentikan semuanya agar tak terlanjur lebih jauh karena Ia tak ingin menodai Adik dari sahabatnya.
" Lupakan Aku " ucap Pieter masih berada di atas tubuh Alexa yang saling memandang tanpa jarak.
" Pergilah " singkat Pieter beranjak dari atas tubuh gadis yang membuka matanya lebar masih tak mempercayai apa yang telah dilakukan oleh Pieter bahkan sampai menekan tubuhnya.
Alexa menatap penuh tanya pada lelaki yang kini sudah kembali duduk menyilangkan kaki dan menatap lurus ke arah TV yang masih menyala.
" Apa Kakak pikir perasaanku mainan hingga bisa dipermainkan seperti ini? Aku tahu Kamu tidak pernah mencintaiku tapi kenapa saat Aku benar benar ingin pergi, Kamu terus melakukan hal ini? " ucap Alexa seakan menyayat hati Pieter yang mulai memejamkan matanya kilas.
__ADS_1
" Kalau Kamu tidak bisa membalas perasaanku setidaknya jangan perlakukan Aku seperti ini, ini semua menyakitkan!" tegas Alexa mulai menitikan air matanya dan ditarik Pieter kedalam pelukannya.
" Aku cinta Kamu Alexa, Aku cinta Kamu " ucap Pieter tulus penuh perasaan dengan mendekap erat gadis yang kini bersandar pada dada bidangnya.
" Apa Kamu mau permainkan Aku sejauh ini? cukup Kak jangan permainkan perasaanku lagi " seru Alexa melepas pelukan Pieter.
" Alexa dengar Aku! Aku cinta Kamu dan itu bukan permainan, Aku benar benar cinta Kamu! " tegas Pieter memegang kedua sisi wajah Alexa dan menatap dalam mata yang masih terurai air mata.
" Maaf sudah membuat Kamu menunggu lama untuk Aku menyadari peeasaanku sendiri" tambah lelaki yang kembali memeluk erat tubuh Alexa.
" Jangan pernah lupakan Aku dan tetaplah mencintaiku Alexa " pinta tulus Pieter sambil mengusap lembut rambut gadis yang mengangguk tersebut.
" Apa Kakak akan membuatku hamil? "tanya polos Alexa mengingat perkataan Brandon membuat Pieter terkejut dan melepaskan pelukannya cepat.
" Apa maksud Kamu? Aku tidak akan melakukan hal itu " ucap Pieter masih terkejut akan pertanyaan polos Alexa.
" Kata Kakak Dia akan menikahkanku denganmu jika bisa membuatmu menghamiliku dalam keadaan sadar " ucap Alexa mengingat semua ucapan Brandon ketika di kamarnya.
" Brandon...." seru Pieter mengusap kasar wajahnya penuh frustasi.
" Jangan dengarkan ucapannya, Aku tidak akan pernah menghamilimu lebih dulu! Aku tidak akan menyentuhmu! " tegas Pieter masih tak menyangka jika sahabatnya mampu mengatakan hal itu pada Adik kandungnya sendiri.
" Kenapa? apa Aku tidak menarik? bukankah Kamu bilang Aku cantik? milikku juga besar " polos Alexa mengintip kedalam bajunya.
" Alexa jangan lakukan itu! " ucap Pieter memalingkan wajah ketika Alexa mulai menarik longgar leher piyamanya.
" Aku normal Alexa " gumam lirih Pieter masih memalingkan wajah frustasinya.
__ADS_1
Dengan masih memalingkan wajah, Pieter terus mengumpat seraya memaki sahabatnya dalam hati karena ucapan sembrononya pada Alexa yang masih polos meski sudah lama tinggal di luar negri dan berusia 22 tahun.