
Terpejam dalam dekapan istrinya, Brandon dibangunkan Angel karena suara ponsel tak henti berbunyi. Tangannya mencoba meraih keberadaan ponsel di dekat bantal, Angel melihat panggilan dari Adiyaksa.
"Sayang, bangun sebentar. Ini Daddy, angkat dulu siapa tahu penting" ucap Angel, menggoyangkan tubuh lelaki nyaman meletakkan wajah di atas dadanya.
"Jawab saja, aku masih mengantuk" malas Brandon menjawab.
Ragu ragu Angel menggeser tombol hijau pada layar, ia takut jikalau itu bukanlah Adiyaksa sendiri melainkan Gaida atau Sasmita. Mommy dari dua bayi kembar itu tak mau jika sampai suaminya bertengkar kembali karena dirinya.
"Hallo..." ragu ragu Angel menjawab, terdengar suara keras di ujung telpon.
"Siapa kau?! kenapa kau angkat telpon cucuku?!" tegas seseorang dari ujung telpon, seketika Brandon yang mendengar langsung menarik ponselnya.
"Oma, aku mengantuk. Hubungi aku lagi nanti" ucap Brandon langsung mematikan ponsel dan melemparnya ke samping.
"Itu Oma, kenapa kamu tidak menjawabnya?" lirih Angel bertanya, masih dalam ekspresi syok.
"Aku tidak ingin menjawabnya, aku lelah Angel" sahut Brandon, membetulkan kembali posisi tubuhnya untuk memeluk dan bersandar pada dada istrinya.
"Apa Oma dan mommy takkan pernah menerimaku?" tanya sendu Angel dalam mata berkaca kaca, Brandon membuka mata lebar dan mendongak menatap istrinya.
"Yang terpenting kita dan anak anak kita, bukan lainnya" tulus Brandon memegang sisi wajah istrinya.
"Tapi aku juga ingin diterima sebagai keluarga, bukan menjalani pernikahan seperti ini. Kita sudah memiliki anak, tapi keluarga masih belum memberikan restu untuk kita. Apa kita bisa bahagia?" sendu kembali Angel tak kuasa menahan air mata.
"Jangan seperti ini, jangan menangis. Tak ada seorangpun yang boleh membuatmu menangis" mendekatkan wajah, berucap dengan nada tulus Brandon menyeka air mata Angel.
"Mereka akan menerimamu, menerima pernikahan kita, menerima anak anak kita. Kamu percaya kan padaku?" tambah kembali Brandon, mengangguk Angel menjawab.
"Kita tunggu waktu yang tepat untuk bicara kembali pada mereka dan mendapatkan restu" memeluk istrinya, Brandon mencoba membuat tenang.
__ADS_1
Walaupun bahagia menyelimuti dirinya dan juga anak anaknya, dalam hati terdalam kekosongan juga dirasakan oleh Angel. Tak mengerti sampai kapan ia harus hidup seperti ini, menjalani sebuah ikatan pernikahan tanpa sebuah restu.
Brandon tak kuasa melihat kesedihan dari istrinya, berjanji dalam hati akan mendapatkan restu bagaimanapun caranya. Entah itu dengan sebuah keikhlasan atau keterpaksaan, Brandon tak mau lagi melihat istrinya terluka.
"Sayang, bangun..." seru Brandon berbisik, tersenyum Angel mendengar dan memukul lirih punggung suaminya.
"Oke, let's play" sahut Angel, terdengar menggelikan untuk Brandon dan tertawa.
"Aku tidak menyukai kata itu" ucap Brandon dalam tawa, disusul tawa istrinya.
"Bukankah itu kata ajaib mu?" goda Angel, melingkarkan tangan pada tengkuk lelaki dengan wajah di atas wajahnya.
"Kamu benar benar membuatku gila" senyum Brandon ke arah istrinya.
Menerima segala sifat suami yang tak pernah bisa menahan gairah sedikitpun, Angel selalu mencoba memberikan apa yang memang seharusnya menjadi hak suaminya. Mata sama sama menatap, bibir semula tertawa, kini mulai menyatu dan saling menikmati.
Tangan terluka dari Brandon, membuat Angel harus aktif untuk bisa memberikan kepuasan pada suaminya. Mengambil alih permainan dan mengendalikannya, Angel sudah berpindah tepat di atas tubuh suaminya.
Pieter tak membiarkan Mamanya seorang diri, setiap apapun harus selalu diperiksa keamanannya lebih dulu. Bahkan Pieter sendiri yang mengawasi Nathan, Nicko, Quen juga Dio, meski mereka dalam tangan pengasuh pilihan Brandon.
Semua kewaspadaan harus diperketat atas perintah dari Brandon. Tak mempercayai siapapun walaupun itu adalah bagian dari timnya. Brandon hanya tak mau seorang penyusup ada di antara mereka dan membahayakan keluarganya.
"Apa semua belum baik baik saja?" tanya Alexa mendekat pada suami tengah mengamati semua anak.
"Kita tidak bisa menganggap semua baik baik saja, bahaya jelas akan selalu mengintai. Untuk itu jangan keluar sendirian!" ucap Pieter bernada meninggi di bagian akhir, dipukul keras punggungnya oleh Alexa.
"Sakit! kenapa kamu memukul?!" protes Pieter menoleh ke arah istrinya.
"Sakit? bagaimana dengan luka kakakku? menyebalkan!" sahut Alexa, berjalan hendak menghampiri putrinya. Segera Pieter menarik dan mendekatkan pada tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak melukai kakakmu tapi aku akan melukaimu" lirih Pieter berbisik, sengaja menggunakan nada menggoda ditelinga istrinya.
"Ah, aku tidak tahu kalau kamu ternyata seperti ini" sahut Alexa menjauhkan sisi wajah dari bibir suaminya, Pieter malah tersenyum
Mengetahui dimana titik lemah istrinya, Pieter selalu menggunakan cara yang sama untuk meredakan amarah seseorang telah memberinya satu alasan lagi untuk tetap hidup.
Walaupun sudah diberi penjelasan semalam akan apa yang terjadi, Alexa masih belum memahami karena memang tak mudah untuk memberikan penjelasan pada Alexa. Apalagi jika hanya dilakukan satu kali.
Baik Brandon ataupun Pieter memang sama sama suka saling mengerjai, walaupun mereka tahu konsekuensi yang ada dari istri istri mereka. Hal itu tak pernah membuat keduanya kapok, bahkan Brandon malah menyukai amarah istrinya.
Di tempat lain, Gaida sudah marah marah tak jelas karena panggilan ditutup begitu saja oleh Brandon. Sebelum ia bisa mendapatkan penjelasan akan penyanderaan yang dilakukan cucunya, sepertinya Gaida takkan bisa untuk diam dan berhenti mengganggu.
"Kita kembali ke Indonesia!" tegas Gaida pada Adiyaksa juga Sasmita.
"Tidak! aku tidak akan biarkan kalian berdua ke Indonesia, dan mengganggu anak anakku lagi!" tak kalah tegas Adiyaksa menjawab.
"Adiyaksa!" teriak kuat Gaida, melotot ke arah putranya.
"Aku yang akan kembali dan mempertanyakan segalanya, Mama dan Sasmita akan tetap tinggal disini!" beranjak dari duduk, Adiyaksa segera meninggalkan keduanya.
"Siapa juga yang ingin ke sana? hidupku terlalu berarti disini" batin Sasmita, melihat kepergian suaminya.
"Daddy sama anak tidak ada bedanya!" geram Gaida.
Adiyaksa masih meyakini jika semua yang dilakukan putranya memiliki sebuah alasan mendasar, untuk itulah ia tak ingin Sasmita dan Gaida menemui sendiri Brandon. Jelas bukan penjelasan yang mereka minta, tapi keributan besar yang terjadi.
Mengingat sifat keras kedua orang yang selalu ingin mengendalikan Brandon dibawah tangan mereka, Adiyaksa sebisa mungkin untuk melindungi. Pria berkacamata itu tak mau jika kehidupan anak anaknya kini harus terusik.
Walaupun belum mengetahui jika kini Brandon sudah memiliki anak kembar dan masih bersama dengan Angel, Adiyaksa tetap tak mau putranya menjadi boneka mainan Ibu juga neneknya.
__ADS_1
Jani yang pernah terucap di atas pusara anaknya, tak mungkin untuk diingkari oleh Adiyaksa. Ia takkan pernah membiarkan kebahagiaan lenyap dari kedua anak yang masih diijinkan hidup oleh Tuhan hingga saat ini.