Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 157


__ADS_3

Masih tetap memeluk tubuh gadis yang duduk di lantai dengan tangis, laki laki dalam balutan setelan jas hitam itu terus mencoba menenangkan.


"Jangan menanggung apapun sendiri, Kamu masih memiliki Aku " tulus laki laki masih lembut mengusap punggung istrinya.


Begitu merasa sedikit tenang, Angel melepaskan tangan di balik tengkuk suaminya. Mata masih di penuhi air mata, menatap penuh rasa salah pada mata suaminya.


" Itu bukan pengkhianatan sayang, bukan " tambah Brandon memegang sisi wajah Angel, diiringi tatapan ketulusan.


Kancing masih terbuka, coba di tutup kembali oleh laki laki yang memliki ketulusan cinta begitu besar. Angel menahan kedua tangan suaminya dengan tatapan mata sendu.


" Maafkan Aku " pinta tulus Angel saling beradu pandang dengan suaminya.


Senyum serta tatapan tulus diberikan Brandon untuk menjawab permintaan gadis di hadapannya. Ia memiliki cara tersendiri untuk membantu istrinya agar mampu melupakan segala keburukan yang telah dilakukan Kenan.


Wajah lusuh usai menangis, langsung di cubit gemas kedua pipinya oleh Brandon hingga Angel memekik kesakitan. Namun tawa suaminya membuatnya kembali tersenyum.


" Aku akan mengundang Alexa dan Kakakmu makan malam di sini, Kita yang memasak. Bagaimana? " usul Brandon masih tersenyum, dan di jawab anggukan oleh istrinya.


Ponsel dalam saku celana, Ia raih untuk menghubungi sahabatnya yang masih menjalani hukuman di dalam ruang kerjanya bersama Alexa.


Usai mengutarakan niatnya melalui sambungan telpon, Brandon mengajak Angel keluar dan bergabung bersama Olivia di depan. Tak ingin membuat Mamanya khawatir, lebih dulu Angel membasuh wajah dan meminta suaminya lebih dulu keluar.


" Tuan " sapa Dio begitu melihat laki laki dengan senyum itu menghampiri.


" Bukan Tuan! panggil Papi dan panggil istriku Mami, oke?!" tegas Brandon mengejutkan Viena dan Olivia.


Dio tersenyum bahagia dan memeluk laki laki yang berjongkok di hadapannya. Melihat Dio, kembali mengingatkan Brandon akan kedua anaknya yang telah tiada. Harusnya Ia sudah menyandang gelar Daddy, namun semua terenggut begitu cepat.


Viena dan Olivia hanya menuruti keinginan Brandon tanpa ingin bertanya apapun. Bagaimanapun juga, keduanya tahu jika Brandon memang menyayangi Dio sama seperti Angel.


Viena juga merasa bahagia karena putranya kini banyak yang menyayangi. Walaupun Dio tak memliki Ayah ataupun keluarga selain Viena, tapi semenjak kedatangannya ke puncak, begitu banyak yang menyayangi dan mencintainya.


Tak lama Angel keluar dan sudah melihat suaminya bermain lempar bola bersama Dio di halaman. Laki laki yang sudah melepas jas juga dasi tersubut terlihat tertawa bahagia.


" Sayang, kemari " seru laki laki dengan kemeja hitam di gulung sampai siku tersebut begitu melihat istrinya.


Langkahnya cepat menghampiri suaminya yang tengah memegang bola plastik di tangan.


" Sekarang Papi sama Mami yang lempar bola, Kamu di tengah harus tangkap ini. Mengerti jagoan? " ucap Brandon menjelaskan, membingungkan istrinya ketika mendengar kata Mami dan Papi.

__ADS_1


Walaupun merasa heran, Angel menut saja apa yang diinginkan suaminya. Ia juga ingin melihat wajah tampan itu terus terlukis tawa bahagia seperti saat ini.


Melihat Dio berlari mengejar bola yang tak henti dilempar begantian oleh Angel dan Brandon, makin menggelakan tawa Tuan muda tersebut gemas.


" Nah, ambil ini" seru Angel melusruskan tangan memegang bola dan di arahkan lurus di hadapan Dio.


Saat bocah kecil itu hendak meraih, cepat Angel melempar kembali pada suaminya dan mengharuskan Dio berlari lagi ke arah Brandon.


" Papi terlalu tinggi " polos Dio saat Brandon memegang bola tanpa sedikitpun membungkuk.


Tawa keluar begitu saja dari Brandon dan meraih tubuh Dio untuk Ia gendong. Sedari tadi Olivia dan Viena hanya duduk memperhatikan sambil duduk di kursi teras. Keduanya begitu bahagia melihat sepasang suami istri itu terlihat bahagia, dan tertawa lepas.


Tetap menggendong Dio, Brandon menghampiri istrinya dan meraih ponsel dalam saku celananya.


" Foto " perintah Brandon menyerahkan ponsel pada istrinya.


" Bertiga! " tegas lelaki tersebut ketika istrinya menjauh untuk memotret.


Pinggang di tarik mendekat oleh tangan kiri Brandon, sementara tangan kanannya masih menyangga tubuh Dio. Ponsel sudah aktif dengan kamera depan siap mengabadikan momen ketiganya bersama.


" Aku benar benar tampan " bangga Brandon mengamati wajah senyumnya pada hasil foto ponsel pribadinya.


" Ulangi lagi " rengek kembali Angel pada laki laki yang masih tersenyum menggendong Dio.


" Di ulang berapa kali akan tetap sama, wajahmu memang jelek " ledek Brandon mengantongi kembali ponselnya.


Saking sibuknya berdebat dalam canda, keduanya tak menyadari jika Alexa dan Pieter sudah ikut mengamati bersama Olivia juga Viena. Entah tak mendengar suara motor Pieter memasuki tempat parkir atau memang sengaja tak ingin dengar. Yang jelas Brandon tak ingin memperdulikan lainnya, kecuali Angel juga Dio yang bisa membuatnya melupakan rasa amarah pada Kenan.


Bersama dengan Dio dan Angel saat ini, membuatnya merasa menjadi seorang Ayah yang bahagia. Ia begitu menginginkan seorang anak laki laki dalam hidupnya, agar bisa menjadi penerus kerajaan bisnis miliknya. Namun keinginan itu harus dipendamnya lebih dulu.


" Oke jagoan, Kita tinggalkan Mami jelek di sini " seru Brandon melangkah pergi, masih dengan Dio melingkarkan tangan pada tengkuknya dan tersenyum meninggalkan Angel masih berdiri menatap sendu ke arah suami yang begitu terlihat bahagia dengan anak kecil.


Bergegas gadis yang kembali teringat akan kedua anaknya itu menyusul suaminya. Disana sudah Suaminya sudah bergabung dengan lainnya, masih membiarkan Dio bersama.


" Hai, apa kabar tampan? " sapa Pieter ke arah bocah kecil di atas pangkuan Brandon.


Dio hanya tersenyum dan berjalan menghampiri Pieter, yang langsung mencium pipi laki laki dengan senyum terukir. Alexa yang masih duduk di samping suaminya, menatap tak suka melihat Dio dekat dengan Pieter. Karena bagaimanapun juga Dio adalah anak dari wanita yang pernah di sukai oleh suaminya.


" Kemari Dio sama Mama, Kamu harus mandi " seru Viena sudah berdiri mengulurkan tangan ke arah Dio, karena Ia tahu jika Alexa tak suka putranya berada dekat dengan Pieter.

__ADS_1


" Maaf Tuan, Saya akan memandikan Dio " sopan Viena meraih tangan putranya dan hanya dituruti oleh Pieter menatap wajah cantik tanpa make up di hadapannya.


" Baiklah cepat mandi dan tidur, oke? " lembut Pieter tersenyum ke arah Dio.


Sebelum pergi tak lupa Dio berpamitan dengan sopan seperti yang selalu di ajarkan Mamanya. Setiap orang meminta bocah kecil tampan tersebut mencium pipi lebih dulu, namun tak dengan Alexa yang hanya memberikan senyum paksa.


Walaupun Pieter tak sedikitpun menjauh dari duduk tanpa celah dengannya, tetap saja tak membuat Alexa tenang. Ia masih merasa takut jika suaminya akan berpaling pada Viena, walaupun Pieter tak menunjukkan hal hal seperti yang dipikirkan Alexa. Karena memang tak ada niatan seperti itu sama sekali.


" Saya permisi ke dalam sebentar " pamit Olivia ingin membuatkan minum semua orang di dalam.


" Ma.." seru Pieter menahan Mamanya pergi sambil menyodorkan pipi kanannya.


" Apa Kamu pikir Mama ini Dio? " senyum Olivia, mengembangkan senyum Pieter yang memang meminta untuk di cium lebih dulu.


" Manja " gerutu Brandon menatap ke arah sahabatnya jijik.


" Kamu sudah menikah nak, minta cium istrimu saja " goda Olivia beranjak pergi dengan senyum, mengubah ekspresi manja Pieter menjadi jengkel.


" Apa tidak boleh minta cium kalau sudah menikah? " lirih Pieter menggerutu hanya dilirik oleh istrinya.


Mendengar ucapan sahabatnya, Brandon langsung bergidik jijik dan memalingkan wajah ke arah lain.


" Aku ke dalam dulu " pamit Angel menyusul Mamanya karena ingin menanyakan sesuatu.


" Kakak ikut Angel " seru Pieter beranjak mengejar Adiknya yang lebih dulu berjalan.


Alexa dan Brandon masih duduk di teras tanpa bicara, karena Brandon asik dengan ponsel ditangannya. Foto yang di ambilnya barusan terus Ia perbesar untuk mengamati, tanpa sadar Alexa sudah mengintipnya.


" Apa Kakak ingin punya anak lagi? " tanya Alexa melihat ekspresi Brandon tak meninggalkan senyum mengamati detail fotonya bersama Dio dan Angel.


" Jangan bahas ini, Aku tidak ingin Angel mendengar dan bersedih " santai Brandon tak mau mengungkit masalah anak lagi dengan istrinya.


" Apa kalian belum bisa melupakan anak kalian? " penasaran Alexa.


" Orang tua takkan ada yang bisa melupakan anaknya walaupun mereka sudah tiada " jelas Brandon, seketika membuat Alexa terdiam.


Tak dipungkiri jika memang Brandon tak pernah bisa melupakan masa masa dimana dirinya dan Angel saling menunggu kelahiran kedua anak mereka. Terkadang ketika memeluk perut istrinya, tiba tiba memori tentang kehamilan itu kembali lagi.


Masa dimana Ia terus mengusap lembut perut dengan janin kembar di dalamnya, masa dimana Ia selalu berbicara dan mencium perut besar tersebut selalu datang menghampiri pikirannya. Tak jarang matanya sendu ketika bertemu dengan wanita hamil saat menjalankan aktifitas di luar, teringat istrinya saat hamil.

__ADS_1


__ADS_2