Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 221


__ADS_3

**LIKE dulu ya...


# Baca "Oh My Ghost" karya Muh. Iqram Ridwan,


# Juga jangan lupa baca "Difficult Love" karya saya. Terima kasih banyak**.


Tersenyum sinis, meraih ponsel dalam saku celana. Jackson menekan nomor pada layar ponsel yang seletika terhubung dengan seseorang. Brandon masih dalam wajah tenang memperhatikan musuh denga tangan masih menodongkan pistol tepat pada keningnya.


"Bagaimana?" tanya Jackson pada orang di ujung panggilan yang sengaja ia nyalakan pengeras suara agar terdengar Brandon.


"Kami sudah pada posisi dan siap menunggu perintah" sahut lelaki dari ujung panggilan tersebut.


"Habisi istri dan seluruh keluarga Brandon!" perintah Jackson, memancing amarah Brandon tapi tetap tenang.


"Baik. Tuan" sahut snipper kini sudah bersiaga membidik dari kejauhan dimana keluarga Brandon tinggal.


Mematikan sambungan telpon dan memasukkan kembali pada saku celana hitam miliknya. Jackson sudah berhasil menemukan kedaiman Brandon semalam, tidak ada satupun informasi tersembunyi yang tak mungkin untuk ia ketahui.


Membalas lebih menyakitkan pada lelaki telah menghabisi seluruh anak buahnya dulu, Jackson ingin agar Brandon melihat mayat keluarganya sebelum ia di habisi dengan siksaan menyakitkan.

__ADS_1


Tanpa menunggu perintah, earphone terhubung pada semua anak buahnya itu seakan sudah membuat mengerti akan apa yang harus dilakukan. Beberapa pengawal tengah berada di rumahnya, langsung mencari keberadaan snipper yang belum ia ketahui posisi pastinya.


Semakin tenang aura terpancar, semakin mematikan apa yang akan dilakukan. Hal itu sudah lama menjadi ciri khas dari Brandon yang tak pernah menunjukkan emosi dan membuat lawannya lengah. Tidak ingin menunjukkan dimana kelemahan dirinya sama sekali akan keluarga, Brandon masih mampu terenyum.


"Kau akan melihat mayat istrimu lebih dulu, oh tidak itu terlalu mudah. Tapi kau akan melihat istrimu di nodai semua orangku lebih dulu" ucap Jackson.


Menyeringai dan menoleh ke arah lain, Brandon seakan menghina apa yang telah terucap dari mulut musuhnya. Pistol siap menembuskan proyektil ke kepala, langsung ia raih dan mengeluarkan tempat peluru dengan begitu mudah.


Memukul keras sisi wajah Jackson hingga tersungkur ke bawah, mendapat todongan senjata dari seluruh anak buah Jackson seketika. Bergegas  Viena dan Darel mengarahkan senjata pada anak buah Jackson, sedangkan Pieter mengarahkan tepat pada kepala Jackson dimana Brandon sudah berjongkok di samping tubuh tersungkur tersebut.


"Semakin orang banyak bicara, maka semakin tampak bodoh orang itu" ucap Brandon menekankan kata bodoh, menekan dada Jackson dengan lutut.


"Aku sudah menemukan apa kelemahanmu sekarang" sahut Jackson.


Tetap tidak mau membuat musuhnya tahu akan istri juga anak anaknya yang sangat berarti dalam hidupnya, sengaja Brandon mengatakan hal itu. Kenan yang sedari tado hanya berdiri di dablik perlindungan orang orang Jackson bersama Sonya, mulai merasa gelisah.


Perasaan masih ada terhadap Angel juga perjanjian jika Jackson takkan pernah menyentuh seujung rambut pun dari Angel, kini membuatnya cemas karena ucapan dari Jackson.


Tidak mengerti bagaimana Jackson menempatkan anak buah untuk menghabisi keluarga Brandon, Kenan juga tak pernah tahu jika Jackson sudah mengerti dimana Brandon tinggal, dan sempat membuatnya terkejut.

__ADS_1


Menyingkirkan kuat kaki Brandon dan mendaratkan sebuah pukulan balasan, diamana Brandon paling tidak menyukai paras tampannya terluka. Lelaki kini tersungkur tersebut segera bangkit dan memulai pertarungan dalam tangan kosong.


Pieter, Viena dan Darell yang tadi menodongkan pistol, kini bergerak untuk melawan semua anak buah Jackson bersama. Pukulan demi pukulan terjadi dalam gedung tersebut, dimana Brandon melawan seorang diri Jackson dan ketiga lainnya harus melawan banyak orang bersama.


Tidak tahu siapa yang akan berakhir dengan keselamatan atau kematian, tetap bertempur tanpa satupun pihak memberikan ampun. Melawan lima orang sekaligus, Viena berhasil menghabisi satu dari mereka dengan sebuah hujaman pisau pada jantung yang ia putar tanpa ampun.


Darell dan Pieter melawanlebih banyak daripada Viena, sedangkan Kenan yang tak ingin nyawanya berakhir memilih untuk naik ke lantai atas menyelamatkan dirinya bersama orangnya yang melindungi.


Sementara dirumah, Angel dan Alexa saling mengetahui apa sebenarnya terjadi tidak bisa untuk duduk tenang sedikitpun. Walau tak saling bicara karena sudah mengetahui segalanya, keduanya tampak gelisah dan sesekali mengosongkan tatapan dalam hati berdoa akan keselamatan semua orang.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Olivia memperhatikan sedari tadi tingkah kedau orang yang kini duduk menyalakan TV namun tak di perhatikan, sesekali berdiri untuk menenangkan diri.


"Tidak ada maya" singkat Alexa memaksakan senyum, teringat pesan suaminya agar tak mengatakan apapun pada siapapun.


"Cerita kalau kalian ada masalah, jangan seperti ini. Terutama kamu ANgel karena kamu mneyusui jadi jangan banyak stres itu akan menyalur pada kedau anakmu" ucap Olivia, duduk memangku Quen.


"Iya ma, aku tidak sedang memikirkan apapun jadi mama tenang saja" jawab Angel memaksa senyum sama halnya Alexa.


Perasaan semakin tidak enak, tidak lagi ingin melihat suaminya dalam keadaan tak berdaya apalagi harus sampai kehilangan. Cukup baginya merasakan bagaimana masa berat menanti kesadaran suaminya dulu.

__ADS_1


Alexa sendiri merasakan hal lain dalam batinnya sedari semalam, dimana suaminya memeluk tanpa ingin melepaskan. Sikap tak biasa yang ditunjukkan oleh suami mereka, seolah menjadi sebuah pesan juga sentuhan terakhir.


Namun tetap meyakini jika suaminya mereka akan baik baik saja. Bagaimanapun Alexa dan Angel mempercayai jika Tuhan takkan pernah memisahkan mereka dengan Brandon juga Pieter. Akan tetapi tak bisa untuk di sembunyikan jika ketakutan juga menghiasi relung hati mereka walau coba di tepis.


__ADS_2