
"Vienna, bagaimana keadaan kamu?" langsung Olivia menghampiri seorang sudah dianggapnya putri, dan memeluknya.
"Berkat doa mama, semua baik baik saja" sahut Vienna tersenyum dalam pelukan wanita tulus menyayangi dirinya.
"Baguslah, mama cemas tidak ada kabari dari kamu" melepaskan tubuh Vienna, ia pun membelai wajah cantik tampak menyeringai bahagia.
"Maaf, Ma" sesal Vienna, di balas anggukan juga kecupan pada keningnya.
"Tapi ada apa ini? apa yang terjadi? dimana Angel?" beruntun Olivia bertanya, menatap bergantian menantu juga putrinya.
"Kak Angel ada di dalam bersama baby twins, kita diminta untuk di sini dan tidak mengatakan apapun" jelas Alexa.
"Semoga semua baik baik saja" menatap lurus ke depan, Olivia tulus berharap.
Vienna mengajak mamanya untuk duduk bersama dengan Alexa, di sana sudah ada Quen dan Dio memegang mainan masing masing. Langsung saja kedua bocah kecil itu mendatangi Olivia dan bergelayut bersama, seperti hari hari sebelumnya.
Sementara itu, di luar rumah beberapa anak buah Brandon sudah ada di sana bersama seseorang berlutut di bawah. Brandon menghampiri dengan gaya santai, menunduk semua anak buahnya begitu ia tiba diiringi Yudha dan Darell.
"Kau?" ucap Brandon melihat pria berpakaian serba hitam dengan ujung bibir terluka, akibat hantaman seorang anak buah Brandon tadi.
"Ya! saya akan membalas atas kematian Tuan Kenan!" berteriak dalam emosi, lelaki menatap penuh kemarahan ke arah Brandon.
Mengantongi kedua tangan di saku celana kanan dan kiri, Brandon tersenyum tipis mendengar ucapan dari Ricko. Sekretaris dari Kenan, juga orang yang setia pada Tuannya itu tertangkap ketika memasang bom di rumah Brandon.
Tidak sendirian, Ricko bersama dengan anggota yang tersisa memasang peledak mengelilingi rumah Brandon. Peledak rakitan yang kini sedang berusaha dijinakkan oleh anak buah Brandon lainnya.
"Oke, lakukan" santai Brandon, tetap berdiri di hadapan Ricko.
"Lepaskan!" perintah Brandon pada dua anak buah tengah menahan tubuh Ricko untuk tetap berlutut.
"Brandon!" tegas Pieter ke arah sahabatnya.
__ADS_1
Memberikan kesempatan untuk Ricko menyalurkan setiap amarah juga dendam, Brandon memilih menghadapi seorang diri. Hanya memberikan sebuah kesempatan pada pria bersorot mata tajam langsung berdiri menghadap dirinya.
Tidak memerlukan aba aba apapun, Ricko langsung melayangkan hantaman ke arah Brandon. Namun dengan santai tanpa sedikitpun mengubah posisi, Brandon berhasil menghindar dari hantaman penuh akan kemarahan.
Semua anak buah Brandon tidak berani ikut campur, dan mundur untuk memberikan ruang. Kawanan Ricko lainnya masih belum mendapat giliran dan berlutut di bawah.
Sekuat tenaga Ricko menghajar Brandon, tapi tak satupun bisa mengenai. Semua itu membuat amarah seseorang telah kehilangan itu, semakin menjadi. Ia meraih pistol dari seorang anak buah Brandon dan menodongkan tepat di hadapan lelaki masih saja santai.
"Aku akan menghabisi mu!" geram Ricko, bersiaga semua anggota Brandon.
Melangkah mendekat ke arah Ricko, membetulkan posisi pistol tepat di keningnya. Brandon menyeringai sinis, menatap ke arah lelaki tampak gemetar di hadapannya.
"Habisi!" singkat Brandon.
Tuan muda tampan tersebut melihat ketakutan juga tersirat di mata Ricko. Selain dendam, rasa takut ketika berhadapan dengan seorang penguasa berhati dingin dan kejam itu, memang membuat Ricko merasakan ketakutan di waktu yang sama.
Setiap anak buah Brandon, meningkatkan kewaspadaan mereka. Tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Tuan mereka, yang malah meletakkan pistol melekat pada keningnya. Ricko bisa saja membidik kapanpun dan menghancurkan Brandon.
"Turuti maunya!" perintah Brandon, semakin tidak di mengerti anak buah yang hanya bisa menurut.
"Cari anak anak juga istrinya! bawa mereka dan habisi dihadapannya!" perintah Ricko, tak mengubah sedikitpun ekspresi tenang Brandon.
"Berani kalian satu langkah memasuki rumah, aku tidak menjamin nyawa kalian!" ancam Pieter pada beberapa orang hendak melangkah masuk.
"Cari!" tegas Brandon.
Jalan ruang bawah tanah yang takkan pernah ditemukan siapapun, sudah di amankan Brandon ketika dirinya keluar tadi. Untuk itulah ia begitu tenang dan membiarkan mereka mencari.
Pieter sudah tidak tahan lagi untuk menghabisi semua orang telah masuk kedalam rumah dengan senjata mereka. Akan tetapi semua harus ditahan, karena Brandon sendiri justru mengijinkan dengan santainya.
Semua terus mencari di setiap ruangan, membuka setiap pintu tertutup. Tidak merasa puas akan rumah mewah tampak sepi tersebut, mereka terus menyusuri rumah tanpa satu terlewat.
__ADS_1
Semua sudah di amankan di ruang bawah tanah, bahkan pelayan dan sebagian bodyguard telah berada di bawah untuk menjaga ketat keluarga. Tidak menyisakan satupun di dalam rumah, prediksi Brandon tepat adanya.
Ia tahu jika siapapun yang menyusup pasti akan mencari ke dalam dengan berbagai cara, untuk itu semua di perintahkan untuk benar benar menjaga keluarganya dan mengelabui musuh.
"Sial! tidak ada satupun orang disini!" geram seorang bagian dari tim Ricko.
"Dia benar benar cerdik!" tambah seorang lagi juga sangat geram.
Kembali setelah beberapa lama mencari, mereka menghadap Ricko yang masih setia memegang pistol. Brandon tersenyum tipis, menyunggingkan bibir kiri ke atas diiringi sorot mata menghina.
"Tiba giliran ku?" santai Brandon bertanya, semakin gemetar Ricko dibuatnya.
Mengisyaratkan anak buahnya untuk menghajar, Brandon mengeluarkan peluru cepat dari pistol di tangan Ricko. Ia menghujamkan kepalan tangan tanpa ampun pada sekretaris Kenan hingga tersungkur.
Amarah pada seseorang berani memerintah untuk melenyapkan anak juga istrinya, disalurkan Brandon tanpa ampun. Tidak sekalipun ia membiarkan Ricko untuk membalas, terus ia menghantam wajah berlumur darah tersebut.
"Akan kuberikan kematian paling menyiksa untukmu!" geram Brandon, menarik kaos hitam berlapis jaket hitam milik lelaki di bawah tubuhnya.
Berani menyebut nama istri juga anak anaknya saja, sudah tak ada ampun. Apalagi kini Ricko justru berani memerintah untuk mencari dan menghabisi. Semua menjadi dasar kuat untuk Brandon memberikan kematian yang belum pernah diberikan pada siapapun.
Sementara Angel sudah berhasil menidurkan kedua putranya, meminta agar Ria dan Via membantu untuk meletakkan tubuh Nicko dan Nathan ke ranjang. Apron masih melingkar pada dada Angel, ia berusaha menutup pakaian sebelum melepaskan apron dari tubuhnya.
Saat membetulkan pakaian di balik apron, suara tembakan memekik telinga Angel dan melihat ke arah pintu seketika dengan mata membulat. Suara sama yang juga di dengar oleh orang di depan, menakutkan bagi Quen juga Dio langsung mendekap erat Olivia bersama.
"Ada apa di luar?" tanya Angel khawatir.
"Semua baik baik saja, Nyonya. Tetaplah berada di sini" sopan Via, mencoba mencegah istri Tuan kini menjadi tanggungjawab dirinya.
"Brandon?" teringat Angel akan suaminya.
Melangkah cepat keluar tanpa bisa di cegah, Angel membuka pintu kamar dan mendapati Mama, adik ipar juga kedua keponakannya berada dalam ketakutan yang sama. Vienna sudah berdiri dengan rasa ingin tahu, tapi perintah untuk tetap tinggal membuatnya tak bisa bergerak.
__ADS_1