Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 114


__ADS_3

Beberapa jam Pieter, Adiyaksa juga Olivia sudah menyelesaikan pertemuan mereka bersama kenalan bisnis Adiyaksa di sebuah tempat makan. Wanita cantik dengan rambut terikat serta setelan rok kerja berwarna coklat muda itu amat berterimakasih pada Adiyaksa atas segala bantuannya.


Kini pria yang begitu gagah dalam setelan jas navy itu sudah memasukki mobil bersama Olivia, dimana Pieter yang mengemudi dengan di dampingi oleh Viena pada samping jok kemudi.


Adiyaksa meminta Pieter untuk membawa mereka ke sebuah tempat perbelanjaan, dimana Olivia dan Viena akan berbelanja beberapa bahan makanan untuk acara bakar bakar nanti malam.


Suasana kebersamaan yang begitu akrab, jarang sekali terjadi hingga membuat pria berkacamata itu memutuskan membuat acara bakar bakar di taman villa untuk semakin mengeratkan hubungan di antara mereka semua.


Lelaki yang tak pernah meninggalkan ekspresi dingin di balik kemudi itu, menemani Adiyaksa dalam mobil dan mengijinkan Mamanya berbelanja bersama Viena begitu mereka sampai di parkiran perbelanjaan tradisonal yang di arahkan oleh Olivia, karena dulu Ia sering ke tempat itu bersama Angel juga Carlos ketika masih bersama saat liburan ke puncak.


" Pieter, apa Kamu sudah meminta Alexa untuk menyerah padamu? " tanya Adiyaksa memperhatikan putrinya terlihat kembali bersemangat di banding saat Ia meninggalkannya di rumah Olivia.


" Belum Om " sahut Pieter masih memegang setir dengan satu tangan.


" Kenapa? apa Kamu tidak mau berbicara pada Alexa? apa perlu nanti Kita bicara bersama? " ingin tahu Adiyaksa alasan di balik jawaban lelaki dengan rasa bingung menatap lurus ke arah jalan.


" Tidak perlu Om, nanti Aku akan coba bicara padanya sendiri " sahut Pieter masih tak berani mengakui hubungannya dengan Alexa.


" Apa Om akan menikahkan Alexa dengan Darell? " tambah Pieter penasaran.


" Itu keinginan sahabatmu, kalau Om terserah pada mereka saja nak. Lagipula Om juga tidak mengenal jelas siapa Darell, hanya Brandon yang tahu karena Dia terus memantau Alexa " jawab Adiyaksa mempercayakan segala keputusan pada putranya yang selalu hati hati dalam segala hal dan penuh pertimbangan matang.


" Tadi Brandon sudah menghubungi Darell dan memintanya menyusul ke puncak bersama satu anak buahnya, mungkin penerbangan malam ini " tambah Adiyaksa kembali memaksakan senyum Pieter yang sudah menoleh ke arah Daddy sahabatnya.


" Bukankah besok Kita sudah kembali? " tanya lelaki masih terlihat santai berbicara.

__ADS_1


" Tidak nak, Kita akan menginap beberapa hari lagi. Kapan Kamu akan menikah dengan Viena? " ingat Adiyaksa akan perkataan Pieter yang menyebut bodyguard cantik itu sebagai calon istrinya.


" Aku masih belum ingin menikah Om, masih ingin menikmati kebersamaan bersama Mama Olivia dan Angel " jawab lelaki dengan senyum tampan seraya menundukkan pandangan disambut senyum Adiyaksa menepuk pundaknya.


" Om bahagia Kamu bisa menemukan keluarga baru sebaik mereka " seru Adiyaksa mengembangkan senyum diiringi anggukan yang masih mengukir ekspresi bahagia serta senyum menawan Pieter, mengingat kesempatan ke dua untuk mendapat kasih sayang seorang Ibu dalam hidup nya.


Pembicaraan keduanya harus terhenti ketika Pieter melihat Olivia dan Viena telah kembali, yang dengan cepat Ia turun meraih beberapa kantung belanjaan dan memasukkannya dalam bagasi mobil.


Setelah membantu Mamanya masuk, Pieter kembali menuju kemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju Villa pribadi Brandon. Dalam perjalanan, Ia masih terpikirkan akan ucapan Adiyaksa tentang keputusan sahabatnya menyatukan gadis yang kini mengisi ruang hatinya dengan Darell.


Terlintas pikiran untuk melakukan apa yang menjadi syarat Brandon pada Alexa, namun Ia segera menyadarkan pikirannya karena tetap tak ingin melakukan hal itu. Meski dirinya tak ingin kehilangan gadis manja nya, namun Ia juga tak memiliki kekuatan apapun untuk merubah keputusan sahabatnya. Mengingat jika Brandon selalu memutuskan apapun tanpa pernah ingin merubahnya lagi.


Begitu sampai villa, Adiyaksa dan Olivia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum acara nanti malam meninggalkan Pieter dan Viena membawa beberapa kantung belanja ke dapur dengan bantuan penjaga villa.


Pintu kamar di bukanya perlahan dalam suasana sepi karena semua penghuni villa tersebut tengah tidur siang. Melihat Alexa pulas di atas tempat tidur, lelaki dengan ukiran senyum itu langsung menyusul usai mengunci pintu lebih dulu.


" Aku memgantuk Alexa, biarkan Aku tidur sebentar " lirih Pieter sudah memeluk tubuh Alexa dari belakang ketika gadis yang memiringkan tubuh itu terkejut dengan adanya tangan melingkar pada pinggangnya.


" Iya " singkat Alexa menarik tangan Pieter untuk Ia dekap di di depan dada dengan kedua tangan nya.


Pieter mengangkat sisi wajah Alexa dengan tangan yang di dekap oleh gadis di hadapannya, lalu meluruskan tangan satunya di bawah leher Alexa hingga napas hangatnya mampu di rasakan oleh gadis dengan perasaan bahagia itu.


" Alexa, kalau Kamu tidur dengan pakaian seperti ini lebih baik kunci pintu dari dalam " pinta Pieter karena Alexa tidur hanya mengenakan tanktop juga celana pendek sampai paha.


" Iya Kak, Aku tadi sangat mengantuk jadi tidak mengunci pintu " sahut Alexa merasakan detak jantung Pieter begitu kuat di balik tubuhnya karena lelaki tersebut tak menyisakan jarak sedikitpun.

__ADS_1


Kemeja juga jas yang masih membalut tubuhnya, membuatnya tak nyaman untuk tidur, terlebih tangannya yang mampu merasakan dada Alexa mengikuti irama napas di balik jantung begitu cepat berdetak melenyapkan rasa kantuknya seketika.


" Kenapa Kakak melepaskan itu? " tanya Alexa melihat Pieter melepas jas serta kemeja dan membiarkan tubuh bidangnya polos.


" Aku mau tidur Alexa, bukan mau kerja " santai Pieter meletakkan dengan rapih jas serta kemejanya di sisi bawah ranjang.


" Kak, bagaimana jika ada yang tahu? mereka pasti berpikiran macam macam " lirih Alexa karena kekasihnya mulai memposisikan diri seperti sebelumnya.


" Biarkan saja " singkat lelaki dengan tangan menyusup di balik tank top putih Alexa hingga mampu menyentuh kulit mulus pada perut gadis dengan napas tak teraturnya saat ini.


" Apa Kita akan melakukannya hari ini? " polos Alexa merasakan hangatnya sentuhan tangan Pieter.


" Sudah Aku bilang, Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak ingin menikahimu dengan cara seperti itu " jelas Pieter.


" Kalau begitu tangan mu jangan kemana mana! " jengkel Alexa mengingatkan kekasihnya.


" Aku suka menyentuh nya " sahut Pieter terus membelai dada yang tak cukup untuk masuk semua dalam pakaian dalam.


" Kakak! tidurlah! " tegas Alexa jengkel mengembangkan senyum Pieter di balik tengkuknya, hingga membuat gadis itu berhasrat dalam pikiran dewasa.


" Kenapa? apa Kamu merasakan sesuatu? " goda Pieter tersenyum genit dengan mengangkat kepala untuk melihat wajah Alexa yang sudah merah padam menahan hasratnya.


" Tidak!" tegas Alexa membalikkan tubuh untuk tengkurap semakin membuat Pieter mengembangkan senyum puas.


Pieter hanya ingin menggoda Alexa karena tadi sudah menyindir dirinya di meja makan, bahkan berani menghubungi Darell di hadapannya. Sengaja Ia melakukan hal itu karena juga menyukai setiap ekspresi Alexa yang menggemaskan di balik wajah polosnya.

__ADS_1


__ADS_2