
Lima bulan sudah terlewat di dalam kamar hotel mewah tersebut. Makan dan pemeriksaan kehamilan dilakukan juga di kamar itu. Tetap mendampingi dengan memenuhi diri akan harapan juga keajaiban yang bisa mengembalikan sosok suami tercinta padanya. Kehamilannya semakin membesar dan kini sudah tujuh bulan, ia masih melewati tanpa kasih sayang suaminya.
Dini hari ketika matanya terpejam sembari menggenggam tangan suaminya, Angel merasakan untuk pertama kali tangan itu bergerak membalas genggaman tangannya, walau lemah. Matanya seketika terbuka memanggil Dokter tetap berada dalam kamar. Cepat Dokter memeriksa dengan seksama, bersama Darell mendampingi. Napas lega dihembuskan Dokter dengan pernyataan jika Tuan muda tersebut telah melalui masa kritis.
Perlahan mata Brandon terbuka, melihat banyak wajah mengelilingi dirinya. Ketika pandangan itu sampai pada perempuan di atas ranjang samping tubuhnya, senyum merekah begitu saja. Angel tersenyum dalam air mata, penantiannya tidak sia sia sampai akhirnya bisa melihat senyum dari wajah kasih yang dirindukan.
"Akhirnya kamu kembali" bergetar Angel berucap dalam air mata.
"Terima kasih Tuhan" batin Angel meski masih tak mampu mempercayai.
Kedua mata indah dengan air mata itu mengamati suaminya dengan bibir tersenyum bahagia. Hatinya tidak henti berucap rasa terima kasih pada pencipta, karena telah mengembalikan suami tercintanya. Brandon menatap ke arah Angel lekat, senyum ia ukir tulus, dapat kembali melihat wajah cantik yang selalu hadir dalam tidurnya.
"Kenapa tubuhmu sangat gemuk?" ucap Brandon untuk pertama kali, mengembangkan senyum tak percaya Angel yang langsung menyeka air mata.
"Pakai itu lagi, dan berhenti bicara. Dasar menyebalkan" ucap Angel, mengembangkan senyum Brandon.
"Tuan, jangan banyak bergerak" cepat Darell melangkah saat Brandon mencoba menarik tubuh ke atas.
"Punggungku lelah, aku ingin bersandar"sahut Brandon.
"Tentu saja lelah, kamu bukan tidur tapi hibernasi" ucap Angel lagi lagi membuat suaminya tersenyum.
Darell membantu Brandon untuk bersandar dengan Angel menata dua buah bantal di balik punggung suaminya. Dokter sudah memeriksa, di persilahkan Darell untuk keluar beserta perawat lainnya agar memberikan ruang untuk Tuan serta Nyonya mudanya bersama. Namun penjagaan tetap masih ketat diluar, hingga tidak akan pernah bisa siapapun membuat celah untuk menyerang.
Brandon terus mengamati tubuh gemuk istrinya, dengan perut sangat besar. Ia tak tahu seberapa lama ia terbaring sampai melewatkan banyak waktu, dan terbangun dengan kandungan istrinya saat ini.
"Apa? kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya perempuan tengah duduk di atas ranjang menatap suaminya.
__ADS_1
"Berapa bulan kandungan mu sekarang?" sendu Brandon.
"Tujuh jalan ke delapan" jawab Angel.
"Maafkan aku" lirih Brandon menunduk, diraih tangannya oleh Angel dan diletakkan di atas perutnya.
"Kami merindukanmu" senyum Angel berucap, ditatap tulus laki laki merasa bersalah tersebut.
"Kemari, aku mau tahu apa tanganku masih sanggup memeluk tubuh besar mu" ucap Brandon.
"Tidak mau, kamu bau. Kamu tahu? lima bulan kamu tidak mandi, aku sampai menahan mual tidur denganmu. Apa tubuhmu tidak gatal sama sekali?" sengaja Angel ingin mendengar kejengkelan suaminya untuk meyakinkan dirinya bahwa semua bukan mimpi.
"Menyebalkan, dasar gajah" seru Brandon mengukur senyum merekah pada wajah cantik Angel.
Langsung Angel memeluk suaminya, melingkarkan tangan pada tengkuk laki laki yang seketika meraih tubuhnya.
"Aku juga sangat merindukanmu, aku kira tidak akan lagi melihatmu" tulus Angel bersama air mata kebahagiaan.
Menuangkan kerinduan dalam pelukan hangat, meluapkan segala perasaan tertahan. Penantian yang menyiksa, berbuah keindahan ketika tubuh itu mampu lagi merasakan dekapan suaminya. Wajah serta senyum dari wajah tampan itu sudah kembali lagi, meski dengan penantian lama. Sebuah penantian yang tak pernah membuat Angel lelah ataupun menyerah dalam harapan juga keyakinan.
"Auw" pekik Brandon tiba tiba, dilepaskan cepat pelukan oleh Angel, menatapnya cemas.
"Kenapa? mana yang sakit sekarang?" khawatir Angel mengabsen setiap tubuh suami dengan bekas luka di dada.
"Mereka menendang perutku" ucap Brandon, lalu tertawa bersama Angel.
"Kalian memarahi Daddy sekarang? berani?" tangan mengusap perut terlihat bergerak tiada henti layaknya ombak.
__ADS_1
"Lihatlah, mereka semakin menjadi sekarang" bahagia Brandon menatap tingkah kedua calon anaknya yang aktif.
"Mereka merindukanmu sayang, berapa lama kamu tidak menjenguk mereka?" goda Angel, dicubit gemas hidungnya oleh Brandon.
"Nakal" gemas Brandon berucap.
Kedua mata dari sepasang suami istri saling merindukan itu saling menatap, Angel meletakkan kedua telapak tangan di kedua sisi wajah suaminya, mencium lembut setiap sisi wajah di hadapannya. Perasaan dituangkan pada tiap kecupan yang diberikan, dan semakin dalam ketika kedua bibir itu saling menyatu. Getaran getaran dalam diri kembali dirasakan, sama seperti pertama kali mereka berciuman dalam cinta yang mulai tumbuh dulu.
Getaran yang sama, namun perasaan semakin kuat di antara keduanya. Bukan untuk menikmati bibir sama lain, hanya saling menempelkan tanpa adanya hasrat menyelimuti dan hanya perasaan yang bercampur menjadi satu.
"Sekali lagi kamu seperti ini, maka aku akan meninggalkanmu selamanya" ucap Angel usai melepas bibir, sedikit mengancam.
"Hei gajah, apa ini yang kamu katakan setelah menodai ku?!" tak percaya Brandon dengan tatapannya.
"Gajah, gajah, kenapa kamu terus memanggilku gajah?!" protes keras Angel menunjukkan wajah kesal.
"Berkaca dan lihat tubuhmu sebesar apa sana" jawab Brandon.
"Ini juga karena aku mengandung anakmu, oke akan aku keluarkan mereka besok dan menjadi cantik, lalu mencari Daddy baru untuk mereka" santai Angel, cepat diraih pergelangan tangannya oleh Brandon.
"Sebelum kamu mencari Daddy baru, aku sudah membunuhmu lebih dulu. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku, enak saja" jawab Brandon, menyenangkan bagi Angel yang menatap tersenyum.
"Aduh lihatlah, dia mengatakan ingin membunuh santai sekali. Memang saat aku tiada, kamu tidak akan bersedih?" seru Angel bertanya.
"Sedih, tentu sedih. Tapi mungkin satu hari saja, setelah itu akan menikah lagi" santai kembali lelaki masih memegang pergelangan tangan istrinya dengan bersandar.
"Menyebalkan!" kesal Angel menggerutu, namun merasa bahagia.
__ADS_1
Mencoba kuat walau tubuhnya masih terasa lemah, Brandon tersenyum menggoda istrinya tanpa henti. Perdebatan demi perdebatan dilakukan keduanya seperti dulu, untuk meyakinkan masing masing jika semua benar terjadi.