
LIKE dulu ya...
"Nyonya, anda tidak apa apa?" tanya Via sudah berdiri di depan kamar bersama Ria.
"Tidak" sahut Angel dan gelisah.
"Tuan meminta kami membawa anda ke ruang bawah tanah" ucap Ria, di angguki oleh Angel.
Tidak ingin kedua putranya terlepas dari dekapannya, Angel tak menyerahkan mereka pada dua orang yang ingin membantu menggendong. Berjalan ke sudut ruangan dimana terdapat sebuah pintu menghubungkan dengan ruang bawah tanah, Angel mendekap erat kedua putranya.
Didalam ruangan tersembunyi bawah tanah, sudah ada Olivia, Alexa, Dio juga Quen. Mereka lebih dulu diamankan begitu mendapat perintah langsung dari Pieter melalui sambungan telpon. Beberapa anak buah sudah bergerak mencari posisi sniper lurus di arah kamar tuan mereka.
Brandon dan Pieter yang baru sampai, langsung turun dan menutup keras pintu mobil. Keduanya berlari ke dalam rumah, menuju ke dapur dan menekan sebuah vas tertempel di dinding yang merupakan akses untuk membuka ruang bawah tanah.
Sebuah dinding tertutup oleh lemari es, terbuka dan segera dimasuki keduanya tanpa lupa untuk menutup kembali. Menuruni anak tangga dimana memiliki sendor ketika diinjak dsebagai penerangan, Brandon dan Pieter bergegas menghampiri keluarga mereka.
Melihat kehadiran suami mereka, Alexa dan Angel langsung beranjak dari duduk dan berlari memeluk. Sangat erat pelukan yang mereka berikan dalam kecemasan yang menyelimuti. Beruntung bisa melihat semua dalam keadaan baik, Brandon menghampiri mertuanya dan memeluknya.
"Tetaplah disini sampai semua teratasi" ucap Brandon.
"Aku takut kak, aku sangat takut. Sebenarnya siapa mereka?" sahut Alexa menatap kakaknya dalam dekapan suaminya.
"Alexa, jangan takut dan serahkan semua pada kami. Jangan menangis lagi, semua akan segera berakhir" lembut Pieter menenangkan istrinya.
"Menyerahkan pada kalian dan membiarkan kalian mati?! apa kalian tidak berpikir bagaimana cemasnya kami?! siapa mereka sebenarnya?!" emosi Alexa melepas pelukan pada suaminya.
__ADS_1
"Tenanglah Alexa, semua akan baik baik saja" kembali Pieter mencoba menenangkan.
"Bawa Alexa kedalam, tenangkan dia lebih dulu" ucap Brandon pada sahabatnya.
Sniper memang tak pernah bisa untuk di prediksi dari arah mana mereka menyerang, namun Brandon sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah penyerangan terhadap keluarganya. Semakin menjadi amarah dalam dirinya, mengetahui istri juga kedua anaknya menjadi sasaran kali ini.
Lelaki yang kini duduk berjongkok di hadapan istri juga mertuanya itu, merasa amat bersalah karena berhasil kecolongan oleh musuh dan membuat keluarganya terlibat.
"Aku akan ke kamar unruk memeriksa" pamit Brandon pada istrinya, ditahan cepat oleh Angel menggelengkan kepala.
"Tidak apa, jangan khawatir" tersenyum melepaskan tangan istrinya.
"Maya, tenanglah jangan terlalu memikirkan semua ini" ucap Brandon meraih tangan mertuanya, khawatir akan kesehatan jantung dari ibu istrinya.
Berdiri untuk memeriksa kamar telah diserang, Brandon seorang diri memeriksa. Mengingat suami yang pernah diburu oleh sniper dan membuatnya hampir kehilangan, Angel menyusul cepat suaminya ke dalam kamar setelah beberapa waktu Brandon pergi meninggalkan.
Sempat di cegah oleh Olivia, Angel yang sangat mencintai suaminya tetap berlari untuk menemani dan rela menerima apapun resiko yang mungkin terjadi. Menitipkan kedua anaknya pada Via dan Ria, seorang istri yang tak ingin kembali merasakan duka, meninggalkan cepat ruang bawah tanah.
Dikamar, Brandon sudah berdiri di pintu kaca balkon, menatap lurus ke arah luar. Beralir ke tembok telah tertembus proyektil, Brandon sekilas memejamkan mata untuk mengetahui seberapa jarak tembak orang yang telah mencoba menyerang dari jauh.
"Dia memang ingin melenyapkan Angel" batin Brandon, memegang lubang pada dinding dengan jarinya.
Sniper memang melesatkan proyektil tepat ketika melihat dari kejauhan pergerakan Angel, namun kehidupan yang masih berpihak baik padanya mampu menyelamatkan ibu dua anak tersebut. Tangis Nathan yang terdengar tiba tiba, menyelamatkan nyawa Angel karena bergegas untuk melihat putranya dalam boks bayi.
"Apa mereka ingin membunuhku?" terdengar suara tiba tiba dari arah pintu kamar, menoleh cepat Brandon melihat.
__ADS_1
"Kenapa kamu kesini? cepat kembali ke bawah disini belum aman" sahut Brandon berjalan mengajak istrinya keluar kamar.
Belum ditemukannya sniper yang mencoba melenyapkan istrinya, Brandon tak ingin mengambil resiko tinggi. Tidak tahu apakan sniper itu masih berada pada posisinya semula, Brandon membawa Angel keluar kamar agar tak mampu terlihat oleh siapapun yang masih mengintai.
"Jangan banyak berpikir, tetaplah tinggal di ruang bawah tanah sampai semuanya membaik. Aku tidak ingin apapun terjadi padamu dan anak anak" tulus Brandon mendekap erat istrinya.
"Aku juga tidak ingin sesuatu terjadi padamu, jadi tolong jaga dirimu baik baik" sahut Angel tulus dalam kecemasan.
"Aku akan berusaha memenuhi itu, tapi aku tidak ingin menjanjikan apapun padamu" sahut Brandon masih erta memeluk, mengusap lembut punggung istrinya.
"Sayang, wajahmu sangat jelek. Aku hampir tidak mengenalimu tadi" ucap Angel, segera Brandon melepas pelukan dan menatap tidak percaya pada perempuan yang tertawa memperhatikan.
"Lihatlah matamu, kenapa yang kiri lebih kecil? apa kamu habis mengintip perempuan mandi?" tawa Angel menunjuk mata lebam suaminya.
"Ah, aku benar benar terluka" seru Brandon menghempaskan tubuh di dinding, memegangi dada menatap ke arah kiri.
"Tertawa saja sepuasmu!" kesal Brandon memperhatikan istrinya masih saja tertawa mengamati wajahnya.
Mengalihkan pembicaraan dari pembahasan yang mungkin saj membuat suaminya terbebani akan keselamatan dirinya, Angel sengaja meledek wajah lebam suaminya dan tertawa. Ia tak ingin sesuatu mengganggu pikiran suaminya dan membuatnya hilang fokus ketika melawan musuh.
Mengamati tawa Angel, Brandon mengerti jika kini istrinya tengah mencoba menghibur dirinya. Menggigit ujung bibir bawah sebelah kanan, Brandon tersenyum melihat tawa dicoba untuk lepas di hadapannya. Berjanji dalam diri akan melakukan apapun asal tetap bisa melihat wajah cantik dihadapannya tertawa, tawa tulus bukan tawa yang dibuat buat seperti saat ini.
"Aku mencintaimu Angel, sangat mencintaimu" tulus, meraih tangan istrinya dan mendekatkan pada tubuh menempel lalu menikmati bibir istrinya lembut.
Menahan pinggang untuk menempel pada tubuhnya, Brandon menikmati sangat lembut bibir istri yang ia cemaskan. Angel sendiri membalas tak kalah lembut, dengan memegang kedua sisi wajah suaminya, berpindah melingkar pada tengkuk agar lebih leluasa.
__ADS_1