
Tak mau kembali pulang, lelaki tengah kacau itu menghubungi kepala pelayan rumahnya agar membuka pintu untuk Angel. Ia pun meminta Pieter untuk kembali pulang saja, mengingat Adik juga keponakannya di rumah.
Brandon memilih berdiam diri di hotel miliknya. Sebuah kamar khusus tempatnya dulu bersama Angel pertama kali menghabiskan malam, menjadi tempatnya menyendiri.
Sebotol wine sudah tersedia untuk menemani dirinya, menikmati kesendirian dalam kamar hanya bercahaya lampu tidur. Tersirat segala ucapan akan perceraian, yang tak pernah ingin Ia lontarkan sebelumnya.
Ia hanya diam, terus menikmati wine hingga tak bersisa. Tanpa sedikitpun memejamkan mata karena kekacauan pikiran juga perasaannya sendiri.
Di rumahnya, Angel sudah tersadar dan diam dikamar. Sama sama memikirkan akan perceraian yang telah terlontar begitu saja. Hanya air mata menemani Angel dalam kamar sudah ada dua penjaga di depan.
Alexa juga Pieter sudah bersama anak mereka di kamar. Alexa tak mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya, apalagi melihat suaminya terlihat stres sendiri. Pieter merasa bersalah karena telah lalai akan tugas juga pekerjaannya.
" Ada apa sebenarnya? " tanya Alexa sudah ada di atas ranjang memeluk suaminya.
" Tidak ada apa apa, tidurlah ini sudah larut " lembut lelaki mendekap istrinya dalam dada itu.
" Aku tidak mengerti apapun yang terjadi, kenapa Kakak tidak pulang? dan kenapa Kak Angel di kurung di dalam kamar? " tanya kembali Alexa masih ingin tahu.
" Mereka memiliki masalah sendiri, Kita jangan terlalu ikut campur. Brandon memang orang yang keras, tapi Aku yakin Dia memiliki alsan untuk itu " lembut kembali Pieter merasa khawatir akan kondisi Adik yang tak boleh untuk ditemui siapapun.
" Aku harap Kamu tidak menyembunyikan apapun " tulus Alexa.
" Ada beberapa hal tidak bisa Kami ungkapkan mengenai pekerjaan Alexa, Brandon pun tak pernah mengungkap apapun pada Angel. Cukup dengan Kamu percaya dan mengerti, maka semua akan baik baik saja " panjang lebar Pieter.
Sebuah kecupan lembut di berikan Pieter untuk istrinya tepat di kening, mendekap erat tubuh perempuan yang belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan. Tak ingin Alexa kembali bertanya, Pieter mulai memejamkan mata walau tak tertidur agar Alexa ikut memejamkan mata.
****
Tepat di hari peringatan kematian Kakaknya, Brandon datang ke panti asuhan memberikan banyak sumbangan juga segala kebutuhan. Setelah malam Ia mengatakan perceraian, juga kemarin selama sehari penuh, Ia tak menghubungi Angel sama sekali. Ponsel memang sengaja Ia matikan tanpa ingin lebih dulu mengurus segala masalah pekerjaan atau apapun yang mengusik dirinya.
__ADS_1
Tuan muda ingin tetap sendiri itu, memilih seharian penuh di dalam kamar hotel kemarin, dan baru keluar pagi ini ke panti asuhan. Beberapa barang yang dibutuhkan sudah lebih dulu datang atas perintah Brandon pada Yudha, yang kemarin langsung di kirimkan begitu mendapat perintah.
Bangku panjang taman, dengan keteduhan pohon besar sudah menemani dirinya dalam memori akan saudaranya. Hanya diam seperti biasa mengamati setiap anak anak yang bermain. Beberapa pengawal di perintahkan membagi barang kebutuhan panti juga anak anak di sana. Tak ada yang berani mengganggu Brandon yang memang selalu diam di taman tiap kali datang.
Sebuah bola menggelinding tepat di kaki laki laki tengah duduk bersandar itu. Tangannya mulai meraih bola berwarna kuning tersebut, dan memberikan pada seseorang tengah berdiri di dekatnya.
" Angel? " terkejut Brandon melihat istrinya berdiri dengan tersenyum.
" Jangan hanya diam, bermain bersama Kami " seru gadis dengan celana panjang hitam serta kaos oblong tersebut tersenyum, memperanjatkan Brandon dari duduk nyaman.
" Aku merindukanmu " peluk Angel tersenyum manja.
" Main? " tanya Angel melepas pelukan dan tersenyum, di balas senyum oleh suaminya.
Brandon melepas jas juga dasinya, cepat di raih oleh pengawal yang di panggil lebih dulu. Ia berlari mengejar istrinya yang sudah bergabung lebih dulu dengan banyak anak panti bermain bola. Pengurus panti memperhatikan dengan bahagia, karena donatur yang terbiasa diam dan berlalu pergi begitu saja, mulai ikut bersenang senang dan baru pertama kali melihat Tuan muda itu tersenyum.
Angel sendiri sengaja datang, setelah memaksa Santos untuk memberinya ijin. Ia tak ingin suaminya bersedih dan mengingat kepergian Kakaknya sediri. Merasa tenang akan Papanya sudah bersama Viena, melalui kabar dari Pieter, gadis tengah asik bermain bola lawan tim dengan suaminya itu ingin memberikan kebahagiaan juga pada lelaki yang banyak berkorban untuknya.
" Untuk perceraian.. " ucap lelaki tengah menikmati masakan istrinya itu terputus.
" Aku tidak ingin berpisah, Aku ingin Kita bersama dan memiliki anak lalu bermain seperti tadi " tulus Angel membuat suaminya tersenyum bahagia.
" Maafkan Aku untuk Carlos, karena tidak mengatakan apapun " lirih Brandon, diraih tangannya oleh Angel di atas meja.
" Aku tahu Kamu melakukannya untuk melindungi ku dan Mama " senyum tulus Angel, sudah memikirkannya seharian kemarin.
Brandon beranjak dan mencium bibir istrinya walau terhalang oleh meja makan. Keduanya kembali menikmati makan bersama, sambil sedikit bercanda dan membahas kelucuan anak anak.
" Biar Aku yang mencuci piring " ucap Brandon meletakkan piring di dapur bersama istrinya.
__ADS_1
" Oke, Aku akan membereskan meja makan " senyum Angel melangkah, namun di tarik cepat suaminya.
" Tetap di sini " ucap lelaki meletakkan tubuh istrinya di depan wastafel dapur menghadap dirinya.
" Apa ini caramu mencuci piring?!" jengkel Angel ketika suaminya sudah mencuci piring dengan dirinya harus ada di depannya dekat tanpa celah.
" Oh? kenapa? " santai Brandon tetap mencuci piring bersama tubuh menempel dengan istrinya.
" Harusnya Aku tidak pernah percaya ucapan mu, dasar mesum " gerutu lirih Angel dengan wajah tepat di depan dada suami yang tersenyum mendengar.
Dengan nakal, Angel membuka tiap kancing kemeja suaminya, mencium lembut dada bidang dengan aroma keringat bercampur parfum yang menenangkan.
" Seksi " lirih gadis dengan bibir di gigit di bawah itu memainkan dada menggunakan ujung jari telunjuk.
Masih tetap membilas dan menyeringai, Brandon geli sendiri akan tingkah nakal istrinya. Angel sendiri paham jika suaminya takkan tahan dengan sikap nakal menggodanya, terus gencar mempermainkan tubuh di hadapannya hingga sesuatu menunjukkan reaksinya.
" Ah dasar nakal, lihatlah apa yang sudah Kamu lakukan! " tegas Brandon mulai bergairah.
Perlahan Angel menurunkan tubuh dan menyusup dari bawah lengan suaminya, berlari ke ruang TV dan duduk santai di sana. Senyum puas berhasil membalas suaminya pun menghiasi wajah cantiknya.
" Tanggung jawab! " tegas Brandon sembari melangkah menghampiri istrinya.
" Tidak mau! Kamu sendiri yang memulai! " tegas gadis sudah sangat nyaman dengan posisinya.
" Apa Kamu mau membuatku gila?! tanggung jawab! " tegas kembali Brandon melihat istrinya memunggungi menghadap sandaran punggung sofa.
" Tidak mau! " teriak Angel tertahan sofa suaranya.
" Lihat saja kalau Kamu tidak mengandung kembar tiga setelah ini " gumam jengkel laki laki menarik kuat pundak istrinya.
__ADS_1
" Apa Kamu mau membuatku tidak bisa makan punya anak tiga?! " jengkel gadis sudah di tahan tangannya itu.
" Kita lihat saja " santai Brandon menaikkan alis dengan menyeringai.