
"Angel?" tidak percaya Pieter menatap ke arah adiknya sendu.
"Maaf kalau ucapanku terdengar kasar, tapi aku mohon pergilah dan biarkan suamiku istirahat. Jika tidak mau pergi maka aku minta kalian tenang disini" memohon Angel tetap menyatukan kedua tangan di hadapan Pieter.
Sebelum memutar tubuh dan kembali mendampingi suaminya, Angel meminta Dokter untuk merawat luka kedua laki laki yang sempat adu hantam tadi. Bukan menyalahkan Pieter akan apa yang terjadi, bahkan tak terlintas sedikitpun untuk hal itu. Hanya saja kekecewaan itu hadir begitu saja akan sikap lelaki telah dianggapnya kakak selama ini.
Melayangkan pukulan tanpa mempertanyakan lebih dulu yang terjadi, memaki tanpa mencaritahu, keributan di tengan kondisi kritis seseorang, hal itu yang membuat Angel semakin kecewa. Cukup semalam ia kecewa karena Pieter terdengar seoalah tidak ingin membantu mencari tahu tentang suaminya, kini sudah bertambah dengan sikap sok jagoan yang ditunjukkan Pieter.
Bukan tentang siapa yang menjaga atau siapa yang berdiri di sampingnya, mungkin saja ketika Pieter yang menjaga tidak ada sniper yang memburu nyawa Brandon. Darell juga memiliki tingkat kewaspadaan dan kemampuan sama dengan Brandon maupun Pieter, untuk itu Brandon memilihnya sebagai kaki tangan kedua. Terlalu tidak pantas jika Pieter harus menganggap ini sebagai kebodohan juga kelalaian Darell, karena Brandon sendiri juga tidak tahu jika sniper sudah berdiri memburunya dari jarak bermeter meter di sebrang kamarnya.
Angel mencoba kuat bertahan di dalam pusaran arus kehidupan, hatinya hancur bagai tertimpa reruntuhan menatap lekat wajah suaminya. Tubuh kemah direbahkan di samping kiri lelaki tetap terpejam, meletakkan tangan kanan sebagai sandaran sisi wajah. Tangan kiri meraih lembut dan berhati hati tangan suaminya, meletakkan tepat di atas perut dengan dua janin melekat di dalam.
Perempuan dengan bulir air mata kembali menetes itu, hanya berharap jika penguasa hatinya mampu merasakan kehadiran dirinya juga anak anak mereka dan membawanya cepat kembali. Matanya perlahan terpejam, merasakan telapak tangan di atas perutnya, menyatukan sebuah ikatan antara dirinya dan suaminya bersama buah cinta mereka.
Tanpa terasa Angel terlelap begitu saja tetap dengan tangan orang terkasih yang diletakkan di atas perutnya. Baru beberapa waktu terlelap, bayangan suaminya kembali menyapa dalam tidurnya. Terlihat jelas wajah tampan itu tersenyum menyeka air mata pada wajah cantiknya. Gelengan kepala juga terlihat dengan ukiran senyum pada wajah tampan itu, seolah mengisyaratkan untuk tidak lagi menangis.
__ADS_1
Angel tersentak dan membuka cepat kedua matanya, namun yang dilihat tetap sama seperti sebelum ia terpejam. Isakan tangis tertahan dengan tangan membungkam mulutnya sendiri, mengharap sebuah mimpi terlihat nyata itu menjadi sebuah kenyataan.
Tidak bisa kembali tertidur, Angel memilih tetap terjaga menunggu suaminya. Tetap menatap lekat hingga pagi hari menyapa. Perlahan ia turun dari ranjang, mengikat seluruh rambut ke belakang. Melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah, lalu kembali lagi dengan air hangat di dalam wadah serta handuk kecil berwarna putih di dalamnya.
"Pagi sayang, kamu tidak suka kalau tubuhmu bau kan? sekarang aku akan membersihkannya untukmu" ucap Angel mencoba ceria dalam nada bicaranya.
Terus berbicara seoalah suaminya bisa menjawab, Angel membersihkan wajah, tangan dan kaki suaminya lembut. Setiap sela sela jari dibersihkannya penuh kasih sayang, dengan terus menceritakan apa saja yang telah ia lakukan selama suaminya tidak ada. Angel juga menceritakn banyak khayalan akan kehidupan bahagia mereka bersama anak anak mereka nanti. Mengukir senyum, menyemangati dirinya sendiri, Angel tetap bercerita dengan nada ceria seperti biasa ia lakukan.
"Oh ya, aku punya sesuatu untukmu. Lihatlah seberapa jelek wajahmu saat tidur, aku juga punya banyak sekali video ketika kamu marah marah dan itu sangat menyebalkan" ucap Angel menunjukkan foto dan memutar video dihadapan wajah suaminya, yang ia ambil diam diam hampir setiap hari.
"Bangunlah, sampai kapan kamu tertidur" kembali tangis Angel pecah menundukkan wajah dengan kedua tangan lurus disisi ranjang.
Pieter tak kuasa lagi melihat Adiknya, dan berjalan mendekat memegang pundak perempuan tengaj terisak kembali, memohon suaminya membuka mata. Angel langsung memeluk erat Pieter menumpahkan air mata di atas perut kakaknya. Tangan Pieter lembut membelai bagian belakang kepala Angel, membiarkannya menangis seperti anak kecil.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Minta dia membuka mata dan bertengkar denganku. Kenapa dia terus terpejam? apa dia sudah tidak peduli denganku? minta dia membuka mata, aku mohon" tangis Angel dalam ketidak berdayaan.
__ADS_1
"Katakan padanya aku akan pergi meninggalkannya, aku akan sangat membencinya jika terus mengacuhkanku seperti ini" tambah kembali Angel.
"Tenanglah Angel semua akan baik baik saja" ucap Pieter, dan hanya itu yang bisa terucap dengan air mata mulai jatuh.
****
Berhari hari, berminggu minggu bahkan sampai berbulan bulan, Angel tetap setia di sisi suaminya tanpa sekalipun meninggalkan. Tidak ada sedikitpun tanda jika suaminya akan tersadar, tapi ia tetap meyakini jika suaminya takkan pergi begitu saja meninggalkan dirinya bersama kedua anak mereka.
Pieter sudah lebih dulu kembali setelah satu minggu berada di sana, Angel tidak ingin jika kakaknya harus meninggalkan Alexa juga Quen yang jelas lebih membutuhkannya. Pieter tetap tidak mengatakan apa yang terjadi pada siapapun termasuk Alexa. Ia hanya kembali beberapa kali dalam sebulan untuk melihat keadaan Brandon.
Sedangkan Darell, menangani perusahaan dengan tetap berjaga di kamar tanpa sedikitpun beranjak pergi. Penjagaan pun sudah sangat ketat di segala penjuru hotel, untuk memastikan keselamatan Tuan mudanya. Darell terus memantau setiap keadaan melalui pengawal yang ditempatkannya.
Olivia ingin menemani putrinya, namun tidak diperbolehkan oleh Angel karena mementingkan kesehatan mamanya. Tetap dengan Viena, Olivia tanpa henti berdoa dan berbagi pada semua panti asuhan meminta semua untuk mendoakan keselamatan menantunya. Karena wanita juga sangat mengkhawatirkan kondisi menantu juga putri serta bayi dalam kandungannya itu percaya, semakin banyak yang mendoakan akan semakin cepat Tuhan mewujudkan.
Sedangkan Kenan cukup puas dengan apa yang sudah terjadi pada musuhnya. Walaupun Brandon tidak mati atas penyerangan itu, namun kondisi Brandon tetap menjadi kabar terbaik dalam hidupnya selama ini. Hidupnya semakin bersemangat di atas penderitaan Brandon yang belum tersadar. Bahkan ketika semua memohon kesadaran Brandon, Kenan justru mengharapkan kematian menyakitkan bagi Brandon.
__ADS_1