
Mohon maaf sebelumnya yang ada di GC memang aku kick, karena ada silent reader yang fitnah keluarga pribadi curi info dari guyonan GC. Udah gitu juga banyak GC lain kena tangkap aktifitas ilegal, jadi cari aman dulu. Kalau mau masuk bisa tapi admin yang seleksi, buat yang aktif KOMEN, VOTE juga AKTIF GC sebelumnya pasti langsung accept. Makasih...
LIKE dulu sebelum baca ya...
"Aku tidak akan pernah menjaga Angel juga anak anakmu!" tegas Peiter terus melajukan mobil sport sahabatnya.
"He! apa kau mau mati?! dasar bodoh! itu juga adik dan keponakanmu!" menoleh dan menatap tajam ke arah lelaki berpakaian hitam disampingnya, Brandon kesal.
"Kau tidak tahu seberapa hancurnya Angel karena kau koma, dan sekarang kau berpesan seperti orang mau mati. Dia membutuhkanmu bukan aku, paling tidak teruslah hidup untuknya" sahut Pieter sesekali menoleh ke arah lelaki kini menatap lurus ke jalanan dengan tubuh bersandar.
"Aku juga sangat membutuhkannya" batin Brandon berucap.
Terlintas seperti apa beratnya Angel ketika melepaskan dirinya, Brandon tak kuasa menahan luka hatinya sendiri. Terasa bagai tersayat mengingat perasaan berat untuk pertama kalinya ditunjukkan oleh Angel.
Melintasi jalanan untuk menemui anak buahnya, Brandon dan Pieter di kejutkan oleh suara tembakan pada kaca mobil belakang. Untungnya ia telah mengganti semua dengan anti peluru, hingga tak akan pernah membahayakan nyawanya.
"Sial!" mengumpat Brandon menoleh ke arah belakang.
"Kami akan menghalaunya Tuan" terdengar suara Darell dari earphone yang terpasang pada telinga Tuannya.
"Mereka benar benar tidak sabar" menggelengkan kepala, Brandon berbicara lirih.
__ADS_1
Beberapa anak buah Jackson sudah berada di setiap titik jalan yang akan dilalui oleh Brandon. Mengubah rencana hanya dalam waktu semalam, Jackson sudah memperhitungkan jalan mana yang akan dilintasi oleh mangsanya.
Namun hal itu bukan suatu yang berat, karena di seluruh titik juga tersebar semua anak buah Brandon yang kini mulai menyerang ke arah snipper sudah mencoba melumpuhkan Tuan mereka.
"Darell tetap bersamaku dengan Viena, biarkan orang lain menangani itu!" perintah Brandon melalui earphone terhubung pada seluruh anak buahnya.
"Baik, Tuan" sigap lelaki kini mengemudi di belakang mobil Tuannya itu menjawab.
Menerima sebuah pesan dari Yudha yang telah mempelajari semua situasi saat ini, Brandon menyambungkan GPS ponsel pada layar di dalam mobilnya dan meminta agar Pieter melintasi jalan tersebut. Terjaga demi melindungi Tuannya, Yudha benar benar memantau segala pergerakan dari kelompok musuh.
Sementara snipper yang tadi melesatkan proyektil pada kendaraan Brandon, kini sudah dalam genggaman empat anak buah Brandon tanpa suatu pengejaran berarti. Memastikan lebih dulu agar tak lagi ada racun seperti kejadian waktu itu, anak buah Brandon menarik lidah seorang snipper dan memotongnya lalu memaasukkan pada sebuah kantung.
Mengikat dan membawanya serta sebagai tawanan penyiksaan lebih parah ketika semua telah berakhir, anak buah Brandon memperlakuakan tawanan mereka lebih dari sadis. Bukan hanya lidah yang tepotong, namun juga jari jari serta mulut sudah tersumpal oleh sapu tangan.
Sebuah gedung kosong bertingkat tiga, dimana di kelilingnya sudah bersembunyi semua snipper dari Brandon mulai dimasukki oleh empat orang yang berjalan amat percaya diri.
Menyeringai ketika di sambut oleh musuh lama, Brandon tak meninggalkan sedikitpun keangkuhan dalam dirinya. Sonya yang melihat mantan tunangan sudah menghancurkan hidupnya dulu, sangat ingin menerkam dan menghabisinya langsung, namun tertahan Kenan agar mengikuti rencana tersusun.
"Long time no see, Brandon" seru Jackson sumringah, melangkah mendekat pada pria tinggi tampan yang berjalan gagah ke arahnya tanpa gentar.
"Aku dengar kau memiliki seorang istri yang cantik juga dua orang anak lucu? dimana mereka?" tambah kembali Jackson mengintip ke arah belakang Brandon.
__ADS_1
"Aku memang orang yang sangat beruntung, karena selalu mendapatkan apa yang tak pernah kau dapatkan" menyeringai sinis, Brandon bernada santai namun menghina. Tapi malah membuat musuhnya tertawa lebar.
"Kau akan kehilangan mereka semua" bangga Jackson seolah mengancam, hanya di balas senyum oleh Brandon.
Jackson sudah mendapat informasi yang tidak pernah di dapatkan siapapun. Namun hal itu bukanlah suatu hal mengejutkan bagi Brandon, mengingat siapa Jackson yang akan mudah mendapatkan segala informasi sama seperti dirinya. Untuk itu Brandon selalu menganggap Jackson adalah seorang lawan seimbang.
Berjaga jaga untuk semua hal terburuk, Brandon sudah memasang semua keamanan tercanggih di rumahnya. Menempatkan banyak orang hebat dalam penyamaran di sekitar rumahnya. Bahkan pelayan yang kini bekerja di rumahnya pun bukanlah orang sembarangan.
Semua yang bekerja di tempatnya memang di khususkan untuk melindungi istri dan kedua anaknya, sehingga ia memilih orang orang dengan keahlian bela diri juga menembak sebagai pelayan di rumah tanpa sepengetahuan dari istrinya sendiri.
Segalanya dilakukan hanya untuk menjaga agar keluarganya tetap aman keika ia tak di sana. Tentu bukan hal mengkhawatirkan jika sampai musuh datang menyerang, karena mereka takkan pernah sanggup menyentuh bahkan seujung rambut anak anak juga istrinya.
Gedung berlantai tiga, dimana telah terpasang beberapa bom rakit dengan perhitungan waktu belum di aktifkan, akan menjadi kuburan bagi Jackson juga Kenan serta Sonya. Bukan tanpa resiko jika Brandon, Darell, Pieter juga Viena akan ikut meledak bersama bangunan putih tersebut.
"Apapun tujuanmu, lakukan. Karena aku tidak memiliki banyak waktu meladeni sampah seperti dirimu" santai Brandon dengan nada kembali menghina pada lelaki kini tertawa terbahak di hadapannya.
"Tentu melihatmu hancur tak berdaya, menyeretmu berkeliling hingga kau mati mengenaskan tanpa ampun" sahut Jackson menghentikan tawa, bernada sinis pada lelaki tersenyum kecil ke arahnya.
"Sampah hanya akan menjadi sampah, tapi berlian akan tetap berharga walau sudah hancur" sahut Brandon, terdengar mengesalkan oleh Jackson yang terus merasa terhina akan nada bicara santai namun menghina.
"Brengsek!" geram Jackson terhina, tak pernah mendengar hal semacam itu dari mulut siapapun.
__ADS_1
Menodongkan pistol ke arah Brandon, Jackson menunjukkan sorot mata pemangsa pada laki laki sama sekali tidak mengubah ekspresi tenangnya. Sedangkan Pieter, Viena dan Darell yang berada di belakang Brandon, kini sudah bergeser menodongkan senjata ke arah Jackson, beriringan dengan semua orang dalam gedung saling menodong ke arah empat orang di hadapan Jackson.
**Kemarin sudah aku ingatkan UP setelah jumlah like dan viewer sama ya.. karena banyak yang HANYA BACA TANPA LIKE makanya Up lambat abnget. Makasih** JANGAN LUPA BACA *OH MY GHOST* JUGA YA punya muh\, Iqram Ridwan..tengkiss