Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 123


__ADS_3

" Viena, belikan minum untuk mereka" pinta Pieter memberikan uang pada bodyguard yang masih Ia kagumi itu.


" Baik Tuan " sahut Viena sopan dan bergegas pergi.


Pieter mengajak Alexa juga Olivia untuk duduk dan merangkul pundak keduanya agar bisa bersandar pada dirinya meluapkan semua kesedihan. Supaya ketika mereka menemui Angel nanti, tak akan ada air mata yang keluar dan bisa membuat Adiknya semakin lemah dalam menghadapi segala ujian hidupnya.


Brandon masih dalam dekapan Adiyaksa menunggu hingga operasi istrinya selesai. Tak henti Adiyaksa membujuk putranya dan membuatnya lebih tenang tak lagi menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa istri juga kedua anaknya.


***


Operasi yang sudah selesai selama kurang dari satu jam, mampu menyelamatkan nyawa Angel dan sudah berada di ruang pemulihan saat ini. Brandon masih belum mau menemui istrinya karena rasa bersalah juga ingin lebih dulu menata hati agar tak terlihat begitu lemah, karena hanya dirinya kini yang bisa menguatkan Angel.


Adiyaksa meminta Pieter dan Alexa kembali untuk mengurus pemakaman cucu cucunya, dan mengambil beberapa keperluan Angel juga Brandon karena pakaian penuh darah milik Brandon harus segera diganti, sebelum menemui istri nya nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat. Sementara Viena diminta Adiyaksa untuk tetap menemani Olivia yang masih belum bisa menguatkan dirinya sama seperti Brandon.


Dalam perjalanan, Pieter menghubungi salah satu pengawal di villa untuk membantu menyiapkan pemakaman ditempat sesuai permintaan Brandon. Alexa tak hentinya mengurai air mata selama perjalanan, dan membuat lelaki yang sudah menutup sambungan telpon itu meraih tangannya.


" Berhentilah menangis, Kamu sudah menangis dari semalam " ucap lembut Pieter menggenggam tangan Alexa.


" Aku tak tega melihat Kak Brandon seperti itu, Dia begitu hancur belum lagi Kak Angel bagaimana Dia bisa menerima semua ini " sahut Alexa melihat kearah luar jendela.


" Ini memang berat, tapi juga lebih baik karena akan lebih berbahaya bagi nyawa Angel melahirkan di usia nya" jelas Pieter banyak membaca tentang semua kehamilan usia dini.

__ADS_1


" Apa Kakak membuatku hamil semalam? " tanya Alexa mengingat kejadian di antara mereka.


" Tidak, karena Aku tidak ingin Kamu hamil dan Aku juga tidak ingin mempunyai anak " santai Pieter terus mengemudi sambil menggenggam tangan Alexa.


" Kenapa? " tanya Alexa menghentikan air mata nya dan menatap ke lelaki yang sudah mengambil paksa kesuciannya.


" Karena Aku tidak ingin Kamu menderita dan hancur, Aku juga belum siap untuk menjadi Ayah karena pekerjaanku " jelas Pieter masih dalam nada santai nya.


" Kak, bolehkah jika Aku tetap meminta untuk merahasiakan apa yang sudah terjadi? Aku tidak ingin menikah dan ingin menemani Kak Brandon juga Kak Angel saja, Aku tidak ingin mengecewakan Kak Brandon juga Daddy " pinta Alexa panjang lebar dengan begitu serius.


" Kita bicarakan ini nanti, apa Kamu mau ikut ke pemakaman? " sahut Pieter sudah memerintahkan pengawal menunggu kedua anak sahabatnya di tempat pemakaman langsung.


" Tidak, Aku tidak sanggup. Aku akan menyiapkan barang barang Kakak " ucap Alexa.


Di rumah sakit, Adiyaksa meminta Viena untuk pergi membelikan pakaian agar Brandon bisa cepat membersihkan diri, karena akan sangat lama jika menunggu Alexa kembali. Adiyaksa tak ingin putranya terus bersedih menyalahkan diri sendiri karena noda darah yang masih begitu pekat di celana juga kaosnya.


Olivia sudah menunggu di depan ruang pemulihan Angel sendiri, karena Brandon dan Adiyaksa harus mengurus ruangan untuk Angel dipindahkan setelah pemulihan. Hati yang masih hancur, coba ditata kembali oleh lelaki dengan mata sembab itu. Ia harus kuat tanpa menunjukkan kesedihan juga kehilangan di depan istrinya nanti.


Sementara Pieter yang sudah mulai memakamkan calon anak sahabat juga Adiknya itu tak kuasa menahan air mata, dan berjongkok di samping makam yang mulai tertimbun dengan tanah. Ia mengingat betul bagaimana Angel menjaga kandungannya, bahkan Ia sendiri selalu siap menuruti segala keinginan Adiknya setiap saat.


Hal hal yang mungkin akan sangat dirindukan Pieter, kembali terlihat jelas dalam ingatannya. Dimana Ia harus pergi tengah malam membelikan martabak asin untuk Angel yang terbangun karena menginginkannya. Lelaki dengan linangan air mata itu tak sanggup membayangkan jika Angel tahu kalau anak anaknya sudah tiada.

__ADS_1


Usai pemakaman, Pieter langsung kembali ke villa dan hanya membutuhkan waktu 15 menit karena lokasi tak begitu jauh. Sampainya di villa Ia langsung merebahkan diri di sofa panjang, menenangkan pikiran yang kembali teringat ketika Ia memakamkan Adik kandung nya beberapa tahun lalu.


Alexa mencoba menghampiri lelaki yang menutupi kedua mata dengan lengan, serta kepala bersandar di atas sandaran tangan sofa. Gadis dengan mata sendu itu langsung duduk di samping tubuh Pieter dan memeluk lelaki yang masih merebahkan tubuh di atas sofa itu.


" Apa yang Kamu lakukan? Akan ada yang melihat nanti " ucap Pieter ketika Alexa sudah mendekap dirinya hingga dada mereka saling menempel.


" Aku tahu Kakak sedih sekarang, Aku cuma ingin membuat Kakak tenang " sahut Alexa tetap tak ingin pergi dari tubuh kekasihnya.


" Terimakasih Alexa, tapi bangunlah jangan seperti ini " ucap kembali Pieter mengangkat kedua pundak Alexa menjauh dari tubuhnya.


" Kak, bolehkah Aku memintamu untuk melakukan apa yang semalam Kamu lakukan? " tanya Alexa ingin membuat Pieter melupakan semua kesedihan yang sangat jelas terukir dari wajah serta matanya.


" Tidak! " singkat Pieter bernada tegas beranjak dari tidur dan duduk di samping Alexa.


" Lebih baik Kita ke rumah sakit sekarang!" tegas Pieter menambahkan.


" Aku hanya ingin membuatmu melupakan kesedihanmu " polos Alexa menundukkan wajah.


" Bukan seperti itu caranya Alexa, apa yang Aku lakukan kemarin adalah sebuah kesalahan dan Kita tidak harus melakukan kesalahan itu lagi. Aku tidak akan mau melakukan hal itu lagi denganmu, Aku harap Kamu mengerti dan tak memintaku untuk melakukan hal itu " jelas Pieter panjang lebar dengan nada dingin, tanpa sengaja menyinggung perasaan Alexa yang tak ditunjukkan oleh gadis itu.


" Aku mengerti, Kita ke rumah sakit saja sekarang " sahut Alexa kembali ke kamar mengambil tas yang sudah Ia siapkan dengan barang Angel juga Brandon.

__ADS_1


Kesedihan terlalu dalam akan ingatan Adiknya, mengubah Pieter kembali dengan sikap dingin nya. Tanpa menunggu Alexa, lelaki yang memenuhi hatinya dengan rasa rindu pada Adik kandung nya itu lebih dulu masuk ke dalam mobil dan siap di balik kemudi menunggu Alexa. Mata tertuju ke depan dengan tangan sudah ada di atas kemudi yang lebih dulu dinyalakan mesinnya oleh lelaki dengan perasaan begitu kalut akan memori memori yang kembali menghantui.


" Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Mintalah Tuhan memberi nyawa baru pada Angel karena Aku sangat menyayanginya sekarang, Aku tidak ingin kehilangan dirinya seperti Aku kehilanganmu " gumam Pieter berkaca kaca melihat wajah Adiknya melintas jelas dalam benaknya.


__ADS_2