
Gaida yang baru tiba dan sudah di antar ke tempat dimana Adiyaksa dan Sasmita berada, amat murka dengan apa yang telah dilakukan pengawal cucunya. Tidak menyangka jika Brandon sanggup melakukan hal hina untuk mengirimnya kembali, tanpa ingin tahu alasan dibalik sikap cucunya itu.
"Hubungi putra sialanmu itu! dasar anak kurang ajar!" amarah Gaida pada Adiyaksa yang juga tak bisa keluar kemanapun karena penjagaan sangat ketat dan siap melukai atas perintah Brandon.
"Sudah aku coba berulang kali tapi dia tidak menjawab" sahut Adiyaksa sembari duduk di ruang tengah bersama istrinya yang terus uring uringan.
"Tidak tahu diri! sudah di besarkan tapi melunjak dan kurang ajar! kalau bukan putraku pasti sudah aku minta orang menghabisinya!" geram Sasmita.
"Brandon pasti memiliki alasan sendiri, berhenti marah marah dan membuat kepalaku pecah" ucap Adiyaksa melirik istrinya.
"Alasan apa?! memang sialan dia! anak brengsek tidak berguna! aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri nanti!" kembali Gaida mengatakan penuh amarah menyelimuti.
"Jangan pernah mengusik putraku, aku mempercayainya lebih dari siapapun dan aku yakin dia melakukan ini untuk kebaikan kita!" tegas Adiyaksa berdiri dan meninggalkan kedua orang masih saling emosi.
"Anak sama Daddy sama saja!" gerutu Sasmita menatap suaminya sambil mendengus kesal.
Gaida dan Sasmita tidak bisa menerima sampai kapanpun perlakuan Brandon pada mereka, berbeda dengan Adiyaksa yang selalu berpikiran positif dan mempercayai kedua anaknya. Apalagi Brandon yang selalu mempertimbangkan segalanya sebelum bertindak. Brandon memang sengaja tak mengangkat panggilan, karena tidak ingin menjelaskan apapun untuk saat ini. Dia takkan pernah bisa berbohong pada Daddy nya, dan memilih bungkam untuk saat ini.
******
Siang hari Darell dan Viena datang ke rumah Tuan mereka. Melihat Pieter bersama Angel duduk di teras bersama Dio dan Quen, keduanya menghampiri. Darell tersenyum kecil melihat Pieter mengasuh anak anak kecil, sperti bukan Pieter ketika di luar.
"Siang, Nyonya" sapa Vienna dan Darell bersamaan.
"Siang, masuklah ke dalam. Tuan sedang tidur" senyum Angel ke arah dua orang masih berdiri.
"Terima kasih, Nyonya" sahut keduanya.
"Dio, ikut mama ke nenek yuk" ajak Viena lembut.
Angel, Viena dan Dio masuk bersama Quen, membawa mereka ke kamar bermain. Pieter melirik sinis ke arah Darell karena sempat melihatnya tersenyum tadi. Pieter masih duduk di susul Darelk duduk di sampingnya menyandarkan punggung.
__ADS_1
"Kenapa?! lucu?!" sinis Pieter.
"Tidak ada, aku tidak melakukan apapun" kilah Darell ingin sekali tertawa.
"Bagaimana mereka? apa sudah tiba?" tanya Pieter kembali tanpa melihat ke arah Darell.
"Beberapa kawanannya sudah tiba lebih dulu, sepertinya Kenan akan segera tiba. Kawanan mereka sudah berada di sekitar rumah Tuan muda juga Nyonya Olivia, dan sebagian ada di beberapa perusahaan" jelas Darell, menyeringai Pieter sinis.
"Dasar bodoh!" gumam Pieter.
"Ini bukan seperti biasa, Jackson mengerahkan semua orang orang terbaik dari yang terbaik. Kita harus benar benar bisa menjaga Tuan muda, aku khawatir jika mereka berhasil melakukan hal buruk kembali" menatap Darell ke depan dan berucap, langsung di tatap terkejut Pieter.
"Maksudmu?!" tegas Pieter.
" Kenan yang telah melukai Tuan muda di Singapore, sniper terbaik kini juga sudah menempati beberapa titik" jelas Darell menyerahkan ipad pada Pieter menunjukkan titik tempat sniper berada dan siapa orang tambahan yang ikut Jackson.
"Nyawa Tuan muda benar benar menjadi incaran sekarang, aku rasa mereka takkan kembali sampai bisa menguliti tubuh Tuan muda dengan tangan mereka sendiri" jelas kembali Darell.
"Sepertinya memang begitu" santai Pieter mengamati ipad.
Sempat bergabung dengan Jackson beberapa tahun, mampu membuat Darell membaca setiap siasat yang mungkin dijalankan. Niat Darell dan Viena untuk datang siang ini memang untuk meminta ijin, selain atas panggilan Tuannya tadi yang memerintahkan untuk datang.
Di rumah Darell, Viena dan Darell sudah membiacarakan akan niat mereka mengatasi beberapa orang Jackson yang sudah tersebar saat ini. Mata mata yang dikirim di dalam tim Jackson, terus mengabari Darell akan kapan kedatangan ketua mafia tersebut bersama Kenan dan Sonya.
Darell membicarakan semua yang ia rencanakan bersama Viena juga Yudha pada Pieter, yang akan ia sampaikan pada Brandon untuk mendapat persetujuan dan perintah. Karena memang takkan berani untuk melakukan apapun tanpa ijin dari Brandon kecuali sudah di beri wewenang di awal.
Sore hari, Brandon baru turun bersama kedua anak yang dia gendong dengan kedua tangannya sendiri. Ia menghampiri Angel yang tengah di dapur membuat makanan kesukaan suaminya untuk nanti makan malam.
"Bawa mereka!" perintah Brandon pada Ria dan Via yang sigap menghampiri.
"Baik, Tuan" seru keduanya perlahan meraih tubuh pewaris kerajaan bisnis tersebut.
__ADS_1
"Selamat sore, Tuan" sapa Yulia juga Qila yang belum di ketahui kedatangannya oleh Brandon.
"Oh, bersiaplah berlatih satu jam lagi!" perintah laki laki yang tengah melanjutkan langkah.
"Baik, Tuan" tegas serentak keduanya menjawab.
Brandon menghapal betul dimana istrinya pada jam seperti ini, langsung masuk ke dalam dapur mengisyaratkan semua pelayan juga koki agar keluar. Hanya isyarat mata, mereka sudah mengerti dan bergegas keluar. Brandon menghampiri perempuan tengah sibuk itu, langsung menurunkan tali dress yang masih membalut pundak istrinya dan menciumnya.
"Aku menunggumu, kenapa tidak kembali ke kamar?" lirih Brandon masih dengan wajah menunduk pada pundak telah diturunkan talinya tersebut.
"Aku pikir kamu masih mau marah marah, makanya aku tidak kembali" jawab Angel tetap memotong bahan masakan.
"Sakit" pekik Angel saat tangan suaminya menyusup ke dalam dada dan memainkannya, menghentikan tangan Brandon cepat dan terheran.
"Kenapa? apa sudah lama?" takut Brandon mengangkat wajah melihat dari samping wajah istrinya.
"Aku tidak memberikan ASI karena mereka tidur, makanya sakit saat tersentuh" jelas Angel.
"Berikan, kenapa kamu tidak memberikannya?! mau kamu berikan pada siapa?!" ucap Brandon menekankan kata.
"Mereka tidur tadi, bukannya aku sudah bilang begitu? Iya aku akan memberikannya tapi harus aku keluarkan sebagian lebih dulu" menjawab dan mencuci tangan masih dengan tali yang turun di sebelah kiri.
"Kenapa? kenapa di keluarkan dulu? berikan saja biar mereka puas minum" sahut Brandon menaikan tali pada pundak istrinya.
"Sudahlah, aku tidak ingin menjelaskan. Aku ke kamar mandi dulu" pamit Angel diikuti suaminya dari belakang.
"Bilang mau menyusui tapi malah ke kamar mandi!" kesal Brandon bergumam, langsung menghentikan langkah Angel berbalik menatap suaminya.
"Aku harus mengeluarkannya dulu ssbagian!" kesal Angel membuang napas kasar.
"Kamu pikir aku tuli?! mengejutkan orang saja!" protres Brandon.
__ADS_1
"Aku bantu" kembali berucap dengan lirih tersenyum menunjukkan maksud tersembunyi dan mengejar istri sudah lebih dulu pergi.