
" Lebih baik Kita pulang, biarkan Brandon sendirian " ucap Adiyaksa menghampiri Gaida dan Sasmita dan menjawab dengan anggukan tanpa protes seperti biasa.
Hanya berpamitan pada Santos juga Pieter, Adiyaksa membawa istri dan Ibunya itu kembali ke ekdiamannya. Adiyaksa tak ingin keduanya membuat keributan kala putranya sedang dalam emosi tidak stabil.
Angel yang masih berdiri di balkon kamar Alexa, melihat kepergian ketiganya dan bergegas masuk ke kamar melepas kawat gigi juga tanda lahir, memilih menggunakan masker tanpa melepas kacamata juga wig nya. Langkahnya cepat menuruni anak tangga, dan hendak di cegah oleh Santos yang mengetahui jika gadis dengan rambut bob itu hendak menghampiri Tuan mudanya.
Namun Pieter mencegah Santos seraya menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar Santos tak pernah mencegah Adiknya yang tengah menyamar untuk mendekat pada Brandon. Begitu sampai pada bangku taman tempat suaminya duduk, Angel langsung berjongkok melihat dari bawah wajah suami yang masih menunduk dengan memasang wajah sok imut.
" Jelek " senyum Brandon melihat wajah istrinya yang sudah melepas masker.
" Love you " tulus Angel tersenyum dan memeluk suaminya.
Santos tak mengenali Nyonya nya, semakin heran akan sikap Tuan mudanya yang malah membiarkan saja tubuhnya di peluk oleh gadis masih berjongkok di hadapannya. Pieter mengajak Santos untuk masuk, dan memilih untuk masuk ke kamar menghampiri Alexa.
" Apa tidak bosan terus ada di kamar ? Kita turun ?" ucap Pieter begitu memasuki kamar melihat istrinya terdiam di atas tempat tidur.
" Jangan bersedih " tambah kembali lelaki sudah memeluk istrinya itu.
" Bisakah Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku ?" tulus Alexa di atas dada bidang suaminya.
" Aku janji, akan selalu berada di sisi kalian berdua menjagamu juga anak Kita. Apapun yang terjadi, Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua " senyum Pieter tulus mengusap punggung istrinya lembut.
Alexa terlalu takut untuk kehilangan, yang mungkin takkan setegar Brandon menahannya selama ini. Ia tak mau merasakan hal yang sama dan hidup dalam kepedihan sama seperti Kakaknya. Mendengar janji suaminya sedikit membuatnya lega juga bahagia.
" Kita bawa Dia turun, Dia mungkin ingin udara segar di luar " ucap Pieter melepas pelukan pada istrinya dan mengangkat tubuh putrinya sendiri.
" Kamu tidak bisa menggendongnya, bagaimana kalau jatuh ?" protes Alexa melihat suaminya terlalu kaku untuk menggendong.
" Tenang saja, Aku tidak akan menjatuhkannya " sahut laki laki mencoba mendekatkan tubuh putrinya dekat pada dada walau terasa kikuk.
Pieter membawa putrinya turun diikuti oleh Alexa yang hanya bisa berjalan lirih. Sampainya di bawah, Alexa langsung meminta makan pada Santos karena memang tengah lapar dan terlalu malas untuk turun karena adanya Mommy juga Oma nya. Pieter membawa putrinya duduk di ruang makan menemani ALexa, dengan selimut masih menempel pada tubuh bayi mungil tersebut.
Angel dan Brandon masih tetap di taman, dengan Brandon sudah menarik tubuh istrinya duduk di samping dirinya. Tangan sudah di lingkarkan Angel pada lengan suaminya dengan kepala bersandar pada pundak lelaki yang sudah bisa tersenyum itu.
" Naiklah kemari " ucap cepat Brandon melihat mobil berhenti di depan teras rumahnya, tak di mengerti oleh Angel.
__ADS_1
" Kenapa ?" tanya Angel tak mengerti.
" Bagaimana Dia bisa masuk kemari ?! " gumam kesal Brandon melihat seorang lelaki turun dari mobil tengah mengancingkan jas dan berjalan ke arah taman.
" Siapa ?" tanya Angel masih tak menegerti.
" Tetap seperti ini, Kenan sedang kemari " lirih Brandon membulatkan mata Angel dan menyusupkan wajah pada leher samping suaminya.
" Bagaimana bisa ? bukankah ada pdenjaga di luar ?" lirih Angel.
" Entahlah " singkat lelaki memegang kedua sisi pinggang istrinya itu.
Dengan langkah lebar, Kenan berjalan menghampiri Brandon seraya menoleh ke arah lain tersenyum melihat apa yang dilakukan laki laki masih memangku istrinya itu. Di dalam Pieter sudah mendapat laporan dan cepat keluar melihat banyaknya pengawal di depan rumah sahabtnya, juga adanya Ricko di sana.
" Bagaimana Kau bisa masuk rumahku ?" santai Brandon dalam wajah dingin, di balas senyum santai oleh Kenan dengan menoleh ke arah pengawalnya.
" Tentu saja menerobos penjagaanmu " santai Kenan tersenyum, membuat Brandon membuang napasnya kasar.
" Ada apa ?" santai kembali Tuan muda masih memegang istrinya dengan duduk.
" Bukankah lusa hari peringatan meninggalnya saudaramu ? Aku datang untuk menguatkanmu dan membuatmu kehilangan sekali lagi " ucap Kenan santai.
" Turun Angel " ucap Kenan, membulatkan mata Angel masih menyusup di sisi leher suaminya.
" Pergilah, Aku tidak ingin bermain denganmu sekarang " santai Brandon.
" Angel turun, jangan mempermainkan Aku lagi. Aku sudah lelah mencarimu selama ini " ucap Kenan tak memperdulikan -perkataan Brandon.
Kenan yang menyediakan orang di sekitar rumah Olivia sudah mengetahui pasti penyamaran Angel. Bahkan sebelum mendatangi rumah Brandon bersama banyak pengawal melindunginya, Kenan lebih dulu memastikan jika gadis yang tengah menyamar buruk rupa itu benar benar gadis yang tengah Ia cari hampir menjadi gila selama satu tahun ini.
Di depan rumah Brandon, Pieter hendak menghampiri namun tercegah oleh banyaknya pengawal bertubuh besar yang di bawa Kenan. Ia tak bisa menggunakan kekerasan di rumah mewah ini, karena peraturan yang di buat oleh Brandon dari dulu. Tuan muda itu tak pernah mentolerir adanya keributan juga kekerasan di rumahnya, apalagi hingga pertumpahan darah. Terpaksa Pieter hanya diam mengamati, dengan pintu rumah sudah tertutup rapat oleh pelayan atas permintaan Pieter sebelum Ia keluar.
Di dalam, Alexa tengah khawatir, namun di tenangkan oleh Santos yang mendampinginya di meja makan. Melarang Nona muda tersebut keluar atas perintah dari Pieter. Bahkan apapun yang terjadi nanti di luar, Ia tetap meminta semua orang yang ada di dalam rumah untuk tetap tinggal. Sedangkan Angel, memilih untuk turun dan menghadapi Kenan dengan persetujuan suaminya yang juga memintanya turun.
" Ternyata benar " Kenan menyeringai senang melihat kembali wajah Angel dan mampu mengamatinya.
__ADS_1
" Ya, ini Saya. Anda mau apa ?" dingin Angel berdiri di samping suaminya.
" Ikut denganku, jika Kau mau melihat kembali Carlos " ucap Kenan mengejutkan Angel juga Brandon, namun tetap memasang wajah santai Tuan muda yang tak pernah lagi mendapatkan kabar tentang Carlos dari Pieter.
" Apa maksud Anda ? dimana Papa Saya ?" tanya Angel beruntun.
" Bukan padaku, tapi tanya padanya juga Pieter. Apa yang sudah dilakukannya pada carlos beberapa tahun ini " santai kenan, langsung membuat Angel menatap suaminya.
" Hentikan omong kosongmu dan pergilah " seru Brandon menatap tajam mata Kenan.
Kenan menyerahkan beberapa foto keadaan carlos saat ini, tubuh yang dulu terlihat kekar berotot terlihat lemah dan kurus. Demi meyakinkan Angel, Kenan sengaja menyiapkan bukti jika memang Carlos ada bersamanya. Kenan sendiri sudah banyak mendengar info dari sekretarisnya tentang Angel, dan meminta orang mengambil carlos dari penjagaan ketat Pieter di tempat rahasia mereka.
Kenan menghubungkan Angel dengan pria yang kini berada di rumahnya, matanya tak mampu membendung air mata melihat kondisi orang yang dulu pernah menjualnya itu. Tangis Carlos pun pecah dengan ucapan perminta maafan pada Angel, dan meminta putrinya untuk membantunya lepas dari tangan Brandon. Angel cepat menatap ke arah laki laki yang tengah memejamkan mata kilas tersebut dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.
" Apa ini ?" tanya Angel pada suaminya setelah sambungan telpon di putus oleh Kenan.
Brandon hanya diam tak mau mengatakan apapun selagi ada musuhnya di situ. Angel tak mengerti akan apa yang terjadi dan tetap menginginkan jawaban dari saumi yang hanya diam mengepalkan tangan geram.
" Tanyakan dulu padanya, dan datanglah kemari jika ingin menemui Carlos " ucap kenan menyerahkan kartu nama pada Angel, dan pergi begitu saja dengan harapan jika Angel akan terpancing dan menemuinya.
Masih tetap berdiri, Brandon mengamati kepergian Kenan diiringi tatapan penuh tanya istrinya. Selepas kepergian Kenan juga anak buah nya, Brandon berlalu pergi tanpa mau menjelaskan apapun pada gadis tetap berdiri dekat bangku taman tersebut.
" Ambil Carlos di tempat Kenan! " perintah Brandon melewati Pieter tanpa menghentikan langkah.
Dengan terkejut, Pieter meraih ponsel dan menghubungi orang orang yang Ia minta menjaga Carlos namun tak mendapat jawaban. bergegas Ia pergi dengan mobilnya sendiri menghampiri tempat dimana Carlos selama ini Ia sembunyikan, tanpa lebih dulu berpamitan pada istrinya.
Angel berlari cepat mengejar suaminya ke dalam, dan langsung menuju kamar dengan tetap memegang kartu nama dari Kenan. Alexa tak berani bertanya melihat langkah cepat Kakaknya, juga Kakak iparnya yang berlari. Alexa meminta pelayan mengambil telpon dan menghubungi suaminya, setelah Ia tahu jika suaminya tak ada di luar melalui pelayan yang Ia minta untuk melihat.
Sampainya di kamar, Angel langsung meminta penjelasan suaminya dengan nada tegas. Laki laki sudah duduk di sofa kamar itu tetap saja diam tanpa mengatakan apapun. Ia tak mengerti harus menjelaskan apa dan di mulai darimana, karena tak mau istrinya kecewa juga marah terhadapnya. Selamai ini Brandon juga Pieter tak pernah mengatakan apapun tentang Carlos pada Angel ataupun Olivia.
" Jelaskan semuanya, Aku mohon " pinta Angel seraya memohon pada suami yang tetap duduk terdiam melipat kaki menyandarkan punggung, dengan siku bersandar pada sandaran tangan sofa menahan sisi kepalanya.
" Aku tidak ingin mengatakan apapun, karena tidak ada yang harus Aku katakan " santai Brandon tanpa melihat wajah Angel.
" Oke, Aku akan mencari tahu sendiri! " tegas Angel memasuki ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Brandon tetap dalam posisinya, walau Angel sudah bergegas pergi meninggalkan. Tak lama Angel sudah kembali keluar dengan celana jeans panjang, juga kaos yang terlapis jaket. Rambut terikat sepenuhnya di belakang, mulai mengenakan sepatu kets putih dengan duduk di tepi ranjang.
Usai siap tanpa melupakan waistbag hitam miliknya, Angel melangkah menuju pintu, namun tangan hendak membuka handle pintu harus terhenti akan ucapan suaminya. Kakinya melemah akan ucapan menusuk yang dilontarkan laki laki dengan posisi tetap itu. Kebimbangan mendera kuat pada dirinya akan apa yang harus Ia lakukan.