Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 190


__ADS_3

Cukup tiga hari berada di Singapore, Brandon sudah bisa mengembalikan lagi semua bisnis yang coba di hancurkan serta di ambil alih Kenan. Memang ketika dirinya sudah mengambil alih masalah, tidak perlu lagi menunggu waktu lama untuk membereskannya.


Kenan seperti kebakaran jenggot saat mendengar keberhasilan Brandon, ia langsung memerintahkan Ricko melancarkan rencana kedua yang sudah dipersiapkan dengan matang. Marah, frustasi, benci semua dirasakan Kenan saat mendengar langsung jika Brandon mampu mengatasi semua yang telah ia coba hancurkan hanya dalam waktu singkat.


Hanya menunggu waktu untuk melancarkan rencana kedua yang telah tersusun matang oleh Kenan, Ricko juga dua orang bayaran mereka. Lelaki tengah terbakar amarah itu yakin dan sangat percaya diri jika rencananya kali ini takkan gagal, dan pasti bisa membuat Brandon tidak berdaya.


" Kita lihat saja, seberapa sanggu kau bertahan " senyum sinis mengembang dalam pancaran mata amarah Kenan.


" Aku pastikan kau akan lenyap ditanganku Brandon " tambah kembali lelaki tengah duduk nyaman di sofa panjang hotel, dengan melipat kaki serta meluruskan satu tangan kiri di atas sandaran punggung sofa.


Senyum sinis terus menghiasi wajah Kenan, seakan benar benar yakin jika apa yang akan dilakukannya kali ini akan berhasil. Pasalnya ia telah mengeluarkan uang cukup banyak demi sebuah nyawa Tuan muda berkuasa tersebut.


Tidak seperti rencana rencana sebelumnya yang hanya melibatkan beberapa orang tak berguna, kini Kenan telah membayar bukan hanya satu tapi dua orang sniper terlatih untuk melenyapkan Brandon. Bahkan dua orang yang ia bayar dengan harga selangit itu, rela bungkam hingga nyawa mereka melayang. Jadi kalaupun gagal dan tertangkap, nama Kenan akan tetap bersih.


Meninggalkan beberapa orang di Singapore, Kenan sengaja pergi kembali ke London. Tujuannya adalah biar tak terendus oleh siapapun jika dirinya satu satunya dalang ketika Brandon telah tewas nanti. Berita kepergian Kenan pun cepat sampai di telinga Darell dan menyampaikan langsung pada Tuannya.


" Kenan sudah meninggalkan Singapore sore ini,dia akan kembali ke London " ucap Darell memberikan informasi pada Brandon.


Lelaki dengan tatapan tajam tengah duduk bersandar dibalik meja kerjanya itu, mengisi sela sela jari dan menyandarkan kedua siku di atas sandaran tangan kursi kerjanya. Jemari telah menyatu ia letakkan di bawah dagu, dengan tatapan dingin lurus kedepan.


" Jika terjadi apapun padaku, jangan pernah beritahu istriku atau keluargaku. Tetaplah memberi laporan pada istriku setiap jam dan katakan aku tengah sibuk bekerja " ucap lelaki tetap menatap lurus kedapan itu tiba tiba, menyentak Darell yang tengah berdiri di sampingnya.


" Jangan berkata seperti itu, tidak akan terjadi apapun pada Anda Tuan " ucap Darell sedikit membungkukkan tubuh mengahadap samping wajah lelaki langsung meliriknya dingin,


" Baik Tuan " ucap Darell memahami sorot mata tanda jika tak ada penolakan dan hanya ya saja.


Mengenal Kenan lebih baik dari siapapun Brando yakin jika musuh besarnya itu takkan pergi begitu saja tanpa sebuah perencanaan yang tertinggal. Brandon yakin jika Kenan sudah mempersiapkan hal lebih besar daripada usahanya untuk menghancurkan bisnisnya.

__ADS_1


Dari awal keberangkatan pun calon ayah dai dua janin kembar itu, sudah menyadari jika ada yang aneh. Tahu jika semua hanya pancingan untuk sebuah rencana lebih besar, Brandon seakan ingin melihat sendiri apa rencana yang telah dipersiapkan oleh Kenan.


Di rumah Mamanya, Angel yang tengah membuat lemon hangat tiba tiba merasa tangannya gemetar hingga menjatuhkan cangkir tengah dipegang. Perasaan sama sepertika saat suaminya hendak pergi, semakin kuat menyelimuti batinnya. Jantungnya seakan terpacu cepat, matanya kosong sampai tak mendengar teriakan Olivia yang memintanya untuk tak beranjak.


Tubuh Angel melemah dan hampir jatuh ke atas lantai, namun cepat tertahan oleh Olivia. Wanita tengah memegang punggung putrinya itu berteriak memanggil Viena dengan panik. Bergegas Viena menghampiri dan mengangkat sendiri tubuh Angel ke dalam kamar.


Olivia menghubungi Dokter dari nomor yang sempat ditinggalkan Brandon melalui pesan. Kala itu, Brandon teringat jika baik Angel atau Olivia tak memiliki nomor Dokter kandungan ataupun Dokter pribadinya, dan mengirimkan pesan pada Olivia untuk menyimpan nomor yang di sertakannya dalam pesan tersebut.


" Angel, sadar nak " khawatir Olivia terus menggosok telapak kaki Angel berulang.


Viena mencoba menyadarkan dengan aroma minyak kayu putih di hidung mancung gadis terbaring lemah dia atas ranjang tersebut. Keduanya terus mencoba menyadarkan Angel, namun tak kunjung sadar hingga Dokter tiba. Cepat Dokter wanita itu memeriksa dan membuat Nyonya muda tersebut tersadar.


" Tensi Anda terlalu tinggi Nyonya, ini tidak akan baik untuk kehamilan Anda. Jika bisa hindarilah stres selama masa kehamilan " terang Dokter usai memeriksa Angel.


" Viena hubungi Dareel atau suamiku sekarang " ucap Angel tak mendengarkan ucapan Dokter karena perasaan tak enak juga pikiran yang kalut.


" Silahkan Nyonya " ucap Viena menyerahkan ponsel sudah terhubung dengan Darell, masih bersama dengan Brandon.


" Darell, dimana Tuan muda? apa dia baik baik saja? katakan sejujurnya padaku " ucap Angel dalam nada gelisah.


" Tuan baik saja Nyonya, Tuan sedang bersama saya sekarang " sahut Darell, ditatap oleh Brandon dan meminta ponsel dengan menjulurkan tangan kiri ke arah lelaki masih berdiri di sampingnya.


" Jangan bohong, jangan berusaha menutupi apapun dariku. Aku berhak mengetahui apapun yang terjadi padanya, jadi.........." ucap Angel terpotong suara Brandon.


" Hei, ada apa? Aku bai saja disini, jangan terlalu kahwatir dan cemas itu tidak baik untuk kehamilanmu" sahut Brandon menyela semua ungkapan bernada cemas dan gelisah istrinya.


" Aku takut kamu kenapa kenapa, cepat kembali aku mohon. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu disana, hatiku benar benar tidak akan tenang sebelum melihatmu disini, di sisiku " tangis Angel pecah sembari berbicara.

__ADS_1


" Sayang dengar, aku baik baik saja tidak ada terluka apapun disini. Aku akan kembali esok hari oke ? jadi tolong tenanglah, dan jaga kesehatanmu, jangan seperti ini " tulus Brandon berucap.


" Ingat, kamu sedang hamil dan emosi seperti ini tidak akan baik. Jangan terlalu khawatir, tidak ada yang akan menyakitiku " tambah kembali Brandon berusaha menenangkan istrinya.


" Aku merindukanmu, cepat pulang dengan selamat " ucap Angel masih tetap dengan air mata melinang.


" Iya sayang aku tahu, aku juga sangat merindukanmu. Sekarang tidur dan buat dirimu tenang, aku akan kembali besok pagi pagi " jawab Brandon.


" Iya, aku menungumu " ucap Angel seraya berdoa dalam hati untuk nyawa suaminya.


Seakan sudah saling menyatu dengan hati masing masing, Angel juga merasakan hal buruk akan terjadi pada suaminya. Brandon menutup pangilan dan memberikan ponsel pada Darell, meminta agar di atur untuk kepulangannya esok pagi, dan segera dilaksanakan oleh kaki tangannya itu.


" Tuhan, apapun yang terjadi setelah ini, tolong jaga istriku juga anak anakku. Biarkan mereka selamat dan hidup dengan bahagia selamanya, jika mungkin biarkan aku menemani mereka sampai akhir hidupoku " batin Brandon seraya berdoa.


Mengambil napas dalam dan membuangkanya kasar, Brandon beranjak dari duduk memutuskan kembali ke hotel dan menyegarkan diri. Darell, beserta anak buah lainnya sudah mengikuti Tuan mereka dari belakang, dan memastikan sendiri keselamatan Tuan mereka.


Begitu sampai di hotel, langsung saja Brandon ke kamar mandi dan berendam untyuk menyegarkan tubuh serta pikirannya sendiri. Di luar kamarnya, sudah berjaga anak buahnya dan darell yang sudah memeriksa keadaan kamar sebelum tuannya masuk, memastikan jika tak ada hal yang bisa membahayakan nyawa Tuannya di dalam kamar.


Satu setengah jam puas di dalam kamar mandi, lelaki sudah membalut tubuh dengan kaos hitam panjang juga celana panjang itu, keluar dari kamar mandi. Masih dengan rambut basah terarah ke belakang, ia berjalan hendak meraih ponsel dan menghubungi istrinya.


Namun belum sampai ia di meja tempat ponsel berada, kedua dadanya sudah lebih dulu tertembah dalam waktu bersamaan. darah mengucur deras coba di tahannya sendiri dan bersembunyi di balik sofa panjag, memanggil nama Darell. Segera darell masuk hanya dalam satu panggilan saja, menghampiri tubuh Tuannya duduk di atas lantai bersandar pada sofa, bersama darah tak henti keluar.


" Pergi tangkap sniper itu! cepat! " tegas darell pada orang yang mengikutinya masuk, dan saling sambung menyambung menghubungi lainnya yang tengah berjaga di bawah.



Brandon

__ADS_1


__ADS_2