
" Dari mana? " tanya Adiyaksa lembut menepuk ringan paha lelaki yang bersandar di sofa melebarkan kedua kakinya.
" Antar Viena ke rumah Mama om " sahut Pieter sopan mengarahkan pandangan ke arah pria berkacamata disampingnya.
" Bukankah Dia bodyguard, kenapa harus di antar? " tanya Alexa yang masih berdiri menatap Pieter dengan nada tak suka.
" Karena Dia tanggung jawabku " sahut Pieter dingin.
" Tanggung jawab, memangnya Dia istrimu " gumam lirih Alexa.
" Calon " singkat Pieter mengejutkan semua orang yang langsung mengarahkan pandangan pada lelaki yang dengan santai mengatakan Viena adalah calon istrinya.
Pieter dengan sengaja mengatakan hal itu pada gadis yang tak pernah berhenti menghubungi dirinya meski tak pernah sekalipun di balas ataupun di angkat telfonnya. Ia tak ingin Alexa terus berharap meski sudah sering Ia katakan jika tak menyukai gadis yang kini menatap tajam ke arahnya.
" Apa Kakak serius? " tanya Angel yang terkejut mendengar ucapan santai dari wajah dingin Pieter.
" Angel, sekali kali kunjungilah Mama. Dia sangat merindukanmu " ucap Pieter mengalihkan pembicaraan.
" Aku juga ingin menginap di rumah Mama, tapi.. " seru Angel terpotong dalam ekspresi wajah sedih yang mampu di tangkap oleh suaminya.
__ADS_1
" Apa Kamu mau menginap di sana? " tanya Brandon lembut dan di angguki oleh Angel.
" Pergilah kalai Kamu mau " tambah Brandon mengembangkan senyum bahagia di wajah istri yang langsung melingkarkan pelukan di perut sixpacknya.
" Terimakasih sayang " seru Angel bahagia membuar Brandon mengembangkan senyum serta membelai rambut istrinya lembut.
****
Sore hari Adiyaksa memutuskan untuk mengajak putrinya pulang kerumah pribadinya dengan di antar oleh Yudha. Alexa masih tak mampu mempercayai apa yang dikatakan oleh Pieter yang membuat hatinya seakan teriris dengan air mata terus Ia tahan agar tak sampai jatuh di depan Brandon, Pieter ataupun Angel yang membuat dirinya terlihat amat lemah. Adiyaksa mencoba menasehati gadis dengan uraian air mata selama perjalanan kembali dari rumah Kakaknya agar melupakan cinta pertamanya, namun gadis yang menangis dalam dekapan pria berkacamata itu masih tak mau untuk menyerah atas perasaan yang sudah terlanjur dalam untuk sahabat Kakaknya.
Seorang Ayah yang menyayangi putrinya tapi tak memiliki kekuasaan untuk mengatur hati dan perasaan orang lain, terus mencoba menghibur Alexa agar menghentikan tangisan karena rasa sakit hatinya.
" Apa Kau serius dengan ucapanmu tentang Viena? " tanya lelaki yang duduk di kursi taman dengan melebarkan kaki dan bersandar tersebut.
" Aku tidak ingin membicarakan masalah pribadi " sahut Pieter dalam nada dingin seperti biasa sambil menikmati secangkir teh yang sudah dihidangkan oleh pelayan rumah Brandon di meja taman.
" Aku tahu, tapi ini menyangkut Adikku jadi Aku harus menanyakan ini padamu " seru seorang Kakak yang menyayangi Adiknya dalam sikap dan watak dingin yang Ia miliki.
" Brandon, Kita sudah pernah membahasnya dan Aku tetap pada pendirianku tak ingin memiliki hubungan apapun dengan Alexa. Bukan karena Dia Adikmu tapi karena Aku memang tak memiliki perasaan padanya, dan Kau tahu bagaimana tipe wanita yang ingin Aku nikahi kan? " sahut Pieter dengan panjang lebar.
__ADS_1
" Viena " singkat Brandon mengetahui jika semua karakter wanita impian sahabatnya ada pada diri Viena.
" Ya " singkat Pieter memang tak menampik jika karakter Viena adalah tipe yang Ia suka selama ini namun Ia tak tahu apakah memang menyukai bodyguard cantik itu atau hanya merasa kagum.
Brandon tak ingin melanjutkan semua pertanyaannya karena paham betul bagaimana kerasnya watak Pieter yang tak jauh beda darinya. Watak sama sama tak ingin di paksakan dan akan melakukan apapun yang di anggap benar tanpa menyalahi semua prinsip hidup mereka berdua. Layaknya Brandon tak perduli akan perkataan orang dengan menikahi seorang gadis berusia 17 tahun yang kini mengandung dua anak kembarnya meski harus di anggap buruk jika dunia mengetahui pernikahannya dengan Angel, sahabatnya pun tak pernah mau perduli jika memang Ia harus jatuh cinta pada seorang bodyguard.
" Aku tidak percaya orang sepertimu bisa jatuh cinta " ucap Brandon memukul lirih lengan Pieter dengan tangan menggenggam.
" Belum, mungkin nanti Aku akan jatuh cinta sepertimu hingga jadi bodoh " sahut Pieter tersenyum ke arah sahabat yang meliriknya dengan siku bersandar oada kedua lututnya.
" Huh! siapa sangka gadis usia 17 tahun yang jadi cinta pertamaku " jawab Brandon tertawa kecil dengan pandangan tak percaya sembari menggelengkan kepalanya.
" Kau memang gila " sahut Pieter tertawa bersama sahabat yang masih tak mampu mempercayai jika dirinya sudah menikah dengan gadis kecil bahkan akan segera menjadi Daddy dadi bayi kembar yang tumbuh dalam rahim cinta pertamanya.
Dua sahabat yang masih tertawa bersama penuh keakraban dalam dinginnya cuaca malam tak pernah menyangka jika akan membahas masalah cinta juga oerasaan yang selama ini tak pernah mereka lakukan dan hanya membahas tentang bisnis serta kegilaan mereka dalam memangsa oara orang orang yang mencoba melawan ataupun menghianati Tuan muda kaya raya berhati dingin itu.
Meski selalu di temani oleh berganti wanita ketika minum untuk mengusir segala kejenuhan mereka berdua, namun sahabat yang tak pernah terpisah itu tak pernah sekalipun memiliki perasaan ataupun keinginan menyentuh perempuan yang tak akan pernah menjadi istri mereka. Bagi mereka seorang yang bisa menjamah bibir serta keperkasaan hanyalah wanita istimewa yang mampu menaklukkan hati keduanya. Prinsip yang mungkin terdengar aneh apalagi bagi orang seperti Brandon juga Pieter yang selalu di kelilingi wanita cantik dan seksi.
Dua sahabat itu hanya akan membawa wanita wanita yang menemani mereka minum ke kamar ketika hati mereka kembali kosong karena rasa kesepian. Disaat Brandon mengingat kematian saudara kembar yang menghilangkan senyum juga sikap hangatnya, tak jarang Ia membawa wanita masuk ke kamar menemani dirinya yang sudah mabuk demi mencari teman kala siksa akan kehilangan kembali menghampiri batinnya. Begitu juga Pieter yang merasakan kosong akan kehilangan seluruh keluarganya akan melakukan hal sama seperti Brandon meski mereka tak pernah berniat sedikitpun menyentuh wanita yang mereka bayar dan meminta mereka hanya tidur dengan jarak yang jauh tanpa mengijinkan wanita bayaran itu menyentuh sedikitpun tubuh mabuk keduanya dengan sedikit ancaman yang langsung membuat siapapun yang mereka bayar akan merinding karena pastinya mengenal betul siapa dua sahabat itu dan bagaimana kejamnya mereka mengatasi semua orang yang mencoba untuk melawan dan tak segan membiarkan mereka mati perlahan dalam rasa sakit yang kedua sahabat itu berikan.
__ADS_1