
Agak sebel sih nulis nya, karena emang ceritanya Brandon sama Angel udah di buat dan harus di utak atik lagi gr2 minta Alexa sama Pieter. Author jadi harus nulis lagi dan itu capek banget. Setiap hari cuma up 1 aja ya.. Please dong ikut alur aja, kalau engga mau baca engga apa-apa kok, author engga maksa. Tapi kalau tiap hari nulis ulang utak atik cerita yang ada juga lelah gitu. Maaf ya sebelumnya..
Setelah selesai berbicara, Angel yang sudah di jemput kembali suaminya langsung ikut bergabung ke depan, sementara Alexa memilih untuk berganti pakaian dulu karena tak terbiasa menggunakan rok.
Olivia meminta tolong pada Angel untuk mengambil bumbu oles yang sudah Ia siapkan di dalam lemari es. Namun karena enggan melepaskan istrinya, Brandon meminta Pieter yang mengambil di dalam.
" Kau ambilkan sana " ucap lelaki yang terus memeluk istrinya dari belakang itu pada sahabatnya.
" Lebih baik Kau lepaskan Adikku, Dia tidak bisa bernapas kalau Kau seperti itu terus " goda Pieter diiringi senyuman Angel.
" Apa Kau tak tak tahu di sini begitu dingin? seperti ini akan membuat Adikmu hangat! " tegas Brandon dalam nada jengkel.
" Angel, tinggalkan saja Dia biar nanti Kakak carikan suami baru untuk mu " goda kembali lelaki yang masih berdiri di samping Olivia.
" Kamu tuh " senyum Olivia memukul lirih pundak putranya yang mulai mengembangkan senyum melihat wajah masam Brandon.
" Mulai bertingkah" gerutu lirih Brandon dengan kepala di atas bahu perempuan yang mencubit pipinya gemas.
Masih dengan mengembangkan senyum, Pieter memasuki rumah dan berpapasan dengan Alexa yang keluar dari kamar, sudah mengenakan celana panjang serta sweater berwarna kuning. Alexa mencoba mengalihkan pandangan dari lelaki yang terus menatap nya itu.
" Apa Kamu menghindariku sekarang" tanya Pieter santai bernada dingin khas nya.
" Tidak " singkat Alexa mengarahkan pandangannya ke samping.
" Apa Kamu sudah bosan bermain, makanya seperti ini? bahkan memutuskan untuk pergi dan menikah? " tanya Pieter yang sudah memendam pertanyaan itu dari sore.
" Aku mau keluar " seru Alexa berusaha melewati tubuh Pieter namun dengan cepat lelaki tersebut menyeret Alexa ke dalam kamar nya lagi.
__ADS_1
" Apa maumu? " dingin Alexa sudah terhempas di balik pintu yang tertutup.
" Itu pertanyaanku! " tegas lelaki dengan tatapan tajam itu meletakkan kedua tangan pada pintu di kedua sisi wajah Alexa.
" Aku mau keluar! Apa Kamu tidak dengar tadi?!" tegas Alexa ketus karena sakit hati masih kuat Ia rasakan melihat Pieter begitu dekat dengan Viena juga Dio.
" Alexa! apa Kamu serius akan menikah bersama kekasihmu dan pergi dari sini?!" tegas Pieter mengeratkan rahang menahan amarah nya.
" Ya! " tegas gadis dengan sorot mata tajam menatap dalam ke arah mata Pieter.
" Fine! " singkat Pieter bernada tegas penuh amarah menghantam kuat pintu di samping wajah Alexa, hingga mata gadis itu terpejam karena terkejut juga takut.
" Bukankah Kamu bahagia jika Aku pergi? Kamu bisa bersama Viena juga anak kalian! " ucap Alexa membuat Pieter tak mengerti ucapan gadis yang masih berdiri di balik pintu itu.
" Apa Maksudmu?!" tegas Pieter kembali menatap tajam mata Alexa.
Belum sampai Pieter menjawab, sudah lebih dulu terdengar suara Olivia memanggil namanya. Hingga terpaksa Ia membungkam mulut Alexa menggiring nya menjauh dari arah pintu agar tak menimbulkan suara yang membuat Olivia curiga.
Mereka tetap diam tanpa mengeluarkan suara apapun sembari memastikan jika Olivia sudah keluar dari villa. Jendela kamar Alexa yang dekat dengan taman mampu mendengar suara dari depan yang sudah terdengar suara Olivia di sana. Tangan yang masih melingkar pada pinggang Alexa sambil membungkam mulut gadis dengan perasaan mulai bergemuruh itu, mulai perlahan Ia lepaskan dengan tak melepas sedikitpun pandangan pada Alexa yang juga menatap matanya.
" Kenapa? apa Kamu iri pada Viena? apa Kamu mau Aku menitipkan anak padamu juga? " tanya Pieter dalam emosi sudah memuncak namun masih terlihat begitu tenang sama seperti Ia menghadapi banyak nya musuh.
" Apa yang mau Kamu lakukan? " takut Alexa ketika Pieter sudah mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur.
Emosi yang selalu membuatnya seakan hilang akal dan mampu melakukan segalanya, mulai membuatnya menikmati bibir Alexa kasar dalam balutan emosi. Semua yang melekat pada tubuh gadis di bawahnya Ia lepas paksa tanpa meninggalkan apapun, meski Alexa terus meronta.
Tangan begitu kuat ditahan oleh tenaga Pieter yang menggenggam kedua tangan nya di atas, agar mempermudah dirinya melakukan segala aksinya dalam emosi. Pieter selalu mampu mengendalikan emosinya, namun ketika Ia benar benar emosi Ia seakan lupa segalanya dan berubah menjadi seperti hewan buas melebihi Brandon, untuk itu sahabatnya tak pernah membiarkan dirinya pergi menangani apapun dalam keadaan emosi.
__ADS_1
Tangan begitu kasar beriringan dengan bibir yang juga memainkan tubuh Alexa kasar, meninggalkan banyak tanda kepemilikan di atas kedua benda kenyal gadis yang kini merasakan puncak kenikmatan pertama kalinya oleh permainan tangan Pieter.
Semua yang juga sudah Ia lepas dari tubuhnya siap menghujam milik gadis yang masih begitu mengejang karena pencapaian kenikmatan yang baru Ia rasakan.
" Sakit " rintih Alexa begitu keperkasaan lelaki itu mulai menerobos kesucian yang Ia jaga selama ini.
" Sakit?! lalu bagaimana dengan sakit hatiku Alexa! " tegas lelaki penuh emosi itu terus menikmati kenikmatan begitu hangat milik gadis yang menitikkan air mata.
Rasa kesal, emosi, sakit hati begitu kuat mendera batin Pieter semenjak gadis yang Ia cintai memutuskan untuk menikah dan pergi meninggalkannya. Permainan dalam emosi yang membuat Pieter begitu kasar memperlakukannya, membuat Alexa amat kesakitan karena untuk pertama kalinya Ia melakukan hal itu.
Ketika akan mencapai sebuah puncak kenikmatan, bergegas Pieter mencabut miliknya, tak ingin meninggalkan benih pada rahim Alexa. Semua Ia keluarkan di atas perut polos gadis yang Ia dekap erat dalam keadaan masih menangis di bawahnya.
" Kamu milikku, selama nya milikku. Tak ada yang bisa memilikimu selain Aku " egois Pieter tak ingin kehilangan Alexa, dengan berbisik lirih pada telinga Alexa.
" Aku membencimu! Aku benar benar membencimu! " tangis Alexa memukul punggung polos Pieter kuat, seolah menyadarkan lelaki itu atas segala perbuatan dalam emosinya.
" Bodoh! " batin Pieter mengumpat, Ia tak pernah mampu mengendalikan segalanya ketika emosi hingga harus di sadarkan Brandon setiap kali dirinya begitu meluap akan amarah yang besar, bahkan tak segan sahabat nya itu harus memukul keras Pieter agar mampu tersadar dari emosi.
Ia merebahkan diri di samping Alexa yang mulai memiringkan tubuh memunggunginya. Tangan begitu kuat mengarahkan rambut ke belakang seraya menggenggamnya, menyesali setiap apa yang Ia lakukan pada gadisnya.
" Aku benar benar membenci emosiku sendiri" frustasi Pieter menggenggam kuat rambut pada ujung kepalanya.
Tak hentinya Alexa meringkuk dan menangis memunggungi lelaki yang sudah tersadar akan emosi yang selalu membuat nya gila itu. Ia memang ingin melakukan hal itu dengan Pieter untuk mendapat persetujuan Brandon, tapi dengan cinta bukan paksaan dan amarah seperti saat ini, hingga membuat miliknya begitu terasa sakit.
" Alexa, maafkan Aku " lirih Pieter memeluk Alexa dari belakang.
" Alexa jangan menangis lagi, maafkan Aku " ucap Pieter kembali penuh dengan rasa sesal dalam dirinya.
__ADS_1