
Dua orang pengawal yang diminta untuk mengambil alat USG oleh Alexa, harus terhalang oleh Gaida. Mereka mengatakan jika Tuan muda nya ingin agar alat yang sudah mereka bawa itu di buang saja, agar tak mengingatkan Tuan muda nya akan Nyonya mereka juga anak kembar yang sudah tiada.
Kebohongan yang di minta Alexa untuk menyampaikan itu, tak begitu saja di percaya oleh Gaida. Meski mengijinkan mereka pergi, Gaida meminta orang untuk mengikuti dua pengawal itu. Namun sayangnya, semua orang orang Brandon terlalu setia dan takut kehilangan nyawa ketika berkhianat.
Mereka tetap mengikuti, namun bermain sandiwara sendiri sesuai rencana yang mereka susun melalui sambungan telpon. Pengawal yang membawa alat UDG itu, sengaja ke temat pembuangan dan meletakkan di sana perlahan, lalu di potret oleh pengawal yang mengikuti sebagai bukti pada Gaida.
Usai melakukan sandiwara, mereka kembali melajukan kendaraan ke tempat berbeda. Cepat pengawal yang membawa alat USG itu kembali ke rumah Olivia karena tak ingin mendapatkan amarah dari Tuan mereka. Dan begitu sampai, langsung mereka menghubungkan semua peralatan yang mereka bawa sesuai instruksi Dokter.
Dengan harap harap cemas, semua masih setia mendampingi Angel di kamar tamu. Brandon tetap berdiri santai melipat tangan bersandar pada dinding dengan mata terus mengawasi.
" Periksa dengan benar, awas saja kalau Kau sampai memberiku kabar buruk! " tegas Brandon berucap, membuat Dokter gemetar akan suara tegasnya.
" Ba, ba, baik Tuan " terbata Dokter menjawab dan perlahan membuka kaos tengah di gunakan Angel.
" Jangan menyentuh bagian lain! " tegas kembali Brandon, di tertawakan Alexa.
" Baik Tuan, Saya hanya akan memeriksa bagian perut saja " kembali Dokter menjawab dengan nada takut.
" Awas saja kalau sampai Dia menyentuh bagian lain, kupatahkan semua tangannya " gumam Brandon masih memperhatikan.
Perut tengah di periksa dengan Dokter menjelaskan, dan benar saja jika Angel tengah hamil dua bulan dengan janin kembar didalamnya. Seketika Brandon mengembangkan lebar senyumnya, juga Olivia dan Alexa. Angel berkaca kaca akan berita kehamilan yang tak Ia rasakan itu.
Setelah memeriksa, Dokter pamit undur diri dengan segala pesan yang di sampaikan melalui Alexa dan Olivia yang mengantarnya keluar. terlalu takut untuk berbicara pada Brandon, Dokter wanita dengan blose putih itu, hanya bisa menyampaiakan segalanya pada dua orang yang mengantarnya hingga teras rumah. namun dapat Ia pastikan jika kehamilan Angel dalam kondisi sehat, yang Ia ucapkan sebelum meninggalkan kamar tamu.
" Kamu bau " seru Angel mual kembali ketika suaminya mendekat.
" Aku sudah mandi! hidung mu terlalu dekat dengan mulutmu, makanya Kamu terus merasa bau! " jengkel Brandon tak suka di katai bau.
__ADS_1
" Mandi lagi " seru kembali Angel usai menyuruh suaminya menjaga jarak jauh.
" Apa Aku harus tenggelam di kamar mandi baru Kamu puas ?!" kesal laki lakiĀ sudah menjauh itu.
" Rambutmu bau, Aku tidak suka " memelas Angel, membuat Brandon membuang napas kasar.
" Akan Aku cuci, puas?! " kesal Brandon melangkah cepat keluar dan kembali ke kamar.
" Pagi cuci rambut, siang cuci rambut, malam suruh cuci rambut. Apa Dia mau Aku kehilangan semua rambut? " gerutu Brandon sembari melangkah ke kamar.
Tetap menggerutu kesal, laki laki begitu ingin memeluk istrinya itu memutuskan untuk mandi lagi. Sedangkan Angel, sudah di temani kembali oleh Mamanya. Dan Alexa diminta mertuanya untuk melihat putri juga suaminya yang tidur daritadi.
" Oh, Aku pikir Kamu ikut tidur " seru Alexa begitu membuka pintu dan melihat suaminya tengah membaca buku sambil bersandar meluruskan kaki di ranjang.
" Tidak, Aku hanya menjaga Quen " santai laki laki tetap diam di kamarnya daritadi.
" Benarkah? " bahagia Pieter, di angguki oleh Alexa tersenyum.
Hendak menghampiri Adiknya dan mengetahui sendiri, tubuhnya terhenti ketika mencoba turun dari ranjang. Mengingat jika Brandon masih kecewa terhadapnya, Pieter pun kembali bersandar pada sandara tempat tidur.
" Kenapa? " aneh Alex melihat suaminya.
" Tidak apa apa, Aku akan menjaga Quen saja dan melihat besok, biarkan Angel istirahat " sendu Pieter tetap sangat ingin menemui Adiknya.
" Baiklah, Aku mengerti " senyum Alexa.
Alexa meminta ijin untuk kembali turun, dan di perbolehkan oleh Pieter. Ia langsung kembali menghampiri Kakak iparnya di dalam kamar tamu, dan memeluknya untuk memberikan selamat. Tak lama, terlihat Brandon sudah mengganti pakaian dengan membiarkan rambut basah terarah ke belakang.
__ADS_1
" Apa?! Aku sudah mandi! " tegas Brandon berucap menatap istrinya.
" Bukankah Kakak sudah mandi, kenapa mandi lagi? " polos Alexa melihat kearah laki laki sangat segar di dekat pintu.
" Tanya padanya " singkat Brandon mengarahkan mata pada Angel.
" Hei Angel, apa Kamu begitu bodoh sampai tidak tahu kalau hamil? kalau hanya satu dua hari tidak masalah, tapi ini dua bulan. Lalu apa gunanya Kamu belajar kedokteran, kalau kondisimu saja Kamu tidak tahu? " tambah kembali Brandon ke arah perempuan masih menatapnya jengkel.
" Bagaimana Aku bisa tahu?! Aku tidak merasakan apapun!" tegas Angel dalm nada jengkel.
" Itu karena Kamu bodoh, sangat bodoh! harusnya Kamu tahu saat tubuhmu sudah seperti gajah!" tegas laki laki dengan tatapan tajam itu.
" Kamu yang membuat, bagaimana Aku bisa tahu " lirih Angel bergumam, tetap bisa di dengar suaminya.
" Kita membuatnya bersama! bagaimana Kamu bisa melupakan hal itu?! " tegas Brandon, membuat Olivia dan Alexa menahan tawa.
" Dasar tidak tahu malu, mengatakan hal itu lantang sekali " gerutu kembali Angel lirih.
" Kenapa? bukankah Kamu juga sngat menikmati nya setiap malam?! " ucap kembali Brandon, cepat di bungkam oleh Angel bergegas turun membuat Olivia khawatir.
" Jangan bergerak seperti itu! memang bodoh! Kamu mau membuat mereka kesakitan dengan ulahmu?! " kesal Brandon memegang pinggang istrinya agar tak terjatuh.
" Kenapa?! kenapa Kamu memakiku sekarang?! kalau tidak mau Aku hamil, sudah gugurkan saja! " kesal gadis di hadapan suaminya itu melotot.
" Kenapa? Aku bahagia, sangat bahagia " cepat Brandon merubah ekspresi kesal dengan senyuman, lalu memeluk tubuh Angel.
Alexa dan Olivia tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah Brandon serta mendengar tiap ucapannya. Keduanya memutuskan keiuar menberikan waktu untuk kedua orang yang hendak menjadi orang tua itu, tetap saling memeluk.
__ADS_1