
Adiyaksa menghampiri lelaki yang sudah menghempaskan tubuh ke sofa sembari tidur menendang nendang sandaran tangan sofa sambil terus merengek layaknya anak kecil minta di belikan permen. Mata dengan tatapan tak percaya melihat putra yang selalu terlihat tenang dan dingin selama ini berubah bertingkah seperti anak kecil di usianya yang sudah 27 tahun bahkan akan segera memiliki dua orang anak.
" Brandon, apa Kamu gila sekarang? " tegur Adiyaksa dengan nada hati hati sambil memegang kening putranya seperti saat Alexa melihat perubahan Kakaknya dan menganggap jika Kakaknya mengalami gangguan mental.
" Daddy, Angel pergi " rengek Brandon mengejutkan Adiyaksa.
" Maksudmu? " tanya Adiyaksa langsung membuat putranya duduk lemas.
" Dia menginap di rumah Mamanya satu minggu " jelas Brandon lirih dengan tubuh tak berdaya membayangkan hidup tanpa Angel selama satu minggu mengembangkan senyum Adiyaksa yang memukul pundak putranya pelan.
" Kalau Kamu tidak mengijinkan tinggal telpon lagi saja bilang agar Dia tak jadi menginap " ucap Adiyaksa masih memiliki senyum pada wajahnya.
" Dia pasti marah karena tadi Aku sudah mengijinkannya " sahut lelaki yang menundukkan wajah dengan rambut acak acakan di samping Adiyaksa yang masih merangkul kan tangan pada pundak putranya.
" Berarti Kamu saja yang ikut menginap di sana " ucap Adiyaksa dengan nada santai.
" Dia pasti marah karena Dia ingin tidur bersama Mamanya " sahut Brandon masih dalam posisi tak berdaya membuat Adiyaksa menghela napasnya panjang.
" Sudahlah Aku mau ke kamar saja " tambah Brandon beranjak meninggalkan Daddy nya di ruang tengah.
__ADS_1
Seorang Ayah yang terus menghela napasnya panjang melihat tingkah kedua anaknya yang sama sama memilih mengurung diri di kamar hanya karena cinta membuatnya benar benar heran, terlebih ketika melihat tingkah putranya yang berubah 180 derajat ketika menghadapi istrinya. Lelaki yang suka memarahi orang lain, kini takut akan kemarahan istrinya sendiri.
Brandon yang merebahkan tubuh di atas tempat tidur dengan terus memandangi foto istrinya di ponsel sembari memikirkan beratnya satu minggu tanpa Angel di sampingnya. Istri yang selalu mencium aroma tubuhnya setiap hari, istri yang memanjakan dirinya, istri yang selalu mengembangkan senyum hingga membuatnya gemas tak bisa Ia lihat lagi selama satu minggu membuat lelaki yang tak berdaya karena kebodohannya sendiri mengijinkan tanpa mendengarkan istrinya itu merasa frustasi.
****
Hingga malam hari Brandon juga Alexa sama sama tak membuka pintu kamarnya dan membuat Adiyaksa harus meminta keduanya turun untuk makan malam bersama. Meski dengan berjalan begitu malas Brandon mengikuti keinginan Adiyaksa turun dan duduk di kursi meja makan yang tak lama di susul oleh Alexa dengan wajah sama murungnya dengan Brandon. .
" Apa Kalian berdua akan terus seperti ini? " tanya Adiyaksa menatap kedua anaknya seakan tak bernyawa karena merindukan orang yang mereka cintai.
Pria yang duduk dengan melipat kedua tangan dan siku bersandar di atas meja itu terus menatap ke arah dua anaknya sembari tak henti mengambil napas panjang. Ia meraih ponsel miliknya di atas meja makan dan menghubungi menantunya agar mengembalikan kembali nyawa putranya.
" Tidak nak, Daddy hanya ingin mendengar suaramu. Apa Kamu baik baik saja? " sahut Adiyaksa sambil melirik ke lelaki dengan mata berbinar menyimak setiap suara istri yang begitu lembut menjawab Adiyaksa.
" Aku baik baik saja Daddy, ini sedang bersama Kakak juga Mama, Aku menginap di rumah Mama. Apa Daddy sudah makan? " jawab Angel yang tengah berada di depan meja makan bersama Pieter juga Olivia mengambilkan makan untuk kedua anaknya.
" Ini Daddy sedang makan, apa besok Daddy boleh makan malam bersama Kalian? di sini terlalu sepi " ucap Adiyaksa ingin membuat kedua anaknya bertemu dengan pujaan hati mereka masing masing sekalian menyapa Olivia yang tak pernah Ia kenal meski sudah menjadi besan.
" Tentu Daddy silahkan, Kami akan senang jika Daddy kemari " sahut Angel dengan nada bahagia membuat Brandon mengembangkan senyum dan mengangkat jempol ke arah Daddy yang juga tersenyum.
__ADS_1
" Baiklah Nak, Daddy tutup dulu ya. Kamu jaga kesehatan serta kandungan mu, salam untuk Pieter juga Mama Kamu " ucap Adiyaksa mengakhiri sambungan telpon karena sudah cukup membuat putranya tersenyum.
" Iya Daddy, Kami tunggu besok " pungkas Angel mengakhiri sambungan telpon bersama sama dengan Adiyaksa.
" Thanks Dad " seru Brandon tersenyum tak sabar menunggu hari esok.
Adiyaksa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan putranya meski Alexa masih saja tak bergeming. Mereka bertiga mulai menikmati makan malam bersama usai Brandon kembali memerintah Adiknya makan dengan begitu tegas.
Sementara Angel menyampaikan jika mertuanya akan datang untuk makan malam dan membuat Olivia bingung harus menyiapkan apa untuk Tuan besar yang kini menjadi besannya. Dengan tersenyum juga memegang tangan Mamanya, Pieter mengatakan jika Adiyaksa berbeda dari Brandon, Dia tak pernah memilih dalam hal makanan dan tak menyukai sesuatu yang berlebihan agar Mamanya tak menjadi gugup untuk menghadapi Papa dari menantunya esok hari.
" Mama, Aku panggil mereka dulu ya biar bisa makan bersama Kita " pinta Angel ingin memanggil pengawal yang masih setia berjaga juga Viena yang masih membetulkan radio lama kesayangan Olivia peninggalan berharga dari Papanya.
" Iya nak " sahut Olivia lembut dan bergegas Angel berjalan untuk memanggil ke empat orang pengawal serta Viena yang masih asik di teras bersama satu pengawal lagi menemaninya berbincang sembari membetulkan radio Olivia.
Dengan segan ke enam orang itu mengikuti Nyonya muda yang tak ingin membedakan status itu masuk dan duduk bersama di ruang makan dengan sengaja Olivia meminta Viena duduk di samping Pieter agar membuat keduanya lebih dekat meski sama sama saling bertingkah dingin tanpa berbicara kecuali masalah pekerjaan selama ini.
Olivia ataupun Angel yang sudah terbiasa dengan hidup sederhana mereka bahkan bisa dikatakan susah, tak mau menganggap orang orang Brandon yang bekerja di rumahnya sebagai orang lain dan menganggap mereka sebagai keluarga begitu juga pelayan yang ada di rumah Olivia selalu Ia ajak untuk makan bersama dan sudah menjadi hal biasa bagi Pieter yang awalnya merasa aneh.
Olivia tak menceritakan apapun mengenai kecurigaannya terhadap perasaan Pieter yang menyukai Viena pada Angel, namun ketika makan malam melihat Pieter yang sesekali melirik ke arah Viena sambil menikmati makanan membuat Angel bertanya tanya dalam hatinya, karena tak biasanya Pieter yang begitu santai terlihat sedikit canggung malam ini. Meskipun Pieter belum menyadari akan perasaannya sendiri, namun saat Ia dekat dengan Viena entah mengapa bisa merasakan rasa canggung di balik jantung yang berdetak amat cepat. Karena lelaki yang kini mengenakan pakaian santai itu tak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, merasa aneh akan rasa yang tak bisa Ia jabarkan sendiri seperti apa sebenarnya.
__ADS_1