
"Sayang, bolehkah aku pergi sebentar? Aku ingin menemui kakakmu untuk membahas pekerjaan" ijin Brandon menatap istrinya dan menggenggam tangannya.
"Iya, selesaikan yang perlu kamu selesaikan bersama kakak. Aku akan menjaga mereka bersama Alexa" tersenyum ke arah suami juga tersenyum padanya.
"Jangan mengharapkannya, anak sendiri saja sering lupa!" jengkel Brandon mengingat adiknya yang selalu meninggalkan begitu saja putrinya, dibalas tawa istrinya.
"Kenapa setiap hari aku semakin mencintainya? tubuhku seperti tersengat listrik tiap kali dekat dengannya" batin Brandon bergumam, memperhatikan wajah cantik perempuan masih tertawa menggendong anaknya.
"Kenapa?" melihat ke arah suaminya yang terus menatap dekat dengan wajahnya.
"Aku lihat dari dekat, kamu benar benar sangat jelek dan gemuk" tersenyum lebar menahan tawa Brandon mengatakan, memajukan bibir Angel seketika di ciumnya kembali.
"Bilang aku jelek tapi dari tadi terus saja mencium ku" gerutu Angel, mengatupkan bibir laki laki menunduk menahan tawa sembari memundurkan tubuhnya.
"Kamu tahu? hanya aku yang mau mencium mu, tapi terlalu banyak wanita mengantri untuk bisa mencium ku" melepaskan tawa dengan menyandarkan punggung santai.
Terus tertawa membanggakan diri, Angel melirik suaminya kesal dan berdiri. Membuang napas kasar, lalu menginjak kuat kaki kiri suaminya sambil berlalu pergi. Angel meninggalkan suaminya yang mengangkat kaki, dan memegangnya.
"SAKIT!" teriak kuat Brandon memegang kaki masih mengenakan alas kaki sambil membungkuk melihat kakinya.
Nathan tengah tertidur di dalam kereta bayi, langsung menangis kencang karena terkejut dengan suara menggelegar dan berat Daddy nya. Angel segera berbalik tubuh mendengar suara tangis anaknya, dan mengurungkan niat untuk naik ke kamarnya.
"Lihat!" kesal Angel melotot pada suaminya yang sudah berada di samping Nathan, hendak meraih tubuhnya.
"Sayang, silahkan bertanggung jawab oke? bye bye daddy" tersenyum, melangkah dan melambaikan tangan pada suaminya.
__ADS_1
"Angel! bagaimana aku bisa membuatnya tenang? ASI ada padamu!" teriak Brandon ke arah istrinya dengan wajah kebingungan.
"Kalau bisa aku lepas, sudah aku lepas ASI mu!" geram Brandon menggendong tubuh putranya.
Masih saja menangis, Tuan muda tidak pernah terlihat panik selain pada istrinya itu, kini harus sangat panik berusaha menenangkan putranya. Mengayun dalam dekapan, Brandon terus mencoba menenangkan tangis putranya yang membuat dirinya mengeluarkan butiran butiran keringat di kening.
"Wah, wah, kakak benar benar hebat" tepuk Alexa pada pundak kakaknya begitu datang usai menelpon mertuanya.
"Bantu aku!" tegas Brandon menahan suara menatap adik yang berdiri di sampingnya.
"Ck, ck, ck, berjuanglah kakak. Nathan lebih keras lagi, oke?!" menggeleng kepala, lalu tersenyum mengedipkan satu mata pada keponakannya dan berlalu pergi.
"Dua orang jelek tidak berguna!" kesal Brandon bergumam menimang putranya.
"Oh ayolah diam, kamu membuat Daddy mati karena suaramu. Kalau seperti ini kamu mirip Mommy saat cerewet, bukan lagi mirip Daddy" ucap Brandon pada putra masih dalam dekapannya.
Kepanikan semakin menjadi saat tangis bocah laki laki kecil berusia satu minggu itu, kian menggelegar. Sambil mengumpat sendiri, merasa gendang telinga hampir pecah, Brandon terus berjalan mendekap putranya menuju kamar.
"Mommy, please" memasang wajah dibuat memelas ke arah istri tengah membungkuk meletakkan tubuh Nicho kedalam box bayi warna biru.
Menahan tawa sambil meletakkan tubuh putranya, Angel berganti untuk meraih tubuh Nathan dari gendongan suaminya. Mulai bisa bernapas lega, Brandon menghempaskan diri duduk di tepi ranjang.
"Kenapa suara bayi menangis lebih menyeramkan dari suara pistol?" lirih Brandon bergumam.
"Angel aku berangkat dulu" berdiri mulai berpamitan pada istri masih berdiri dan hendak duduk.
__ADS_1
"Baguslah kabur tanpa tanggung jawab, menyebalkan" sahut Angel lalu duduk.
"Kamu mau memberikan ASI, bagaimana bisa aku tetap disini?! bertahan untuk tersiksa?! terima kasih banyak sayang, aku tidak mau hal itu lagi" kesal, lalu menyeringai sambil menggelengkan kepala ke arah istrinya.
"Berapa bulan aku tidak menyentuhmu, dan sekarang harus menunggu lagi" gerutu Brandon lirih, di tatap istrinya sambil menggelengkan kepala.
"Aku berangkat, jangan memaki saat aku pergi" ucap Brandon seraya memperingatkan, lalu mencium seluruh wajah istrinya tanpa satupun terlewat.
"Daddy tinggal sebentar, jaga mommy" pesan Brandon pada putranya dan mencium sisi wajah putranya, berganti pada putra satunya.
"Love you Daddy" seru Angel seraya menyindir laki laki sudah berjalan menuju pintu.
"Ya, i hate you too" sahut Brandon tanpa berhenti, membuat istrinya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala.
Menatap kepergian suaminya dan mulai memberikan ASI pada putranya yang belum berhenti menangis. Brandon harus pergi untuk menyusun rencana bersama orang orangnya, yang telah ia minta Pieter untuk mengumpulkan mereka di gudang senjata.
Brandon juga sudah menghubungi Yudha lebih dulu melalui pesan singkat agar tak diketahui istri serta adiknya. Ia meminta agar Yudha mencampurkan obat tidur pada minuman Gaida, dan mengirimnya langsung ke London. Di sana pun Brandon sudah meminta anak buahnya menyekap kedua orangtuanya sendiri. Hal itu terpaksa dilakukan untuk melindungi keluarganya, dari aksi Jackson juga Kenan.
Sebuah rumah persembunyian, di gunakan anak buah Brandon untuk menyekap keluarganya agar tak di ketahui Kenan ataupun Jackson. Walaupun sedikit kejam, namun hanya cara itu yang bisa dilakukan saat ini. Brandon telah meminta anak buah lainnya untuk membawa Olivia serta Dion juga asisten rumah tangga ke rumahnya, dengan syarat menutup mata semuanya kecuali Olivia.
Persiapan dalam penjagaan juga dia lakukan dengan mengerahkan beberapa orang di rumahnya juga rumah yang ditempati oleh Alexa dan Olivia. Meski rumah itu kini telah kosong, sengaja ia melakukan penjagaan untuk mengelabui musuhnya sendiri.
Hal utama bagi Tuan muda itu adalah keselamatan seluruh keluarganya, terutama anak anak serta istrinya. Takkan mungkin bisa menanggung duka kehilangan, ia harus mempersiapkan segalanya dengan matang.
Pieter dan lainnya sudah berkumpul di gudang senjata sesuai perintah, sedangkan Viena masih di bandara menjemput Darell kembali atas perintah Brandon. Hanya melalui pesan singkat ketika ia usai menghubungi Pieter tadi, ia mengatur semua anak buahnya untuk bergerak. Brandon tak ingin istri juga adiknya tahu dan menjadi cemas.
__ADS_1
Dalam gudang senjata, Pieter mengambil beberapa peti kayu berisi senjata dan memeriksanya bersama lainnya. Beberapa sniper andalan juga sudah ada di sana, untuk menunggu kedatangan Tuan mereka. Banyak senjata, sudah mereka periksa kelayakannya sebelum di gunakan nanti.
Brandon dan Pieter pahan siapa Jackson, yang juga dipahami Viena, Darell dan Yudha yang menjadi bagian dari misi kali ini. Semua harus benar benar matang mempersiapkan diri sebelum kehadiran Jackson sewaktu waktu. Seperti seekor burung singgah, itulah Jackson akan datang kapanpun dan pergi kapanpun tanpa bisa diketahui dan di prediksi buruannya. Tapi tidak untuk Brandon yang memiliki banyak mata di setiap sudut dunia.