
Alexa masih merasa heran juga bingung atas tingkah Brandon yang tak bisa Ia serap dengan otak juga pikiran waras nya karena merasa jika kini Kakak berhati dingin yang Ia kenal sudah menjadi gila.
" Dad, apa Dia selalu seperti ini? apa tidak perlu Kita membawanya ke Dokter? " bisik Alexa mendekat pada Adiyaksa sembari mata memperhatikan lelaki yang masih senyum senyum sendiri.
Adiyaksa hanya tersenyum mendengar pertanyaan putri cantiknya itu tanpa menjawab apapun karena Ia sendiri juga merasa bingung dan terkejut ketika pertama kali melihat sikap putranya waktu di Bali.
" Apa? " sinis Brandon melirik pada Alexa yang tak henti menatapnya.
" Kakak, apa Kamu tidak apa-apa? " tanya gadis tersebut langsung mendekatkan duduknya dan meletakkan tangan di atas kening lelaki yang langsung merubah ekspresi gemas menjadi dingin dengan cepat.
" Apa Kamu gila? " sahut Brandon menghempaskan kasar tangan Alexa.
" Kakak, jika terjadi sesuatu cerita lah padaku. Aku akan membantu sebisaku Kak " sahut gadis yang menatap khawatir akan kondisi kejiwaan Kakak satu satunya itu.
Brandon hanya menatap dingin ke arah Adik yang begitu menghawatirkan dirinya diiringi Pieter juga Adyaksa tersenyum menahan tawa mereka mendengar setiap perkataan gadis dengan tatapan khawatir di samping lelaki berwajah dingin serta tatapan tak kalah dingin dari wajah tampannya.
" Daddy, apa Daddy lihat itu? tadi Dia tersenyum sendiri dan sekarang seperti orang yang ingin marah, bukankah itu tanda tanda gangguan kejiwaan? " bisik Alexa kembali pada Adiyaksa seketika memecahkan tawa pria tampan yang masih duduk santai di sofa terus menyimak kedua anaknya.
" Alexa! " tegas Brandon mengarahkan pandangan tajam pada Adiknya karena tak suka adanya orang berbisik dihadapannya.
__ADS_1
" Sudahlah " tambah Brandon menghela napasnya panjang sembari mengurut kening mendengar lirih ucapan Adik yang terkejut mendengar teguran kerasnya.
Lelaki yang duduk di hadapan Brandon dengan menyilang kan kaki serta memegang ponsel menyala di tangannya mengembangkan senyum lebar dengan tatapan Ia tujukan pada layar ponsel dimana ada panggilan masuk dari Olivia yang segera Ia angkat tanpa beranjak dari posisinya.
" Iya ma? " ucap lembut lelaki dalam balutan kemeja abu abu muda serta celana hitam sampai atas mata kaki tersebut mengejutkan Alexa juga Adiyaksa yang mengetahui jika Pieter tak lagi memiliki seorang Ibu.
" Apa Kamu tidak datang untuk sarapan? Mama sudah membuatkan sarapan untukmu " sahut Olivia dari ujung telfon yang terbiasa makan sarapan bersama Pieter setiap harinya.
" Tidak Ma, Aku sekarang sedang berada di rumah Brandon. Mungkin nanti saat makan malam Aku akan datang ke rumah " seru lelaki yang mengembangkan senyum bahagia atas perhatian tulus Olivia.
" Apa Adikmu di situ? boleh Mama melihat wajahnya sebentar? " tanya Olivia bersemangat mengembangkan senyum lelaki dalam balutan waistcoat abu tua di balik kemeja yang menunjukkan betapa kekar tubuhnya.
Pieter meminta ijin pada semua yang ada di ruang tamu dengan sopan untuk masuk ke dalam mencari Adiknya dengan tatapan penuh tanya dari Brandon. Ia menghampiri Angel di dapur sesuai petunjuk pelayan ketika Ia bertanya lalu memanggil gadis yang masih ikut menyiapkan sarapan tersebut agar ikut keluar dengannya karena akan menyambungkan video call pada Olivia yang seketika merubah wajah Angel menjadi begitu bahagia langsung keluar dari dapur menghampiri Kakaknya yang tersenyum sambil mengantongi tangan kiri di saku.
Angel juga Pieter keluar ke taman agar bisa leluasa mengobrol dengan Olivia karena adanya Adiyaksa mungkin akan membuat Angel segan.
" Kemana? " sinis Brandon bertanya kepada istri yang berdiri bersama Pieter di ruang tanu untuk mohon ijin keluar.
" Mau telfon sebentar, engga apa apa kan? " sahut Angel dengan nada lembut khasnya.
__ADS_1
" Hm " singkat Brandon mengijinkan keduanya untuk pergi.
Usai berpamitan pada Brandon juga Adiyaksa Pieter menuntun Adiknya berjalan pelan ke arah taman yang bisa di lihat langsung oleh Brandon dari posisi duduknya sekarang. Lelaki yang masih melipat kaki serta tangan bersandar pada sandaran tangan sofa untuk menyangga sisi wajahnya menatap tanpa henti ke arah istri juga sahabatnya yang duduk di taman terlihat begitu akrab di balik senyum merekah keduanya menatap layar ponsel bersama.
" Apa Kakak cemburu? " tanya Alexa juga menatap ke arah Pieter juga Angel dari samping Kakaknya.
" Tidak, kenapa? apa Kamu cemburu? " sahut Brandon tanpa mengalihkan pandangan dari taman.
" Tentu, apalagi ketika Dia tersenyum dengan begitu tampan " sahut gadis yang mencintai Pieter selama bertahun tahun namun di tolak berulang kali ketika mencoba mengutarakan perasaan pada lelaki yang tak pernah terlihat tersenyum padanya.
" Berhenti mencintai Dia, itu hanya membuang air matamu saja " seru Brandon lirih.
" Tidak, Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku " sahut Alexa dengan penuh keyakinan.
" Tidak mungkin " singkat lelaki dengan tatapan meremehkan pada Adiknya.
Alexa sudah mencintai Pieter dari Ia pertama kali mengenal lelaki tersebut namun tak sekalipun lelaki yang begitu cuek pada perempuan menganggap perasaan Alexa karena Ia Adik dari sahabat karibnya. Meski Alexa sudah mencoba melupakan Pieter hingga Ia pergi ke Amerika namun bayangan lelaki tampan dan gagah tersebut tak mampu hilang dari benak gadis yang semakin mencintai Pieter begitu Ia kembali bisa melihat wajahnya secara langsung terlebih senyuman lelaki dingin tersebut terlihat lebih mempesona dari apa yang Ia bayangkan meskipun senyum itu hanya ditujukan pada Angel bukan pada dirinya.
Ia masih tak percaya jika Pieter bisa tersenyum dan begitu lembut memperlakukan istri Kakaknya bahkan memanggil dengan begitu perhatian dalam sebutan Adik. Empat kali sudah Ia berusaha mengutarakan perasaan pada lelaki yang masih duduk dengan senyum mengembang serta tangan tak henti membelai ujung kepala Kakak iparnya di bangku taman tersebut.
__ADS_1
Adiyaksa juga mengetahui jika seseorang yang sudah Ia anggap anak kandung itu adalah cinta pertama putri kesayangannya, namun pria yang terus memperhatikan tatapan kedua anaknya tersebut tak bisa berbuat apapun karena perasaan tak pernah bisa untuk di paksakan. Ia juga tak pernah ingin ikut campur lebih dalam pada urusan hati kedua anak yang memiliki pandangan tersendiri akan pasangan mereka, seperti halnya Brandon yang malah mencintai Angel dengan jarak usia begitu jauh namun membuatnya nyaman dan bahagia meski Ia sudah bertunangan dengan Sonya seorang perempuan yang lebih dewasa usianya di banding menantunya. Bagi pria berkacamata itu, kebahagiaan anak anaknya adalah hal terpenting dalam hidupnya dan tak pernah mempermasalahkan apapun yang membuat anak anaknya bahagia serta nyaman menjalani kehidupan selama itu tak pernah melewati batas dari apa yang pernah Ia tuturkan pada kedua anaknya.