Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 197


__ADS_3

"Makan, aku suapi" lembut Brandon berucap, mulai menata nasi goreng juga potongan telur di atas sendok.


Melipat satu kaki di atas ranjang dan membiarkan satunya dilantai, Brandon menyuapi istrinya perlahan. Memarahi ketika perempuan sangat bahagia itu tidak mengunyah dengan baik.


"Oh ya, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita dan akan pindah setelah kamu melahirkan" ucap Brandon tiba tiba, sembari tetap menyuapi.


"Kita sudah ada apartemen, kenapa harus beli rumah lagi?" tanya Angel dengan mulut penuh, coba ia kunyah.


"Apartemen terlalu sempit untuk anak anak kita nanti, mereka butuh ruang luas untuk bisa bermain. Kita akan pergi kesana nanti sore" jelas Brandon, di angguki oleh Angel.


Rumah lebih luas dan mewah dibanding rumah yang diberikan pada Alexa, telah dipersiapkan Brandon diam diam. Membahagiakan dan memberikan segala yang terbaik untuk istri juga anak anaknya, selalu menjadi mimpi besar Brandon yang akhirnya bisa terwujud. Bermain dengan anak anak kandungnya sendiri, bukan lagi angan bagi Tuan muda yang masih merahasiakan kandungan istrinya dari Adiyaksa.


Demi melindungi istri juga kedua calon anaknya, ia sengaja tidak memberitahu Adiyaksa yang mungkin akan diketahui oleh Gaida dan Sasmita. Brandon hanya tidak ingin merasakan kembali luka akan kehilangan buah hatinya, dan mungkin juga bisa merenggut nyawa istri tercinta. Rasa sakit itu masih bisa dirasakannya ketika teringat bagaimana dia mengangkat tubuh dengan darah itu cemas.


"Kenapa melamun?" tanya Angel melihat suaminya memegang garpu buah dengan menatapnya kosong.


"Aku hanya berpikir bagaimana cara menyentuhmu dengan perut besarmu" santai Brandon, di perhatikan Angel tetap mengunyah buah usai nasi goreng habis.


"Lima bulan lebih aku tidak menyentuhmu, aku benar benar tidak percaya bagaimana aku bisa menahannya" santai Brandon menggelengkan kepala, diiringi tatapan tidak percaya Angel.


"Sudahlah, aku mau tidur dulu. Ah lupa aku baru tidur, lebih baik aku keluar dan kamu berpikirlah" ucap Angel beranjak dari tempat tidur.


"Melakukan tinggal melakukan, apanya yang dipikirkan" gumam Angel pelan mencoba turun dari ranjang.


"Buahmu belum habis! habiskan dulu dan minum susumu!" tegas Brandon.

__ADS_1


"Aku kenyang, kamu benar benar menganggapku seekor gajah?!" kesal Angel menoleh.


"Baiklah tunggu disini, biar aku yang makan" menarik Angel duduk di tepi ranjang.


Brandon meraih buah tersisa beberapa di mangkuk, dan memasukkannya dalam mulut. Ia meraih kepala istrinya mendekat dan memasukkan buah dari mulutnya ke mulut Angel.


"Itu baru kamu makan, kenapa kamu masukkan ke mulutku?" tanya Angel.


"Aku tidak memakannya, aku menyuapimu dengan caraku" santai Brandon tetap ingin istrinya menghabiskan semua.


"Kalau punya cara seperti ini kenapa tidak dari dulu" gumam Angel, mengembangkan senyum laki laki mendengar seperti bisikan tersebut.


Terus menyuapi istrinya menggunakan mulut, sampai Angel harus mengatakan ampun karena tak sanggup lagi untuk makan. Nasi goreng yang dibuatkan memang terlalu banyak dengan dua telur. Melihat tubuhbgemuk sudah terengah sampai bergidik, Brandon tersenyum dan menghentikan untuk menyuapi.


Suara ketukan pintu dari luar beriringan dengan suara Olivia, segera dipersilahkan masuk oleh Brandon tetap duduk di samping Angel. Olivia masuk dan minta maaf karena telah mengganggu keduanya, namun telpon dari Erina harus di sampaikan oleh wanita baru menyelesaikan mandi tersebut.


"Kenapa ma? " heran Angel bertanya menatap wanita tengah berdiri dihadapannya.


"Tidak tahu, kamu bicara saja" lembut Olivia berucap.


Mendengarkan setiap apa yang dibicarakan Angel pada orang di ujung telpon, Brandon tidak mengerti tujuan dibalik Erina menghubungi setelah bertahun tahun berlalu. Erina Odetta Justin, adalah ibu tiri Angel yang sengaja dikirim keluar negri oleh Brandon, demi melindungi dari amarah Carlos ketika Brandon berusaha menjatuhkan Carlos dulu.


Angel menatap suaminya ketika berbicara, makin membuat Brandon penasaran. Tatapan itu seolah menyiratkan banyak tanya yang tidak di mengerti Brandon. Tetap terhubung dengan sambungan telpon, Angel masih menatap lelaki juga menatapnya.


"Sudah ma, dia hanya bertanya kita tinggal dimana dan ingin berkunjung sesekali dengan papa jika diijinkan" kilah Angel menyerahkan ponsel milik mamanya, tetap dengan tatapan lelaki di sampingnya.

__ADS_1


"Baiklah, mama keluar dulu nanti kita bicarakan" ucap Olivia dan permisi keluar.


Begitu Olivia pergi, Angel berpindah posisi untuk bisa bicara dengan suaminya. Kini merekapun sudah saling berhadapan.


"Biarkan papa bebas dan hidup bersama tante Erina. Bagaimanapun juga papa sudah tua dan harus ada yang merawat, dia tidak akan menggangguku lagi karena kamu ada di sampingku. Aku mohon padamu untuk bisa memaafkannya, dia papa kandungku dan karena dia juga kita bisa bersama" lembut dan tulus Angel berucap, memegang tangan suaminya.


"Apa itu yang diinginkan Erina?!" tegas Brandon, menggelengkan kepala Angel cepat.


"Bukan, itu keinginanku. Sayang, setiap orang akan berubah dan aku yakin papa juga akan berubah. Aku minta padamu untuk pertama dan terakhir kalinya, aku janji setelah ini tidak akan meminta apapun padamu" tulus kembali Angel.


"Baiklah, tapi aku akan tetap memerintahkan orangku untuk mengawasi mereka. Aku tidak ingin mereka menyentuhmu juga maya dan anak anak kita" jawab Brandon tanpa ekspresi.


"Terima kasih banyak" senyum Angel.


Brandon meraih ponsel dan memerintahkan pengawal yang menjaga Carlos, untuk mengantarkannya ke alamat yang akan ia kirim. Tidak mengerti mengapa istrinya bisa memohon untuk pria telah menjualnya dulu. Namun karena tidak pernah bisa menolak, Brandon menuruti saja tapi tetap dengan penjagaan untuk Carlos. Ia tidak bisa berdebat untuk masalah apapun karena takut jika Angel sampai stres dalam kehamilannya.


Sedangkan di rumah Brandon yang telah ditempati Alexa dan Pieter, hampir setiap hari ibu satu anak itu marah marah tanpa henti. Seperti menggantikan kebiasaan kakaknya dulu, Alexa selalu memarahi siapapun di rumah tersebut. Otaknya serasa mendidih ketika melihat Clara datang bersama Gaida kerumahnya.


Gaida sendiri juga selalu marah tidak jelas karena tidak bisa menemukan keberadaan Brandon. Tidak jarang Gaida dan Alexa beradu argumen ketika Pieter tidak ada di rumah. Alexa pun melampiaskannya pada Clara juga para pelayan saat selesai berdebat dengan Gaida.


Pagi ini, Clara yang datang bersama Gaida sudah mendapat amukan dari Alexa. Pasalnya dia tidak bisa menghubungi kakaknya berbulan bulan dan itu membuatnya cukup stres sepanjang waktu.


Gaida tetap saja pada tujuannya untuk menjodohkan Brandon dengan Clara, namun Brandon seolah menghilang ditelan bumi sampai tidak pernah bisa untuk ditemui ataupun dihubungi.


Brandon memang sengaja memblokir nomor Gaida, karena terlalu lelah menghadapi juga menjelaskan. Ia hanya berpamitan jika akan pindah ke London, agar Gaida cepat pergi dan tidak mengusik hidupnya juga adiknya.

__ADS_1


Namun karena bukan orang yang mudah percaya, Gaida memerintahkan orang untuk mencari Brandon di London tapi tidak di temukan. Bahkan di Indonesia pun Brandon tidak bisa ditemukan oleh Gaida, karena musibah yang menimpa Tuan muda itu tidak diketahui oleh keluarga selain Pieter dalam rumah itu.


__ADS_2