Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 217


__ADS_3

LIKE dulu BARU BACA ya...makasih (tuntutan aturan baru mba jadi terpaksa).


Terdengar langkah kaki mendekat yang ternyata Darell, Viena dan keempat wanita cantitelah selesai berlatih. Keenamnya menghampiri Brandon, dengan Derell menatap aneh pada Pieter masih tetap berjongkok.


"Kami sudah selesai latihan, bisakah saya berbicara dengan anda, Tuan?" sopan Darell pada lelaki masih amat santai melipat kaki dan bersandar.


"Bersihkan diri kalian lebih dulu, setelah makan malam kita bicara" sahut Brandon menatap ke arah pria tengah berdiri di samping sofa tempatnya duduk.


"Baik, Tuan" sahut serempak keenamnya.


"Mata keranjang!" bergumam Angel lirih, melirik ke arah sauminya tajam.


Mereka melangkah menuju kamar masing masing yang telah disediakan Brandon setelah mendapatkan ijin. Tapi Pieter yang masih menjalani hukuman dari istrinya dengan keadaaan kaki kesemutan, tak berani berkutik sedikitpun. Memasang wajah memelas seolah mengisyaratkan pada sahabatnya agar membantu mengakhiri hukaman, Pieter memohon melalui matanya.


"Lihatlah mereka, benar benar menggoda, Kaki mereka panjang dan seksi" sengaja Brandon memuji keempat wanita tengah berjalan, memperhatikan mereka dari belakang dengan ekspresi dibuatnya kagum dengan sesekali melirik istrinya.


"Kaki apa leher jerapah tinggi?!" bergumam kesal Angel lirih, masih dapat di dengar oleh lelaki yang kini meliriknya dan menahan tawa.


"Pieter, haruskah kita menemani mereka mandi? anggap saja pesta bikini di dalam kamar mandi" celoteh Brandon tanpa peduli aura memohon dari sahabatnya yang berubah kaget.


"Aku sudah hampir mati dengan tatapan adiknya, sekarang malah ingin mmebunuhku lagi! Tuhan, lenyapkan saja aku kalau harus seperti ini" batin pieter memasang wajah tanpa harapan.

__ADS_1


"Pergi sana! baumu sudah seperti bangkai!" tegas Brandon menutup hidung, menatap ke arah sahabatnya.


"Baik, aku akan segera kembali" sahut Pieter lega, berpegangan pada sofa dan mencoba berdiri.


"Siapa yang mengijinkanmu?!" tegas Alexa, seketika suaminya kembali m=berjongkok.


"Aku!" singkat Brandon, hanya bisa dijawab hembusan napas kasar oleh Alexa tanpa berani melawan.


Mendorong lengan Pieter agar cepat bangkit dan bergegas masuk sebelum adiknya kembali menghukum, Brandon kini menjadi penyelamat untuk orang yang telah mengerjai dirinya tadi. Bergegas Pieter berdiri dan berjalan pincang karena kaki masih kesemutan, diiringi tatpan sinis Alexa.


"Kenapa kakak masih disini? kenapa tidak masuk kedalam? bukankah wanita wanita kakak sedang mandi sekarang?" sinis Alexa melirik kakaknya, diiringi lirikan tajam Angel sedari tadi.


"Berani kamu masuk ke kamar mereka, aku bunuh kamu!" tegas ANgel mengancam, melebarkan senyum lelaki kini berada tepat dihada[annya.


"Jealous?" membungkuk ke araha telinga istrinya dan berbisik menggida istrinya.


"YA!" sangat tegas Angel menjawab seraya mengakat kaki kanan menginjak kaki suaminy, hingga Brandon merasa kesakitan mengangkat kaki lalu menjatuhkan diri di sofa belakangnya.


"SAKIT! DASAR GILA!" berteriak brandon ke arah istrinya telah berlalu pergi, diiringi tawa keras Alexa bahagia.


"Rasakan!" tegas Alexa beranjak dari duduk dan berjalan mengejar kakak iparnya.

__ADS_1


"Menyebalkan!" gumam Brandon kesal.


"Tapi menyenangkan" tambah Brandon langsung merubah ekspresi tersenyum.


Alexa mengikuti kakak iparnya kedalam kamar Olivia, dimana anak anak mereka berada sedari tadi. Sedangkan Brandon masih memegangi kakinya yang sakit, dan mengangkat meletakan diatas lutut. Kebahagian semakin terasa kuat mengisi relung hatinya, mendengar jika istrinya merasakan kecemburuan. Wajah terlukis senyum lebar yang tak mampu lagi membendung kebahagiaan hatinya.


****


Tepat pukul 22.00, Brandon sudah bersama Darell dan lainnya memulai perbincangan di ruang kerja Brandon. Menutup rapat pintu agar tak terdengar oleh siapapun, Brandon tidak mau keluarganya cemas akan adanya penyerangan besar besaran yang akan terjadi. Sesuai informasi yang didapat, Darell menyampaikannya pada Brandon, berniat meminta ijin untuk bisa bergerak malam ini juga.


"Semua anak buah Jackson sudah bergerak Tuan, bisakah anda memberi saya ijin untuk bergerak malam ini?" tanya Darell sopan, mendapat gelengan kepala Brandon.


"Tidak, Yudha sudah berada di sana. Mereka yang akan mengatasi untuk malam ini, kita cukup fokus dengan Jackson saja seperti tugas yang aku berikan pada kalian" sahut leleki tengah duduk di balik meja kerjanya itu santai.


"Baik, Tuan" seru ketujuh orang tengah berdiri di hadapan Tuan mereka itu bersamaan.


Mengarahkan keempat perempuan cantik yang bertugas menjaga keselamatan anak anak juga istri serta keluarganya, Brandon membekali mereka dengan senjata lebih canggih, dan memberikan tugas pada masing masing. Menegaskan agar tidak sampai ada yang bisa menyentuh keluarganya, atau mereka harus rela mengakhiri hidup lebih tragis dari hukuman seorang penghianat.


Surat wasiat telah dibuat Brandon dengan pengacara pribadinya, menyerahkan seluruh harta pada kedua anaknya. Brandon hanya memikirkan hal hal terburuk yang mungkin terjadi, mengingat Jackson dan Kenan takkan pernah menyerah tanpa melihat mayatnya.


Meminta semua orang keluar, Brandon berdiam diri di ruang kerjanya, memikirkan semua kenangan indah yang mungkin saja takkan terulang bersama istri juga dua anaknya. Foto kebersamaan terbingkai indah di meja kerja, diraihnya dan ditatap lekat seraya berdoa dalam dirinya, agar bisa diberikan kesempatan menyaksikan kedua buah hatinya tumbuh bersama, agar bisa selalu menjadi suami juga Daddy terbaik dalam hidup keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2