
Sikap dingin yang ditunjukkan Angel usai perkataannya tentang Alexa, menyesakkan perasaan seorang Kakak yang terbiasa dengan sikap manja dan perhatian Adiknya. Sepanjang pagi, tak pernah Angel menatapnya dan bertingkah seolah tak mengenal Kakak angkatnya sendiri. Merasa tak mampu lagi menahan sikap Adiknya, Pieter ingin berbicara untuk menanyakan alasan dibalik sikap Adik yang telah berusaha mati matian mendekatkan dirinya dan Alexa, bahkan marah karena dirinya tak menunjukkan cinta pada Alexa.
" Brandon, Alexa, bolehkah Aku bicara dengan Angel sebentar? " ijin Pieter pada lelaki yang masih merebahkan kepala pada paha istrinya sambil memainkan ponsel.
" Bicaralah, memang Aku pernah melarang kalian? " santai Brandon dan di angguki oleh Alexa.
" Sebentar, ada yang mau Aku berikan " bergegas Angel pergi ke arah kamar, mengembangkan tanya pada tiga orang di ruang TV akan apa yang akan diberikan Angel.
Hanya sebentar pergi, masih dengan piyama karena malas untuk membersihkan diri di hari libur, Angel sudah turun dan mengajak Pieter berbicara di taman luar. Tanpa bertanya Pieter langsung mengikuti langkah Adiknya, diiringi tatapan Alexa namun tak dengan Brandon yang memilih mengawasi dari ipad miliknya yang sudah terhubung dengan CCTV rumah.
" Ambillah ini, Aku tidak pernah menggunakannya " ucap Angel dengan nada lembut khasnya, menyerahkan ATM juga kartu kredit yang pernah diberikan Kakaknya.
" Apa maksudnya ini Angel? ini milikmu dan Kakak memberikannya untukmu " tak mengerti Pieter akan apa yang dilakukan Adiknya dengan tampang begitu dingin.
" Berhentilah menganggap ku Adik mulai hari ini, Aku tidak melarang mu untuk tetap menjadi anak Mama tapi Aku tidak ingin lagi menjadi Adikmu " terpaksa Angel mengatakan semua demi Alexa, meski itu juga menyakiti dirinya sendiri.
" Aku tidak mengerti apa maksudmu sebenarnya, kenapa Kamu jadi seperti ini? apa Aku melakukan kesalahan padamu? " masih tak mengerti lelaki yang tak menerima pemberiannya pada Angel.
" Aku tidak ingin Alexa salah paham, akan lebih baik jika Kita saling menjauh karena tidak semua bisa mengerti akan kedekatan ini. Mungkin Kita menganggapnya sebagai hubungan persaudaraan, tapi tidak dengan orang lain yang tak mengerti hal itu. Dan juga maafkan Aku sudah memaksamu untuk menunjukkan cintamu sendiri pada Alexa karena Aku tak ingin membuatnya terus bersedih " panjang lebar Angel menguatkan dirinya mengatakan hal yang tak pernah ingin Ia ucapkan.
" Aku tidak mau! Kamu Adikku sampai kapanpun, dan Aku tidak peduli dengan pandangan siapapun tentang itu!" tegas Pieter menolak karena tak ingin merasakan kembali kehilangan seorang Adik, karena kini Ia benar benar sudah merasa bahagia dengan keluarga barunya.
__ADS_1
" Maafkan Aku" pungkas Angel meletakkan kedua kartu yang masih Ia pegang di atas meja taman dan berlalu pergi.
" ANGEL BERHENTI! " teriak kuat Pieter hingga terdengar oleh Brandon juga Alexa karena suara begitu keras dari seorang yang mencoba mempertahankan hubungan persaudaraan nya.
Alexa ingin beranjak pergi namun ditahan oleh Brandon karena tak mengijinkan Adiknya ikut campur. Brandon tahu jika istrinya tengah berusaha memutuskan hubungan dengan Pieter, karena istrinya sudah lebih dulu mengatakan meski tak menjelaskan apapun alasan dibalik keputusannya. Brandon pun tahu jika keputusan istrinya pasti kembali menghancurkan Pieter seperti saat dirinya kehilangan Adik kandungnya.
Brandon sudah berusaha menjelaskan akan dampak dari keputusannya, namun Angel seakan sudah membulatkan tekad akan keputusan yang Ia buat. Tanpa sedikitpun goyah akan keputusan yang sudah Ia buat, Angel merelakan kehilangan seorang Kakak yang juga sangat Ia sayangi hanya demi membuat Adik iparnya bisa bahagia tanpa memiliki rasa cemburu ataupun kecurigaan lagi.
" Maaf Kak, Aku tidak ingin melukai Alexa lagi. Tugasku sudah selesai untuk menyatukan kalian, Aku harap kalian bisa bahagia " batin Angel sambil berlari memasuki rumah tanpa lagi ingin bicara dengan Kakaknya.
Tangisnya tak mampu Ia tahan dan mengiringi langkahnya pergi langsung ke kamar, tanpa ingin menunjukkan air mata pada kedua orang yang menatapnya. Sementara Pieter masih tetap di taman memegang dada yang terasa sangat sakit karena harus kembali merasakan kehilangan orang yang Ia sayangi. Air mata tak sengaja jatuh dari kedua matanya melihat Adiknya berlalu begitu saja.
Brandon dan Alexa masih mengamati layar, dimana menunjukkan lelaki yang sudah duduk melebarkan kaki memegang dada seraya menunduk. Brandon dan Alexa tak tega melihat Pieter begitu terlihat tersiksa, bahkan tak pernah sekalipun dilihat oleh Alexa sikap calon suaminya seperti itu.
" Tidak Kak " kilah Alexa takut kemarahan Kakaknya karena pernah menuduh anaknya sebagai anak Pieter.
" Alexa, Kakak tidak tahu kenapa Angel seperti ini, tapi yang jelas sikap Angel memutuskan persaudaraan dengan Pieter akan kembali menghancurkan hidupnya. Pieter juga Angel sama sama saling menyayangi, Pieter menjadikan Angel sebagai Adiknya dan Angel menganggap Pieter sebagai Kakak juga Ayah. Untuk itu Kakak tidak pernah marah, cemburu ataupun curiga dengan kedekatan mereka. Alexa, Kita bisa menjadi pasangan mereka, tapi Kita tidak bisa mengisi kekosongan dalam diri mereka akan kasih sayang keluarga " panjang lebar Brandon menjelaskan semakin membuat Alexa merasa bersalah, namun tak berani mengakuinya.
" Mungkin Kamu tidak akan memahami betapa berartinya Olivia dan Angel bagi Pieter, begitu juga sebaliknya karena Kamu baru mengenal mereka. Kasih sayang mereka terlalu tulus bahkan melebihi hubungan kandung, yang bahkan Kamu, Kakak dan Mommy tidak pernah memiliki kasih sayang juga ikatan seperti mereka bertiga. Aku harap Kamu perlahan bisa mengerti dan tak mempunyai pikiran buruk tentang kedekatan mereka " tambah kembali seorang sahabat yang merasakan perubahan pada diri Pieter usai Ia memiliki keluarga lagi.
Semua penjelasan Brandon membuka lebar hati dan pikiran Alexa, dan menyadari betapa kekanakan sikapnya. Sedikitpun Ia tak mampu memahami lelaki yang Dia cintai, seperti Kakaknya memahami istrinya. Bahkan Ia merasa telah begitu egois pada Kakak ipar yang telah membantunya bisa dekat dan menikah dengan lelaki yang Ia cintai.
__ADS_1
Tapi semua yang sudah terjadi tak bisa untuk dirubah Alexa meski rasa sesal mendera batinnya. Ia masih tak tahu apa yang dilakukan Angel hingga membuat Pieter langsung datang dan menikahinya, namun apapun itu tak akan ada rasa terimakasih yang cukup untuk membalas Kakak iparnya.
Di kamar, Angel meluapkan seluruh air mata dengan perasaan sedih mendalam akan semua keputusan sepihak yang Ia buat. Matanya terus menatap dari balik jendela balkon dimana Ia mampu melihat jelas Kakaknya masih berada di sana yang sesekali mengangkat tangan ke wajah seperti orang menyeka air mata.
" Jika hanya untuk Kau ambil lagi, lalu mengapa Kau hadirkan perasaan sayang ini padanya? Aku tulus menyayanginya sebagai seorang Adik, tapi kenapa Kau juga membuatnya meninggalkanku? " batin Pieter dengan perasaan begitu terluka.
" Kakak sangat menyayangimu Angel, kenapa Kamu lakukan semua ini? Kamu dan Alexa memiliki tempat yang berbeda, lalu kenapa kalian tidak mengerti hal itu? " batin kembali lelaki yang memberikan cinta pada Alexa dan kasih sayang pada Angel dalam hati dan ruang berbeda.
Sedikitpun tak pernah terbesit dalam benaknya akan merasakan kembali luka yang sama ketika Ia harus kehilangan Adik kandungnya. Kasih sayang Angel dan Olivia padanya sudah menghanyutkan dirinya untuk melupakan segala perasaan sakit akan kehilangan. Namun keputusan mendadak Angel telah berhasil membuka kembali luka itu.
" Bersiaplah, Kita jemput Maya dan Daddy " lirih Brandon menepuk pundak sahabat yang sudah Ia hampiri.
Wajah murung terlihat dari Pieter yang menjawab dengan anggukan kepala. Ia beranjak pergi dan tetap membiarkan kartu yang pernah Ia berikan pada Adiknya di meja taman, dan diambil oleh Brandon yang masih berdiri menatap sahabatnya berlalu dengan perasaan iba. Ia tak tak menyangka jika akan kembali melihat ekspresi itu setelah bertahun tahun berlalu. Kehancuran begitu melekat kuat pada ekspresi murung sahabatnya, seakan tak memiliki lagi gairah hidup seperti dulu.
" Semua ini salah Angel, apa yang sudah Kamu pikirkan? " batin Brandon juga melihat istrinya yang masih berdiri di balik jendela balkon.
***
Satu jam berlalu, keempatnya sudah bersiap menjemput Olivia dan Adiyaksa di bandara. Brandon tak mengijinkan Pieter mengemudi dan pergi bersama Alexa dan Yudha, sementara dirinya pergi bersama Angel dengan mobilnya diikuti satu supir lagi yang juga ikut ke bandara.
Ketiga mobil itu melaju ke arah bandara beriringan, dengan mobil Brandon melaju di depan. Matanya sesekali melirik ke arah istrinya yang hanya diam saja dengan mata sembab menatap keluar jendela samping. Ia tak ingin membahas apapun tentang keputusan yang telah di ambil istrinya tanpa perundingan, sebelum istrinya sendiri yang menceritakan.
__ADS_1
Sedangkan Pieter juga terus diam melihat ponsel dan membaca ulang setiap pesan yang dikirim Adiknya. Tak ingin membuka foto terakhir yang dikirim oleh Angel, dan langsung menghapusnya. Karena Ia tahu jika foto tanpa Ia download lebih dulu itu bukanlah foto Adiknya, meski hanya terlihat buram saja. Setiap pesan dimana Adiknya masih memiliki perhatian hanya sekedar mengingatkan makan dan cepat beristirahat, membuat matanya berkaca kaca. Terlebih ketika Ia melihat foto dirinya bersama Angel dan Olivia dalam wallpaper ponsel pribadinya.