
Seperti biasa Pieter mengambil alih kemudi untuk menggiring mobil van hitam yang memang sengaja mengikuti mereka. Ia menggiring mobil yang terus mengutinya keluar tol dan membawa mereka ke area kosong.
Lelaki dengan pandangan dingin tersebut turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di sebuah tempat terpencil dan beberapa pengawal sudah memaksa keempat orang dalam mobil van tersebut turun. Mereka membawa keempatnya menghadap Pieter yang menyandarkan diri di samping mobil dengan mengantongi kedua tangan bertumpu pada kaki yang menyilang di atas tanah.
" A.. ampun Tuan, lepaskan Kami. Kami hanya menjalankan perintah " ucap Salah satu orang dengan kemeja abu abu kota yang sudah di tendang kakinya oleh pengawal hingga jatuh ke tanah.
" Siapa yang menyuruh kalian? " tanya Pieter santai dan dingin kepada keempat orang yang sudah berlutut di tanah dengan ditahan oleh pengawal di belakang masing masing orang.
" Tu..Tuan Gery, ampuni Kami " sahut pria yang sama dan begitu mengenal kekejaman Pieter hingga membuat mereka memohon ampun dan belas kasihan hanya dengan melihat tatapan dingin lelaki yang masih bersandar santi itu.
" Hubungi teman teman kalian, suruh mereka kembali sekarang " perintah Pieter langsung di laksanakan oleh salah satu orang diantara mereka berempat.
Orang suruhan dari pemilik sebuah hotel yang dibuat bangkrut oleh Pieter atas perintah Brandon, mengetahui jika Tuan muda tersebut akan memasuki tol dari seseorang yang sengaja melaporkan ketika melihat mereka memasuki restoran.
" Tuan ampuni Kami, Kami masih memiliki keluarga tolong jangan bunuh Kami " pinta seseorang dengan nada memohon yang amat menyenangkan hati Pieter dengan menyunggingkan senyum sinis.
" Apa Kau pikir Aku pembunuh? " tanya santai Pieter meraih tubuh pria yang terus memohon tersebut dan mematahkan kakinya dalam satu serangan beriringan dengan tangan yang mematahkan kedua lengan pria yang menjerit kesakitan tersebut.
" Aku tidak akan menghilangkan nyawamu, karena lebih menyenangkan melihatmu tersiksa dan mati perlahan " ucap tenang Pieter dengan nada dingin.
" Kau? bukankah Kau yang mengemudi untuk mengejar Tuan muda? " tanya santai Pieter menghampiri seorang pria yang sudah memohon ampun dalam air mata dan kembali menyunggingkan senyum sinis Pieter melakukan hal yang sama seperti oada orang yang kini sudah merintih kesakitan dalam mulut tersumpal beberapa tisu.
Pieter memberikan pelajaran pada keempatnya seperti biasa mematahkan kaki juga tangan keempatnya sendiri tanpa sedikitpun mengubah ekspresi tenangnya. Karena kaki dan tangan mereka sudah begitu lancang untuk mengikuti kendaraan Tuan muda nya, serta membuat nyawa semua orang terancam hingga harus membuat khawatir Adik yang tengah mengandung saat ini.
Tanpa melukai bagian tubuh lainnya karena hanya tangan dan kaki tujuannya, Pieter sengaja mebiarkan mata mereka melihat hingga bibir mereka akan menceritakan semua pada orang yang sengaja ingin mencelakakan Brandon agar Dia tahu siapa yang tengah berusaha Ia lawan.
" Lempar mereka pada Gery, dan bawa orang yang memberikan informasi tentang Tuan muda ketempat biasa. Tunggu hingga Aku kembali dan jangan menyentuhnya " perintah Pieter merapikan kemeja yang membalut tubuhnya.
" Baik Tuan " sahut semua pengawal yang mengikuti Pieter.
__ADS_1
Usai membereskan masalah yang menghalangi jalannya, Pieter langsung menghubungi pengawal yang ada di dalam mobil bersama Brandon menanyakan mereka sudah sampai mana dan mengarahkan pada rute tercepat.
" Apa itu Kakakku? " tanya Angel mendengar pengawal terus mengatakan Tuan.
" Iya Nyonya " sahut pengawal tersebut menoleh ke belakang.
" Berikan pada Adikku " perintah Pieter pada pengawal dari ujung telpon yang langsung memberikannya pada Angel.
Dengan cepat Brandon meraih ponsel yang di berikan pengawal dan membersihkannya dengan tisu layar yang sudah lebih dulu menempel pada wajah pengawal. Mata tak percaya Angel menatap tingkah suami yang begitu menjengkelkan karena Ia begitu ingin berbicara pada Pieter namun masih semoat untyk membersihkan layar ponsel.
" Apa Kakak baik baik saja? " tanya Angel khawatir usai menarik cepat ponsel pada tangan suaminya.
" Kakak baik baik saja Angel, jangan khawatir itu buruk untuk janinmu. Apa Kamu mau coklat dan es krim? " tanya Pieter dari ujung telpon begitu santai dengan nada diiringi senyuman.
" Tidak, Aku ingin Kakak berasamaku secepatnya " manja Angel mendapat tatapan tajam Brandon yang menggerutu pada istrinya.
" Baiklah, Kakak akan menyusulmu sekarang " sahut Pieter memasuki mobil setelah memastikan pengawalnya memasukkan keempat orang yang sudah terkapar seperti ikan daratan ke dalam mobil van.
" Iya Angel, Kakak juga menyayangi mu " pungkas Pieter menutup sambungan telpon bersamaan dengan Angel.
" Terimakasih " ucap Angel lembut kepada pengawal dan memberikan ponsel padanya dan direbut paksa oleh lelaki yang tak ingin bekas wajah istrinya tersentuh oleh tangan lelaki lain meski hanya melalui layar ponsel, hingga membuatnya membersihkan kembali dengan tisu.
" Angel, jangan mengatakan sayang dengan begitu lembut padanya! menyebalkan! " tegas Brandon memasang wajah jengah.
" Kamu juga menagatakan hal itu pada Adikmu " ucap Angel tak mau kalah.
" Itu karena Aku dan Alexa... " ucap Brandon terpotong oleh perkataan tegas dan tatapan melotot istrinya.
" Apa?! Kamu mau bawa bawa hubungan darah lagi?! " tegas Angel membulatkan mata langsung membuat nyali Brandon menciut dan memaksakan senyumnya.
__ADS_1
" Tidak, Aku tidak bicara seperti itu " seru Brandon terus memaksakan senyum di hadapan istri yang terus melotot padanya.
" Hubungan darah, hubungan darah! tidak selamanya hubungan darah itu lebih baik! " gerutu kesal Angel mengingat Carlos yang bahkan memiliki hubungan darah lebih kental namun tega membuat pria tak berperasaan itu menghancurkan hidupnya dan Olivia.
" Jangan marah marah, Kamu nanti cepat tua " ucap Brandon menirukan kata kata istrinya.
" Kenapa?! apa kalau Aku tua, Kamu akan pergi mencari yang lainnya?! " tegas Angel menatap tajam ke arah suaminya.
" Semenjak hamil kenapa selalu saja cepat marah, cepat baik, selalu saja berubah ubah " gumam Brandon lirih selalu merasakan perubahan cepat istrinya bahkan hanya dalam hitungan detik.
" Apa?! " tegur perempuan yang masih menatap suaminya.
" Tidak ada Angel, kemari " ucap Brandon menepuk pahanya agar Angel duduk di dalam pangkuan.
" Tidak mau! Kamu belum bau keringat!" sahut perempuan yang kini memalingkan wajah keluar jendela membuat suaminya amat frustasi jika sudah seperti itu.
" Apa Aku harus lari di belakang mengejar mobil ini biar bau keringat?! " tegas lelaki dengan wajah frustasi setengah berteriak.
" Tidak " seru lirih Angel mengembangkan senyum pada suaminya dan meraih tangan lelaki dengan ekspresi frustasi itu dan menggenggam dengan kedua telapak tangannya.
" Berubah lagi kan? " gumam Brandon dalam hati sambil membuang napasnya panjang.
Tiba tiba terasa sebuah tepukan mendarat pada punggung Brandon, ketika dirinya tengah memajukan tubuh untuk mendekat pada istri dengan senyum manja yang mulai terukir.
" Kakak, di sini masih ada orang " ucap Alexa mengingatkan kakak yang menoleh tajam ke arahnya.
" Tutup matamu! " tegas Brandon tak ingin menghentikan keinginannya untuk mencium bibir lembut yang sudah memalingkan wajah kembali tak ingin menjadikan sikap manja keduanya sebagai tontonan gratis Alexa.
" Tidak, Aku tidak mau. Kenapa harus tutup mata? " sahut Alexa sengaja memajukan wajah di samping tubuh Angel sambil menjulurkan lidah mengejek Kakaknya.
__ADS_1
Dengan membuang napas kasar, Brandon kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya seraya mengumpat lirih dengan kelakuan Alexa.
Sementara Pieter dengan cepat melajukan kendaraan agar dapat menyusul mobil yang membawa Brandon yang Ia perkirakan akan sampai beberapa menit lagi. Kakak angkat yang begitu menyayangi Adiknya, tak ingin lebih membuat cemas gadis kecil yang selalu mengkhawatirkan dirinya dengan segala perhatian dan kasih sayang itu.