
Angel dan Brandon kembali berjalan menuju ruang bawah tanah bersama, tanpa melepaskan tangan satu sama lain. Apapun yang terucap dari bibir istrinya memang benar adanya, mau kemanapun mereka pergi, bahaya akan selalu mengintai keselamatan mereka.
Tampak Olivia sedang menggendong cucu mungilnya bersama dengan Alexa, Brandon dan Angel langsung meraih tubuh putra mereka dan mencium. Kerinduan besar dirasakan Brandon pada kedua putranya, dua bayi yang telah ditinggalkan dari kemarin.
"Kita ke rumah, di sini tidak terlalu baik untuk mereka" ucap Brandon pada keluarganya.
"Apa semua sudah baik baik saja?" tanya Olivia.
"Tenanglah Maya, semua baik baik saja" jawab Brandon.
Pieter yang tiba lebih dulu sudah di cerca banya pertanyaan dari Mama juga istrinya mengenai apa yang terjadi. Sebisa mungkin laki laki yang saat ini sedang memangku putrinya itu membuat tenang keluarga, agar tak terlalu cemas memikirkan apa yang terjadi.
Brandon sudah memerintahkan anak buahnya untuk membereskan semua kekacauan sebelum ia mengejar istrinya tadi. Semua terlalu berantakan akibat perkelahian yang terjadi, bahkan darah juga terdapat dimana mana.
Tuan muda tampan tersebut tidak mau jika sampai semua kekacauan itu terlihat, pasti akan menimbulkan sebuah ketakutan tersendiri. Terlebih noda darah yang jelas membuat adik dan mertuanya bertanya tanya, karena Brandon tidak mau semua tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Pieter juga tak mengatakan sejujurnya, seperti yang diminta oleh Brandon sebelum ia menikahi Angel dulu. Brandon dengan keras meminta agar Olivia tak sampai tahu jika dirinya terlibat banyak perkelahian bahkan sampai membunuh.
Ia hanya tak mau jika Olivia memisahkan dirinya dari Angel begitu mengetahui kehidupan yang dijalani. Berapa banyak nyawa yang lenyap, berapa banyak darah yang tumpah, semua tak pernah terucap secara jelas pada seorang Ibu yang pasti tidak mau putrinya berada ditengah kekacauan.
Meskipun harus terus berbohong menutupi kenyataan yang ada, semua harus tega dilakukan demi sebuah hubungan telah terjalin. Olivia hanya mengetahui jika menantunya memiliki banyak musuh, dan itu dianggap sebuah hal biasa dalam persaingan bisnis.
Namun Olivia belum mengetahui jika menantu juga putra yang ia sayangi telah banyak menumpahkan darah dengan kebengisan mereka. Alexa juga tidak menjelaskan apapun sama halnya Angel, mereka hanya mengatakan sebuah urusan sedang diselesaiakan ketika suami mereka pergi dalam sebuah misi.
***
Semua telah diganti di rumah dalam satu hari, jendela dilengkapi anti peluru juga cctv serta kecanggihan teknologi lainnya. Segalanya terselesaikan satu hari sesuai perintah dari Brandon yang mengawasi langsung orang orang telah dihubungi Yudha.
__ADS_1
Bahkan sekeliling luar rumah pun tak luput dari keamanan canggih teknologi yang disiapkan Brandon untuk keamanan keluarganya. Malam ini semua kembali berkumpul seperti tak terjadi apapun, bermain bersama anak anak bersama melihat keceriaan Quen juga Dio yang berlarian dalam rumah.
Darell, Vienna dan Yudha baru kembali dari semua tugas yang dibebankan pada mereka. Usai membersihkan semua manusia bodoh coba menyerang keluarga Tuan mereka, ketiganya masih memiliki tugas lain dan baru memasuki rumah Tuan mereka kembali untuk melaporkan segalanya.
Brandon sengaja tak meminta Pieter melakukan apapun, karena ingin agar adik iparnya mendampingi adik juga keponakannya seharian ini. Brandon tahu kecemasan Alexa walau tanpa ada kata terucap, hal sama juga dilihat Pieter dari sikap diam istrinya.
"Maaf Tuan, bisa saya menyampaikan sesuatu?" sopan darell, sudah dipersilahkan duduk bersama.
"Katakan" sahut lelaki sangat nyaman meletakkan kedua anaknya di dada dengan duduk bersandar.
"Tuan Adiyaksa sedang dalam perjalanan kemari, mungkin esok beliau baru tiba" ucap Darell, mendapatkan kabar dari anak buah Brandon.
"Oke" sahut santai Brandon, tanpa melihat ke arah Darell dan hanya fokus pada kedua putranya saja.
Memegangi tubuh kedua jagoan kecilnya, Brandon tak ingin fokus pada apapun. Angel menatap aneh pada suami yang duduk di sampingnya, ia tak mengira jika jawaban yang diberikan hanya sekedar oke dalam nada santai hingga kembali mengulang apa yang diucapkan oleh darell.
"Kenapa?" santai Brandon menatap perempuan juga ikut memegang tubuh belakan kedua putra mereka.
"Daddy besok tiba, lebih baik kamu menjemputnya. Aku tak..." terputus Angel, Brandon mengangkat cepat punggung sedang santai bersandar karena terkejut.
"Apa?!" teriak kuat Brandon, memecahkan tangis kedua putra dalam dadanya hingga mendapat pukulan keras istrinya pada lengan.
"Kamu sudah gila?! mereka terkejut!" kesal Angel melotot.
Brandon segera berdiri tanpa melepas tubuh kedua putranya, menggoyangkan mereka bersama agar tenang. Suara tangis menggelegar menghiasi dua telinga Daddy yang merasa bersalah akan sikap ditunjukkan. Semua ikut terperanjat karena teriakan kuat Brandon.
Ia benar benar tak mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh Darell mengenai Adhiyaksa. Untuk itulah ketika istrinya mengulang hal yang sama dengan bertanya, Brandon terkejut bukan main.
__ADS_1
Melihat ekspresi ditunjukkan suaminya, Angel mengernyitkan dua alis dan menatap dengan tatapan aneh serta penuh tanya.
"Kalian kembali kembali ke rumah!" ucap Brandon pada Alexa dan Pieter.
"Why?" santai Alexa.
"Daddy kembali besok, jadi..." sahut Brandon terputus atas teriakan bersama Alexa dan Pieter dengan mata membulat.
"Apa?!" teriak keduanya kuat, kembali pecah tangis si kembar dibuatnya. Brandon tidak terima, mengarahkan kaki pada adik dan adik iparnya untuk memprotes.
"Kalian ingin membunuh anakku?! dasar bodoh!" tegas Brandon melotot pada kedua orang berdiri di hadapannya.
"Kamu juga sama!" kesal kembali Angel, meraih tubuh putranya bersama Olivia.
Darell melongo tidak memahami apapun, merasa apa yang telah ia sampaikan tadi cukup jelas untuk di mengerti. Namun ekspresi terkejut yang justru ditunjukkan terlambat, membuatnya bingung dan menatap ketiganya bergantian.
"Apa aku kurang jelas mengatakan?" batin Darell.
Darell benar benar tak memahami bagaimana sifat Pieter ataupun Brandon. Keduanya sangat aneh ketika di hadapan istri mereka masing masing. Tak jarang Darell berpikir jika perempuan memang selalu membuat orang cerdas menjadi bodoh ketika terjerat cinta mereka.
Hal itu juga dirasakan kuat oleh Darell ketika bersama Viena. Ia justru menjadi seorang lelaki penurut yang tak banyak menuntut, ketakutan terus membayangi saat berada bersama.
Mungkin memang benar jika cinta dan kebodohan memang sahabat karib yang tak pernah bisa berpisah dalam kehidupan.
Sama halnya Brandon, Alexa dan Pieter yang terhanyut dalam kebersamaan berdua pun tak mendengar seksama apa yang di utarakan oleh Darell. Nyaman bersandar dalam dekapan hangat suaminya dan duduk berdampingan, Alexa tidak memperdulikan hal lain.
Kedatangan tanpa kabar dari Adhiyaksa memang mengejutkan, apalagi setelah semua yang terjadi. Lama mereka tak pernah berjumpa dengan Daddy mereka, berhubungan via suara pun jarang dilakukan karena kesibukan Adhiyaksa dalam bisnis.
__ADS_1