Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 226


__ADS_3

(Buat yang mau gabung GC bisa sebutin novel yang dibaca ya biar aku gak perlu cek profil satu2 dan langsung ke accept😘😘)


***


Beranjak dari duduk mengantar kepergian suami mereka, Alex Adan Angel dihentikan oleh Brandon dan Pieter agar tetap berada di dalam ruang bawah tanah.


Keduanya tak lupa untuk memberikan pelukan serta ciuman sebelum pergi, dan berpesan agar tak keluar dari ruang bawah tanah walau apapun yang terjadi.


Tidak tahu apakan orang Jackson masih mengintai atau tidak, namun keduanya berpesan demi keselamatan yang bisa saja terancam kapanpun.


Mengangguk menuruti, Alexa dan Angel tidak mau membuat keduanya semakin repot karena harus memikirkan mereka. Sama sama berpesan agar suami mereka menjaga nyawa, dan kembali selamat.


Walaupun berat harus melepaskan suami dalam keadaan wajah seperti itu, Angel harus menguatkan hatinya dan berdoa semoga Daddy dari kedua anaknya tetap bisa mendampingi pertumbuhan anak mereka bersama.


Melaju kembali menuju tempat sudah diberikan Viena pada ponsel Pieter, Brandon memerintahkan tegas anak buahnya untuk menjaga ketat rumah serta kemanan keluarganya sebelum pergi.


Memperingatkan agar tak terjadi hal serupa, Brandon juga memerintahkan agar pengawal menyebar untuk mencari di semua titik yang mungkin menjadi tempat persembunyian kawanan Jackson.


Sementara Darell dan Viena yang sudah terendus keberadaannya, melawan semua anggota Jackson berdua. Melenyapkan dengan tembakan agar lebih cepat, walau sama sama tak menyukai hal itu.


"Viena, kita bertukar!" cepat Darell berucap, segera Viena beranjak dari jok samping dan bergeser tukar tempat dengan Darell.


Mobil terus melaju dengan suara tembakan bergemuruh, Darell tak bisa untuk mengukur waktu dan membiarkan Jackson lolos. Untuk itu ia tak segan melemparkan peledak pada beberapa mobil telah dilewati oleh Viena.


"Lewati dua mobil di depan!" tegas Darell, seraya mengarahkan pistol pada ban mobil berada di depan mereka.


Menembak ban mobil tengah menghalau mobil Jackson di depan, Darell sudah menyiapkan peledak di tangan dan melemparkan ketika calon istrinya sudah berhasil melewati.


"Pembunuh!" tegas Viena tetap mengemudi, menyeringai Darell ke arahnya.


"Tapi kamu cinta bukan?" sahut Darell, dibalas senyum tipis wanita cantik masih mengemudi dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


Layaknya pasangan serasi dengan banyak kegilaan yang sama, Viena dan Darell memang buas saat bertugas. Namun keduanya menjadi seorang berbeda ketika bersama, dan hanya meluapkan perasaan satu sama lain.


Kini hanya tinggal satu mobil milik Jackson yang harus mereka kejar, karena semua pengawal yang di bawa sudah berhasil dihabisi dengan tembakan juga ledakan.


Mengecoh mobil ingin di salip menggunakan lampu, Darell langsung membidik kepala pengemudi dari gerombolan Jackson. Bukan sedikit orang yang dilawan, tapi bisa teratasi hanya oleh dua orang saja.


Tembakan diluncurkan Jackson juga Kenan ke arah mobil kini dikemudikan oleh Viena. Tapi mobil berlapis anti peluru itu tak bisa membuat kedua orang masih tetap mengejar itu terluka.


Darell segera melesatkan proyektil pada dua ban belakang mobil Jackson, dan membuatnya oleng. Segera turun begitu mobil Jackson terhenti meninggalkan jejak rem pada jalanan, Darell dan Viena menghampiri mobil dengan pistol di tangan.


"Dasar sial!" umpat Kenan dan Jackson bersamaan.


Kenan dan Jackson turun dari mobil dengan dua orang yang masih tersisa. Melawan dalam perkelahian sengit, Darell berusaha mengulur waktu hingga Brandon dan Pieter tiba.


Viena menarik Sonya dari dalam mobil, memukul wanita pernah ingin menyakiti Angel dan membuatnya gagal dalam tugas. Ilmu bela diri tak bisa ditandingi oleh Sonya, membuatnya tewas seketika hanya dengan serangan sederhana Viena.


Tidak ada perkelahian yang terjadi karena Sonya hanya berlindung di balik pistol yang ia bawa, tapi dengan sangat mudah dikeluarkan pelurunya oleh Viena.


Tidak lama perkelahian, tampak mobil Brandon tiba bersama Pieter. Kenan yang hendak kabur pun sudah di atasi oleh Viena, dengan Darell membekuk tubuh Jackson.


Kedua orang sudah mengatasi segala masalah itu, tak berani menyentuh Jackson dan Kenan lebih atas perintah Tuan mereka. Hanya sedikit memberikan pelajaran agar tak bisa lolos, keduanya menahan Jackson dan Kenan untuk menjadi santapan Tuan mereka.


Bangga dan bahagia melihat banyak mobil terbakar ketika melintasi menuju titik GPS yang dikirimkan terus oleh Viena, Brandon dan Pieter tak melepas senyum dalam perjalanan.


Bahkan kini kedua sahabat dengan tubuh tinggi dan raut wajah santai itu, turun dari mobil dan berjalan beriringan menghampiri kedua musuh sudah berlutut dengan tangan terkunci dibelakang.


"Butuh bagian?" santai Brandon bertanya pada Pieter.


"Aku sudah kenyang memakan adikmu, makan sendiri saja mereka" santai Pieter tertawa.


"Dasar pedofil mesum" gumam Brandon menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Apa kau mengatai diri sendiri?" goda Pieter tersenyum, dibalas senyuman cool Brandon.


"Aku ingin segera pulang dan menghabisi istriku" ucap Brandon.


Berdiri tepat di hadapan Jackson, memerintahkan Darell untuk melepaskan dengan isyarat saja. Brandon tak mau melawan musuh tak berdaya, dan lebih menyukai perlawanan sengit.


Tanpa perkataan apapun, lelaki sudah tergores wajahnya itu langsung menyerang Jackson. Sedangkan Pieter berdiri bersandar melipat tangan di depan dada dan menyaksikan aksi sahabatnya tanpa ikut campur.


Rela menerima luka dari pisau lipat diberikan Jackson pada lengan juga perutnya, Brandon tak berhenti melawan hingga Jackson tewas mengenaskan dengan kepala patah.


Meluapkan segala amarah akan penyerangan yang ia ketahui adalah anak buah Jackson, membuat Brandon tak segan mematahkan sekujur tubuhnya karena nyawa istri dan anak sempat terancam.


Tubuh pemimpin kelompok hitam itu, kini sudah tak terlihat lagi seperti apa bentuknya dan hanya ada darah mengucur tanpa henti. Tertancap pada sebuah besi dipinggir jalan, Brandon meninggalkan mayat Jackson dan beralih menghampiri Kenan.


Namun lelaki yang menyaksikan kekejaman Brandon dengan mata kepalanya sendiri itu, semakin menciut dan meraih pistol dari Viena lalu mengakhiri nyawanya sendiri dengan menembak sisi kanan kepala.


"Ah, dasar pecundang!" geram Brandon menendang mayat Kenan seperti sampah berserak.


"Aku pikir ini akan lama, ternyata hanya sampai sini?" tambah Brandon menggelengkan kepala.


"Urus lukamu" ucap Pieter meraih tubuh sahabat tengah berdarah pada lengan dan perut.


"Bakar mereka!" perintah Brandon tegas, sembari menahan perut terus mengeluarkan darah.


"Baik, Tuan!" sahut Viena dan Darell bersamaan.


Kemenangan yang ia dan timnya raih tanpa menewaskan siapapun, membuat Brandon puas. Namun bukan berarti jika musuh sudah berhenti sampai disitu, karena hilang satu jelas ada seribu lain yang mengintai.


Pieter membawa sahabat yang seolah tak merasakan sakit karena amarah dalam diri akan nyawa terancam keluarganya, ke rumah pribadi miliknya. Mendapatkan kabar dari semua anggotanya yang melapor, Brandon memerintahkan sama untuk membakar semua mayat lawan dan segera menemuinya ketika usai.


**LIKE ya...... Kalau ada poin/koin bolehlah kasih vote buat novel ini, oks? oks lah.

__ADS_1


Makasih banyak😘😘**


__ADS_2