
Sesampainya di bandara, sudah ada Adiyaksa dan Olivia menunggu, tanpa adanya Viena juga Dio yang sudah diminta Adiyaksa untuk fokus merawat putranya di kediaman pribadi miliknya di London. Tentu saja atas ijin dari Brandon, dan menggantikan orang lain sebagai pengawal pribadi Olivia.
" Mama! " teriak Angel berlari ke arah wanita dengan celana jeans panjang juga kemeja putih yang dilapisi blazer hitam.
Tanpa basa basi, Angel yang begitu merindukan Mamanya langsung memeluk erat wanita dengan kacamata coklat besar itu. Senyum Brandon mengembang melihat istrinya begitu bahagia, setelah tadi menampakkan wajah lesu dan murung.
Alexa juga sudah memeluk Adiyaksa, sementara Pieter dan Brandon masih berdiri di balik tubuh kedua gadis manja itu. Olivia mencoba meraih tubuh Pieter agar bisa Ia peluk bersama Angel, namun gadis kecil dengan rok pendek dan kaos itu langsung melepas pelukan pada Olivia begitu tahu jika Mamanya hendak memeluk Pieter.
Lagi lagi sikap Angel tanpa sengaja melukai perasaan Kakaknya. Seketika Olivia merasa aneh akan sikap yang ditunjukkan putrinya, karena biasanya Ia mau saja dipeluk bersama dengan Kakaknya.
" Maya, Daddy malam ini sebaiknya kalian menginap di rumah. Ada hal penting yang harus Kita bicarakan " tegur Brandon pada kedua orang yang masih sama sama memeluk anak mereka.
" Apa ada masalah?" ingin tahu Adiyaksa masih bersama Alexa.
" Kita bicara nanti, sebaiknya Kita makan dulu dan pulang " ucap lelaki dalam balutan celana panjang di atas mata kaki berwarna krem tersebut.
" Baiklah " singkat Adiyaksa.
Semua orang beranjak pergi, dengan Angel masih bersama suaminya dan Pieter bersama Alexa, sementara Adiyaksa menggunakan mobil lain bersama Olivia yang sudah disiapkan Brandon.
Sebuah restoran bintang lima tak jauh dari bandara, menjadi tujuan mereka untuk menikmati makan bersama. Meja bulat besar sudah di pesan Brandon lebih dulu melalui sambungan telpon, karena Ia tak ingin meminta tolong sahabat yang kini terlihat begitu menyedihkan.
Makanan lebih dulu di pesan Brandon agar mereka segera mengisi perut, karena sudah melewatkan makan siang dari satu setengah jam lalu. Dengan telaten, Brandon memotong steak agar istrinya bisa langsung makan lalu memberikan piring berisi steak itu kehadapan istrinya.
" Nak, sejak kapan Kamu suka daging? " tanya Olivia melihat Angel heran, karena putrinya tak pernah menyukai daging dari dulu.
" Apa Kamu tidak suka daging? " terkejut suami yang selalu meminta istrinya mengkonsumsi daging untuk pertumbuhannya.
Senyum juga gelengan kepala ditunjukkan Angel ke arah suaminya. Walaupun tak menyukai daging juga susu segar, Angel tetap mengkonsumsi itu demi menyenangkan hati suaminya.
" Angel tidak menyukai daging, susu segar, sawi hijau, buncis juga kedelai Brandon. Angel juga alergi seafood " jelas Pieter mengenal betul Adik angkatnya, mengejutkan semua di sana kecuali Angel dan Olivia.
" Wah Kak, Kamu benar benar memahami dengan baik " seru Alexa di samping Pieter dengan mata membulat takjub.
" Tentu saja, Dia Adikku " bangga Pieter melirik ke Angel yang menundukkan wajah.
" Apa selama ini Kamu selalu makan yang tidak Kamu sukai? kenapa Kamu memakannya jika tidak suka? " lirih Brandon ke arah istrinya.
__ADS_1
" Karena Kamu menyukai semua itu, sudahlah hanya soal makanan bukan masalah besar " senyum Angel melahap steak dengan cepat.
" Tapi Kamu sangat lahap? " tambah Brandon menatap istrinya.
" Angel akan makan dengan cepat saat Dia tak menyukai makanannya, agar Ia bisa secepatnya minum dan makan dengan lambat saat Dia sangat menyukai makanannya " jelas kembali Pieter mengembangkan senyum Adiyaksa, tak menyangka jika lelaki yang di anggapnya putra kandung itu benar benar memahami Angel walau bukan Adik kandungnya.
" Kalian benar benar saling memahami satu sama lain " senyum Adiyaksa mengetahui jika menantunya juga menghapal semua yang di sukai dan tidak di sukai oleh Pieter.
Pieter dengan jelas mengingat semua bahkan kebiasaan Adiknya juga sangat Ia ingat, bahkan Brandon saja tak mengetahui begitu rinci tentang istrinya. Hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja ketika tinggal bersama, Pieter sudah sangat menghapal semua tentang gadis yang masih menundukkan wajah di hadapannya.
Tanpa sedikit pun merasa aneh ataupun cemburu, Brandon justru mengembangkan senyum dengan menatap sahabatnya. Kemampuan Pieter untuk cepat memahami seseorang tak pernah Ia ragukan. Bahkan Ia bisa memahami semua hingga titik lemah seseorang hanya dalam hitungan jam, untuk itu Pieter selalu menjadi tangan kanan terbaik bos besar yang mengacungkan jempol ke arahnya itu.
***
Empat jam setelah menyelesaikan makan juga perjalanan, mereka sudah tiba di kediaman Brandon, yang rencana nya akan menginap semua disana untuk bisa mempersiapkan bersama acara pernikahan esok hari. Pieter berencana membicarakan tentang pernikahannya dengan Alexa pada Adiyaksa juga Olivia, usai mereka membersihkan diri dan beristirahat sejenak.
Tepatnya pukul delapan malam, semua sudah kembali berkumpul di ruang keluarga. Angel tak henti menggelayut pada Mamanya di samping Pieter juga Alexa. Sementara Adiyaksa duduk di sofa berbeda dengan Brandon dihadapan keempat orang tersebut.
" Aku buatkan minum dulu biar Kita bisa enak ngobrol " ucap Alexa langsung membuat Kakaknya yang trauma langsung berdiri menarik istrinya.
Matanya memberi isyarat agar Angel pergi ke dapur sebelum Alexa, karena tak ingin kembali merasakan minuman buatan Adiknya.
" Alexa, biar Aku saja " ucap Angel melegakan suami yang langsung tersenyum puas di hadapannya, diiringi tatapan bingung Adiyaksa juga Olivia serta senyuman Pieter.
" Tidak perlu Kak, biar Aku yang membuat sekalian Aku buatkan salad untuk kalian " senyum Alexa berdiri dan di cegah cepat oleh Kakaknya.
" Tidak perlu! Kamu duduk saja! " tegas Brandon mencegah Adiknya pergi dan langsung mendorong tubuh istrinya ke arah belakang.
Lelaki yang begitu trauma akan kejadian tadi pagi, mendorong kedua pundak Adiknya agar duduk dan mengisyaratkan Pieter untuk memulai pembicaraannya agar Alexa tak memaksa untuk ke dapur dan kembali menghancurkan mulut juga perutnya.
" Ma, Om, Saya ingin menikahi Alexa dan semua sudah Kami persiapkan untuk pernikahan Kami besok. Kami harap kalian merestui pernikahan Kami " ucap Pieter mengejutkan Olivia dan Adiyaksa.
Adiyaksa menatap putranya yang sudah kembali duduk di dekatnya, namun hanya mendapat balasan dengan pundak terangkat juga tangan mengarah ke arah Pieter, agar Adiyaksa kembali memperhatikan kedua orang yang ada lurus dihadapannya.
" Nak, kenapa begitu mendadak? Mama belum menyiapkan apapun untuk itu. bagaimanapun juga Kamu anak Mama sekarang " ucap Olivia memegang pundak putra angkatnya.
" Ma, tidak perlu menyiapkan apapun. Pernikahan ini akan terjadi sama seperti Brandon dan Angel dulu " senyum Pieter pada wanita cantik dengan tatapan terarah padanya.
__ADS_1
" Alexa, apa Kamu hamil?! " tegas Adiyaksa langsung menyentak Olivia dan Alexa menatap ke arah pria berkacamata itu.
" Tidak Daddy, Aku bisa mengetesnya sekarang jika Daddy mau " protes keras Alexa.
" Lalu kenapa begitu mendadak? " tanya kembali Adiyaksa.
Pieter menjelaskan semua pada Adiyaksa juga Olivia mengenai rencana pernikahan yang memang membuat keduanya terkejut. Namun Adiyaksa juga Olivia hanya bisa menerima dan merestui semua yang sudah menjadi pilihan keduanya, karena yang menjalankan juga mereka berdua, tanpa ingin lagi menanyakan semua alasan mereka, terlebih Brandon sudah merestui keduanya.
Seorang suami yang mengecek ponsel istrinya, tak ikut mendengarkan apapun yang keempat orang itu bicarakan. Ponsel Angel yang tak pernah berhenti berbunyi di atas meja membuatnya penasaran, hingga membaca semua pesan di grub istrinya. Kepalanya tak henti menggeleng membaca pesan dan candaan anak anak sekolah jaman sekarang. Bahasa gaul tak bisa Ia pahami hingga harus mencarinya di internet agar bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.
" Apa begini caramu bergaul dengan teman temanmu?! " tegas Brandon begitu istrinya tiba dengan pelayan membawa nampan berisi minuman, dan mengejutkan semua orang karena suara setengah berteriak Brandon dengan menyodorkan ponsel ke arah istrinya, dimana hanya ada bahasan tentang laki laki di sana.
" Dan ini, siapa pangeran tampan yang mencari mu?! " tegas kembali Brandon membaca pesan pada grub kelas istrinya.
" Mana Aku tahu, Kamu bisa bertanya langsung ke mereka " lembut Angel sambil meletakkan cangkir dengan minuman berbeda pada semua orang.
Tanpa menunggu lama, suami dengan perasaan kesal dan cemburu itu langsung membalas pada grub untuk mencari tahu siapa yang mereka maksud. Dalam pesan yang menceritakan jika Kenan kemarin mencari Angel ke kelas, dan bertanya langsung pada temannya tentang Angel sontak langsung membuat Brandon menunjukkan ekspresi marah.
Salah satu teman kelas Angel, yang kala itu ikut nonton dan di traktir oleh sekretaris donatur sekolah mereka, memberikan nomor ponsel Angel pada Kenan yang terlihat mengkhawatirkan gadis cantik yang sudah duduk di samping Mamanya. Hari sabtu kemarin dengan sengaja Kenan datang dan ingin menemui Angel, namun kepala sekolah mengatakan jika Angel tengah libur karena sakit.
Segera lelaki berwajah merah padam itu melihat pada daftar panggilan ponsel istrinya, dan benar saja banyak sekali panggilan dari nomor Kenan yang tak terjawab. Karena Angel tak pernah menjawab ataupun membalas pesan dari nomor yang tak Ia simpan. Brandon benar benar yakin jika itu adalah nomor Kenan, usai Ia cocokkan pada ponsel bisnis miliknya.
Matanya terpejam untuk menahan amarah juga rasa cemburu, namun tangannya begitu kuat menggenggam ponsel istri yang masih Ia pegang. Semua orang di ruang keluarga itu mengetahui, jika Tuan muda di dengan kaki menyilang serta rahang mengeras itu tengah diliputi emosi.
Tanpa ingin menunjukkan kecemburuan juga amarahnya, Brandon bergegas pergi tanpa berpamitan pada siapapun. Ponsel Angel masih Ia bawa, dengan ponsel miliknya menghubungi Darell. Ia ingin jika tangan kanan keduanya mengawasi setiap apa yang dilakukan Kenan mulai malam ini, dan tak mengijinkan lelaki tersebut kembali lebih dulu.
Angel bergegas mengikuti suaminya, membuat semua orang disitu penuh tanya akan apa yang sudah terjadi hingga lelaki tinggi tegap tersebut terlihat begitu marah. Sampainya di taman, Angel langsung menghampiri suaminya yang masih berdiri dengan meletakkan tangan kiri di pinggang satunya masih melihat ponsel di mana grub masih membahas tentang Kenan yang mereka kagumi.
" Sa... " tegur Angel terputus langsung ditarik suaminya dan dinikmati bibirnya dengan begitu rakus.
" Jangan mengkhianati ku! atau Aku bisa membunuhmu! " ancam tegas Brandon dengan wajah penuh amarah, begitu dekat di hadapan istrinya.
" Kamu milikku! cuma milikku! " tegas Brandon penuh penekanan dan melanjutkan lagi untuk menikmati istrinya.
Tubuh sintal dengan mata membulat penuh kebingungan itu, sudah mulai terdorong ke arah pohon besar yang daun daunnya mampu meneduhkan kursi taman di siang hari. Leher jenjang tak luput dari luapan kecemburuan suami yang sengaja meninggalkan banyak bekas merah sebagai tanda jika Angel sudah ada yang memiliki.
Dadanya begitu sesak mengetahui jika Kenan masih saja mengejar istrinya hingga kini, Ia tak ingin kehilangan Istri yang amat dicintainya. Rasa cemburu juga amarah Ia lampiaskan dengan setiap sentuhan pada seluruh tubuh istrinya, tanpa mengingat lagi dimana mereka berada saat ini.
__ADS_1