Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 192


__ADS_3

Tanpa tertidur sedikitpun, Angel terus berusaha menghubungi suami juga kaki tangan suaminya. Tidak tahu sudah berapa puluh atau ratusan kali ia mencoba menghubungi, namun tetap tak ada jawaban. Sampai harus menggunakan telpon rumah, ketika ponselnya telah kehabisan daya.


Hingga pagi hari, Angel tetap duduk di samping telpon rumah di ruang tengah. Viena yang lebih dulu bangun, menghampiri perempuan tengah duduk cemas tersebut.


"Ada apa Nyonya?" tegur Viena berdiri di depan Angel.


"Viena, tolong hubungi salah satu pengawal yang ikut suamiku ke Singapore, atau hubungi pengawalnya yang ada sana" cepat Angel berkata.


"Baik Nyonya" sahut perempuan dengan kaos oblong besar tersebut meraih ponsel di kantong samping celana training panjangnya.


Dengan cemas Angel menunggu Viena yang tengah mencoba menghubungi salah satu pengawal yang ikut bertugas mengawal Tuan mudanya. Wajahnya penuh harap menatap Viena, terlihat jelas dalam binar matanya harapan itu.


"Bagaimana?" langsung Angel bertanya usai Viena menutup panggilan telpon.


"Tuan tengah meeting Nyonya, Tuan muda tidak bisa kembali untuk waktu yang tidak bisa dipastikan. Tapi Tuan baik baik saja disana, Tuan tidak bisa menjawab panggilan karena tengah membahas masalah perusahaan dari semalam" kilah Viena, melegakan batin Angel.


"Syukurlah, terima kasih banyak Viena" lega Angel berucap memegang dadanya.


Angel kembali ke kamar dengan perasaan sedikit lega. Walaupun suaminya tak bisa cepat kembali, namun ia lega karena suaminya tengah baik baik saja. Tapi hatinya belum benar benar tenang, terasa sesuatu masih mengganjal.


Viena kembali ke kamar dan menghubungi Darell, menanyakan kepastian kabar yang di sampaikan pengawal yang tadi di hubunginya. Sengaja Viena berkilah, mengingat kondisi kehamilan Angel juga kondisi tubuh terlihat lemah tadi. Perempuan cantik tersebut menyembunyikan rasa terkejutnya di balik wajah dingin, agar tak terlihat mencurigakan di hadapan Nyonya mudanya.


"Darell, benarkan Tuan muda tertembak semalam? bagaimana kondisinya?" tanya Viena berbisik pada Darell di ujung telpon, agar tak terdengar Dio yang mungkin mengatakan karena kepolosannya.


"Benar, proyektil sudah bisa dikeluarkan namun Tuan muda sekarang tengah kritis. Tapi tenang saja, aku yakin Tuan muda akan baik baik saja karena proyektil tidak mengenai jantung" jelas Darell sesuai penjelasan Dokter.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? apa Kau tidak memeriksa keadaan di sana lebih dulu?" tanya Viena.


"Sniper Viena. Viena aku minta rahasiakan ini dari siapapun termasuk Nyonya" sahut Darell tetap menjaga Brandon di kamar hotel, tanpa sedetikpun meninggalkan.


"Siapa mereka?" tanya kembali Viena.


"Mereka anggota black dragon, tapi sepertinya Tuan sudah mengetahui siapa dalangnya. Ketua mereka tidak ingin mengatakan apapun, bahkan dia tidak tahu jika sasarannya Tuan muda. Kalaupun dia tahu, jelas tidak akan mengambil job ini" jelas Darell panjang lebar.


"Baiklah, jaga Tuan muda di sana dan beritahu aku kabar selanjutnya" jawab Viena.


"Baik Viena" pungkas Darell mematikan telpon.


Semalam, Darell langsung menghubungi ketua kelompok sniper tersebut begitu selesai mendampingi Tuan mudanya dirawat. Hanya dengan foto tato saja, Darell bisa mengetahui siapa mereka. Ketua kelompok yang berada di Jepang tersebut memohon ampun, karena tidak mengetahui siapa target buruannya kali ini.


Memang mereka tidak pernah ingin tahu siapa target mereka dan masalah apa yang terjadi, hanya uang dan tugas saja menjadi bahasan ketua tersebut dalam menjalankan bisnis gelapnya. Mengetahui jika Brandon adalah target anak buahnya semalam, ketua dari dua orang sudah tewas tersebut merasa ketakutan dan berulang memohon ampun, tapi tetap tak bisa memberitahu siapa kliennya dan dimengerti oleh Darell.


Banyaknya darah yang keluar, juga pembedahan karena pengambilan proyoktil yang dalam, membuat Brandon masih dalam keadaan tak stabil. Ia masih membutuhkan pengawasan juga transfusi darah, tapi mengetahui jika proyektil tersebut tak sampai merobek jantung cukup melegakan Darell, dan meyakini jika Tuannya akan mampu melewati keadaannya saat ini.


"Anda adalah malaikat buat saya, anda penyelamat hidup saya. Biarkan saya membalas semua itu dengan mengabdikan seluruh hidup saya selamanya, saya tahu anda lebih kuat dari apa yang saya pikirkan, jadi bertahanlah Tuan"tulus Darell sembari duduk di samping ranjang menatap ke arah wajah penyelamatnya.


Darell tidak ingin sesuatu terjadi, ia terjaga sepanjang malam tanpa sekalipun melepas pandangan mata pada Tuannya, demi memastikan jika lelaki tengah terbaring melawan mau tersebut tetap bernapas. Terus berdoa berharap jika orang tegas dan dingin namun berhati mulia tersebut, akan segera kembali memerintah seperti hari hari sebelumnya.


Tidak pernah Darell melihat orang yang ia lindungi nyawanya itu, terlihat tidak berdaya seperti saat ini. Matanya terus terpejam dengan alat alat menempel pada dada bidangnya. Oksigen masih melekat, dengan tangan terhubung pada selang darah yang mengalir kedalam tubuhnya. Walaupun terpejam, namun wajahnya tak pernah kehilangan kharisma akan seorang pemimpin.


Darell sangat mengagumi Brandon, seorang penguasa dengan banyak kekuasaan namun memiliki hati yang tulus. Ia selalu memastikan jika tak ada anak buahnya yang terluka ketika bekerja, prinsipnya juga kuat untuk tidak membunuh musuh kecuali terdesak, karena dirinya bukan pemimpin mafia.

__ADS_1


Yang selalu diingat Darell adalah ketika dirinya ataupun anak buah lainnya usai melaksanakan tugas, hal yang paling pertama ditanyakan Brandon adalah apa ada yang terluka, dan bukan menayakan tentang musuh tengah di hadapi atau keberhasilan mengalahkan musuh.


Di tempat lain, Pieter yang mendapatkan panggilan berulang juga pesan dari orang suruhannya, belum juga memeriksa ponsel dan tak mengetahui jika Brandon tengah terluka. Ia masih saja terlelap dalam selimut yang sama dengan istrinya, tanpa ada lagi yang membalut tubuh keduanya selain selimut.


Ponsel memang tengah berada dalam mode silent ketika ia tidur, semenjak hubungannya dan Alexa baik baik saja dan semenjak istrinya itu mengandung dulu. Untuk itulah ia selali tidak mengetahui kabar apapun, dan membuat Brandon kehilangan trilyunan yang membuatnya kecewa pada Pieter.


Tetap berpelukan, walau hari sudah berangsur siang dan hanya terbangun sebentar ketika putrinya menangis tadi. Namun saat selesai diberikan ASI mamanya, Quenby tertidur kembali dengan kedua orangtuanya menyusul untuk mengarungi mimpi lagi.


Hingga pukul 10.00 Alexa baru membuka mata dengan Pieter sudah menatapnya dari tadi, tersenyum mengamati wajah terus ia belai. Tetap tak memeriksa ponsel, Pieter betah di dalam selimut walau hari sudah siang.


"Mau mandi?" senyum Pieter bertanya.


"Gendong" manja Alexa berseru.


"Manja" Pieter mencubit hidung Alexa dengan tetap tersenyum.


Kedua pergi ke kamar mandi, dan mandi bersama saat Quenby masih berada dalam box nya. Mereka tak melihat jika putri mereka sudah terbangun beberapa jam sebelum mereka terbangun, namun karena tak lapar ataupun pampers yang kotor, Quenby tidak menangis hingga orangtuanya tidak tahu kalau bocah kecil tengah menatap ke arah mainan berwarna warni itu sudah membuka mata.


***hay guys bantu baca novel teman dong, nih judulnya ***


Love X G ( author : Mayuki S.)


Takdir cinta ( author : Alvi Barta Jadul )


Jodohku hantu ( author : Dry)

__ADS_1


Kali aja ada yang nyangkut di hati, thank ya kiss kiss muach muach.


__ADS_2