Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 206


__ADS_3

Mendengar suara mobil terhenti, semua tengah berkumpul mencoba senjata langsung berlari keluar. Berjajar pada dua sisi, membungkukkan tubuh mereka hormat. Seperti biasa, tanpa ada senyum dan wajah terpasang dingin, serta langkah penuh wibawa seorang penguasa, Brandon melangkah masuk dan berhenti pada meja besar dimana senjata telah diperiksa di letakkan di atas sana.


"Dimana Darell?" tanya Brandon pada Pieter yang sudah menyusu ke dalam bersama lainnya.


"Belum tiba, mungkin sebentar lagi" sahut Pieter.


"Oke" singat Brandon mulai memeriksa sendiri senjata berwarna silver miliknya.


"Oh my boy, long time no see" ucap Brandon mencoba membidik dengan senjatanya ke arah depan.


Di tempat lain, Viena sudah bertemu dengan Darell dan membawanya untuk langsung menuju gudang penyimpanan senjata. Kemudi di ambil alih oleh Darell, yang tadi langsung menuju bandara usai mendapat persetujuan untuk kembali.


"Dimana Dio?" tanya Darell masih mengemudi pada wanita di sampingnya.


"Dia di amankan sementara bersama mama" sahut Viena menatap ke arah kekasihnya.


"Viena, menikahlah denganku setelah misi ini selesai. Aku tidak ingin menunggumu lagi, aku inhin bersamamu" tiba tiba Darell berucap sambil fokus ke arah jalanan.


"Kita bicarakan nanti" senyum Viena menoleh ke arah kekasihnya.


Sejenak menghentikan mobil untuk melepas rindu, Darell menarik tangan Viena dan memeluknya hangat. Meskipun berkarakter dingin, keduanya mampu untuk merubah karakter itu ketika bersama. Viena yang memang sangat membutuhkan tempat bersandar, membalas pelukan hangat itu bahagia.


"Aku merindukanmu Viena, sangat merindukanmu" ucap Darell masih mendekap hangat wanita cantik sudah berpakaian serba hitam, juga topi hitam.


"Aku juga merindukanmu" sahut Viena tersenyum, Darell melepas pelukannya dan mencium bibir Viena menikmatinya bersama dalam kerinduan mereka.


"Cepatlah, kita akan membuat Tuan muda menunggu lama nanti" coba Viena mengingatkan Darell, yang memang masih teringat.


"Aku tahu, kita bisa melanjutkan nanti" senyum Darell menggoda, di balas senyuman Viena.

__ADS_1


Kembali mengemudi, dengan sesekalu melirik ke arah wanita cantik di sampingnya, Darell tidak membuang senyuman pada wajah tampannya. Tidak tahu kapan cinta itu mulai tumbuh, Darell tidak kuasa untuk menghentikan perasaannya sendiri.


Bukan sebuah perjuangan cinta yang mudah untuk bisa mendapatkan hati wanita sedingin Viena. Tapi kegigihannya perlahan mampu meluluhkan hati Viena dan memberikan hatinya. Walaupun tahu semua masa lalu Viena, bahkan tahu jika wanita sudah mengusik pikiran dan hatinya itu sudah tidur dengan banyak lelaki berbeda ketika dijual sampai lahir Dio.


Hal itu bukan suatu masalah besar bagi Darell, dan menerima segala masa lalu ibu dari seorang bocah laki laki menggemaskan itu. Ketulusan cintanya pada Viena mampu mengubur dalam segala masa kelam dari kehidupan lampau Viena dan menutupnya rapat.


"Jaga nyawamu dan dirimu untuk tidak terluka" pinta tulus Darell begitu mobil sudah berhenti dan terparkir di antara mobil2 yang berjajar di depan sebuah gudang.


"Hm, kamu juga" datar Viena menjawab.


"Senyum! perlu aku menggigit bibirmu agar tersenyum?!" tegas Darell berucap, dibalas senyum tipis Viena dan mulai membuka pintu.


Berjalan mendahului, Viena melenggang dengan rambut ekor kuda yang di masukkan dalan kancing topi belakang. Darell mengikutinya dari belakang dan memberi hormat pada Tuan muda tengah duduk di atas meja, meluruskan kaki di bawah.


"Apa mereka berkencan?" penasaran Pieter berbisik melihat Viena dan Darell masuk.


"Oh" singkat Brandon mengangguk tanpa ekspresi.


"Viena, Darell ambil senjata kalian masing masing!" perintah Brandon, dibalas anggukan keduanya dan memilih senjata di atas meja.


"Kau ingin aku memberitahu Alexa jika matamu suka jelalatan?!" ancam Brandon berbisik pada sahabatnya yang berdiri di sampingnya duduk.


"Siapa? aku? hahaha, mana ada?" tertawa lirih Pieter berkilah.


"Harusnya aku sudah membuangmu sebagai adik ipar" goda Brandon tersenyum tipis.


"Aku kakak ipar, karena aku kakak dari istrimu" senyum Pieter.


"Lucu!" singkat Brandon lalu berdiri memutar tubuh menghadap semua anak buah yang tadi di punggungi untuk duduk dan berbisik dengan Pieter.

__ADS_1


Darell berdiri di samping kiri Brandon, dengan Pieter di sisi sebelah kanan. Viena bergabung dengan lainnya tepat di hadapan meja dimana ketiga laki laki berwajah dingin itu berdiri. Meskipun saudara ipar, Brandon dan Pieter bukan lagi saudara ketika mereka bekerja dan hanya ada hubungan Bos dan anak buah saja.


"Viena, kau tangani saja untuk yang perempuan karen kami tidak akan memukul perempuan!" ucap Brandon seraya memerintah kepada wanita yang sigap dengan anggukan kepala juga kata siap Tuan.


"Pieter, kau akan berada bersamaku dengan Darell!" kembali Brandon mengatakan dijawab anggukan serta kata siap Tuan sama hanya Viena.


"Kalian semua terbagi masing masing tiga orang dan berjaga di setiap titik!" perintah kembali Tuan muda tersebut menunjuk beberapa titik pada peta kota yang besar di atas meja, dengan menunjuk masing masing tiga orang anak buahnya.


"Yudha, kau dan lainnya akan berada di sini!" menunjuk kembali ke arah titik peta dimana para sniper andalan siap di tempatkan.


"Ingat! gunakan senjata kalian, karena kali ini yang kita hadapi orang orang bersenjata! menembak dan membunuh aku ijinkan disini, termasuk kau Viena! satu hal terpenting jangan sampai ada yang terluka ataupun tewas! mengerti?!" panjang lebar Brandon dengan nada berat dan tegas menatap ke arah seluruh orang orang nya bergantian.


"Mengerti Tuan.." seru semuanya bersamaan.


"Mereka bisa datang kapanpun, jadi bersiaga mulai hari ini. Darell, berikan semua data orang orang Jackson untuk mereka pelajari!" tambah Brandon memerintah.


"Baik Tuan" sigap Darell, lalu meletakkan tumpukan kertas berisi data data semua angota Kenan dan Jackson.


"Dimana wine yang aku minta?!" tanya tegas Brandon dalam wajah dingin.


"Ini Tuan" berlari seorang laki laki tinggi berotot menyerahkan sebotol wine dan gelas pada Tuannya.


"Oke, lanjutkan!" pungkas Brandon melangkah pergi ke arah tempat duduk tak jauh dari tempat anak buahnya mengjapal setiap wajah, juga kelemahan yang telah di cari tahu oleh Darell.


Duduk bersandar menatap ke arah anak buahnya, brandon mulai meneguk wine langsung dari botol tanpa ingin menggunakan gelas sudah di bawa oleh Pieter.


"Apa kau ingin mabuk dan bertengkar dengan Angel?!" tegas Pieter ke arah laki laki yang membalasnya senyum tipis.


"Pieter, aku tidak yakin dengan jantungku. Apa mungkin mereka melakukan kesalahan? tiga kali aku check dan semua mengatakan aku normal, tapi saat bersama dengan Angel semua terasa semakin aneh bahkan sekarang aku sering merasa tersengat listrik saat bersmanya" cerita lirih Brandon tetap duduk beraandar menikmati wine, di tertawakan oleh Pieter sangat pelan.

__ADS_1


"Itu namanya kau sedang jatuh cinta" santai Pieter dalam tawa tertahan, membulatkan mata Brandon.


"Aku juga mengira seperti itu, tapi entahlah aku sangat bingung dengan perasaanku padanya. Sangat menyiksa dan saat dekatpun tubuhku benar benar tersengat listrik rasanya" santai laki laki terus meneguk wine tersebut, menujukan oandangan ke depan dan tetap mampu membuat sahabatnya itu tersenyum.


__ADS_2