Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 77


__ADS_3

Meski terikat, Angel masih terus berusaha meronta sekuat tenaga untuk melindungi dirinya sendiri. Ia menggigit kuat tangan salah satu dari mereka hingga hampir mendapatkan pukulan kembali namun Brandon lebih cepat datang dan menendang kuat punggung Pria yang sudah mengangkat tangannya ke arah Angel.


" Sialan! " seru laki laki yang sudah tersungkur di tanah karena tendangan kuat Brandon dan seketika mohon ampun begitu mengetahui jika yang melakukannya adalah Tuan muda dengan mata menyeramkan.


" Tahan mereka! " teriak lelaki penuh amarah tersebut memerintahkan pengawal yang sedari tadi sudah memegangi ketiga orang yang hendak kabur.


" Angel " ucap Brandon memegang kedua sisi gadis dengan luka di bibir serta wajahnya membuat lelaki tersebut geram namun harus menahan segala emosinya karena tak ingin istrinya melihat bagaimana kejam dirinya ketika menghadapi orang yang sudah mengusik hidup bahkan menyentuh orang terdekatnya.


Adiyaksa, Pieter dan Viena yang datang bersamaan bersama banyak anak buah Adiyaksa, menghampiri Brandon yang berusaha membuka ikatan istri yang menangis di hadapan lelaki yang sekuat tenaga menahan amarah begitu kuat menguasai. Pieter melepas jas yang Ia kenakan dan di berikan pada Viena untuk menutupi tubuh Adik yang tak ingin Ia lihat karena tak sanggup harus melihat kondisi Angel.


Angel memeluk erat suaminya begitu tali yang mengikat kaki dan tangannya terlepas.


" Maafkan Aku pergi tanpa memberitahumu " seru Angel menyesal dan mendekap erat tubuh suami yang memejamkan mata menahan amarah sembari memeluk istrinya.


" Apa mereka menyentuh bagian lain selain ini? " tanya Brandon usai melepas pelukannya dengan mata tertuju pada pundak dan paha istrinya bergantian dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Angel.


" Dad, tolong bawa Angel ke rumah sakit " ucap Brandon menoleh ke Adiyaksa yang begitu iba pada menantunya.


Adiyaksa mengerti akan tatapan penuh amarah Brandon juga Pieter, sorot mata tajam layaknya singa kelaparan yang sangat ingin memangsa buruannya saat ini juga. Pria yang sudah memegang kedua pundak menantunya itu mengajaknya untuk pergi karena Ia sendiri tidak menyukai adanya kekerasan juga tak ingin melihat bagaimana amukan putranya yang sudah sangat jelas.


" Aku akan menyusul mu " ucap Brandon mengecup kening istri yang tak ingin meninggalkan suami dalam keadaan marah.


" Angel pergi lah " tambah Pieter agar Adiknya segera pergi.


" Tidak, Aku tidak ingin pergi " sahut Angel.


" Ayo Kita pergi, nanti mereka akan menyusul Kita " bujuk Adiyaksa.


" Tidak Daddy, Aku tidak ingin Kakak juga suamiku berkelahi dan melukai diri mereka " seru Angel.

__ADS_1


" Angel! pergi! " teriak kuat Brandon yang sudah tak bisa menahan amarahnya.


Viena mengajak Angel keluar dari gudang tua tersebut bersama Adiyaksa atas perintah Pieter melalui isyarat matanya pada Viena. Angel yang takut akan kemarahan suaminya, dengan berat melangkah keluar bersama Viena juga Adiyaksa.


Setelah mobil yang membawa Adiyaksa juga Angel pergi, tak lama pengawal yang di perintahkan Brandon menyeret Sasmita, Sonya juga orangtuanya datang dan membawa mereka masuk kehadapan Brandon.


" Apa Kamu gila? kenapa Kamu membawa Mami kemari dengan paksa! " teriak Sasmita pada putranya yang sudah menunggu dengan geram.


" Buka mata mereka lebar lebar, agar mereka tahu dengan siapa mereka bermain! " tegas Brandon pada pengawal yang menahan tangan keempat orang yang sudah memerintahkan untuk melenyapkan Angel.


" Lepas! " tambah Brandon tegas pada bodyguard yang memegangi ke enam orang suruhan Sasmita.


Mata penuh amarah dari Brandon juga Pieter membuat ke enamnya merasa ketakutan. Sorot mata mematikan dari kedua orang yang menghampiri mereka begitu sangat di kenal oleh semua pria bertubuh besar di hadapan Brandon. Dengan amarah yang menguasai, Brandon dan Pieter mulai melampiaskan pada ke enamnya membuat Sasmita dan Sonya juga kedua orangtuanya itu membulatkan mata ketakutan akan amarah Brandon juga Pieter saat ini. Tangan dan kaki dari ke enam orang itu di patahkan dalam pergulatan tanpa perlawanan begitu tanpa ampun oleh dua orang yang begitu menyayangi Angel.


" Ampuni Kami Tuan " seru mereka memohon agar Brandon juga Pieter melepaskan mereka.


" Buta kan kedua mata mereka! " teriak Brandon memerintahkan Pieter.


Dengan kedua tangannya Pieter membuat kedua mata mereka buta dengan sangat kejam yang sengaja Ia lakukan perlahan agar lainnya dapat menyaksikan betapa menyakitkannya hal itu melalui teriakan dari mulut yang sudah lebih dulu di sumpal oleh Pieter dengan sapu tangan. Sasmita, Sonya juga orangtuanya tak sanggup lagi melihat hingga memejamkan mata mereka, namun Brandon memerintahkan bodyguardnya agar membuka mata keempatnya lebar lebar.


" Brandon, lepaskan Kami! " teriak Sasmita.


Langkah kaki santai dengan senyum sinis menyeringai serta tatapan begitu dingin dan mematikan mengiringi Brandon menghampiri keempat orang yang masih di pegang oleh empat orang tinggi besar di belakang tubuh mereka.


" Kalian lupa dengan siapa Kalian berhadapan sekarang? " ucap Brandon begitu santai namun penuh dengan aura mematikan dari wajahnya.


" Kamu sudah gila! lepaskan Kami! " tegas Sasmita mencoba berontak dari kedua tangan yang menahannya kuat di belakang.


" Ya! Aku sudah gila karena Kau berani menyentuh istriku! " bentak Brandon.

__ADS_1


" Aku sudah memperingatkan mu !" tambah Brandon.


" Apa Kamu akan membunuh Kami hanya demi wanita itu? Aku calon istrimu!" teriak Sonya ke arah Brandon.


" Pieter, hancurkan bisnis mereka! kalian ikat mereka dan perlakukan mereka seperti mereka memperlakukan istriku!" perintah Brandon tegas lalu pergi meninggalkan tempat itu menemui Angel di rumah sakit karena tak ingin melakukan semua dengan tangannya sendiri.


Pieter yang sudah melaksanakan tugasnya meraih ponsel dan menghubungi seseorang untuk melaksanakan perintah Brandon dengan para bodyguard yang berusaha mengikat keempatnya dengan perlawanan kuat dari mereka.


" Brandon! " teriak Sasmita di iringi dengan ketiganya memohon ampun pada lelaki yang sudah berjalan keluar tanpa sekalipun menengok kebelakang.


" Pieter, lepaskan Kami !" bentak Sasmita dengan nada begitu kuat ke arah lelaki yang berdiri di hadapan mereka beserta senyum sinis dan tatapan mengerikan.


" Lakukan " santai Pieter menyuruh bodyguard menyentuh Sonya yang sudah terikat agar mereka melakukan hal yang sama seperti perintah Sonya pada orang suruhannya.


" Tidak, Aku mohon jangan " seru Sonya ketika empat orang mendekati tubuhnya.


" Lepaskan putriku! jangan berani menyentuhnya! " teriak seorang pria dengan tangan serta kaki terikat menyaksikan putrinya harus ternoda oleh para bodyguard Brandon.


" Ampuni Kami, Aku mohon ampuni Kami lepaskan putri Kami " seru wanita paruh baya memohon pada Pieter dengan air mata terurai namun tak sedikitpun menggoyahkan kekejaman Pieter yang sudah mereka pancing karena melukai Adiknya.


" Nyonya, apa Anda juga ingin merasakannya? " tanya Pieter santai dengan duduk di hadapan Sasmita yang langsung meludahi wajah Pieter.


" Sadarlah siapa dirimu itu! " tegas Sasmita dengan nada angkuh menghina Pieter yang tersenyum dengan mengusap wajahnya menggunakan lengan kemeja yang Ia gulung hingga siku.


Pieter tersenyum sinis dan melangkah menghampiri salah satu pengawal karena tak ingin melawan Sasmita. Bagaimanapun juga Ia adalah Ibu juga istri dari dua orang yang sangat Ia hormati selama ini.


" Jangan lukai Nyonya besar " pinta Pieter lirih sembari menepuk pundak kanan pengawal yang mengiyakan perintah Pieter dengan cepat.


Keenam orang suruhan Sasmita yang sudah sekarat di biarkan tergeletak di atas tanah bersama rintihan dari mulut yang masih tertutup kain. Sonya yang masih di gilir oleh beberapa bodyguard beriringan dengan air mata dan seruan permohonan tanpa henti dari kedua orang tua yang menyaksikan dengan mata mereka setiap rintihan dari putri semata wayang mereka. Sasmita tak pernah membayangkan kekejaman Brandon juga Pieter begitu sangat mengerikan hingga membuat dirinya ketakutan menghadapi kedua sahabat tersebut.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, Pieter meninggalkan gudang tua itu dan menyusul Brandon untuk melihat kondisi Angel di rumah sakit yang lebih dulu meminta para pengawal untuk membersihkan gudang tua tersebut tanpa adanya jejak dan membawa ke empat orang lainnya kembali ke hotel untuk mendapat hukuman lebih dari Brandon dengan menjaga ketat mereka.


__ADS_2