
Masih asik keempatnya berkumpul dan mengobrol di selingi canda tawa Angel juga Alexa, yang membuat geli sendiri kedua suami mereka. Sikap konyol ketika bersama, terkadang membuat keduanya lupa akan status istri yang sudah di sandangnya. Dan hanya bisa membuat kedua lelaki di hadapan mereka menggelengkan kepala seraya membuang napas kasar mereka.
" Bagaimana kalau Kita lanjut clubing? mumpung Kita sedang bersama sekarang" semangat Alexa memberi usulan.
" Tidak! " tegas kedua lelaki dengan tatapan tajam ke arah gadis yang tengah menikmati kentang goreng.
" Clubing? apa? kemana? " polos Angel sembari memasukkan nasi goreng favoritnya ke mulut.
Tatapan tegas serta isyarat diberikan ke arah Alexa agar tak menjelaskan apapun pada Kakak iparnya. Brandon dan Pieter terus memainkan mata mereka, dan berharap Alexa akan mengerti maksud dari isyarat yang di berikan.
" Kak Angel tidak tahu? itu... " seru Alexa terpotong karena langsung dimasukkan tiga kentang goreng ke mulutnya oleh Pieter seraya tersenyum.
" Istriku, Kamu harus banyak makan dan jangan banyak bicara " senyum paksa Pieter ke arah Alexa.
" Menggelikan " seru tawa Angel melihat tingkah Kakaknya sendiri.
Brandon hanya melanjutkan makan usai memberi isyarat pada Adiknya yang tak mengerti. Tak ingin menjelaskan apapun yang akan membuat istrinya makin penasaran, laki laki dengan terus mengunyah itu memilih menundukkan wajah.
" Kenapa Kita tidak menuruti Alexa saja? jarang jarang kan Kita bisa keluar bersama seperti ini? " polos kembali Angel menata nasi dan telur di atas sendok.
" Di sana sangat gelap Angel dan banyak hantu, bukankah Kamu takut gelap? " kilah Pieter menjelaskan sekenanya dan hanya di dengarkan saja oleh sahabatnya.
" Ah pantas saja kalian tidak mau " seru Angel mengangguk angguk kepala berulang kali, menunjukkan jika Dia mengerti.
" Untung saja " batin lega seorang Kakak yang sengaja harus berbohong.
Kembali gadis dengan poni depan itu melanjutkan makan sampai habis, tanpa bertanya lagi tentang apapun. Angel memang takut kegelapan apalagi jika sudah di sebutkan tentang hantu, Ia langsung tidak ingin menanyakan kembali. Dan hal itu juga dipahami Kakaknya dan sengaja berkilah seperti itu agar tak membuat Angel penasaran.
Dering ponsel pribadi dalam saku celana Tuan muda yang masih menundukkan wajah itu, langsung di raihnya. Terdapat nomor rumahnya yang memanggil dan langsung di angkat, karena takut jika terjadi masalah. Memang sangat jarang nomor rumah menghubungi, kalau tidak sangat penting sesuai dengan peringatan dari Brandon selama ini.
" Tuan muda, apa Anda akan pulang larut?" terdengar suara yang langsung membuatnya bahagia.
__ADS_1
" Santos? Kau kembali? kapan? " tanya Brandon beruntun, sangat beruntung dengan kembalinya kepala pelayan kerumahnya.
" Oh baiklah Tuan jika Anda sedang meeting penting saat ini, Saya akan menghubungi nanti " jawab Santos pada ujung telpon, membingungkan Brandon.
" Apa telingamu Bermasalah?! sepertinya usiamu sudah terlalu tua untuk bekerja! lebih baik Kau... " tegas Brandon terputus.
" Alexander Brandon Haidar! apa begini caramu berbicara pada orang tua?! akhiri semua jadwal mu dan kembali pulang! " teriak seorang wanita dari ujung telpon, langsung membuat Brandon menjauhkan ponsel dari telinga dan mengusap telinganya kasar.
" Apa Kau pikir Aku tuli?! sudah bosan hidup Kau rupanya! " tegas Brandon seraya berteriak, memusatkan seluruh pandangan pengunjung kafe ke arahnya.
Angel menatap bergantian dengan Alexa juga Pieter seraya menaikkan kedua alis mereka, mengisyaratkan sebuah pertanyaan tentang siapa yang membuat Tuan muda itu kembali marah dan berteriak.
" Aku yang akan membunuhmu lebih dulu! " tegas wanita bersuara tegas tersebut langsung membulatkan mata Brandon.
" O.. o.. oma? " terbata bibir dengan mata membulat tersebut, mengejutkan Alexa juga Pieter.
" Kembali dalam waktu 15 menit!" tegas kembali suara di ujung telpon.
" Oma, A... " lagi lagi ucapan Brandon harus terpotong karena sambungan telpon langsung terputus.
Bahkan Pieter yang selama ini menemani Brandon, juga tak mampu berkutik ketika Gaida sudah mengambil sikap. Pasalnya setiap keputusan Gaida adalah final dari segala keputusan. Walau sudah berusia 65 tahun, namun kekuatan fisik Gaida masih terlihat seperti anak muda.
Begitu energik dan lincah, juga tak terlihat sedikitpun menua dari kulit serta wajah Gaida yang selalu mendapat perawatan khusus. Gaida memiliki ilmu bela diri di atas tingkatan Brandon ataupun Pieter, padahal dirinya berusia lebih matang dari keduanya.
Usai menutup telpon, Brandon mengembalikan ponsel di saku celana dengan menggerutu. Bagaimana tidak, kehadiran Gaida hanya akan membuat Tuan muda itu dalam situasi dimana Ia hanya bisa menjadi seperti kucing yang penurut pada majikannya.
" Apa Oma datang karena tahu Kita sudah menikah?" tanya Alexa ke arah Kakaknya yang memasang wajah lesu.
" Kalau Dia tahu Kita sudah menikah, Dia tidak akan menyuruh Kita pulang, pasti Dia sudah menyuruh Kita tenggelam di laut " jelas Brandon masih dengan wajah tak bersemangat, dan mengejutkan Angel yang tak mengerti apapun.
" Apa Dia sekejam itu? " tanya Angel membulatkan mata.
__ADS_1
" Angel, jika Brandon kejam dan keras kepala maka Oma berkali kali lipat dari pada sifat dan sikap Brandon " santai Pieter menjelaskan.
" Apa itu keturunan? " lirih gadis dengan tatapan ngeri tersebut, langsung mendapat tatapan tajam suaminya.
" Benar benar nama keluarga memang menunjukkan sifat orang nya " gerutu Angel menggelengkan kepala.
" Apa maksudmu?! " tegas laki laki dihadapannya masih dengan sorot mata tajam.
" Apa Kamu tidak tahu? Haidar itu artinya singa, dan namamu sendiri sudah berarti pedang. Mungkin itu alasan keluargamu memberimu nama Brandon karena memang mulutmu setajam pedang, tanpa melakukan apapun Kamu sudah bisa membunuh orang dengan bicaramu" jelas Angel panjang lebar, membuat Kakaknya tersenyum menahan tawa.
" Diamlah! " tegas sinis Brandon ke arah istrinya yang langsung memajukan bibir.
" Alexa lebih baik Kita pulang, dan Kau ajak Angel menginap di rumah Maya " ucap Brandon malah membuat Angel tersenyum bahagia.
" Kak Angel, apa Kamu begitu bahagia berpisah dengan suamimu? Aku saja sudah tidak memiliki tenaga harus terpisah lagi dari suamiku" ucap Alexa tak percaya pada ekspresi yang ditunjukkan Kakak iparnya.
" A..a.. aku tidak bahagia, hanya saja Aku bahagia bisa menginap di rumah Mama " jelas Angel terbata, diiringi tatapan tajam suaminya.
" Sudahlah, jangan berkilah! terlihat jelas Kamu begitu senang berpisah dariku! " jengkel Brandon langsung mengenakan kembali jaketnya.
Bergegas Brandon keluar lebih dulu dari kafe, dan di kejar oleh Angel yang tahu jika suaminya tengah marah. Sedangkan Pieter dan Alexa menyusul di belakang.
" Apa Kamu marah? Aku hanya bahagia bisa tinggal bersama Mama, tapi bukan berarti Aku bahagia berpisah denganmu " jelas Angel lembut menarik lengan suaminya yang hendak menaiki motor.
" Sudahlah Angel, lebih baik Kamu cepat pulang " dingin Brandon sudah tersinggung dengan kebahagiaan yang ditunjukkan istrinya tadi.
Pieter sudah menyusul di tempat parkir, dengan Angel masih berdiri di samping suaminya yang sudah bersiap di atas motor. Wajah tampannya sudah tertutup oleh helm full face warna hitam, tanpa mau menatap kembali ke arah Angel yang masih menunggu di dekatnya.
Alexa dan Pieter lebih dulu saling memeluk sebelum keduanya terpisah, karena memang tak mungkin jika harus tinggal bersama saat Gaida di rumah. Bagaimanapun Gaida tak mengetahui jika kedua cucunya sudah menikah, dan pasti akan murka jika sampai tahu.
Brandon langsung memacu dengan kecepatan penuh motornya bersama Alexa, meninggalkan Angel dan Pieter masih berdiri di tempat parkir.
__ADS_1
Gaida tak menyukai keterlambatan sama sekali, dan setiap waktu yang Ia tentukan harus tepat tanpa sedikitpun terlambat, walau hanya satu detik.
Perasaan bahagia yang refleks ditunjukkan Angel karena bisa menginap bersama Mamanya, tanpa sengaja sudah melukai perasaan Brandon yang bahkan satu detikpun tak bisa terpisah dari istrinya.