
"Dimana suamiku?" tanya Angel pada orang di depan.
"Ada di depan sayang, kamu jangan keluar" sahut Olivia.
Kekhawatiran mendengar suara tembakan, Angel langsung melangkah menuju rumah utama. Olivia dan Vienna mengejar ibu dua anak dalam perasaan campur aduk tersebut, berusaha untuk mencegah.
"Nyonya, maaf jangan keluar ini perintah langsung dari Tuan" ucap Vienna menahan.
"Angel, kamu sebaiknya tetap disini" bujuk Olivia.
"Tidak, Ma. Aku harus melihat suamiku" sahut Angel, takut akan sesuatu terjadi.
"Baiklah, saya akan menemani" ucap Vienna, melihat kekhawatiran Angel dan tak mungkin bisa di cegah.
"Angel! Vienna!" tegas Olivia menahan keduanya.
"Ma, aku harus melihat suamiku. Apapun yang terjadi aku harus ada bersamanya" pinta Angel, mencoba memberi pengertian dalam aura memohon.
Vienna memberikan anggukan kepala pada mamanya, ia seakan menjamin jika Angel takkan terluka. Berat hati Olivia melepaskan putrinya, secepat mungkin Angel keluar berjalan bersama Vienna disampingnya.
"Bawa ini, mungkin akan dibutuhkan" ucap Vienna menyerahkan sebuah pistol pada perempuan melangkah bersamanya.
"Terimakasih, tapi aku memilikinya" sahut Angel tanpa menghentikan langkah.
Brandon menyediakan pistol juga pisau khusus untuk istrinya. Ia tahu Angel mampu mempergunakan semua itu dengan keahlian yang dimiliki sekarang. Berdua berjalan, dan berhenti di ruang tengah untuk meraih senjata tersembunyi di balik sofa panjang.
Membuka pintu tertutup, Angel melihat keributan di depan. Suami serta anak buah lainnya saling beradu, entah darimana datangnya banyak kawanan yang ikut membantu Ricko saat ini.
Melihat wajah cantik sudah menjadi buruan, banyak yang langsung menghampiri Angel dan berusa menangkap. Sigap Angel dan Vienna melawan orang orang yang menghampiri.
Pieter, Darell dan Yudha yang melihat dua perempuan tengah berkelahi membela diri, berusaha membantu. Sebuah hal tak pernah dilihat Pieter ataupun Yudha dari istri Tuan mereka.
__ADS_1
Angel mematahkan satu kepala seorang mencoba menyentuh dirinya, sangat mudah lebih seperti seorang profesional. Darell yang pernah melihat hal itu sebelumnya di Jerman, tidak merasa terkejut sedikitpun.
Menikam dengan pisau pria sudah dipatahkan kepalanya, Angel juga tak mengubah sedikitpun ekspresi tenang wajahnya. Terlihat tenang menusukkan pisau tepat pada jantung, Angel mencabut dengan menendang kuat perut lelaki dihadapannya.
Darell mengajari lebih baik semua ilmu bela diri, bahkan Angel pernah melawan seorang diri tiga pria bertubuh besar coba mengikuti dirinya. Tidak tanggung, kala itu perempuan cantik lebih dikenal kalem itu melenyapkan ketiganya.
Sama seperti suaminya, Angel meninggalkan ketiganya sekarat tanpa suatu kepastian. Lebih dari Brandon, Vienna, Pieter, Darell dan lainnya, Angel lebih menyukai pisau untuk menusuk mata lawan daripada mengotori jari.
Berlari dalam pengejaran untuk bisa dekat dengan suaminya, Angel masih berusaha melawan. Menendang, menikam, menghantam, semua dilakukan dan masih tetap belum bisa dipercaya mata Pieter akan adik yang dianggap polos.
Saat perempuan cantik membiarkan rambut panjangnya tergerai itu melawan musuh lihai, Brandon yang juga dikelilingi beberapa orang melihat dan tersenyum.
Sebelumnya Brandon sudah pernah menguji istrinya sendiri, menghadirkan beberapa orang untuk menggoda. Namun dari kejauhan Brandon cukup puas akan keahlian istrinya sendiri, untuk itu ia mempercayakan pisau juga pistol pada istrinya.
"My sexy wife" menyeringai Brandon bangga.
Berhasil berada dibalik punggung suami dengan dikelilingi musuh siap menerkam keduanya, Angel tetap siaga. Seluruh anak buah Brandon juga membasmi setiap musuh berdatangan.
"I love you" sahut Brandon santai.
Menjadi sasaran utama lebih dulu, Angel mendapatkan serangan langsung. Brandon tak diam diri dan membantu istrinya. Keduanya berkelahi seperti pasangan buas, sama halnya dengan Vienna dan Darell yang kini menghabisi tanpa ampun.
Melumpuhkan satu musuh lagi, Angel tak perduli darah di tangan bahkan hingga tubuhnya. Sadis, kejam, menyeramkan, hanya itu yang kini bisa dinilai dari ibu dua anak tersebut.
"Brandon, awas!" teriak Pieter melihat seseorang hendak menikam sahabatnya.
Angel yang tengah berkelahi dengan dua orang di hadapannya, menoleh cepat ke arah suaminya. Melemparkan pisau di tangan, mengenai sasaran tepat pada punggung pria hendak menikam suaminya.
Brandon yang juga menoleh namun lebih cepat pisau menembus dari istrinya, membulatkan mata dan membentuk huruf o pada bibirnya. Tidak lengah langsung menghantam kuat hingga tersungkur pria besar tadi dilawan.
Mencoba menjaga istri tercinta agar tak sampai terluka, Brandon berusaha mendekat kembali setelah tadi terpisah untuk melawan. Menyempatkan diri untuk mencium ketika tubuh istrinya di angkat untuk menendang seseorang yang mendekat.
__ADS_1
Kerjasama cukup baik antara Brandon dan Angel untuk pertama kalinya. Bersama menghabisi lawan, Brandon seolah mengajari bagaimana cara mematahkan lawan dalam sekali tindakan.
Satu persatu lawan berhasil tumbang, menyisakan sedikit nyawa pada mereka tanpa membiarkan satu saja tewas di halaman rumahnya. Brandon meminta pengawal mengangkat semua dan membakar seperti biasa ditempat jauh dari rumah.
Sedangkan Ricko, takkan mendapat nasib mudah seperti lainnya. Ia dipisahkan dan dibawa ditempat khusus sesuai perintah Brandon. Dalam keributan besar yang terjadi di depan rumah, Brandon tetap tidak mengijinkan siapapun mati dan mengotori istana megahnya.
"Ikat dia! berikan dia pada istriku, karena sudah berani mencarinya!" tegas Brandon melempar tubuh berlumur darah tak berdaya Ricko pada anak buahnya.
Angel menoleh pada suaminya, bersamaan dengan Pieter. Ucapan tegas dalam perintah yang tak bisa di mengerti. Tanya tampak jelas dalam aura adik kakak tersebut.
"Kenapa kamu membawa mereka ke rumah?!" tanya tegas Angel.
"Siapa yang akan berani datang kalau penghuni rumah ini seorang serigala?" bangga Brandon, meraih pinggang istri ya dan mulai menikmati bibir dalam rasa bangga.
"Ah, dasar tua mesum. Selalu saja mencuri kesempatan tanpa tahu waktu" mengalihkan pandangan, Pieter bergumam.
Yudha, Vienna dan Darell mengikuti anak buah lainnya untuk melakukan perintah Tuannya. Mereka hanya ingin memastikan jika semua sesuai akan perintah tanpa satupun terlewat.
"Menyebalkan!" tegas Angel menginjak kuat kaki suami tidak memberinya kesempatan bernapas, dan masuk kedalam rumah.
"He! serigala!" kesal Brandon, mengangkat kaki kiri tadi diinjak kuat istrinya.
"Ckckckckck" menggelengkan kepala, Pieter tersenyum dan mengikuti adiknya.
"Dua manusia bodoh!" kesal Brandon masih memegangi kakinya, menatap ke arah dalam rumah dimana dua orang sudah masuk.
"Kenapa semakin dia liar aku semakin suka?!" geram Brandon, tiba tiba menyeringai.
Berjalan memasuki rumah menyusul kedua orang membuat dirinya kesal, Brandon masih merasakan sebuah rasa bangga akan apa yang dilakukan istrinya.
Wajah dan tutur kata lembut, namun menyimpan banyak sifat liar di dalamnya. Entah itu liar ketika di kamar, ataupun liar saat menghadapi lawan. Semua terus membuat Brandon terkejut, usai pagi tadi yang dilakukan istrinya di kamar.
__ADS_1
Rasa kagum juga cinta sepertinya terus tumbuh tanpa mampu dikendalikan oleh Brandon pada istri telah memberinya dua anak menggemaskan.