Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 191


__ADS_3

Walau darah tak henti mengucur, tetap saja bisa tersenyum. Dengan Darell menekan dadanya, menunggu hingga tim medis datang, Brandon menatap darah pada tubuhnya dengan wajah santai juga tenang, menghiasi senyuman di sana.


"Bertahanlah Tuan, saya mohon anda harus bertahan" ucap Darell terus menekan dada, mencoba menghentikan pendarahan.


"Tenanglah" lirih Brandon berucap.


Bukan berapa banyak proyektil peluru yang sudah menembus dadanya, namun ke arah mana proyektil tersebut akan berjalan di dalam tubuhnya. Brandon hanya berharap jika itu takkan bergerak ke arah vital yang membuatnya akan kehilangan nyawa.


Mata terus ia coba terbuka dengan rasa sakit juga panas, hanya ingatan akan senyum istri juga kehadiran dua buah hatinya lah yang mampu memberikan Tuan muda tetap duduk di atas lantai itu, mencoba bertahan. Bayang bayang Angel semakin kabur dan samar terlihat dalam benaknya, beriringan dengan mata sayup sayup terpejam.


Darell masih berusaha menekan pendarahan di dada Tuannya, ia tak mau kehilangan orang yang telah menyelamatkan hidupnya dulu. Bagaimanapun juga, Brandon sudah sangat berjasa padanya juga keluarganya. Tanpa terasa lelaki menatap sendu ke arah Tuannya itu, menitikkan bulir air mata.

__ADS_1


Ditempat lain sniper sudah berhasil melesatkan proyektil menembus dada tepat pada sasaran itu, telah terkepung beberapa anak buah Brandon. Kedua lelaki tengah mengenakan topi hitam dengan tangan membawa tas senapan tersebut, langsung ditangkap melalu pengejaran yang berjalan sengit.


Namun sayangnya, kedua orang sudah tertangkap itu tiba tiba terkulai dengan mulut berbusa hingga tak bernyawa. Untuk melindungi klien yang rela mengeluarkan banyak uang, anggota sniper profesional itu memang sudah menyiapkan racun di bawah lidah ketika bertugas, dan siap menelan ketika tertangkap.


"Sial!" ucap salah satu pengawal Brandon.


Salah satu anak buah Brandon langsung memotret tato pada pergelangan tangan dua sniper tersebut beserta wajah mereka, agar bisa mencari tahu dari kelompok mana mereka berasal. Hasil jepretan pun langsung dikirim pada Darell, menunggu perintah selanjutnya. Karena memang tak berani bertindak tanpa adanya perintah dari Brandon, Darell ataupun Pieter.


Untuk menutup pemberitaan media, sengaja Brandon tak ingin ke rumah sakit. Suami sangat menyayangi istrinya itu hanya tak ingin jika istrinya tahu apa yang terjadi, di samping itu ia juga tak ingin semua musuhnya merasa menang dan bersiap menghancurkan kerajaan bisnis bersama. Darell pun menuruti, meminta tim medis dengan alat mereka datang ke kamar hotel yang merupakan hotel Tuan mudanya sendiri.


Di sisi lain, Angel tengah tertidur tiba tiba terbangun dengan keringat mengucur pada wajahnya. Tubuhnya seketika gemetar, mengingat mimpinya sendiri. Dalam mimpi tersebut jelas terlihat suaminya tengah berlumuran darah, dan di sampingnya ada dua orang anak kecil laki laki memanggil Daddy, mencoba membangunkan. Langsung Angel meraih ponsel menghubungi suaminya, lalu menghubungi Darell namun tak satupun mengangkat, dan mulai menghubungi Pieter.

__ADS_1


"Kakak, tolong cari tahu bagaimana suamiku. Tolong cepat kabari aku jika sudah mendapatkan kabar, aku sangat khawatir" ucap Angel langsung begitu sambungan telpon terhubung dengan lelaki tengah tertidur bersama istrinya itu.


"Ada apa? apa yang terjadi?" terkejut Pieter langsung duduk melepas pelukan pada tubuh Alexa.


"Aku tidak tahu, tapi aku mencoba menghubunginya juga Darell tapi tidak satupun menjawab. Aku sangat khawatir sekarang" cemas Angel berucap.


"Angel, mungkin mereka sedang tidur sekarang. Tidak akan terjadi apapun pada Brandon, dia aman bersama Darell juga pengawal lainnya. Lebih baik kamu tidur sekarang, dan besok pagi kakak akan langsung menghubungi Darell, oke?" ucap Pieter belum menerima kabar apapun dari orang suruhannya.


"Hm" singkat Angel menutup telpon, merasa kakaknya tak bisa membantu dan mencoba kembali menghubungi Darell.


Tetap tidak tenang, Angel mondar mandir di dalam kamar dengan pikiran serta perasaan tak karuan. Khawatir dan takut dirasakan paling kuat pada dirinya, dengan terus mencoba menghubungi berulang kali tapi tetap tak ada jawaban.

__ADS_1


__ADS_2