Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 145


__ADS_3

Secepatnya Olivia memasuki sekolah putrinya, diman gerbang sudah tertutup dan hanya ada seorang satpam sekolah berjaga. Penuh sopan dan nada bicara lembut sama halnya Angel, seorang Mama dengan kekhawatiran tersebut meminta tolong agar dibukakan pagar, karena ingin menjemput putrinya yang tengah sakit.


Setelah pagar terbuka dengan banyak pertanyaan satpam, Olivia diantar menuju UKS dimana Angel masih meringkuk dalam isakan tangis.


" Nak, apa yang sakit? kenapa Kamu sampai seperti ini? " khawatir Olivia langsung dipeluk oleh Angel.


" Aku mau pulang Ma " pinta lirih gadis masih mendekap erat Mamanya itu.


" Baik nak, Mama akan minta ijin lebih dulu " sahut Olivia melepas perlahan pelukannya bersama Angel, dan berlalu pergi.


Kantor kepala sekolah mulai Ia masuki usai lebih dulu mengetuk. Terlihat ada dua orang laki laki di dalam ruangan itu, yang samar samar Ia ingat wajah salah satu di antaranya.


Penuh sopan, Olivia meminta ijin pada kepala sekolah untuk membawa putrinya pulang karena kondisi kurang sehat. Seketika menyentak Kenan yang memperhatikan wanita cantik dengan pakaian kerja tersebut. Rasa bersalah juga cemas kembali timbul pada diri Kenan, masih tetap memperhatikan Olivia tanpa berbicara.


Atas ijin kepala sekolah yang ikut ke UKS, Olivia membantu putrinya untuk keluar dengan mobil sudah menunggu tepat di halaman sekolah. Mata laki laki yang mengikuti keluar ruang kepala sekolah itu, terus terarah pada gadis yang masih dipapah oleh Mamanya. Sorot mata sendu dengan bayangan apa yang telah terjadi, menghukum sendiri Kenan atas rasa bersalah hingga membuat gadis yang kini sudah masuk ke dalam mobil itu amat ketakutan tadi.


Satu jam lima belas menit waktu yang dibutuhkan supir membawa gadis yang merebahkan kepala pada pangkuan Mamanya itu pulang. Tak ingin kembali ke rumah suaminya, Ia lebih memilih untuk beristirahat sejenak di rumah Kakek yang kini ditempati Olivia.


Segera Olivia membuatkan air hangat untuk meringankan rasa sakit karena datang bulan putrinya, karena Angel berkilah seperti itu agar tak membuat Mamanya cemas. Obat pereda nyeri juga sudah diberikan lebih dulu usai menyuapi putrinya dengan sup ayam buatannya.


***


Siang hari ketika selesai memimpin meeting, Brandon meraih ponsel ingin menghubungi istrinya agar tak meninggalkan jam makan lagi. Namun matanya terkejut begitu membaca pesan Pieter, dan langsung berlari keluar dengan cemas.


" Cancel semua! " perintah Brandon masih berlari saat Ia bertemu dengan Darell di depan ruangan.

__ADS_1


Janji dengan klien harusnya masih ada, namun Ia memilih tak memperdulikan hal itu karena secepatnya ingin melihat kondisi istrinya. GPS pada ponsel Angel, sudah cukup membuatnya tahu dimana posisi gadis kecilnya kini.


Laju cepat kendaraan pada jalanan cukup lenggang mampu mempersingkat waktu Brandon yang sudah memasuki halaman rumah mertuanya. Buru buru Tuan muda tersebut berlari masuk, dan ditemuinya Olivia tengah menyiapkan putrinya puding.


" Maya. dimana Angel? " langsung suami dengan kecemasan itu bertanya.


" Ada di kamar Tuan. Dia sedang.. " terpotong ucapan Olivia. karena Brandon langsung berjalan cepat ke arah kamar istrinya.


Dilihatnya Angel tidur dengan menyelimuti tubuhnya. Gadis yang sudah mandi dan mengganti pakaian, untuk menghilangkan aroma parfum kenan itu sudah lelap dengan wajah usai menangis.


" Sayang.." lirih suami dengan tangan membelai rambut istrinya, sambil duduk di tepi ranjang tepat lurus dengan perut gadis yang memiringkan tubuh ke kiri itu.


Tatapan tak tega, ditunjukkan oleh laki laki dengan setelan jas kerja tersebut. Tak mau membangunkan istrinya, Brandon memilih untuk perlahan keluar menemui mertuanya.


" Maya, ada apa sebenarnya? " tanya Brandon sudah duduk di kursi meja makan menghampiri mertuanya.


" Dia tidak pernah mengeluh sakit padaku, kenapa tiba tiba? " bingung Brandon karena tak pernah mendapati istrinya seperti itu usai kembali mendapat tamu bulanan pasca keguguran.


" Dari dulu Angel memang seperti itu selama tiga hati Tuan, tidak ada yang harus dikhawatirkan " senyum Olivia, meski memiliki kecurigaan.


" Maya, hubungan Angel dan Pieter sedang memburuk. Jadi Aku minta biarkan Dia tinggal disini sementara, karena Aku tidak mau jika Alexa dan Pieter keluar dari rumah " pinta seorang Kakak yang masih ingin lebih dulu memastikan kebahagiaan Adiknya, sebelum benar benar melepaskan.


" Baik Tuan, Saya akan sangat senang jika Angel di sini " senyum kembali seorang Mama yang juga merasakan ada ketidak beresan antar hubungan Kakak Adik itu semenjak di bandara.


Angel dan Pieter yang tak lagi pernah terlihat bersama dan bercanda seperti sebelumnya, memang membuat Olivia curiga jika memang tengah ada masalah di antara keduanya. Tapi seorang Mama angkat itu, tak berani bertanya ataupun menasehati Pieter karena posisinya. Ia tahu jika laki laki tersebut suatu saat akan pergi, usai dirinya menikah. Dan tak ingin lagi terlalu mengharapkan putra angkat tetap sama seperti dulu padanya ataupun putrinya, karena bagaimanapun Pieter harus lebih mengutamakan istrinya dari mereka yang hanya keluarga angkat.

__ADS_1


Sudah melepas dasi juga jas, Brandon duduk di samping tubuh istrinya. Dengan setia laki laki sudah menggulung lengan kemeja ke siku itu, bersandar pada siku yang Ia letakkan di samping kepala istrinya, membelai lembut rambut gadis dengan mata sembab itu.


Seorang pengawal yang Ia minta mengambil beberapa barang milik istrinya, sudah kembali dan mengharuskan Tuan muda tersebut keluar sebentar mengecek sendiri barang barang keperluan istrinya.


Selepas kepergian Brandon, Olivia mencoba mengetuk pintu untuk mengantarkan puding kesukaan Angel dan membangunkan sebentar putrinya. Seragam atas sudah di bawa Olivia untuk mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi sebenarnya, karena Ia mencium aroma parfum berbeda pada seragam putrinya.


" Angel, bisakah Mama bertanya padamu? tapi Mama minta Kamu menjawabnya dengan jujur " pinta lembut Olivia sudah membantu putrinya duduk dan memberikan puding coklat kesukaannya.


" Angel, siapa yang telah mengganggumu? Mama mencium parfum di bajumu dan itu bukan milik Kakakmu ataupun suamimu, bahkan juga bukan milikmu " tambah Olivia usai Angel mengangguk.


Olivia begitu menghafal aroma parfum mahal yang digunakan Pieter ataupun Brandon, meski tanpa mendekat aroma tersebut sudah tercium. Bahkan semakin yakin ketika tadi Ia sempat bicara dengan suami putrinya.


" Kenan Ma, Dia melecehkan ku " tangi Angel pecah, mengejutkan Olivia.


" Apa maksudmu nak? " terkejut Olivia juga melihat pria tersebut di ruang kepala sekolah, yang diingatnya sewaktu perjalanan pulang.


" Aku hanya memintanya untuk tak lagi mendekatiku Ma, Aku tidak ingin membuat suamiku marah. Tapi Kenan malah mengejar ku ke kamar mandi dan melecehkan ku di sana. Aku takut Ma, Dia seperti monster yang menyeramkan " panjang lebar Angel menjelaskan dengan wajah menunduk dalam tangis.


" Jangan katakan ini pada suamiku, Aku tidak ingin Dia berkelahi dan terluka " tambah kembali gadis masih menangis dan menundukkan wajah.


" Kenapa nasibmu selalu seperti ini nak? " tangis Olivia memeluk putrinya masih dengan puding di atas pangkuan gadis yang terisak itu.


Tanpa keduanya sadari, Brandon telah mendengar semua pembicaraan mereka. Tangan mengepal kuat hingga bergetar, menyorotkan tajam mata penuh amarah dan secepatnya pergi dari rumah mertuanya. Tak terima istrinya diperlakukan seperri itu, Brandon langsung menuju rumah musuh bebuyutannya.


Wajah juga sorot mata laki laki yang membanting pintu mobil tersebut, membuat takut pengawal yang langsung mengikuti dari belakang. Seakan pedal telah terinjak kuat oleh kaki Tuan muda penuh rasa amarah dan murka tersebut, hingga mengharuskan pengawal memacu dengan kecepatan sama. Sambil mengemudi tanpa mengalihkan pandangan dari mobil Tuan mudanya, pengawal tersebut menghubungi Pieter yang sama sekali tak dilepaskan oleh istrinya dari pagi demi melampiaskan hasrat juga rasa bahagianya dengan kemanjaan.

__ADS_1


Cepat pengawal tersebut mengatakan jika Tuan muda mereka pergi dalam keadaan marah, dan langsung membuat laki laki tanpa busana tersebut terbangun. Ia meminta untuk dikirimkan lokasi keberadaan Brandon saat ini karena tak ingin jika sahabatnya melakukan hal hal nekat dalam amarah. Bergegas Pieter mengenakan pakaian yang telah dibuka oleh istri yang selalu berhasrat, meski tak ingin menuruti karena pikiran yang kacau, lagi lagi rasa tak ingin menyinggung atau menyakiti membuatnya melakukan hubungan suami istri walau dalam keadaan tak begitu berhasrat dan tak fokus.


__ADS_2