
Ekspresi kemarahan yang ditunjukkan Brandon, jelas membuat cemas keempat orang yang sudah menyusul dan berdiri di teras. Seketika wajah mereka tertunduk akan malu, melihat sepasang suami istri tersebut tengah asik memadu kasih. Rasa canggung juga terlihat dari sikap keempat orang yang memilih untuk pergi memasuki kamar mereka masing masing.
Kecemburuan yang mendera, seketika berubah menjadi sebuah gairah tak tertahan oleh Tuan muda yang tak henti menyusuri setiap senti bagian tubuh atas istrinya. Tubuh sintal itu kini sudah di gendong dengan langkah menuju kamar, tanpa sedikitpun melepaskan bibir mereka. Tangan Angel masih menggelayut indah pada tengkuk lelaki tampan bernapas memburu, yang sejenak membebaskan bibir demi mengatur kembali napas.
Ranjang mewah nan empuk sudah menjadi tempat keduanya memadu hasrat lebih liar. Kaos yang melekat sudah tak lagi beraturan karena tangan kokoh lelaki yang menimpa tubuh sintal itu, terus mencoba menyusup mencari kenikmatan di dalamnya.
" Sayang, Aku kedatangan tamu... " lirih Angel menahan tangan suaminya hendak menyusup ke bawah, sontak langsung membuat lelaki dengan wajah begitu langsung menatap penuh tanya.
" Siapa?! " jengkel Brandon saling mengadu mata dengan istri yang tengah terengah.
" Aku.... " tak sanggup bibir merah tersebut mengatakan.
" Siapa?! " tegas Brandon mengeratkan rahang, menatap dengan tajam ke arah istrinya.
" Aku datang bulan... " lirih Angel merasa takut, langsung melemaskan sekujur tubuh pria yang kini menimpanya tak berdaya.
" Maaf... " penuh rasa bersalah Ia ucapkan dengan amat lirih pada telinga lelaki yang masih menimpa tubuhnya.
" Aaargh! kenapa harus sekarang sih?! sudah sampai kepala juga! " geram frustasi lelaki dengan rambut acak acakan dan duduk di samping gadis penuh rasa bersalah.
" Sayang maaf, Aku tidak memberitahumu dari tadi karena Kamu tidak memberiku kesempatan " jelas Angel mulai duduk melingkarkan tangan pada lengan suami yang sudah menyandarkan sikut pada lutut tertekuk, seraya mengarahkan rambut kebelakang dengan kasar menunjukkan sikap frustasi.
" Bukan salahmu, sekarang sebaiknya Kamu tidur dan Aku akan ke bawah menenangkan ini " ucap lelaki dengan mengarahkan pandangan ke arah benda sudah mengeras miliknya.
Anggukan dari wajah bersalah, sudah cukup untuk menyetujui ucapan suaminya. Pengait terlepas dengan tali turun di lengan istrinya, ditarik oleh suami yang tak pernah mengijinkan gadis kecil itu tidur dengan membalut dada. Kaos masih membalut pada tubuh sintal menggairahkan, membentuk kedua benda sempurna yang langsung ditutup selimut oleh Brandon, usai Ia merebahkan tubuh istrinya.
" Tidurlah " lembut suami dengan mata menatap ke arah wajah cantik di hadapannya.
Tak ingin lagi merasakan keinginan yang tak bisa tersalurkan, Brandon mencium lembut kening gadis dengan tubuh tertutup selimut sampai leher itu dan berlalu pergi. Kepala terasa berat karena menahan hasrat, mengiringi langkahnya menuruni setiap anak tangga. Tangannya tak henti memijat kening sambil terus berjalan.
Sebuah minibar berdesain kayu memiliki penerangan redup, sudah menampakkan seorang laki laki duduk menyandarkan tangan pada meja. Kepala menunduk dari laki laki dengan kaos putih tersebut, menunjukkan ekspresi seseorang yang tengah berusaha berpikir keras.
" Kenapa? " santai Brandon menepuk punggung lebar lelaki yang tengah memutar mutar gelas berisi minuman.
__ADS_1
Matanya langsung menatap ke arah kiri, dimana laki laki dengan wajah kacau namun tetap terlihat tampan itu berdiri. Senyum berubah tawa kecil dilontarkan seorang sahabat yang melihat suatu benda di balik celana lelaki dengan tatapan aneh tersebut. Tanpa mau bertanya alasan sahabatnya tersenyum, Brandon berjalan memasuki bar dan mengambil satu botol anggur dan menuangkannya pada gelas.
" Apa Kau sanggup menahannya? " tanya tiba tiba Pieter melirik kearah laki laki yang tengah menggoyang goyangkan gelas berisi anggur di sampingnya.
" Apa? " santai Brandon meneguk sedikit anggur usai menghirup aromanya.
" Tidak ada " tawa kecil kembali mengembang sembari memalingkan wajah ke sebelah kanan.
Seketika laki laki dengan sesuatu yang masih mengeras tersebut memahami ucapan sahabatnya. Lengan kuat langsung melingkar pada leher Pieter dengan tekanan kuat, membuat laki laki dengan tawa tersebut memekik kesakitan sambil memukul tangan sahabatnya.
" Dasar pengintip! kenapa Kau melihat yang tak seharusnya! " jengkel Brandon sudah melepas tangan dari leher lelaki yang kembali tertawa itu.
" Aku tidak ingin melihatnya, tapi itu memang terlihat " tawa Pieter geli, dibalas wajah jengkel Brandon memutar kursi bulat ke ara kiri hingga memunggungi sahabatnya.
" Diamlah! Kau takkan mengerti apa yang Aku rasakan sekarang, lebih baik dipukul hingga tewas daripada seperti ini! " gumam Brandon masih dengan kepala terasa berat dan terus mengembangkan senyum Pieter sambil menggelengkan kepala dan meneguk alkohol miliknya.
Seorang gadis dengan setelan piyama satin merah menuruni anak tangga cepat, dan memeluk dari belakang laki laki masih tetap terlihat frustasi memegang gelas anggur tersebut.
" Jangan menyentuhku! pergilah! " tegas Brandon melepas paksa tangan yang menggelayut di depan dadanya.
" Apa Aku sebodoh dirimu?! istriku begitu wangi dan Kamu selalu bau rokok! itu memuakkan! " tegas kembali Brandon, menyentak lelaki di sampingnya yang langsung membulatkan mata terkejut menoleh ke arah gadis yang sudah menuang anggur ke gelas.
" Apa Kamu merokok? " tanya Pieter ke arah gadis yang akan Ia nikahi esok.
" Apa Kau bahkan tak tahu kebiasaan buruk gadis yang akan Kau nikahi?! Dia perokok aktif dan Dia suka minum, hampir tiap hari selalu clubbing! apa sama sekali Kau tak tahu?! " jengkel Brandon menjelaskan semua kebiasaan buruk Adiknya semenjak tinggal di Amerika dan bergaul dengan model, hingga membuatnya selalu naik darah.
Ucapan Brandon mengejutkan laki laki yang sama sekali tak tahu seperti apa pergaulan gadis yang akan Ia nikahi. Pasalnya Ia hanya tahu jika Alexa hanya gadis polos yang selalu bertingkah manja. Tak habis pikir dan tak mampu mempercayai semua yang Ia dengar, Pieter masih terus menatap gadis dengan wajah tertunduk di samping Kakaknya.
" Alexa, jawab! apa benar yang Kakakmu katakan?! " tegas Pieter penuh penekanan.
" Itu semua wajar Kak dalam dunia model, mereka semua melakukan itu " santai Alexa tanpa memiliki rasa bersalah.
" Wajar?! apa Kamu tidak waras?! " tegas kembali Pieter penuh rasa kecewa.
__ADS_1
Walaupun dulu sering membawa perempuan, namun Pieter dan Brandon benar benar menghindari perempuan perokok. Karena keduanya sangat tak menyukai bau asap tersebut, mungkin perempuan minum masih bisa mereka tolerir, tapi untuk perokok itu sudah tak bisa di terima lagi. Jika saja Ia tahu dari awal kebiasaan gadis yang sudah direnggut kesuciannya, mungkin tak pernah sekalipun dirinya melakukan itu dan harus menikahi gadis dengan kebiasaan buruk semacam itu. Bibirnya tak mampu lagi berkata, dan wajah tersirat kekecewaan Pieter sudah berpaling untuk meneguk minuman sampai habis, lalu mengisi kembali diiringi napas kasar.
" Alexa, sebelum Kamu menikah Kakak akan memberimu nasehat. Buang semua kebiasaan buruk mu, dan jadilah seorang istri yang baik. Aku tidak ingin membanggakan Angel, tapi cobahlah sedikit mencontoh dirinya. Dia masih kecil tap memiliki sikap dewasa dalam menjalankan kewajiban sebagai istri " panjang lebar Brandon merasakan kekecewaan Pieter.
" Iya Kak, Aku akan merubahnya. Dan Aku juga bisa menjalankan kewajiban " sahut gadis dengan masih memegang gelas anggur tersebut.
" Kewajiban bukan hanya di atas ranjang, tapi lihatlah bagaimana Angel mengurusku. Dia selalu menyiapkan pakaianku, bangun pukul empat dan memasak sebelum Ia ke sekolah, Dia selalu mencuci dan menyetrika sendiri pakaianku meski Kita memiliki banyak pelayan. Usia kalian terpaut 5 tahun, tapi Dia tidak semanja dirimu dan tahu apa kewajiban seorang istri bahkan tanpa Aku minta. Angel memang manja, tapi tetap pada takaran dan waktunya sendiri. Sekali lagi bukan Aku ingin membanggakannya, tapi Aku ingin Kamu sedikit mencontoh dirinya. Karena pernikahan hanya sekali seumur hidup dan Kakak harap tak ada kata perceraian dalam hubungan kalian " kembali Brandon menasehati Adiknya.
" Baik Kak, akan Aku usahakan untuk itu " jawab Alexa menundukkan wajah.
Pieter tak bergumam sedikitpun mendengar ucapan sahabatnya, Ia sendiri tahu bagaimana sikap Adiknya yang bahkan pernah melihat gadis tersebut mencuci sendiri pakaiannya ketika hamil dan menginap di rumah Olivia. Pernah sekali Ia memarahi Adiknya karena melakukan segalanya sendiri, namun Olivia memberikan pengertian yang membuatnya kagum. Seorang gadis sederhana, walau terkadang manja ternyata memiliki sikap mandiri yang sudah tertanam dari kehidupan menderitanya bersama Olivia dulu, hingga kini masih tetap melekat kuat pada pribadinya.
Jam hias berdentang di angka dua romawi, namun ketiganya masih tetap duduk di bar mini tanpa sedikitpun mengobrol. Angel masih tak mendapati suaminya, dan berjalan turun melapisi kaos tanpa dalaman itu dengan jaket. Mata sayu mengiringi langkah menuruni anak tangga sambil menggulung rambut ke atas.
" Sayang, kenapa Kamu masih di sini? ini sudah pagi " tegur Angel berdiri di belakang suaminya dan langsung membuat ketiganya menatap pada gadis dengan wajah bantal tersebut.
" Apa Kamu mencari ku? kenapa Kamu terbangun? " sahut lelaki sudah memutar kursi ke arah istrinya.
" Aku haus, tadi lupa bawa minum " sahut lembut Angel merasa tenggorokannya begitu kering.
" Aku sudah meminta pelayan meletakkan minum di kamar, apa Kamu tidak melihatnya? " seru Brandon mengingat jika istrinya tak bisa jauh dari air putih dan selalu menyediakan di kamar.
" Itu terlalu dingin, Aku ambil ke dapur sebentar. Apa Kamu mau Aku buatkan madu hangat? " pamit Angel tak mampu menahan tenggorokan sudah sangat kering.
" Tidak perlu sayang " singkat lembut Brandon.
" Apa mereka memasukkannya ke lemari es semua? " gumam Brandon sudah meminta pelayan agar tak memasukkan semua air mineral ke dalam lemari es kecil di kamar.
Dua botol berwarna biru dan pink sudah terisi penuh dengan air putih, dan dibawa angel untuk kembali ke kamar. Wajah terlihat begitu mengantuk dari istrinya, langsung membuat lelaki yang dari tadi masih mengamati itu langsung menghampiri.
" Kamu bisa jatuh kalau jalan seperti ini " seru Brandon langsung mengangkat tubuh istrinya dan membantu ke kamar untuk tidur bersama, meninggalkan Pieter dan Alexa masih betah di mini bar walau tanpa sepatah kata terucap.
" Tidur lah, atau Kamu akan terlambat untuk pernikahan " dingin Pieter masih kecewa dan berlalu pergi memasuki kamar tamu, tanpa menunggu jawaban Alexa.
__ADS_1
" Apa Dia cemburu? " gumam lirih Alexa melihat Pieter berlalu pergi, tanpa menyadari jika lelaki tersebut kecewa akan sikap dan kebiasaannya bukan karena rasa cemburu pada Adiknya sendiri.
Lagi lagi pikiran buruk akan hubungan Pieter dan Angel menghinggapi Alexa, meski sudah berusaha dijelaskan oleh Kakaknya. Sikap yang dinilai sebagai kecemburuan itu, hanyalah sebuah ungkapan kekecewaan yang tak pernah di sadari Alexa, karena merasa jika kebiasaannya selama ini bukanlah sebuah kesalahan. Dunia model yang Ia geluti memang memiliki pergaulan bebas dan sudah menyeretnya ke dalam, tanpa bisa mencoba keluar sedikitpun.