
*Gak usah buat novel baru ya biar gak lewatin review, actionnya biar gak suruh ilangin. Soalnya aku ma orang gc psikopat semua, kalo gak sadis mereka gak mau mbak* 😂😂(peace mbak2ku gc)
_____________________________________________
Berdua duduk malas di sofa ruang bawah tanah, sesekali mengintip ke arah pintu tertutup berharap jika istri istri mereka akan keluar menghampiri. Akan tetapi harapan itu sia sia karena tak kunjung terlihat batang hidung salah satu dari orang yang ditunggu.
"Ini semua salahmu!" kesal Brandon mendorong lengan sahabat disampingnya.
"Kau yang salah, kalau saja wajahmu tak seburuk itu mungkin Alexa dan Angel tidak akan jijik," sahut malas Pieter, melotot Brandon ke arahnya.
"He! kau tidak lihat wajah tampanku masih bersinar seperti ini?!" tegas Brandon, memajukan duduk dan menoleh ke arah lelaki tengah menatapnya malas.
"Kau tahu kenapa wajahmu bersinar?" tanya Pieter santai.
"Tahu! karena ada lampu!" sahut Brandon langsung tertawa bersama Pieter.
Keduanya saling tertawa hanya dengan candaan yang dipahami mereka sendiri. Bodyguard di ruang tersebut menatap keduanya masih dengan heran, usai tadi tampak manja dan kini malah tertawa. Benar benar berbeda dengan mereka ketika di luar rumah.
"Ambil minum," ucap Brandon mendorong kembali lengan Pieter.
"Kau mau mati minum disini? Angel ada di dalam," coba Pieter mengingatkan.
"Adikmu kalau tidur seperti kerbau, dia tidak akan terbangun," sahut Brandon yakin, dijawab dengan mengangkat dua bahu oleh Pieter.
Berdiri dan mengambil wine di gudang yang juga terdapat di bawah tanah, hanya Pieter yang tahu wine apa yang disukai oleh sahabatnya. Tak ada orang lain yang lebih memahami Brandon selain Pieter, bahkan segala hal yang belum diketahui oleh Angel sudah diketahui oleh Pieter.
Tak perlu menunggu lama, lelaki tinggi sudah menggulung lengan kemeja sampai siku tersebut kembali. Tangan kanan membawa sebotol wine, dan di tangan satu membawa dua gelas untuknya dan Brandon.
Segera Pieter meletakkan minuman di atas meja, membuka dan menuangkan wine untuk sahabatnya dan dirinya sendiri. Melegakan tenggorokan usai pergulatan yang dilakukan, Brandon merasa hidup kembali.
"Bukankah kamu sedang terluka?! kenapa kamu minum?!" terdengar teriakan familiar di telinga keduanya, cepat Brandon melempar gelas ke arah Pieter dan bersandar memejamkan mata.
"Kau..." seru Pieter lirih, kebingungan meletakkan gelas.
"Dia sudah tidur Angel, pergilah!" cengengesan Pieter berucap.
Menghentakkan kaki seperti berjalan pergi, Angel hanya berjalan ke arah samping suaminya. Brandon yang mendengar langkah kaki, perlahan membuka mata untuk mengintip.
__ADS_1
Begitu dirasa tak ada lagi istrinya, ia langsung membetulkan posisi duduk dan meminta kembali wine. Pieter menundukkan pandangan tak mau melihat tatapan sinis Angel di samping tubuh sahabatnya.
"Anggaplah ini minuman terakhir untukmu," lirih Pieter berucap sembari mengisi gelas sudah di pegang kembali oleh Brandon.
"Dasar gila!" sahut Brandon.
Menggoyangkan sedikit gelas wine untuk mengeluarkan aroma khas wine, Brandon lalu mencium kenikmatan aroma wine yang menenangkan. Pieter meraih ponsel dan menunjukkan pada Brandon, agar sahabatnya dapat melihat siapa yang berdiri di samping tempatnya duduk kini.
"Lihatlah ini," ucap Pieter, mengarahkan layar ponsel ke arah Brandon.
"Apa?!" tegas Brandon bertanya.
"Lihatlah lebih jelas!" mengeratkan gigi, Pieter menahan suaranya.
Brandon mengamati layar ponsel sudah dibuat mode lebih gelap. Matanya seketika membuat hebat melihat bayangan seorang perempuan berdiri di balik tubuhnya melipat tangan depan dada. Menelan saliva kasar, Brandon tak tahu harus membuat akal apa dan langsung meneguk habis wine.
"Ah, rasanya mengantuk sekali," ucap Brandon berdiri meregangkan otot dan berjalan cepat, berpura pura tak tahu jika ada Angel.
Pieter tersenyum bodoh, perlahan namun pasti ia bangkit dari tempat duduk dan berlari ke arah kamar dimana istri juga anaknya berada. Pieter tak mau ikut dalam kemarahan adiknya, segera mengunci pintu dari dalam.
"Mama dan anak anak sedang tidur, jangan berisik," bisik Pieter lirih.
"Ada apa? kenapa kamu panik?" tanya kembali Alexa penasaran.
"Ada yang mencarimu," bisik kembali Pieter lirih.
"Siapa? kenapa?" makin penasaran Alexa.
"Ini, dia merindukanmu," nakal Pieter meletakkan tangan istrinya pada miliknya, segera ditarik oleh Alexa.
"Ada Maya, apa kamu gila?!" protes lirih Alexa.
"Keluar, aku mau. Aku menginginkannya sayang," memelas Pieter.
Mencoba merayu dan membujuk istrinya demi bisa menyalurkan apa yang diinginkan, Pieter terus menyusupkan wajah pada leher jenjang wanita tengah merebahkan diri di ranjang bersama Quen, Olivia dan Dio.
Sedangkan Angel yang melihat tingkah kakak dan suaminya, hanya bisa mengernyitkan kedua alis sambil mengumpat. Langsung saja Angel berjalan mengejar suaminya yang tadi berjalan cepat dan berlari ke arah dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang, dimana kamu?! hitungan ketiga kamu tidak keluar, maka aku tidak akan bicara lagi denganmu!" ancam Angel berteriak, gelagapan Brandon mendengar dari dalam kamar dan segera membuka.
"Hai sayang, kenapa kamu disini?" bodoh Brandon menjawab, mengintip di balik pintu terbuka sedikit.
"Kamu bersembunyi dariku?!" tegas Angel bertanya.
"Mana mungkin?" tawa Brandon, membuka lebar pintu.
"Kenapa kamu masih minum? bukankah sudah aku bilang jangan minum? kamu lupa dengan jantung yang selalu kamu keluhkan sakit?" beruntun Angel bertanya, menunduk bersalah Brandon tanpa berkutik.
"Maaf," sahut Brandon lirih.
"Kamu sudah tidak mencintai kami lagi? kamu ingin aku mencarikan Daddy baru untuk mereka?" tanya kembali Angel, segera Brandon mengangkat kepala.
"Aku tidak suka setiap kali kamu bilang Daddy baru, Daddy baru! cari sana! tapi mati lebih dulu!" tegas Brandon bernada tinggi.
"Kamu membentakku?" tak percaya Angel bertanya, menunjuk ke arah wajahnya dengan mata membulat.
"Mana mungkin? aku mencintaimu," segera Brandon mengubah ekspresi tersenyum, mendekat dan membungkuk menyandarkan kepala pada pundak istrinya.
"Sayang, tidak mau aku kunjungi malam ini?" manja Brandon mencoba merayu, menusuk nusuk dada istrinya lembut dengan jari telunjuk.
"Tidak mau, tanganmu masih terluka," sahut Angel.
"Kamu di atas, jadi tanganku bisa diam," manja kembali Brandon.
"Sayang, jangan minum lagi aku mohon. Sembuhkan dulu wajah juga tanganmu, setelah itu kamu bisa lakukan apapun," lembut Angel mengusap wajah suaminya.
"Tapi aku menginginkanmu sekarang" batin Brandon.
Brandon terus melancarkan serangan pada istrinya agar bisa mendapatkan kehangatan malam ini. Namun luka terdapat pada tangan juga wajah suaminya, membuat Angel tak tega untuk menuruti.
Angel masuk kedalam kamar kosong di samping kamarnya bersama lelaki tak mau melepas sedikitpun tubuhnya. Meskipun merasa risih akan tubuh besar dan tinggi yang rela berjalan membungkuk, Angel tak berani melarang suaminya untuk melakukan apa yang disukai.
Brandon memang sangat suka berada dekat pada dada istrinya dan memainkan dengan jari. Awalnya ia merasa aneh, namun menjadi terbiasa karena hampir setiap hari yang dilakukan Brandon selalu seperti bayi yang ingin minum ASI.
Masih edisi copas mba, yang udah baca jangan julid ya..tar dibilang ngulangnya kebanyakan, tau gak kalo langsung dilanjut tuh jadinya gak nyambung😂
__ADS_1