Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 231


__ADS_3

"Siapkan keberangkatan ku ke Indonesia hari ini!" perintah Adiyaksa pada seseorang dalam sambungan telpon.


"Baik, Tuan" sigap seseorang di ujung telpon menjawab.


Tidak mau menunda untuk di dahului oleh Gaida juga Sasmita, Adiyaksa memutuskan pergi hari ini juga untuk menemui anak anaknya.


Menyiapkan seorang diri segala keperluan, Adhiyaksa bahkan tak mengabari Brandon ataupun Alexa akan kedatangannya. Ia tak mau jika putranya pergi menghindar seperti selama ini dilakukan.


Seseorang yang di hubungi oleh Adiyaksa langsung memerintahkan orang untuk menyiapkan pengawalan khusus bagi Tuannya.


Seperti apa yang pernah disampaikan Brandon pada mereka, jika keutamaan pekerjaan mereka adalah menjamin keselamatan keluarga. Untuk itu tak mau ambil resiko, mereka memutuskan sendiri pengawalan bagi Adiyaksa.


Walaupun tahu jika Adiyaksa tak menyukai adanya pengawalan ketat atau perlakuan istimewa lainnya, seluruh orang orang Brandon tidak mau kehilangan nyawa seperti perjanjian mereka.


Di tempat lain, Darell dan Vienna sudah tiba di kediaman Brandon bersama Yudha sesuai perintah semalam. Mereka di antar oleh penjaga di depan rumah untuk menuju ruang bawah tanah menemui Pieter.


"Darell, long time no see" berjalan cepat Alexa menghampiri sahabatnya dan memeluk, secepat kilat Pieter mengejar dan menarik istrinya.


"Berani kamu memeluknya, aku habisi kalian berdua!" geram Pieter cemburu, menarik istrinya dan meletakkan dibalik tubuhnya.


"Dan kau akan mati karena kecemburuan mu" goda Darell tersenyum ke arah Pieter.


"Benar sekali" memajukan bibir, melipat tangan di dada Alexa menyetujui pendapat sahabatnya.


"Kita tinggalkan mereka, Vienna" ucap Pieter berganti menggoda, langsung mendapat jeweran telinga Alexa diiringi tawa kecil Darell, Vienna juga Yudha.


"Pergi bersama wanita lain di hadapanku, apa kamu sudah bosan hidup?!" melotot Alexa masih menjewer telinga suaminya.


"Kakak!" teriak Alexa, dibungkam cepat oleh Pieter.


"Aku tidak akan menunggu satu detik kalau kamu memanggilnya!" mengeratkan gigi, menahan suara dan menatap istrinya Pieter berucap.


"Baguslah!" geram Alexa.


Darell, Yudha dan Vienna masih tertawa kecil melihat jagoan berhati dingin takluk dalam genggaman istrinya. Melihat adanya Dio dari kejauhan, Vienna lebih dulu berpamitan untuk menghampiri putra sudah dirindukan.


"Dimana Tuan muda?" tanya Darell.

__ADS_1


"Tidur! bangunkan kalau berani!" sinis Pieter, mengusap telinga sudah dilepaskan istrinya.


"No, thanks" sahut Darell, berlalu menepuk pundak Pieter.


"Psikopat gila!" kesal Pieter melirik kepergian Darell, masih merasa cemburu karena Alexa memeluknya tadi.


"Aku pergi!" pamit Alexa tidak mau ikut campur pada urusan suaminya.


Tanpa menunggu jawaban dari lelaki sudah beralih menatap kepergiannya, Alexa melenggang begitu saja. Seakan sudah menghapal bahasan apa yang akan mereka lakukan, Alexa tak ingin mendengar dan terlibat.


"Saya sudah menyiapkan segala yang diperintahkan Tuan muda" sopan Yudha pada lelaki masih menoleh ke arah kepergian istrinya.


"Hm, baiklah akan aku periksa nanti" sahut Pieter.


Mengajak Yudha untuk duduk bersama dimana sudah ada Darell dan Vienna bersama Dio. Pieter meminta seseorang untuk membawakan mereka minuman, sekaligus melihat kamar yang ditempati oleh Brandon.


Tak ada yang berani mengganggu tidur nyenyak Brandon ataupun saat dirinya sedang bersama anak juga istrinya. Brandon takkan perduli hal lain dan siap memaki siapapun yang mengganggu kualitas hidup nyamannya.


Sebelum tiba di kediaman Tuan mudanya, Yudha sudah lebih dulu memeriksa semua pesanan Pieter atas perintah dari Brandon. Rencana mengubah seluruh sistem pengamanan rumah, harus segera terealisasi hari ini sebagai target dari Brandon sendiri.


Tidak perduli berapa besar biaya yang dikeluarkan, Brandon meminta segala sesuatu terbaik dari apa yang baik. Teknologi paling canggih dari semua sistem pengamanan yang ada, untuk keselamatan istri juga anak anaknya.


Menunggu hingga dua jam di ruang bawah tanah, Brandon baru saja muncul bersama dengan Angel. Keduanya tampak bahagia berjalan bersama, dengan Angel melingkarkan tangan pada lengan suaminya.


"Kenapa kalian disini?" tanya Brandon ke arah empat orang langsung berdiri karena kedatangannya.


"Anda yang memerintahkan kami datang, Tuan" sahut Darell.


"Benarkah?" santai Brandon, terheran keempat orang yang sudah menunggunya dengan sabar. Pieter meminta ijin untuk berbicara dengan Brandon dan Angel sebentar.


"Apa kepalamu terluka?" ragu Pieter bertanya, menatap sahabatnya.


"Tidak" santai kembali Brandon.


"Memang ada apa, Kak? apa dia melupakan sesuatu?" lembut Angel bertanya.


"Dia memesan banyak wanita untuk pesta kemenangannya kemarin, tapi sepertinya karena ada dirimu makanya pura pura lupa" sahut asal Pieter, menoleh Angel ke arah suami langsung memukul keras Pieter.

__ADS_1


"Jadi kamu memesan wanita untuk berpesta? seperti apa? bikini party?! hah?!" kesal Angel.


"Kamu percaya padanya sama saja gila! mana mungkin aku berani melakukan hal itu?!" tegas Brandon menjawab istrinya.


"Bohong, liat ini. Bahkan dia sudah memesan tiga untuk dirinya sendiri" ucap Pieter menunjukkan foto wanita seksi pada ponselnya, berniat membalas akan perbuatan Brandon yang mengerjai dirinya.


"Bukan, itu tidak mungkin. Aku sudah memilikimu lalu kenapa aku mau mencari wanita lain?' coba Brandon menjelaskan.


Melihat Brandon berusaha menjelaskan, Pieter tertawa lepas dalam hati. Angel masih mengamati beberapa foto pada ponsel kakaknya, terdapat banyak sekali foto wanita seksi di dalam galery lelaki sangat ingin membalas tersebut.


"Alexa, kemarilah!" teriak Angel memanggil adik iparnya, tidak mengerti Brandon dan Pieter menatap perempuan cantik masih memegang ponsel.


"Kenapa, Kak?" sahut Alexa langsung datang menghampiri.


"Lihatlah, kak Pieter ternyata memiliki banyak koleksi foto wanita cantik dan seksi. Lihat juga ada yang tanpa busana" ucap Angel menunjukkan ponsel kakaknya pada adik iparnya, seketika Pieter melotot dan gelagapan.


"Ti, tidak ada. Angel berbohong sayang, tidak ada apapun" coba Pieter membela diri, berusaha meraih ponsel di tangan istrinya.


"Ini apa?! mata keranjang!" tegas Alexa menunjukkan foto seorang wanita cantik tanpa busana tepat di wajah suaminya.


"Alexa!" teriak Pieter saat istrinya pergi ke rumah utama, dengan membawa ponsel miliknya.


"Eh, dua kosong" menahan kuat pundak sahabat hendak berlari, Brandon berucap bangga dan tersenyum.


"Kalian berdua..." seru Pieter berlari cepat mengejar istrinya sebelum dilaporkan pada Olivia.


Angel dan Brandon saling tertawa melihat sikap Pieter ketakutan. Saling menyatukan tangan untuk high five, Brandon dan Angel menjadi tim solid untuk mengerjai Pieter bersama.


"Good job, baby" bangga Brandon, berbisik lirih dengan meletakkan wajah di sisi leher istrinya.


"Pergilah, selesaikan urusanmu dengan mereka" sahut Angel tersenyum.


"Jangan menciumiku di sini!" ucap Angel memperingatkan, saat suaminya sudah mulai mendekat.


"Why?" seru Brandon.


"Aku yang akan mencium mu" senyum Angel, memberikan kecupan pada bibir suaminya.

__ADS_1


Seluruh bodyguard yang tadi memperhatikan, langsung merubah arah pandang mereka serentak. Vienna dan Darell bersama menutup mata Dio juga Quen agar tidak melihat apa yang belum saatnya dilihat.


__ADS_2