Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 210


__ADS_3

"Sayang, bantu aku kemari sebentar" panggil Angel pada suaminya di dalam ruang ganti setengah berteriak.


"Kenapa memanggilku sayang? apa dia tidak cemburu? tidak marah?" bergumam di dalam kamar ganti.


Tidak menjawab, Brandon kesal sendiri dan terus bergumam. Sempat merasa berhasil, namun mendengar istrinya memanggil sayang, membuatnya merasa gagal sudah membuat cemburu.


"Kenapa tidak menutup lebih dulu?!" kesal Brandon menundukkan pandangan menghindari pemandangan di hadapannya, dan meraih tubuh Nicho.


"Ini mau aku tutup" jawab Angel mulai menutup kancing blouse.


"Kamu kenapa hanya memakai celana dalam?" tambah Angel bertanya.


"Kamu memanggilku saat aku ganti" malas Brandon menjawab sambil berusaha membuat putranya sendawa.


Keduanya sama berdiri meletakkan tubuh putra mereka di dada berusaha membuat putra mereka sendawa. Tidak lama terdengar suara sendawa Nathan dan disusul oleh Nicho, mengejutkan Brandon akan suara sendawa yang keras.


"Mereka baru minum ASI apa makan bayi gorila?" gumam lirih Brandon masih menggendong putranya.


"Sudah letakkan saja di atas ranjang biar tubuhnya bisa bergerak, dan pakai pakaianmu sana" ucap Angel melangkah melewati suaminya.


"Sama sama!" sindir Brandon karena istrinya tidak berterimakasih dan malah melangkah pergi.


"Apa dia benar benar mencintaiku?! tidak ada cemburu cemburunya!" kesal laki laki melangkah ke arah ranjang itu menggerutu.


Meletakkan tubuh putranya perlahan saling bersebelahan, lalu memberi batal mengeliling dengan bantal juga guling. Brandon melirik kilas istrinya usai mencium kedua putranya. Memajukan bibir mengetahui wajah santai istrinya.

__ADS_1


"Kemana?!" tegas Brandon melihat istrinya pergi.


"Ganti baju, bajuku kena ASI" menyahut dan tetap berjalan, diikuti cepat suaminya.


Di dalam ruang ganti, Brandon menarik lengan istri tengah membuka kancing blouse lalu mencumbunya tapi isyarat. Mendorong ke arah dinding tanpa menghentikan bibir juga tangan terus bergerilya. Angel mencoba menghentikan suaminya yang semakin rakus, untuk mengingatkan jika darah masih keluar.


"Aku mau, aku menginginkannya" lirih Brandon dengan hidung saling menempel.


"Aku belum bisa" sendu Angel tidak enak terus menolak menjalankan kewajibannya.


"Sampai berapa lama Angel?! setengah tahun kita tidak melakukannya! aku sangat menginginkannya Angel! aku laki laki normal dan aku membutuhkan itu!" marah dan melepaskan tubuh istrinya, Angel menatap bersalah ke arah lelaki tampak frustasi memunggunginya.


"Lakukan dengan wanita lain jika kamu tidak bisa lagi menunggu" sendu Angel menyakiti hatinya sendiri, lekas Brandon menoleh dengan raut marah.


"Ini yang kamu bilang mencintaiku?! kenapa sedikit saja kamu tidak pernah cemburu saat aku dekat dengan perempuan lain?! sekarang kamu malah menyuruhku melakukan itu dengan perempuan lain?! sebenarnya apa artinya aku untukmu?! apa hanya kebencian?!" berucap dengan amarah meledak, Brandon menatap istrinya dalam sorot mata tajam.


"Belajarlah untuk menunjukkannya! saat kamu marah, sedih, cemburu, atau apapun, tunjukkan itu! jangan selalu tersenyum untuk menutupi semuanya! sudahlah aku lelah menghadapi mu! aku tidak mengerti dirimu!" masih dalam nada marah dan segera mengenakan pakaian untuk berlatih bersama Pieter sebelum benar benar menghadapi Kenan juga Jackson sendiri.


Sedari dulu memang Angel tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti suasana hatinya. Bahkan setelah kehilangan anak anaknya, Angel masih bisa tersenyum dari menangis dalam kegelapan sendiri. Hal itu terlalu membingungkan buat Brandon, karena tak pernah mampu benar benar memahami istrinya. Terlebih saat istrinya hanya diam tanpa berucap.


Entah itu salah atau tidak, Angel hanya tak mau suaminya tersiksa mengingat seberapa tinggu hasrat dalam diri suaminya. Untuk itu ia mengatakan hal yang bertolak belakang dengan hati juga pikirannya sendiri. Menitikan air mata dan langsung mengusapnya, Angel perlahan tanpa melihat suaminya, mengambil pakaian dan membawanya keluar. Belum sampai keluar, lagi lagi Brandon menarik kuat lengannya dan memeluk erat.


"Maaf" sendu dan tulus Brandon meletakkan telapak tangan di balik kepala dan punggung istrinya.


"Iya, aku juga minta maaf" sendu Angel menganggukkan kepala di dada suaminya.

__ADS_1


"Kamu kekuatan juga kelemahan terbesarku, aku tidak pernah bisa marah denganmu" batin Brandon sempat melirik istrinya ketika meraih pakaian.


"Sini, biar aku pakaikan" melepas pelukan pada istrinya dan meraih pakaian masih di tangan istrinya.


"Tidak, aku bisa sendiri. Kamu akan menginginkannya lagi nanti" lirih Angel menjawab, di pelototi oleh suaminya dan mulai pasrah saja.


"Aku tidak bisa terus memahami mu, jadi aku minta tunjukan semua yang kamu rasakan. Jangan selalu diam dan tersenyum, aku bukan Tuhan yang selalu tahu isi hatimu" tulus Brandon sambil mengenakan pakaian untuk istrinya.


"Mm.." mengangguk mengerti Angel menundukkan wajah.


"Bilang Pieter aku akan latihan nanti sore, kepalaku sedikit pusing karena minum semalam" menunduk melihat ke arah istri yang kembali mengangguk untuk menjawab.


Setelah berganti pakaian, Angel keluar lebih dulu menyampaikan pesan suaminya. Brandon menatap istrinya sendu dengan penyesalan dalam dirinya, karena telah marah marah. Memang ketika menginginkan tubuh istrinya dan tak bisa mendapatkan, ia selalu marah karena harus menahan.


Bagaimanapun juga memang dirinya juga bersalah, karena insiden penembakan itu membuatnya lama meninggalkan istrinya. Brandon melihat istrinya amat ketakutan setiap kali dirinya marah dan berteriak, merasakan luka dalam hatinya. Entah mengapa ia sangat lemah hanya dengan melihat kesedihan ataupun ketakutan istrinya.


Melangkah keluar dan menghampiri kedua anaknya, Brandon mengangkat tubuh kedua bayi mungil itu di atas dada sambil ia merebahkan diri. Menahan tubuh kedua bayi itu bersamaan agar tak terjatuh.


"Kalian takut dengan Daddy? kenapa kalian tidak tidur? apa Daddy membangunkan kalian?" lembut Brandon mengajak bicara kedua anaknya.


"Cepatlah besar agar Daddy bisa bermain dengan kalian" tambah kembali Brandon berbicara pada kedua bayi sudah nyaman di atas dadanya.


"Kalian adalah pewaris Daddy, jaga mommy saat Daddy tiada nanti. Kalau sampai mommy menangis. maka Daddy akan menghantui kalian berdua. Mengerti?!" tambah lagi Brandon menekankan kata mengerti pada putranya lalu tersenyum karena tak mendapat jawaban, selain gerakan meregangkan tubuh keduanya.


"Tahu kalian hanya minum ASI saja, apa enak? Daddy juga mau, bagi sedikit untuk Daddy jangan menghabiskannya sendiri. Enak saja mommy mau kalian habiskan sendiri" gumam Brandon menggoyangkan tubuh putranya.

__ADS_1


Terus mengajak bicara walau tak mendapat jawaban, kedua harta paling berharga dari semua harta yang ia miliki. Buah cinta nyata antara dirinya juga istrinya. Mengharapkan kehadiran kedua buah hatinya mampu membuat istrinya di terima dalam keluarga. Agar tak perlu lagi bersembunyi dari keluarga juga dunia. Tak jarang ia merasa bersalah juga tak tega membiarkan Angel kehilangan kebebasan dan terkurung dalam rumah, dan memahami betul jika istrinya mungkin memiliki rasa jenuh. Namun terpaksa harus dilakukannya karena nyawa istri juga anak anaknya bisa menjadi ancaman sewaktu waktu.


__ADS_2